Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Terbongkar 4


__ADS_3

Air mata jernih itu bercampur dengan darah yang sudah membasahi pipi Bima duluan. Sendi yang melihat itu berubah sendu. Aku bisa lihat gurat wajah yang selalu tanpa ekspresi itu bisa berubah sesedih sekarang. Aku yang belum mengerti memilih untuk menyimak di samping Rani yang masih tertegun dengan keadaan pak Bima yang bisa melihat walau matanya mengeluarkan darah. Dan ajaibnya dia bisa melihat Sendi!


"Sen, selama ini... kamu salah paham, aku... aku... tidak pernah mencintai Liya," angin berhembus sangat kencang dari arah depanku.


Refleks aku dan Rani menghalang pasir yang berterbangan dengan kedua tangan kami agar tak mengenai mata. Bima pun begitu, hanya Sendi yang terlihat sangat marah sekarang.


"Beraninya kau menyebut nama anak itu!," Bima terkejut dengan suara Sendi yang bergema kuat menghantam telinga.


Sedangkan aku dan Rani sudah menduga bahwa Sendi akan menyakiti gendang telinga kami. Memangnya kapan Sendi pernah santai kalau berbicara?


"Jangan terus membenci adikmu seperti ini Sen. Dia sangat menyayangi mu," jelas pak Bima dengan wajah sedikit memelas.


"Menyayangiku katamu! Apakah dengan merebut semua yang aku miliki itu bisa disebut rasa sayang? Dia yang paling tau seberapa sayangnya aku sama kamu Bim! Tapi dia malah menggoda dan mendekatimu!," Sendi berteriak lagi di akhir kalimat.


"Berhenti menyalahkan Liya Sen! Liya tidak pernah menggodaku! Dia hanyalah bocah kecil yang lugu. Bertingkah ramah dan baik kepada semua orang, dia sudah menganggapku seperti abangnya. Tak lebih!," Bima tetap berusaha dengan kondisi stabil.


"Kau membelanya? KAU BERANI MEMBELANYA? KAU BILANG AKAN MENJELASKAN SEMUA KESALAH PAHAMAN INI, TAPI BUKTINYA KAU MALAH MEMBUATKU SEMAKIN MUAK DENGANMU BIM. DAN MEMBUATKU SEMAKIN BENCI DENGAN BOCAH SIALAN ITU!," aku dan Rani memilih menjauh beberapa langkah.


Jika tetap dekat dengan mereka, telingaku bisa budeg setelah pergi dari sini. Lagi pula kami seperti penonton yang tak di anggap. Mereka terus berbicara tanpa memperdulikan kami yang berdiri di dekat mereka sedari tadi.

__ADS_1


"Dengarkan aku," Bima mendekat ke arah Sendi.


"Kau yang harus dengarkan aku!," Sendi melebarkan matanya. Membuat yang tadinya menakutkan semakin menyeramkan.


Suasana mencekamkan di sekitar Sendi bertambah seram seiringan dengan matahari yang mulai berganti jadwal kerja dengan bulan.


"Baiklah, coba kamu ceritakan apa yang selama ini kau pikirkan," Bima mengalah, dan berhenti mendekat.


"apa kamu masih ingat Bim? Waktu aku sakit? Aku memintamu menemaniku, tapi saat kamu mendengar nama Liya, kamu langsung pergi dan tidak kembali. Lalu saat aku kelahi sama Liya, kamu malah cuman nemenin Liya doang! Aku enggak. Kamu cuman cinta sama Liyakan? Aku gak suka itu! Aku yang duluan kenal sama kamu Bim! Bukan Liya! Aku yang selalu ada buat kamu Bim! Bukan Liya!," Akhir kalimat di akhiri oleh isakan tangisan Sendi.


"Siapa yang bilang aku mencintai Liya?" Bima mengerutkan keningnya tidak suka.


"Kakak ingat! Kakak pernah lihat kalau Sendi sedang berbicara dengan perempuan tua di belakang rumah waktu itu. Jangan-jangan orang itu Nenek Kintan! Sial dia licik juga!," aku mendecak kesal.


"Dan kau mempercayai Kintan Sen?! Setelah apa yang dia lakukan selama ini? Kamu gak lihat ya kebusukan wanita tua itu?" darahku mendidih melihat tingkah Sendi yang lebih mempercayai orang lain dari pada adiknya sendiri.


Hanya karena cinta yang dia pikir tidak terbalaskan, dengan mudah dia membuat hidup seseorang hancur! Apakah ini kodrat cinta yang sesungguhnya? Membuat seseorang bertindak di luar kendali? Cinta yang aku dengar adalah sesuatu yang suci. Namun sialnya, manusia yang terlalu overdosis dengan cinta membuat cinta yang suci tadi menjadi sesuatu yang sangat menjijikkan. Membuat seseorang rela membunuh orang lain bahkan menghabisi dirinya sendiri.


"Tapi bukankah dia benar? Kalau Bima hanya mencintai Liya? Tidak ada bukti kalau dia tidak mencintai Liya!," Sendi berteriak frustasi.

__ADS_1


"Aku buktinya Sen, aku tidak pernah mencintai Liya! Aku....," perkataan pak Bima kembali menggantung.


Apa sebenarnya yang ingin di sampaikan pak Bima? Yang terus membuatnya gugup?


"Lalu kalau bukan Liya, siapa yang kau cintai Bim!," bahkan sudah mati pun, penjelasan Bima masih di perlukannya.


"Aku... aku... mencintai kamu Sen," astaga! Ternyata hal yang membuatnya gugup bertahun-tahun lamanya hanyalah sebuah pengakuan?


Apakah gara-gara pengakuan yang tak tersampaikan ini makanya hubungan kedua saudara itu terpecah bahkan sampai mereka meninggal.


"Apa?" Sendi kaget, dan kami berdua hanya menghela nafas kesal.


Cuman karena masalah cinta segitiga, bukan! Tapi karena masalah cinta yang tak tersampaikan ini kami berdua harus mengalami banyak kesulitan.


"Maaf selama ini tak bisa bilang padamu Sen, waktu kamu sakit, aku keluar langsung mencari Liya karena aku dengar Liya sudah menemukan obat yang akan di berikan padamu. Aku membantunya menggiling obat itu, sedangkan waktu kalian berkelahi, aku merasa bersalah melihat Liya yang harus menderita hanya karena aku yang masih belum berani mengungkapkan perasaanku padamu. Namun saat aku berniat menyampaikan perasaanku, pada hari itu aku pergi ke rumah mu, dan melihat api sudah menyala menjilat seluruh sudut rumah, dan saat aku tau kamu yang membakar rumah itu dan membuat Liya menjadi korban itu membuat hatiku sakit Sen. Aku tak menyangka kau tega membunuh adikmu hanya karena aku. Saat itu aku marah, namun ternyata semarah apapun aku padamu, aku tak bisa memungkiri bahwa rasa cintaku itu lebih besar untukmu," Penjelasan pak Bima membuat Sendi tertegun sejenak.


"Lalu kenapa kau tak mencariku?" tanya Sendi kemudian.


"Karena aku mendengar kabar kau menghilang, aku mencarimu namun nihil, aku bahkan tak tau kau ada dimana. Sampai semua orang menduga bahwa kamu sudah meninggal Sen, aku merasa menyesal karena tak mencarimu secepatnya," isakan pecah juga dari pak Bima.

__ADS_1


Sedangkan Sendi. Menatal nanar kepada Bima yang menangis. Aku tak bisa mendeskripsikan rautnya sekarang entah apa yang dia pikirkan.


__ADS_2