Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
44


__ADS_3

Sintia tak melepaskan pandangannya dari Cika yang masih menatap Naell dengan tatapan yang tak mengenakkan.


"Sin? Jadi gak?" Tanya Naell pada gadis yang tiba-tiba bengong itu.


"Oh...ee.. iya.. jadi kok," jawab Sintia kemudian dengan sedikit gelagapan.


"Aku ikut," Risa meraih tangan Sintia sebelum meraih tangan Naell duluan, dia mau melihat apa yang terjadi sebenarnya di masalalu dengan mata kepalanya sendiri.


"Kalau gitu, aku ikut juga," Kata Cika yang tiba-tiba ikut merapat.


"Eh... kakak serius?" Tanya Sintia setelah Cika berhasil duduk di antara Risa dan Sintia.


Cika mengangguk dengan melemparkan sedikit senyuman tipis.


"Ya udah ayo... " kata Sintia dengan semangat, lalu menarik tangan Kanan Naell agar mereka semua bisa membuat lingkaran.


Setelah semua menutup mata, tinggallah Naell yang belum menutup matanya, dia menatap Cika dengan tatapan yang sama dengan tatapan yang Cika lemparkan padanya.


"Kak, aku mulai atau enggak ni?" Sintia yang menyadari Naell belum menutup matanya pun menegur.


"Iya, iya," Naell menurut. Dan kali ini, semua sudah siap, melihat apa yang terjadi di rumah ini sebenarnya.


Kisah yang masih jadi rahasia bahkan oleh Naell sendiri, hanya David yang tau, dan Naell selalu saja menjadi orang terakhir yang akan menyadari apa yang terjadi dari setiap masalah ini.


"Kalian udah boleh buka mata," perintah Sintia di turuti oleh ke tiga orang itu.


Risa membuka matanya pelan, dan langsung memicing menyadari ada cahaya terik menusuk ke arah bola matanya.


"Loh, kita dimana Sin?" Tanya Risa kepada gadis yang berdiri di sebelah kanannya.


"Gak tau, kayaknya di halaman rumah ini deh," jawab Sintia yang belum pasti.


"Betul," Cika dan Naell menjawab serentak, karena memang mereka yang mengetahui daerah rumah ini dari pada kedua gadis yang tak tau kondisi rumah ini dulu.


Mengetahui bahwa mereka menjawab dengan Serentak, membuat kedua orang itu langsung membuang muka ke arah berlawanan, melihat itu, Sintia semakin yakin ada yang gak beres dari kedua orang ini.


"Kayaknya ada perang dingin deh kak," sindir Sintia yang dia sampaikan kepada Risa.


"Hush... gak boleh gitu, mungkin ada masalah di masalalu yang gak mau mereka umbar, hati-hati kalau ngomong Sin," tegas Risa yang membuat Sintia tersenyum lebar sambil mengangguk tanda mengerti.


" Waah... ini halaman belakang rumah ya? Cantik ya, lengkap sama tanamannya," Risa melangkah maju, berniat melihat lebih jauh lagi.

__ADS_1


Tapi langkahnya langsung terhenti, mendengar suara orang yang bertengkar entah dimana asal suara itu.


"Ada yang lagi cekcok tuh," Kata Sintia yang langsung mencari sumber suara.


"Ikut aku," Naell yang sekarang dalam kendali David menuntun mereka ke arah salah satu rumah kecil yang terbuat dari kayu di sudut rumah sebelah kiri dengan agak sedikit ke belakang.


Semakin mereka mendekat suara itu semakin jelas. Apa yang di teriakkan orang yang sedang berkelahi itu pun menjadi jelas, itu suara laki-laki dan perempuan.


"Gak gini caranya kak! Dia itu berhak buat bebas! Dan kakak gak berhak buat ngatur hidup dia!," teriak cowok itu yang ternyata saat di lihat dari jendela adalah sosok laki-laki yang entah itu Nathan, Naell atau wujud lain Naell yaitu david.


"Naell! Berani kau memerintah aku sekarang! Tau diri dong! Kalian itu gak lebih dari sekedar pajangan di keluarga ini! Kalau mau tetap hidup di keluarga ini dengan tenang, maka kau tinggal menurut saja! Gak perlu banyak bicara! Mending sekarang kau belajar di dalam kamar! Atau mau aku kaduin sama ibu, kalau kamu gak sedang belajar?" Kakak itu terus mendorong pria yang ternyata Naell sampai ke pojok dinding. Dia mendorong Naell dengan cara telunjuk yang di tekan dengan kuat ke kening Naell, sehingga membuat kuku yang panjang gadis itu menjejak di kening Naell.


"Kalau kalian mau pajangan, aku aja yang di jadiin pajangan, atur aku sesuka hati kalian, aku gak masalah, kekang aku, aku gak akan melawan, tapi jangan pernah kekang kebebasan Nathan kak! Dia gak boleh jadi seperti aku, biarkan dia bebas untuk mengutarakan perasaannya, aku gak mau, kalau Nathan harus ngerasain apa yang aku rasain!," Naell berteriak di akhir katanya sebagai wujud dari perlawanan seorang Naell.


Tepat setelah kalimat Naell berakhir, tangan seseorang langsung mengayun keras ke arah pipi Naell, bukan tamparan, tapi itu lebih seperti di tinju dengan kepalan tangan gadis yang terlihat mungil itu.


Walau tubuh gadis itu terlihat mungil dan dia terlihat imut, tapi siapa sangka sekali pukulan berhasil membuat sudut bibir Naell berdarah.


Cika yang melihat adegan itu langsung menutup mulutnya kaget, ada kumpulan air mata yang tergenang di atas bola mata Cika, perasaan iba, itu yang terlihat sekarang.


"Bicara sekali lagi tentang kebebasan! Maka akan aku kasih kebebasan yang sesungguhnya buat adek lo itu! Dengarkan? AKAN AKU KASIH DIA KEBEBASAN YANG SESUNGGUHNYA!," Teriakkan gadis itu membuat ketiga gadis yang mengintip dari luar itu langsung terkejut.


"Jangan kak, aku mohon jangan!, aku... aku janji gak akan ngomong kayak gitu lagi, aku mohon jangan apa-apain Nathan," Naell langsung berlutut dan merapatkan kedua telapak tangannya, memohon dengan suara yang terdengar pilu.


"Kenapa sampai memohon? Kebebasan apa yang sebenarnya di maksud kakak lo Vid?," Tanya Risa heran.


Yang ditanya langsung melemparkan senyum ramahnya "Nanti juga tau Sa," empat kalimat itu, hanya empat kalimat itu yang di lontarkan David, empat kata itu cukup membuat Risa penasaran setengan kepo.


"Vid? Naell ganti nama?" Tanya Cika kepada Sintia yang berada di sebelahnya.


"Enggak kak, Nanti aku jelasin," Sintia kembali fokus ke arah dalam rumah kecil yang terkesan seperti gudang itu.


"PLAK!," Kali ini baru suara tamparan, dan itu bukan sekali, tapi berkali-kali, dan Naell yang di pukuli hanya diam berusaha menahan sakit yang di berikan kakaknya.


Entahlah, tenaga gadis itu sepertinya setara dengan tenaga seorang laki-laki, dia sangat kuat.


Sintia, Risa dan Cika memejamkan mata mereka tak sanggup melihat seorang kakak yang memukuli adiknya dengan brutal seperti itu. Apa adiknya itu karung? Sampai di pukul tanpa belas kasihan?


David melihat ke tiga gadis yang ketakutan melihat Naell di pukuli. Tapi pandangan david lebih tertuju ke arah Cika, yang tiba-tiba meneteskan air mata dari mata yang sedang tertutup itu.


"Dia masih sayang dengan Naell ternyata," David tersenyum tipis lalu memalingkan mukanya untuk kembali melihat adegan selanjutnya.

__ADS_1


"Kamu taukan Naell? Aku bukan tipikal orang yang suka menarik kata-kataku kembali? Jadi apa yang sudah aku lontarkan pasti akan aku tepati," pukulan itu berhenti, dan senyuman yang lebih tepatnya seperti menyeringai itu membuat Naell semakin ketakutan.


Gadis itu melenggang keluar dari rumah itu seperti tak terjadi apa-apa, dia berjalan dengan cepat, lalu sebelum keluar dari rumah itu, dia mengambil salah satu cangkul yang tersandar di samping pintu dan mengangkatnya di atas bahu sebelah kanannya.


"Lihat Naell, aku akan kasih kebebasan buat adek kesayanganmu itu," Gadis itu membalikkan badannya menatap Naell yang menggelengkan kepalanya, berharap kakaknya itu menarik kata-katanya sendiri.


"Enggak kak, jangan, aku mohon," Naell berusaha berdiri, berniat mencegah kakaknya, walau dia sadar, dia takkan pernah bisa menghentikan kakaknya itu untuk melakukan apapun.


Naell keluar dari rumah itu dengan wajah sedih yang penuh dengan bekas pukulan, dia menahan tangis yang akan keluar. Dia seperti telah pasrah, tapi belum ingin menyerah. Dengan tenaga yang ada dia mengejar kakaknya itu yang siap-siap untuk menyiapkan makan malamnya.


"Ayo ikuti," tutur David yang langsung di setujui ketiga gadis itu.


🐾🐾🐾🐾🐾


Setelah sampai di dalam rumah, kakak mereka berteriak dengan lantang sehingga memenuhi seisi ruangan.


"NATHAN! KEMARI! JIKA SAMPAI HITUNGAN KETIGA KAU TIDAK DATANG, AKAN AKU PUKULI SAMPAI KAKIMU PATAH!," Mendengar teriakan kakaknya, Nathan yang sedang belajar di dalam kamarnya langsung berlari keluar untuk menemui kakaknya, dia tak mau di pukuli karena itu pasti akan sakit.


"Ada apa kak?" Tanya Nathan takut-takut.


"Kamu punya teman dekatkan? Siapa namanya? Linda? Gadis yang buat kamu jadi gak fokus belajar dan berani membangkang, itu pasti Linda kan?" Tanya Kakaknya sambil menurunkan cangkul yang tadi bergelantungan di bahunya.


"Ee..." Nathan kelihatan takut untuk menjawab.


"AKU BILANG JAWAB NATHAN! IYA ATAU TIDAK!," Lagi-lagi suara kakaknya memenuhi ruangan.


"Iya kak," jawab Nathan akhirnya.


"Bawa dia kemari kalau begitu, aku mau ketemu dengan dia,"


"Jangan kak," Tiba-tiba Naell masuk dari luar.


Nathan yang melihat kondisi kembarannya itu kaget, kenapa Naell yang patuh tiba-tiba penuh bekas pukulan?



"Kamu mau dengerin aku atau abangmu Nathan?" Tanya kakaknya lagi.


"Iya kak, aku dengerin kakak, aku akan telpon Linda," Nathan bergegas ke kamarnya untuk menghubungi Linda.


Sedangkan Naell lututnya langsung lemah dan terduduk di atas lantai, dia tak bisa membayangkan neraka apa yang akan terlihat nanti.

__ADS_1


__ADS_2