Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Terbongkar 5


__ADS_3

Aku tersenyum miris melihat kedua sejoli yang sudah beda alam ini. Ternyata cinta mereka selama ini bukanlah bertepuk sebelah tangan. Hanya saja saling bersembunyi dan enggan untuk jujur. Dan malangnya, Liya sebagai manusia yang tak bersalah harus menjadi korban.


FLASHBACK ON (BEBERAPA TAHUN LALU, SEBELUM KEBAKARAN)


AUTHOR POV


Seperti biasa, di saat jam 17.00 , Liya harus siap-siap di dapur, untuk memasak dan membersihkan rumah. Semua bahan yang akan di masak sudah ia ambil di kebun ayahnya sebelum pulang ke rumah tadi siang. Ada cabe rawit, buah palo, jahe, kunyit hingga nangka yang akan di gulai sudah dia ambil.


Dengan susah payah, Liya menggapai nangka yang ada di dahan pohon, seperti sudah ke ahlian anak-anak kampung zaman dulu, mereka bisa melakukan segala hal tanpa perlu bantuan alat-alat. Jika orang-orang pada zaman ini mengambil sesuatu dari dahan pohon dengan cara di jangkau menggunakan alat pemetik buah. Berbeda dengan Liya pada masanya, dia memanjak langsung ke dahan pohon, memilih yang mana akan dia gulai.


Setelah semua selesai di keluarkan dalam kantong yang dia bawa, Liya mengikat satu ikat daun kelapa kering yang siap untuk di bakar dan di masukkan ke dalam tungku yang sudah ada kayu tersusun bersiap untuk di bakar. Yah, lada masa itu yang namanya kompor gas masih belum ada di desa. Masak harus menggunakan kayu yang di cari di hutan dan ladang.


Baru juga mau menyalakan api, tiba-tiba Sendi datang dari arah belakang Liya dan langsung menarik kerah baju adiknya dengan paksa.


Alhasil korek api yang sudah menyaka itu jatuh ke atas kain lap yang ada di samping Sendi. Liya maupun Sendi tak memperhatikan kemana mendaratnya korek api yang menyala itu.


"Kau puas HAH! Membuat aku buruk di mata Bima? Adik apaan kau ini! Kenapa selalu menyusahkan ku! Aku muak dengan mu! Sialan kau!" tubuh Liya terhempas kuat ke atas lantai yang terbuat dari papan itu.


Liya menggigit bibir bawahnya menahan pinggulnya yang terasa sakit karena mendarat dengan kuat dan tanpa persiapan.


"Apa maksud kakak?" Liya yang sejatinya memang tak mengerti kenapa kakaknya marah lagi, malah bertanya.


"Jangan sok lugu deh! Kemarin kamu ngadukan sama Bima, kalau aku ngancem dan pukul kamu? Ngaku aja deh!," Liya mengambil salah satu jahe yang sudah di petik Liya di kebun tadi dan melemparkannya ke muka Liya.


"Liya gak ada ngadu kak, kenapa sih kakak benci banget sama Liya? Padahal dulu kakak sayang banget sama Liya," Liya akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang selama ini tercekat di tenggorokan.


"Kamu itu pantas di benci Ya! Kamu udah buat ayah aku mati, cuman gara-gara nolongin kamu yang hampir jatuh kejurang cuman karena ke cerobohan kamu sendiri! Aturannya kamu aja yang mati! Jangan ayah aku! Dan sekarang kamu juga mau ngambil cowok yang aku suka? Jangan harap keinginan kamu terwujud Ya! Kamu gak panter bahagia setelah buat ayah aku mati!," Mata Sendi memerah, kali ini dia benar-benar marah.


Liya hanya bisa diam dan tak menyangkal perkataan kakaknya. Karena apa yang di katakan Sendi benar, Dulu waktu Liya masih berusia lima tahun, dia tidak mau tinggal di rumah dan meminta ikut dengan ayah mereka yang akan pergi keladang. Alhasil karena tidak mau melihat buah hatinya menangis, ayah Liya dan Sendi membawa Liya pergi.

__ADS_1


Awalnya ayah sudah memberi tahu agar Liya tetap di tempat dan tidak bermain di sekitar sini. Tapi namanya juga anak-anak, dilarang malah melakukan. Liya kecil berjalan ke arah tebing yang di bawahnya ada sungai, dia terus mengoceh pengen mandi di sungai. Tanpa Liya sadari kakinya tergelincir dan dia terjatuh.


Namun sepertinya Tuhan masih menginginkan Liya untuk hidup, baju Liya tersangkut di ranting pohon.


"Ayaaah!!!!," Liya tergantung seperti jemuran. Liya kecil sangat ketakutan dengan ketinggian hampir sepuluh meter.


"Liya!," sang ayah yang mendengar buah hatinya menjerit segera mencari bantuan untuk mengangkat gadis itu naik.


"Bang kenapa?" Salah satu tetangga mereka yang kebetulan juga ada di ladang datang menemui ayah yang kelihatan panik


"Tolong bantu saya bang,anak saya tersangkut di sana,"


"Astagfirullahalazim, sebentar bang, tadi saya bawa tali,"


"Biar saya ikatkan di batang pohon ini," kata bapak yang mengaku sebagai tetangga Liya.


"Ayah udah ada sama Liya, Liya jangan nangis ya, ini ayah," Ayah meraih tubuh mungil anaknya.


Memanjat kembali ke atas.


"Tolong ambil anak saya dulu," kata ayah kepada tetangganya itu.


Saat Liya sudah sampai di tangan ayahnya, dan ayahnya baru saja akan memanjat sampai ke permukaan, namun belum sampai ke atas ayah Liya malah melepaskan talinya, mungkin dia berfikir bahwa kakinya sudah menginjak benar di atas tanah. Tapi siapa sangka, salah satu kaki ayahnya tak menginjak tanah dengan benar, dan tiba-tiba dia terpeleset begitu saja.


Tetangga Liya langsung panik saat melihat tubub ayah Liya yang terjun bebas ke bawah dan tepat! Kepalanga mengantam batu sungai yang ada di pinggir.


"Maafin Liya," kata Liya saat mengingat kejadian yang sangat memilukan itu.


"Emangnya kalau kamu minta maaf ayah bakalan kembali gitu? Enggak Ya! Enggak! Dan sekarang ibu sudah menikah lagi, dan itu semua juga karena kamu tau gak! Karena ibu butuh biaya membesarkan kamu! Dia terpaksa menikah lagi, walau hatinya masih sayang sama ayah! Semua ini karena kamu!," Sendi terus menyalahkan Liya yang sudah terpojok.

__ADS_1


"Anak-anak! apa yang kalian lakukan di dapur hah! Kalian bakar apa? Kok kayak ada yang gosong?" Ibu datang dari arah depan.


Hidungnya menangkap bau gosong, sedangkan kedua putrinya tidak menyadari itu sedari tadi karena terlalu fokus dengan perkelahian mereka. Lebih tepatnya fokus dengan amarah Sendi.


"Bau gosong apa ma?" Kata Sendi beralih menatap mamanya.


"AAARHG.... API!," pekik Liya saat menyadari api sudah melahap bagian pintu belakang dan dinding tungku.


Bodoh ya? Sudah hampir besar tapi diantara mereka berdua tak ada yang sadar bahwa api sudah membesar, terkadang terlalu fokus akan satu hal itu tidak baik apalagi sampai melupakan sekeliling kita.


"Kak ! Awas!," Liya mendorong tubuh kakaknya yang hampir saja di himpit kayu yang roboh karena sebagian batangnya sudah terbakat api.


Namanya juga rumah dari kayu, sangat mudah untuk api memakannya. Liya yang mendorong Sendi tak berfikir akan keselamatan dirinya terlebih dulu. Bodohnya, Sendi selamat, namun kaki kanan Liya terhimpit kayu yang roboh.


"Kak bantuin Liya!," Liya terisak, saat menyadari api semakin mendekati kakinya.


Sendi tertegun, bukannya membantu adiknya dia malah menjadi patung saat itu.


"Gak ada waktu lagi, cepat keluar sama mama Sen!," Tangan Sendi di raih ibunya, membawa tubuh Sendi berlari meninggalkan Liya yang terus berteriak meminta tolong.


"Ma! Kak! Tolong Liya! Liya mohon, Liya mohon, selamatin Liya, Liya mau selamat," Liya terus mengulang teriakannya.


Dan kemudian dia berhenti memanggil mama dan kakaknya, dia sadar satu hal, bahkan sampai tubuh dan tulangnya hangus sekali pun takkan ada yang mau kembali ke dalam dan membantu dirinya. Dia memilih sadar diri, mungkin memang begini balasan yang pantas dia terima karena tidak mendengarkan omongan ayahnya waktu itu, hingga ayahnya tewas hanya untuk menyelamatkan nyawanya. Mungkin ini balasan yang cocok untuknya karena berani membuat hati kakaknya sedih. Mungkin ini waktu yang tepat untuk di panggil Tuhan, nyawanya akan hangus bersama tubuhnya hanya karena menyelamati kakaknya Sendi.


"AAAGH.....," Liya menjerit kesakitan, saat api sudah mulai menyentuh kakinya.


Dan menjalar memakan seluruh tubuhnya Sebelum Liya benar-benar menutup mata, satu hal yang dia mengerti selama ini.


"Selama manusia masih melihat masalah dari satu sudut pandang saja, maka yang namanya keadilan takkan pernah tercipta, suatu saat korbanlah yang akan mendapatkan hukuman, hanya karena melihat masalah dari satu sudut pandang saja,"

__ADS_1


__ADS_2