Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Pria Pemain Piano - Episode 9


__ADS_3

"Assalamualaikum," kataku sambil melangkah masuk ke rumah.


Sekarang sudah pukul 18.00 WIB. Sebentar lagi magrib akan tiba dan adzan akan berkumandang. Pertanda bahwa waktu kerja matahari di tempat kami telah selesai dan berganti jadwal dengan si rembulan bulat. Seperti dugaanku, semua sudah berkumpul di ruang tamu, sibuk dengan saling bercengkrama menimbulkan suasana akrab karena sibuk seharian tadi tanpa saling bertemu.


Keluarga kami memang seperti ini, dari pagi kadang sudah tak bisa lagi melihat masing-masing wajah anggota keluarga, mereka sudah pergi ke tempat tujuan masing-masing. Makanya waktu senja begini paling di manfaatkan oleh orang tua agar kami semua mau berkumpul di ruang keluarga. Saling bercerita atau sekedar tertawa menonton televisi.


Namun berbeda dari hari biasanya, saat aku masuk, tv tak menyala dan tak ada yang bercerita, diam dengan muka cemas mereka.


"Ada apa?" Aku yang baru tiba sepertinya ketinggalan berita atau apalah. Wajah mereka kelihatan tak mengenakkan begitu.


"Risa? Itu kamu?" mama langsung berdiri dari duduknya, dia berjalan ke arah ku, atau lebih tepatnya berlari kecil. Ada genangan air mata di matanya.


Ada apa ini?


"Kamu kemana aja Sa? Sudah dua hari gak pulang, kamu tidak tau kami khawatir? Kenapa tidak mengabari?" Kali ini ayah yang berbicara sedikit dengan nada emosi.


Namun dia tetap pada posisi duduknya sedangkan mama dan kedus saudaraku sudah berdiri menatapku penuh tanda tanya.


"Maksud ayah? Dua hari gak pulang? Risa cuman pergi 5 jam, gak sampai setengah hari yah, gimana ceritanya bisa dua hari?" Kali ini aku yang bertanya.


"Nanti kamu jelasin semuanya, kemana saja kamu selama dua hari ini, yang penting sekarang ganti baju dulu, entah darimana kamu Sa, sampai basah begini," kata ibu sambil menahan tangis.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk setuju, pergi ke kamar sambil di iringi tatapan yang meminta penjelasan yang aku sendiri tidak tau penjelasan apa yang harus aku berikan.


Sesampainya di kamar, aku mengambil hp yang tadinya ada di dalam tas. Saat ku hidupkan layarnya saat itu juga aku di buat kaget, tunggu dulu...


Bukankah tanggal sekarang 16 februari 2020? Kenapa di hp ku tertera tanggal 17 februari 2020? Apa aki yang salah mengingat atau perkataan ayah tadi benar?


Pertanyaan demi pertanyaan berputar di atas kepalaku, dengan cepat aku mengganti baju dan langsung menemui anggota keluarga yang sudah menunggu sedari tadi.


"Sekarang benar tanggal 17?" Tanyaku tak percaya.


"Iya kak, baru sadar?" Tanya Rudi sambil mengesampingkan hp yang tadi dia pegang.


"Bukannya tanggal 16 ya? Jangan bercanda dong Rud," Aku melayangkan protes tak yakin.


"Loh jadi benar, Risa gak pulang dua hari? Tapi seingat Risa, Risa perginya siap zuhur dan langsung pulang," aku tak mau di tuduh kelayapan tak jelas oleh orang tua ku.


Memang pada nyatanya aku langsung pulang, dan tak berlama-lama di perjalanan. Aku ingat jelas itu.


"Emangnya kamu kemana?" Akhirnya ayah membuka suara.


"Risa ke kampung Kembang," jawabku jujur.

__ADS_1


Mendengar penuturanku ke empat orang yang di depanku kecuali Rani melebarkan kelopak matanya.


"Apa? Ke kampung Kembang? Kak, kakak tau gak sih tempat apa yang kakak kunjungi?" Rudi terlihat frustasi mendengarkan jawabanku barusan.


"Emangnya ada apa sama kampungnya?" Tanya Rani mewakili pertanyaanku.


"Syukurlah, setidaknya kamu bisa pulang, konon katanya, siapa pun yang masuk ke sana tak akan bisa keluar dari kampung itu, ada beberapa yang berhasil pulang tapi itu butuh waktu yang lama, ada yang dua hari, seminggu, bahkan bertahun-tahun baru sampai di rumahnya, tapi bagi mereka yang dari kampung kembang, mereka di sana tak lama, sama seperti kamu sama. Tapi siapa sangka, mereka sampai di rumahnya setelah beberapa tahun kemudian," jelas ayah yang membuatku merinding.


Untunglah aku bisa pulang dalam waktu dua hari, dan tidak perlu menunggu waktu bertahun-tahun, dalam rasa takut aku juga bersyukur setidaknya nasib ku tak seburuk itu.


"Lagian ngapain kamu ke kampung Kembang?" Pertanyaan mama membuatku langsung skakmat!


Masa iya cari rumah teman yang udah mati? Kan gak keren, atau bilang cuman jalan-jalan? Alibi dari mana itu? Semenjak kapan aku suka jalan-jalan.


"Ee... anu.... ma..., itu... kakak...," aku meremas rokku karena gugup tak tau mau jawab apa.


Rani yang menyadari keadaanku langsng berdiri dan menarik tanganku agar ikut bersamanya.


"Ma, nanti dulu nanyain kakak, adek udah ngantuk, tapi maunya di temenin kakak ya?" Dalih Rani.


"Ini baru jam 19.00 sayang, masa iya udah ngantuk?" tanya mama.

__ADS_1


"Gara-gara nungguin kakak pulang, adek gak cukup tidur semalam, jadinya sekarang ngantuk deh, bolehkan ma? Rani tidur duluan?" alasan buatan adikku cukup manjur.


Lihatlah mama tersenyum serta mengangguk memberi izin, Rudi yang melihat kamu masuk ke kamar Rani pun berdiri dan masuk ke kamarnya sendiri. Sepertinya dia ingin melanjutkan bermain gamenya.


__ADS_2