Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
19


__ADS_3

Sesuai kesepakatan kami kemarin, akhkrnya sekarang sudah kembali di kampungnya Nathan, eh maksudnya almarhum Nathan. Sintia hanya berdiri diam menatap perbatasan kampung itu. Yang di atasnya tertulis dengan besar "KEMBANG".


"Kampungnya gak seramai yang di bayangkan," kata Sintia sambil berjalan masuk. Aku yang melihat anak iti berjalan sendiri tanpa mengajakku membuatku sedikit takut.


Anak ini suka sekali bertindak sesuka hatinya, seperti pagi tadi, dia dengan santainya naik ke atas motor Rudi untuk minta berangkat ke sekolah bersama. Rudi sudah menolak bahkan sampai membentak, namun sayang, sepertinya keras kepala Rudi kalah oleh sifat keras Sintia. Mau tak mau, adik laki-lakiku mengalah dan berangkat bersama Sintia.


"Wah, baru sekali itu aku lihat ada yang berani melawan adikku walau sudah menatap dengan kesal".


Kalau aku dan Rani di posisi Sintia tadi, pasti sudah langsung mundur dan tak mau lagi berbicata dengan Rudi seharian. Jujur, kalau kalian bisa lihat tatapan mata Rudi, kalian sendiri akan merasa takut dan terintimidasi. Aura Rudi begitu menyeramkan dan membuat siapapun memilih menjauh, ayah bahkan, memilih untuk pergi saat Rudi sudah mulai diam dan menatap tak suka.


"Sintia tunggu," aku langsung mencekat tangan anak itu. Aku takut kejadian yang menimpa ku dulu terulang lagi. Bisa-bisa kami tak pulang berhari-hari bahkan mungkin bisa bertahun-tahun.


Sintia tersenyum saat melihat bola mataku, sepertinya anak ini sudah tau apa yang aku fikirkan.


"Tenang aja kak, kita gak bakalan terjebak di sini, orang yang sudah pernah terjebak tidak akan terjebak untuk yang kedua kalinya. Mereka cuman ingin sekali saja bermain dengan orang yang sama, jadi kali ini kakak tak akan di tahan oleh mereka lagi," jelas Sintia.


"Tapi kamukan baru sekali Sin," kataku masih takut.

__ADS_1


"Kakak salah, ini sudah yang ke tiga kalinya Sintia di sini, dan yang sekarang adalah yang ke empat, gak usah takut. Sintia lihat tak ada yang bertambah, warganya masih sama." Kata gadis itu sembari menarik tanganku memasuki perbatasan.


"Kita langsung ke rumahnya saja," kata Sintia mengambil keputusan sesuka hati.


"Tapi Sin, Naell itu gak akan mau nerima kita, dia pasti berfikir aku bohong, di tambah lagi, kemarin aku tak jadi menemuinya karena ketiduran. Dia pasti sangat marah sekarang," kataku masih mengikuti langkah Sintia yang cukup cepat.


"Tenang aja kak, nanti si hantu kecil ini yang akan buat Naell percaya keberadaan hantu, dan, aku akan buat Naell bisa lihat apa yang sudah kakak lihat, sehingga dia akan percaya sendiri dengan kakak," kata anak itu.


"Tunggu dulu Sin, kamu bisa melakukan itu?" Tanyaku tak yakin.


"Tapi kenapa Rani tidak bisa?" Aku makin tidak mengerti sekarang, jika anak indigo ini bisa, kenapa adikku tidak bisa.


"Aku tidak tau, mungkin Rani yang velum menyadari kelebihannya, atau memang mungkin Rani hanya bisa lihat tanpa memiliki kemampuan lebih, tapi tenang saja, anak kayak Rani dan Rudi tak kan ada yang bisa membawanya," di akhir kalimat dia berikan aku senyum lagi.


"Lalu bagaimana denganku?" Bukankah tadi dia bilang cuman Rudi dan Rani yang tidak akan bisa di bawa mereka, lalu kalau aku?


"Kakak bisa di bawa, di tambah lagi kakak yang selalu mau membantu mereka, ingat kak, ini kali terakhir kakak membantu arwah tak jelas, setelah ini jangan. Bisa-bisa semua arwah yang meminta bantuan merengek kepada kakak untuk di tolong juga, alhasil kakak tak akan oernah lepas dari gangguang mereka," anak itu menjelaskan sambil menatap sekeliling dan sekali-kali tersenyum ramah kepada warga yang dia temui di jalan.

__ADS_1


"Benarkah? Wah, gak, cukup ini yang terakhir!" Aku bergidik ngeri membayangkan jika nanti semua hantu tak jelas itu datang ke kamar ku cuman sekedar minta tolong.


Aku bukan sukarelawan, dan seharusnya memang begitu.


"Kita sudah sampai," kata Sintia menhentikan langkahnya tepat di belakang ku.


"Kok kamu yang bilang sampai? Kan aku yabg tau rumahnya Sin, kita tu belum sam....." aku langsung ternganga melihat bahwa kami memang sudah sampai di depan rumah Naell.


"Kok kamu bisa tau rumah Naell?" tanyaku lagi.


"kan sudah ku bilang, aku bisa lihat apa yang pernah kakak lihat, ayok masuk," anak itu sekali lagi menarik tanganku.


Kami memasuki rumah yang tergolong besar dan tak terurus itu, aku yakin akan bertemu dengan wajah garang Naell lagi.


"Naell....." aku kaget dan langsung bersembunyi di belakang Sintia saat mendengar suara seorang perempuan paruh baya bergema di sekitar telingaku memanggil nama Naell.


"Tenang itu si hantu kecil, dia sudah mulai ganggu Naell... sepertinya dia gak sabar pengen kasih tau Nael kalau dia ada," kata Sintia menarik tubuh ku yang bersembunyi di belakangnya

__ADS_1


__ADS_2