
Rani menutup matanya rapat-rapat berharap dia bisa segera tidur tapi sepertinya mata tak mau di ajak kompromi, dia sama sekali tidak bisa tertidur. Sedangkan sekarang, dia sudah merasa kepanasan di balik selimut yang tebal, ingin rasanya dia mengeluarkan kepala dari dalam selimut, tapi dia sadar, bahwa sekarang dia tidak hanya sendirian di kamarnya, ada orang yang memegangi tangannya dari balik selimut.
Rani berkali-kali menelan ludahnya dan membiarkan keringat karena kepanasan menetes membasahi rambutnya. Padahal di kampung cuaca cukup dingin, tapi kenapa sekarang hawanya terasa begitu panas. Apa efek dari hantu pengganggu ini.
"AHHH... Aku sudah tidak tahan lagi! Bisakah kau pergi dan membiarkan ku tidur?" Rani berbicata dari balik selimutnya.
"Aku akan pergi tapi setelah kau mau mengobrol dengan ku," jawab hantu itu sambil meremas tangan kanan Rani. Tidak kuat, tapi cukup buat Rani makin berkeringat.
"Aku ingin tidur, bukan mengobrol," jawab Rani ketus.
"Tapi aku ingin mengobrol bukan tidur," hantu itu tak kalah ketusnya.
"Aaahh, terserahmu, apa yang ingin kau obrolkan, cepat katakan lalu pergi," Rani mengalah agar dia bisa cepat bisa tidur.
Sekilas dia pandangi arloji yang melingkar di tangan kirinya, sudah pukul 11.34 wib, ini sudah sangat larut, tapi kenapa belum juga mengantuk?
"Hmm, Risa, apa kau pernah merasakan di khianati sahabatmu sendiri? Aku pernah, rasanya sangat sakit, apa lagi kalau sampai di bunuh begini?" hantu itu mulai bercerita, dengan permulaan yang cukup mengerikan.
Rani merasa iba, dia pun berusaha mengintip keluar dan ternyata hantu itu duduk membelakanginya, dia menatap ke arah pintu kamar mandi. Sekarang Selimut sudah turun sampai ke lehernya.
"Kau di bunuh sahabat mu sendiri?" Rani bertanya sambil menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Karena lampu yang hidup hanya lampu tidur, selebihnya sudah mati.
"Iya, kita awalnya bermain bersama, semuanya baik-baik saja, sampai pada waktu itu, dia mendorongku masuk ke dalam kobaran api yang sedang menyala membakar tempurung kelapa, entah kenapa api itu begitu besar, dan aku tak bisa berdiri saat sudah terjatuh, ap kau tau, rasanya sangat sakiy di jilat api," Rani yang mendengarkannya bergidik ngeri, dia masih tak percaya ada orang yang tega seperti itu.
__ADS_1
Apa lagi di lihat dari hantu itu mungkin sebesar Risa kakaknya. Namun mengapa dia tega melakukan itu?
"Kenapa dia membunuhmu? Dan di mana dia sekarang," Rani bertanya pada hanth yang kini masih membatu menatap pintu kamar mandi.
"Entahlah aku tak tau, kenapa dia membunuhku? Dan dimana dia sekarang? Aku tau tau, yang masih ku ingat, dia sempat meminta tolong, entah untuk menolongku atau sekedar sandiwara," dari belakang Rani melihat hantu itu menundukkan kepalanya.
Apa dia bersedih, Batin Rani.
"Bagaimana kalau dia memang meminta tolong untukmu? Bagaimana kalau memang bukan dia yang mendorongmu ke dalam api? Mungkin saja itu orang lain, apa kau melihat dia mendorongmu waktu itu?" Rani mulai penasaran.
"Tidak, aku tidak melihatnya, saat itu aku membelakanginya, tapi siapa lagi kalau bukan dia? Karena yang ada di situ cuman aku dengan si brengs*k itu," nadanya mulai meninggi, membuat Rani otomatis menggenggam selimutnya kuat-kuat.
"Yah, bisa jadikan ada orang lain, kau tak bisa menyalahkannya begitu saja tanpa ada bukti," Rani menoleh ke arah hantu itu yang sekarang sudah berdiri.
"Percuma bercerita denganmu, kau malah tidak mempercayaiku, dan membela si brengs*k itu," setelah mengatakan itu, tiba-tiba hantu itu menghilang dan Rani menghela napas lega.
🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾
POV RISA
Sekarang kami berlima di tambah serly, sudah berada di dekat pohon besar saat aku pertama kali bertemu si S. Selama perjalanan tidak ada yang berbicara, Sherly menghilang begitu saja setelah menyuruh kami untuk ke tempat ini.
Ku rasa dia pasti tersinggung soal percakapan kami di dekat sungai tadi, aku pun juga salah, kenapa aku harua mengingatkan dia bahwa dia bukan manusia? Tohkan dia juga tau kondisinya sekarang. Bagaimana pun aku merasa bersalah sudah menyinggung perasaan Sherly.
__ADS_1
Dia pasti masih ingin hidup sebagai manusia, apa lagi dia mati dalam usia yang begitu kecil dan bukan mati karena penyakit tapi karena di bunuh. Dia pasti sangat sedih, di tambah lagi dia malah terkurung di sini, bukannya kembali ke alam yang tenang, ini semua karena ada dendam yang belum terbalaskan.
Aku ingin sekali dengan cepat menyelesaikan semua ini, sehingga kami bisa pulang dan Sherly bisa istirahat dengan nyaman tanpa perly menangisi kematiannya setiap saat.
"Lalu apa yang kita lakukan selama di sini? Tidak ada tempat untuk bermalam," Ocha mengeluarkan pertanyaan yang memang sekarang menjadi masalah terbesar kami.
"Aku membawa tenda di dalam tas, dan ke betulan ada dua, jadi kita bisa beristirahat di sini," Dimas menjatuhkan tas yang dia sandang sedari tadi.
Dimas pun meregangkan bahunya yang terasa pegal karena membawa tas besar itu.
"Tapi apa aman?" Ocha kembali bertanya, aku mengerti akan kekhawatirannya sekarang, bagaimana pun kami semua ingin selamat, dan beristirahat dengan nyaman malam ini.
"Di sini aman, Tarjo dan Kintan tak akan kemari, percayalah padaku," S datang dan berdiri di sampingku, membuatku agak maju tiga langkah menjauh darinya, dia suka sekali muncul secara tiba-tiba.
"Kau hantu juga?" Kali ini Kelvin yang bertanya, diiringi matanya yang menatap ke bawah dan melihat kaki S mengambang di udara. Kelvin pun mengangguk mengerti.
"Ternyata juga hantu," Jawab Kelvin santai, seperti tak ada rasa takut, apa Kelvin seberani itu?
Entahlah aku tak tau, karena sedari tadi kita berjalan, Kelvin yang paling waspada, dia terus melihat ke segala arah, memastikan tidak ada yang berbahaya di sekitar kami. Saat bertemu Sherly pun tidak ada raut wajah ketakutan di garis mukanya. Aku salut pada keberanian Kelvin.
"Bagaimana kami bisa mempercayaimu?" Ternyata Rudi berani juga bertanya, walay sekarang badannya bersembunyi di belakang tubuh tegap Kelvin. Aku tersenyum melihat tingkah adikku itu.
"Kau bisa tanyakan kepada Risa, apa aku bisa di percaya atau tidak," mendengar penuturan S sontak membuat semua orang menatapku.
__ADS_1
Aku yang di tatap, tersenyum tipis kemudian mengangguk, memberi isyarat kepada mereka bahwa S bisa di percaya, yah, mudah-mudahan saja dia bisa di percaya.
Dimas yang mengerti dengan penuturanku langsung berjongkok mengeluarkan tenda yang ada di dalam tasnya, Kelvin yang melihat itu segera berjalan ke arah Dimas, membantu untuk cepat mendirikan tenda karena hari sudah hampir malam.