
Aku berusaha menjelajahi ingatan yang mungkin ada tertinggal dan terlupakan. Rani menunggu dengan memainkan game di hpnya. Tidak berniat untuk ikutan pusing denganku.
"Gak mau bantu mikir gitu dek?" tanyaku dengan niatan mengganggu dia bermain game. Kesal aja sih, kakaknya sibuk mikir dianya asik main game. Merasa terkhinati dong.
"Lah, kayak mana Rani mau bantu mikir? Kan yang menjelajah masalalu itu cuman kakak, Rani cuman jagain tubuh kakak saat kakak pergi ke masalalu. I don't know kak," jawab adikku itu enteng dengan tangan yang masih lincah di atas layar hp.
Oh Tuhan! Bantu aku mengingat siapa Bima itu. Apamah ada laki-laki yang masuk ke ingatanku selain ayah Liya? Ada! Tapi itu Nathan! Gak ada hubungannya sama masalah ini, Tunggu dulu," Aku masih terus berusaha mengingat pria yang bernama Bima itu.
"TOOK... TOK..." Aku dan Rani serentak menatap ke arah pintu yang di ketuk, siapa yang mengetuk pintu? Semenjak bisa merasakan kehadiran hantu aku menjadi curiga akan segala hal yang berada di dekatku, bahkan orang yang menyapaku saja harus aku perhatikan dengan teliti, sebelum menjawab. Apakah dia manusia atau bukan?.
"Ini nenek," Hufh... kami bernafas lega saat tau siapa yang mengetuk pintu di tengah malam seperti ini. Ternyata dia adalah si pemilik rumah.
"Ada apa nek?" tanya kami bingung, bukankah seharusnya nenek sekarang tidur, ini sudah terlalu larut, 23:47 WIB.
"Ini, album foto nenek dulu, mungkin berguna buat kalian," nenek tersenyum ke arah kami, membuat kami tak bisa menolak.
"Makasih nek, pasti seru bisa lihat foto-foto dulu," Rani mengambilnya dengan semangat.
__ADS_1
Nenek mengusap kepala kami satu-satu lalu meminta izin untuk kembali ke kamar. Aku menatap album yang sudah terlihat usang itu. Berwarna kecoklatan dengan rusak di sudut-sudut buku.
Tak ada debu, sepertinya nenek sudah membersihkan album itu. Kami duduk berdua di atas kasur, menatap album itu penuh penasaran, kantuk belum terasa jadi apa salahnya terjaga sedikit lagi untuk melihat isi album ini.
Kami serentak tersenyum manis melihat isi album itu, mulai dari foto mama waktu kecil dan ada juga foto bibi kami, alias kakaknya mama. Dia terlihat mirip dengan mama, rambut ikal dan ukiran wajah yang mirip dengan nenek. Tak ada satu pun di antara kedua anaknya yang mirip kakek.
"Eh kak, ini foto siapa?" adikku mengerutkan kening tak tahu.
"Bukan kitakan?" tanya Rani memastikan lagi.
"Bukan Ran, wajahnya beda, mereka kayak kembar ya, tapi beda usia gitu, yang satu lebih tua deh kayaknya," aku menerka sambil menyimpulkan apa yang aku tangkap.
Gaun putih mereka membuat mereka terlihat tambah menyeramkan, rambut panjang itu mendukung suasana tak hangat di antara mereka berdua.
Tunggu dulu!
__ADS_1
"Itu Liya!" pekikku tak percaya.
"Masa iya?" Rani ikutan fokus dengan salah sati wajah gadis di foto itu.
Mengapa ada foto Liya di album nenek? Apa hubungan Liya dengan nenek sebenarnya?
"Kalau ini Liya, berarti ini.... Sendi!," kesimpulan yang bagus dari adikku.
Tak perlu berfikir lagi, sudah pasti itu Sendi dengan tatapan dinginnya. Pantas saja mereka terlihat saling tak suka.
"Kak kok lama banget bengongnya?" tanya Rani padaku.
"Kakak kayaknya ingat sesuatu deh, Bima! Jangan-jangan dia yang membantu Liya waktu di dorong Sendi di belakang rumah waktu nyapu!," luar biasa otakku sepertinya mulai bisa di andalkan.
"Kakak yakin?" Pertanyaan Liya di jawab anggukan yakin dariku.
Iya, kalau aku tak salah ingat mereka menyebut nama Bima. Berarti Bima adalah orang kampung ini, kami tinggal mencari dimana keberadaan Bima.
__ADS_1
Pria yang membuat perpecah belahan kedua saudara ini.