Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Pria Pemain Piano - Episode 6


__ADS_3

POV RISA


Kali ini kami sudah masuk di ruang musik. Takkan ada yang datang ke sini, hanya anak-anak ekskul yang bakalan masuk, itu pun nanti waktu jam pulang. Jadi kali ini hanya kami berdua di sini, di ruangan yang di penuhi beragam jenis alat musik, dan yang paling mencolok adalah piano yang berada di sudut kiri berwarna putih itu. Tempatnya yang tersudut namun terkesan nyaman di pandang membuat dia menjadi alat musik yang paling mewah di kelas ini. Sudah dari lama aku pengen mencoba memegang piano itu. Apalagi semenjak aku menjadi penggemar lagu-lagu klasik yang sering di cover dengan menggunakan piano. Itu membuatku menambah kecintaan kepada alat musik satu ini.


Perlahan aku mendekat ke piano itu, sedangkan Kelvin sibuk memperhatikan dua buah alat musik yang berbentuk seperti gitar itu. Ya, mungkin salah satunya adalah gitar, sedangkan yang satunya lagi mungkin itu bass? Ah aku juga kurang paham dengan alat musik.


Saat tangan ku hampir menyentuh piano itu tiba-tiba saja...


BRAAK...


"Apa itu?" mata kami langsung terfokus ke arah asal suara yang sepertinya ada sesuatu yang mengganggu di sana.


Ada pintu di ruangan ini, dan sepertinya tidak terkunci? Benarkah?


"Mau ngapain Vin?" Aku melihat Kelvin yang ingin membuka pintu itu. Tidakkah dia terlalu lancang?


"Kamu juga penasarankan Sa? Kita lihat aja," aku menggelengkan kepala tanda tak setuju. Namun sepertinya Kelvin tak meminta persetujuanku sama sekali. Dia dengan santainya langsung mendorong pintu itu, dan ternyata benar, pintu itu tidak terkunci.


"Gudang kayaknya," Kata Kelvin sambil menggerakkan tangannya menyuruhku ikut masuk.


Ya, aku juga penasaran, dan akhirnya aku ikut-ikutan lancang masuk ke ruangan itu tanpa izin. Padahal kami sudah lancang dari tadi sih, masuk ke ruangan musik juga tanpa seizin sekolah.


"Haaah....," tinggal satu langkah lagi aku masuk ke ruangan itu, tapi sial, mataku duluan menangkap isi ruangan yang Kelvin sebut gudang itu.


"Kamu kenapa Sa?" Kelvin yang sudah masuk duluan berjalan ke arah ku yang masih di ambang pintu.


"Itu.... ada....ada.. gantung...., kaki dan bibirku sudah duluan gemetar dari pada kalimatku yang belum selesai terucap.


Jika boleh ngompol aku sudah ngompol di tempat sekarang, ini mengerikan, dan hanya aku yang bisa melihat betapa mengerikannya sesuatu yang ku lihat di ruangan dengan pencahayaan lampu remang-remang itu.


Kelvin yang melihatku terdiam menunjuk ke arah dinding yang kosong hanya menggaruk kepala tak paham. Dia semakin gelagapan saat kakiku mulai tak bisa menahan tubuhku untuk tetap berdiri.


BRAAK....

__ADS_1


Akhirnya tubuhku merosot ke atas lantai dan aku terjatuh dalam keadaan terduduk.


"Apa yang kamu lihat? Coba jelasin?" Kelvin terus berbicara, namun bibirku mulai memucat.


"BRAAK..."


Kali ini suara pintu yabg di tutup oleh Kelvin, sehingga aku tak dapat lagi melihat sesuatu yang tidak baik buat kondisiku saat ini.


"Tenang dulu ya Sa," Kelvin mengusap punggungku memberikan aku ketenangan, walau sebenarnya itu tak membantu sama sekali.


Yang ku lihat sebenarnya tak terlalu menakutkan, hanya saja itu cukup membuatku terkejud dan sedih di saat yang bersamaan.


Kamu tau? Yang ku lihat tadi adalah Nathan! Yang sedang mengikatkan paksa leher seorang perempuan untuk di gantungan, yang talinya terhubung ke atas loteng gudang. Perempuan itu terus memberontak namun tangan, mata serta mulutnya di ikat dengan kuat. Aku tak tau apa yang Nathan lakukan, tapi itu benar-benar tak berperikemanusiaan!


Dan bagaimana wajahnya, aku pun tak tau, wajah perempuan itu tak terlihat jelas, namun aku bisa melihat dengan pasti, kaki perempuan yang tadinya bergerak meminta kebebasan dalam beberapa detik berhenti bergerak, dan itu untuk selamanya.


"Kenapa Nathan melakukannya?" aku syok! Ini tak sesuai dugaanku.


"Melakukan apa Sa? Apa yang di lakukan Nathan?" Kelvin menatapku yang masih menatap pintu gudang yang sudah tertutup.


"Nathan, dia membunuh seseorang," Dan kali ini aku masih berbicara dengan bibir yang gemetar, rasa dingin rasanya menjalar ke sekujur kakiku.


Begitu sulit untuk kembali berdiri, namun aku benar-benar ingin tau apa alasan dari seorang Nathan yang lugu, menjadi Nathan seorang pembunuh.


"Kamu gak salah lihatkan Sa? Kok bisa sih?" Kelvin juga meragukan kata-kataku.


Sesuai dengan aku yang juga meragukan penglihatanku. Entah aku yang salah lihat seperti yang Kelvin katakan karena istirahat yang kurang. Atau itu memang yang sebenarnya terjadi?


"Entahlah Vin, tapi sesuai apa yang aku lihat itu memang Nathan. Tapi..." kata-kataku terhenti saat tak sengaja mengingat kembali apa yang aku lihat.


Tidak seperti pembunuh lainnya yang aku lihat di Tv, Nathan tak berwajah dingin saat membunuh atau pun tertawa seperti psikopat lainnya. Yang aku lihat, Nathan menangis, iya!


Aku lihat Nathan menangis dan dia mengusap air matanya sambil melepas kaca mata yang dia kenakan. Memang agak lain dari Nathan yang pernah aku temui di mimpi, Nathan yang ku temui di mimpi agak sedikit kekarkah? Dan tak berkaca mata.

__ADS_1


Atau mungkin Nathan yang ku lihat sekarang dan yang ku lihat di mimpi itu berlainan waktu, mungkin yang ini Nathan ketika sekolah dan yang itu ketika sudah dewasa? Ah masa sih?


"Tapi apa Sa? Kok suka banget ngomong gantung gitu," kata Kelvin yang masih menunggu penjelasan ku dengan sabar.


"Tapi dia menangis," jawabku singkat dan padat.


"Menangis? Dia menyesal membunuhkah?" Kelvin berpendapat dan aku juga berpendapat.


"Aku gak tau Vin, aku mau memastikan apa yang aku lihat," kataku sambil berusaha berdiri dengan di bantu oleh Kelvin.


"Kamu mau lihat lagi? Yakin kuat?" Tanya Kelvin.


Aku hanya mengangguk meng-iyakan, kali ini bukan Kelvin yang membuka pintu, tapi aku.


Untuk yang kedua kalinya aku terdiam lagi.


"Kenapa lagi Sa?" Tanya Kelvin lagi dan lagi.


"Mereka hilang, aku gak melihat mereka lagi Vin," inilah kadang yang menyebalkannya.


Benar kata orang-orang, kesempatan baik tak datang dua kali. Seandainya saja Kelvin tak menutup pintunya pastilah aku bisa melihat lebih lama lagi.


"Berarti tadi itu kamu cuman berimajinasi kali Sa," kata Kelvin.


"Vin! Aku yakin kok, yang ku lihat tadi itu nyata! Aku gak berimajinasi Vin!," aku mulai kembali meningggikan nadaku, kesal karena kembali di ragukan.


Lagian kalau pun itu hanya imajinasi, kenapa aku harus membayangkan orang di gantung? Banyak yang lebih bagus di jadikan imajinasi dari pada hal mengerikan itu.


Kadang Kelvin kalau ngomong emang suka ngawur.


🐾🐾🐾🐾


Maaf ya lama gak up, soalnya paket author habis... Ini baru di isi...

__ADS_1


__ADS_2