Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
29


__ADS_3

Risa mengusap keningnya sedari tadi, sudah hampir setengah jam berlalu, dan kedua insan yang mematung ini tak juga kunjung bangun. Sedangkan Rudi sudah memilih pulang ke tubuhnya dan akan kembali sambil membawa Rani kemari. Entahlah, Risa tak punya pilihan lain selain membawa Rani masuk ke dalam masalah ini. Dia rasa, jika mereka bertiga bisa bersama itu mungkin bisa membantu Sintia memecahkan masalah yang di buat oleh Nathan sebelum meninggal.


Tapi tidak sepatutnya juga menyalahkan semua ini kepada Nathan, entah ini dia biang keladinya, atau mungkin salah satu siswa nakal dis sekilahnya dulu, atau bisa jadi Claudi dan mamanya Nael.


Risa melirik ke arah jendela saat mendengar suara motor berhenti tepat di depan rumah besarnya Naell. Dia berlari ke arah jendela dan melihat Rudi dan Rani yang sudah sampai di sana.


"Kok mereka gak tersesat sih? Atau mungkin, masuk ke kampung ini kita aman tapi pulangnya tersesat? Hah... Entahlah, untuk itu gak perlu di fikirkan sekarang," Risa berbicara dengan dirinya sendiri dan kemudian berjala ke arah pintu depan untuk membukakan pintunya.


"Kalian aman sampai sini kan?" Tanya Risa saat melihat sepasang adiknya itu sudah berdiri di depannya.


"Aman kok, tapi kamu kok sedari tadi gelisah di atas motor dek?" Rudi mengalihkan pandangannya kepada Rani yang sedang mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah ini.


"Sepanjang jalan, Rani kayak merasa aneh, penduduk di sini gak semuanya manusia, sebagian isi kampung ini kayaknya udah masuk dalam dunia lain deh, Rani tadi masuk langsung ngerasain aura gak enak," Jelas Rani sambil merapatkan kedua tangannya pada badannya.


"Sebagian penduduk bukan manusia? Jadi perasaan kakak tadi beneran dong. Wah.." Risa benar-benar tak habis pikir.


Tak di sangka mereka bisa sejauh ini, kembali masuk dimana bukan hanya manusia yang menunjukkan kehadirannya, tapi makhluk lain juga ambil andil dengan desa yang sekarang mereka datangi.


"UHUK..." Ke tiga pasang bola mata itu langsung melihat ke arah lantai dua.


"Sintia udah sadar," kata Risa yang langsung berlari ke arah tangga menemui gadis indigo itu.


"Are you ok?" Rudi yang sudah sampai sesudah Risa langsung berdiri di depan Sintia yang memegang dadanya seperti sedang menahan sakit.


"OK, Sekarang lo bantuin gue buat angkat bang Naell ke ruang tamu, dia sepertinya masih pingsan," kata Sintia sambil berusaha berdiri di bantu oleh Risa.


"Kenapa dia bisa kayak gini sih? Apa yang terjadi di sana?" Tanya Risa sambil memapah Sintia.

__ADS_1


"Claudi, dia semasa hidup sudah di ambil alih oleh roh yang sangat jahat. Kalau biasa orang sebut dengan nama Iblis. Mereka makhluk yang paling menyeramkan dan jahat dari pada hantu yang pernah kita lihat, bisa di bilang dia termasuk tingkat teratas," jawab Sintia sambil sekali-kali memejamkan matanya menahan sakit.


"Iblis? Jadi maksud kamu, kamu di serang iblis itu waktu masuk ke masalalu?" Tanya Risa yang sudah sampai di luar kamar itu.


"Iya, nanti aku jelasin kak," kata Sintia yang sepertinya masih belum mau di ganggu. Dia benar-benar terlihat kelelahan.


Risa hanya mengangguk dan memberikan senyum tipis ke arah Sintia, karenanya orang lain dalam masalah.


"Loh Rud? Kok berhenti sih? Berat? Mau kakak bantu mapah Naell?"tanya Risa kepada Rudi yang masih terdiam di depan tangga.


"Rani kenapa kak?" Tanya Rudi tanoa menoleh ke arah Risa.


"Rani? Emang Rani kenapa?" Risa malah balik bertanya.


Sintia yang tiba-tiba perasaannya menjadi tak nyaman langsung berjalan melepaskan tangannya dari Risa. Dia berjalan dengan agak sedikit terhuyung-huyung.


"Tapi kasihan kak, dia terikat kayak gitu, pasti sakit," jiwa Rani yang tak tegaan muncul di saat yang tidak tepat.


Sintia menghela nafasnya, lalu dengan paksa dia menarik tangan Rani untuk turun ke bawah meninggalan arwah Claudi yang terkurung di sana.


"Nanti aku jelasin, Rudi udah keberatan, mending ke bawah dulu," ucap Sintia.


Risa hanya berdecak kagum dengan Sintia itu. Bukankah tadi berjalan saja susah? Tapi sudah bisa menarik tubuh Rani yang berukuran setengah dari badannya. Gadis ini memang keras kepala dari pada Rudi.


"Oke, sekarang jelasin, ada apa ini sebenarnya, dan kenapa abang ini pingsan?" Seperti kebiasaan Rani yang selalu to the point.


Sintia yang di tanyai malah menyunggingkan senyuman dan menyandarkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


"Kamu gak kasian sama aku? Gak bisa biarin aku istirahat sebentar, rasanya seluruh energi aku udah habis, kasih aku waktu, aku mau istirahat, 30 menit aja cukup kok," kata Sintia dengan menyunggingkan senyum manisnya lagi.


Ketiga bersaudara yang mendengar itu hanya bisa melemparkan tatapan kesal, namun mau bagaimana lagi, yang di bilang Sintia juga benar, dia pasti sangat capek, tergambar jelas dari wajah pucat Sintia.


Baru juga mau memejamkan matanya, Sintia menangkap sesosok arwah yang haus darah di pojok kiri Risa, hantu yang tadi membawa boneka dengan berlumuran darah di sekujur tubuhnya.


'Hah... dia mau balas dendam,' kata Sintia dalam hatinya.


Dan benar, hantu itu lagi-lagi menjulurkan tangannya ingin mencabik bahu Risa dengan kukunya lagi.


"Lo kira gue gak tau? Mau mati dua kali ya?" Tiba-tiba Rudi bersuara dan melirik ke arah belakang kakaknya.


Spontan, Risa dan Rani melihat ke arah yang di lihat Rudi.


"Kenapa aura hantu itu terasa aneh dari yang lainnya?" celetuk Rani saat hantu itu sudah menghilang mengingat Rudi ada di dekat Risa.


"Coba sekarang fokus menatap Rudi, apa yang kamu lihat?" Sintia yang bilang tadi mau istirahat, tiba-tiba berbicara dengan mata yang sudah terpejam.


Rani menurut saja, dia menatao abangnya dengan serius, Rudi hanya dia duduk, tak berniat membalas tatapan adiknya itu.


"Waah... ada warna ungu yang keluar dari tubuh abang," kata Rani berteriak kegirangan.


"Bagus, satu kelebihan Rani udah keluar, kelebihan Rudi juga, sekarang tinggal kamu kak, ala kelebihan mu?" Kata Sintia sambik membuka matanya dan menatao Risa oenuh selidik dalam posisi menyandarnya.


"Aku tak tau," Risa menjawab dengan tiga kata yang entah kenapa membuat Risa agak sedikit kesal.


'Apa kelebihan ku?' tanyanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


 


__ADS_2