
POV AUTHOR
Rudi dan Kelvin cemas melihat Rani yang berteriak entah kenapa. Karena mereka tak bisa melihat Sherly.
"Cairan apa di pipi Rani?" Kelvin menunjuk kearah Rani, cairan yang mereka lihat tak lain adalah darah dari Sherly.
"Ran, kamu kenapa dek?" Rudi berusaha mendekat ke arah adiknya tapi...
"BRAAK...." tubuh Rudi terhempas sangat kuat hingga terbentur di batang pohon beringin itu, seperti di dorong seseorang. Rudi meringis ke sakitan memegang punggungnya yang beradu kuat dengan batang pohon kokoh itu.
"Rud, apa itu tadi?" Kelvin berlari ke arah Rudi dan memegangi pundak adik temannya itu. Ini di luar nalarnya, tidak ada apa-apa di dekat mereka, tapi Rani bisa teriak histeris seperti itu dan Rudi melayang seperti tertiup angin yang kuat. Ada apa ini?.
"Jangan... jangan sakiti abang ku," Rani berteriak di sela-sela ke takutannya. Tapi mata Rani masih terpejam dengan kuat, tak berani menatap wajah yang kini bergantung manis di atasnya.
"HAHAHAHAA...., KAU PENGECUT TAPI KENAPA BISA MELIHAT KAMI?" Bukan hanya Rani yang mendengar suara itu, Rudi dan Kelvin pun dapat mendengarnya hanya saja Rani tau siapa yang berbicara sedangkan Rudi dan Kelvin hanya saling pandang seperti orang kebingungan.
"Terserah kau mau bilang aku apa, aku hanya ingin kau membantuku bertemu kakak," Rani mulai menangis, tapi dia berusaha menahan tangisnya, bagaimana pun dia tidak ingin terlihat lebih lemah lagi di depan makhluk itu.
"Hmm... kenapa aku harus membantumu?" Sherly melebarkan matanya, tapi itu percuma saja tidak ada yang bisa melihatnya Rani menutup matanya dari tadi sedangkan kedua cowok itu tak mampu melihatnya.
__ADS_1
"Aa...aku, aku akan mencarikan jasadmu dan menguburnya dengan layak," Rani tau bahwa sampai sekarang jasad Sherly belum di temukan. Karena warga baru saja kemarin tau bahwa gadis yang nakal itu telah tiada dari mulut Rani sendiri.
"Oke, itu imbalan yang bagus," ternyata tak sesusah yang Rani pikirkan, untuk membujuk hantu ini. Karena pada dasarnya Sherly hanyalah bocah kecil yang labil dan berakhir dalam kematian, yang Rani tak mengerti mengapa dia bisa meninggal seperti ini.
"Kalau begitu tolong menyingkir dari hadapanku," pinta Rani yang di turuti begitu saja oleh Sherly. Merasa tidak ada lagi hawa mengerikan di atas badannya, Rani mencoba membuka mata pelan-pelan, dia pun bernapas lega saat tak melihat Sherly di atasnya. Dia pun bangkit dari tidurnya untuk duduk dan....
"AAA... SIALAN KAU SHERLY," Pekik Rani yang membuat kedua tangannya refleks menutup mukanya.
"Dek kenapa?" Rudi berlari ke arah Rani begitu juga dengan Kelvin, tak tau apa yang terjadi dengan Rani.
"HAHAHAHAA... LIHAT WAJAHMU RAN," Kelvin mulai kesal dengan suara tawa anak kecil itu. Sepertinya suara itu yang terus membuat Rani ketakutan. Sedangkan Rudi langsung memeluk adiknya dari belakang,berusaha menenangkan adiknya.
"Menjauh dari ku!" Rani membentak kali ini dia benar-benar tak tahan dengan sikap kekanak-kanakan hantu itu. Saat Rani baru ingin duduk ternyata Sherly tepat di atas kaki Rani menunjukkan wajahnya dan tersenyum menyeringai dengan mulut lebarnya itu. Siapa pun yang melihatnya pastilah tidak akan tahan. Dan entah sampai kapan, Rani harus terus berurusan dengan hantu itu. Demi kakaknya, dia harus berani. Mungkin nanti dia akan menemukan yang lebih parah lagi dari pada ini.
"Kakak yang perhatian," Batin Sherly. Dia jadi merindukan sosok abangnya yang dulu selalu ada dan menjaganya sampai sesuatu terjadi pada abangnya. Sesuatu yang sampai sekarang masih menjadi benalu di hati Sherly.
"Apa maksudmu menjaga tiga nyawa manusia?" Tanya Rani yang sudah mulai tenang dan mencoba berdiri menyamakan tingginya dengan Sherly.
" Kakak mu tidak sendirian, ada dua manusia bodoh yang tersesat dan tanpa sengaja masuk ke rumah pembawa petaka itu. Siapapun yang telah menginjak rumah itu, akan menjadi incaran bagi Kintan. Dan bisa di pastikan Kintan dan arwah suaminya itu akan berusaha membunuh ketiga manusia itu tak terkecuali kakakmu," Sherly menjawab pertanyaan Rani. Yang sukses membuat Rani kaget.
__ADS_1
"Tunggu, maksudmu kakakku tidak sendirian di sana? Dan apa maksudmu yang mengatakan incaran Kintan? Bukankah Kintan itu nama dari saudara kembar nenek? Apa dia masih hidup?" mendengar pertanyaan Rani, Rudi dan kelvin tercengang. Ternyata Sherly ini, berhubungan dengan Kintan.
***
Di lain sisi Risa, Dimas dan Ocha sudah selesai berkemas, mereka bertiga langsung berjalan keluar rumah itu, namun sayang, cincin itu tiba-tiba bersinar saat mereka berniat keluar dari kamar, mereka tertangkap basah oleh sepasang suami istri itu, siapa lagi kalau bukan Kintan dan arwahnya Tarjo. Mereka ternyata sudah menunggu ketiga anak remaja itu di depan pintu utama. Risa yang sudah pernah melihat hantu itu langsung menutup mulutnya dan mengalihkan pandangan ke lantai, Dimas sendiri tiba-tiba menjadi gagap" Ha...ha...n t.. u," sedangkan Ocha, seperti biasa, berteriak sekencang-kencangnya yang membuat gendang telinga rasanya ingin pecah. Seandainya saja tangan Risa tidak menutup mulutnya mungkin sekarang kedua tangan Risa akan menutup kedua telinganya karena teriakan Ocha.
"Lari... ke pintu belakang," Risa menarik tangan Ocha agar berjalan ke dapur lalu menarik tangan Dimas yang masih berdiri di tempat dengan ke gagapannya itu.
" Risa, mau lari kemana cucuku, setidaknya datanglah kepada nenek. Apa tidak mau berkorban sedikit saja untuk nenekmu ini," Kintan berjalan masuk di iringin Tarjo yang menjepit kepalanya diantara badan dan tangan kirinya.
"Kau bukan nenekku," kata Risa yang sekarang sudah berhasil sampai di pintu belakang, Ocha membuka pintu itu dan mereka keluar dari sana, berlari secepat yang mereka bisa.
"Aku tetap nenekmu, ingat aku ini saudara Intan, Risa!" Suara teriakan Kintan menggema di telingan Risa dan kedua orang itu. Mereka tidak ingin mempedulikan Kintan. Terserah dia mau berteriak sekuat apapun mereka tetap tidak ada niat untuk mendengarkan.
Ketika telah merasa cukup jauh mereka memilih berhenti sejenak, karena bukan hanya kaki mereka yang lelah tapi bahu dan tangan mereka juga sangat capek memikul tas dan menarik koper.
"Apa benar dia saudara nenekmu?" Tanya Ocha. Risa tak habis pikir, nafas saja belum bisa di hirup dengan teratur tapi dia malah bertanya tentang ke kepoannya itu. Benar-benar cewek aneh.
Risa memilih diam dan tak langsung menjawab, dia ingin mengambil nafas yang sudah terbuang dari tadi. Sehingga membuat Ocha merasa di kacangin. Dia kesal dan melempar tas Risa yang dia bawa.
__ADS_1
"Aish...wanita ini...." Risa tak tahan lagi, melihat tingkah Ocha, dia benar-benar muak.
"Jangan bertengkar dulu, ku mohon," kata Dimas lalu menarik tangan Risa untuk kembali duduk.