Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Pengganggu!


__ADS_3

SREEK...SREEK...


Seseorang datang, seperti suara kaki di seret. Semuanya berhenti fokus ke Denis, semua mata sekarang tertuju ke arah semak-semak di belakang Risa.


Kecuali kedua hantu itu yang seakan-akan sedang waspada. Rani sadar perubahan wajah dari kedua hantu itu.


Ada yang tak beres.


Pikir Rani kemudian.


"Kau harus mati.... Risa...," suara itu pelan tapi terdengar jelas oleh Risa dan Rani yang berdiri paling dekat dengan semak-semak.


Kedua pasang mata Rani dan Risa saling tatap. Rani menggenggam tangan kakaknya kuat. Rani yakin itu bukan manusia. Semua orang yang terjebak disini sudah berkumpul. Tapi melihat dari aura kedua wajah hantu itu, akan ada bahaya yang terjadi. Namun sayangnya kedua hantu itu tak berbicara.


"Kakak, apa itu suara neneknya?" Tanya Rani dengan agak sedikit menarik kakaknya menjauh dari semak-semak.


"Bukan, itu lebih seperti suara anak perempuan bukam nenek-nenek," Rani menepuk keningnya sendiri.


Bagaimana bisa suara seperti itu dia kira suara nenek-nenek.


SREEK

__ADS_1


Rumput tinggi itu tersibak, dan keluarlah seorang gadis dengan wajah tertunduk. Semuanya kaget kecuali Rani yang tak tau.


Semuanya kenal postur tubuh itu, rambut itu, tingginya, mereka semua kenal gadis itu.


"O...ocha?" Dimas memanggil orang itu hati-hati.


Benarkah itu Ocha? Gadis yang baru beberapa saat tadi dia dengar telah meninggal? Gadis yang beberapa saat tadi membuat dia menangis? Tidak. Kenapa bajunya terlihat kotor begitu, dan ada bercakan darah di baju itu.


"Ocha? Kamu terluka?" Dimas sepertinya sudah mulai melupakan jati diri Ocha sekarang.


Dia berjalan mendekat begitu saja.


Dimas menatap protes, kenapa Risa sekarang suka sekali menyuruhnya? Bodoh amat, sekarang dia sangat khawatir dengan gadis di depannya itu. Dia ingin memastikan bahwa Ocha masih hidup.


"Aku bilang berhenti Kak! Dia membawa pisau!," Mendengar penuturan Risa, Denis langsung menarik tangan kakaknya itu.


Walau tak terlalu kuat setidaknya dia bisa menghentikan langkah Dimas walau agak sedikit mengerahkan tenaganya.


Semua mata tertuju kepada tangan Ocha.


__ADS_1


"Saaa..." Ocha memanggil Risa, yang di panggil semakin mundur kebelakang.


"Saaa..." tak ada jawaban, yang ada hanya tatapan ketakutan.


"RISAAA!!!," Ocha bergerak begitu cepat, entah kapan dia sekarang sudah berada di depan Risa, dengan memainkan pisau yang mengkilap itu di depan bibirnya.


"Haaa...haaah...," nafas Risa memburu, namun sepertinya Ocha menikmati wajah ketakutan Risa.


"Apa... apa mau mu?" Akhirnya satu kalimat keluar dari mulut Risa.


"Lo harus mati!," Pisau itu kini menunjuk ke arahnya.


Rani terus beristigfar di sebelah Risa. Aneh, dia tak bisa menarik Risa menjauh. Sedangkan kedua hantu itu hanay berdiam diri di tempat. Mungkin bagi mereka itu adalah suatu drama yang enak di tonton.


"Kenapa? Apa aku ada salah sama kamu?" Kaki Risa menggigil begitu juga dengan badannya.


"Kau mengganggu ku! Kau menggoda Dimas! Kau mendekatinya! Kau harus tau! Dimas itu punyaku Sialan!," Suara Ocha menggelegar dan bergema. Itu pertanda bahwa tempat ini ada ujungnya. Tempat ini hanya sebuah ruangan yang berbentuk hutan. Ada dinding pembatas diantara mereka dan dunia yang nyata.


"Aku tak pernah menggoda atau pun mendekati Dimas! Dia bukan tipe ku! Jangan salah paham," Risa ingin menangis.


Karena pisau itu semakin dekat ke wajahnya, tinggal di dorong sedikit saja, maka pisau itu akan mendarat kasar di mukanya.

__ADS_1


__ADS_2