Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Masalalu Yang Terbongkar


__ADS_3

Pagi belum menyapa, matahari belum mau muncul di daerah mereka, tapi kedua gadis yang baru saja mengalami hal luar biasa itu tidak bisa kembali tertidur. Jam sudah menunjukkan pukul 03:50. Masih terlalu dini, hari masih lama menjelang pagi. Ingin tidur lagi, tapi Rani yakin Risa takut untuk kembali terlelap. Akhirnya Rani memilih menemani kakaknya itu terjaga.


"Kamu tidur aja dek, besok ngantuk di sekolah," walau pun takut, bagaimana pun Rani tak boleh kurang tidur. Di tambah lagi kemarin Rani tidurnya sudah larut.


"Rani nemenin kakak aja, udah gak ngantuk lagi kok," Risa terlihat kesal, adiknya berbohong!


Terlihat jelas mata adiknya masih memerah dengan kelopak mata yang susah di angkat, adiknya pasti masih pengen menyandarkan kepalanya di atas bantal.


"Siapa yang ngajarin Rani bohong? Kalau kakak suruh tidur ya tidur dek, jangan membantah," kali ini Risa berbicara dengn meninggikan oktaf suaranya.


Berharap Rani tak lagi menolak untuk kembali tidur. Dan ya, gadis itu mengalah, lagian matanya memang begitu susah untuk tetap terbuka. Dia tak bisa berbohong jika matanya saja tak mau kompromi untuk terus terjaga.


Risa menarik selimut menutupi tubuh Rani, membiarkan adiknya terlelap di atas kasurnya. Sedangkan Risa sendiri memilih berduaan dengan leptopnya yang kemarin baru saja di mainkan Rani.


"Haruskah aku cari tau tentang hantu yang di maksud Rani sekarang?" Risa berfikir sebelum mengetikkan apa yang ingin dia cari di halaman pencarian yang sering di sebut Go*gle itu.


Sedang asik mengetik mencari tau masalah kebakaran yang di bicarakan Rani kemarin, Risa malah terganggu dengan bayangan mimpinya tadi yang tiba-tiba terlintas.


"Ngomong-ngomong siapa pria yang ada di mimpiku ya? Kenapa kayak pernah lihat? Siapa ya?" Risa menekan keningnya dengan telunjuk mungilnya itu. Dia terus berfikir sampai lupa tujuan awalnya mencari masalah kebakaran di kampungnya.


TOK TOK TOK.


Tangan Risa yang asik mengetuk keningnya terhenti. Tubuh Risa berhenti bergerak, kali ini yang bergerak hanya darah yang mengalir di tubuhnya beserta jantung yang memompa dengan cepat.


TOK TOK TOK TOK....


Ketukan itu terdengar semakin lama namun dengan jeda yang sama, seakan-akan si pengetuk pintu sudah memperkirakan setiap detik dalam irama suara pintu itu. Ini tidak baik, makin lama ketukan itu semakin bertambah, seperti tak ada niatan dari si pengetuk untuk berhenti.

__ADS_1


"Apakah itu Rudi? Atau mama? Tapi ngapain juga mereka ngetuk pintu aku jam 4 pagi begini?" Risa berbisik entah pada siapa.


Perlahan Risa berjalan mendekat ke arah pintu, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, setelah sampai di depan pintu kamar, Risa duduk dan berbaring mengintip siapa dari bawah lubang pintunya.


'Astaga!' Risa membekap mulutnya sendiri agar tak berteriak dengan kencang.


Kaki yang Risa lihat bukan kaki milik keluarganya. Kaki itu terlihat pucat dan basah, Di tambah lagi kuku kaki yang panjang dan kuku jempol sebelah kanannya hilang, membuat daging di balik kuku itu terlihat.


Risa berjalan mundur, kali ini dia percaya bahwa hantu yang dia lihat kemarin sore semuanya bukan khayalan, Tapi nyata!.


Risa menarik selimut yang tersisa di samping Rani. Dia bimbang, kembali tidur atau tetap terjaga dengan hantu yang terus mengetuk pintu kamar itu? Bagaimana jika dia tidur dan kembali merasakan sensasi tercekik? Bagaimana jika nanti tidak bisa bangun lagi? Tapi apa yang harus dia lakukan jika hantu itu nanti masuk ke dalam kamarnya karena penat mengetuk pintu? Semuakan juga tau, kalau hantu itu suka masuk tanpa izin dari si pemilik rumah. Benar-benar tidak sopan!.


"Kakak kenapa?" Ternyata Rani menyadari kegelisahan kakaknya sedari tadi.


"Maaf, kakak ganggu kamu ya?" Risa berbicara dengan berbisik, takut hantu di luar sana menyadari bahwa mereka sudah bangun.


"Kok bisik-bisik sih?" Rani memicingkan matanya tak mengerti.


bagaimana pun hanya adiknya yang duluan melihat hantu yang ada di rumah ini, mungkin adiknya bakalan ingat dan tahu siapa hantu yang di luar, apakah hantu itu baik atau jahat, Rani mungkin tau.


"Hmmm, Tunggu, bukannya itu hantu dari rumah nenek? Dia memang sering terlihat basah," Rani berbicara dengan yakin.


Rani berdiri dari tempat tidurnya berjalan ke arah pintu. Risa yang masih belum tau apa yang mau di lakuin adiknya ini hanya memilih memgikuti dari belakang.


"Tunggu dulu! Rani, jangan bilang kamu mau buka pintunya?" Risa menatap dengan membesarkan matanya, memberi peringatan kepada si adik, agar tak membuka pintu.


"Iya, Rani mau buka, biar tau siapa di luar," jawab Rani dengan polos.

__ADS_1


"Jangan bercanda dek!," Risa menghalangi tangan Rani dengan memegang gagang pintu duluan.


Dan tiba-tiba suara radio rusak itu kembali menghantam telinga Risa.


"Apa ini!," Risa menutup telinganya dengan harapan suara itu berkurang.


Tapi sekuat apapun Risa menutup telinganya, suara itu takkan berkurang. Karena suara itu tak berasal dari luar tapi dari diri Risa sendiri.


Otaknya mulai bekerja, tusuk rambut yang di berikan nenek mulai bercahaya, sepertinya dia mulai bisa menyatukan diri dengan Risa. Rani yang menyadari energi kuat yang terpancar dari tusuk rambut itu tak bisa apa-apa. Dia bingung harus bagaimana. Sedangjan Risa semakin kesakitan. Suara itu semakin keras terdengar Risa maka semakin terang cahaya yang di keluarkan tusuk rambut itu.


Perlahan semuanya menyerap ke kepala Risa, perlahan suara itu menghilang dan Risa langsung terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri.


"KAAAK!!!," Rani kalang kabut, dia tak tau apa yang harus di lakukan. Keluarkah? Tapi hantu itu masih berdiri di depan pintu.


Sedangkan tadi Risa melarangnya membuka pintu, apa yang harus dia lakukan. Rani tetus berteriak memanggil kakaknya, agar cepat sadar dan jangan terus membuatnya khawatir.


🐾🐾🐾🐾🐾


Lain halnya dengan Rani yang panik. Risa malah kembali ke dalam alam bawah sadarnya, dia tertidur di dunia nyata dan berkelana di alam bawah sadar. Risa mengerutkan kening tak mengerti, kali ini dia di bawa kemana lagi?


"Ibu, sakit!," Risa langsung menangkap adegan yang ada di depannya.


Terlihat seorang bocah kecil tengah di pukuku dengan rotan oleh ibunya, kaki gadis itu terlihat sudah memerah karena bekas pukulan Rotan yang datang dengab keras. Risa bergidik ngeri melihat perlakuan itu.


'Bukankah anak itu memanggilnya ibu? Kenapa seorang ibu tega menyakiti anaknya sendiri? Tunggu dulu, Itu kan?' Risa kaget dengan sosok baru yang tertangkap matanya.


Selain si gadis kecil yang di pukuli dan ibunya ada seorang gadis remaja yang tak asing di mata Risa. Dia tengah berdiri menyaksikan gadis kecil itu di pukul, terlihat senyum sinis terlukis di wajah gadis itu.

__ADS_1


'Gadis itu bukankah S?'


Risa menutup mulutnya tak percaya, itu benar S, hantu yang menyelamatinya di rumah petaka itu. Apa hubungan S dengan semua ingatan ini?


__ADS_2