
POV AUTHOR
Risa termenung menatap langit malam kali ini. Dia tak memilih tidur bersama adiknya, entah kenapa pikirannya merasa aneh belakangan ini. Masalah Liya mulai menemukan jalan, tapi pikirannya tak bisa terlepas dari Nathan, pria yang begitu mirip dengan cowok yang ada di penglihatan Risa. Akankah Nathan adalah hantu yang membohonginya? Mengapa dia tak bisa membedakan mana manusia mana hantu sih?
Risa terus mengetuk kotak yang berisi kalung itu. Jawaban tentang foto gadis mana yang berada di dalam kalung ini juga belun terjawab. Mengapa begitu banyak pertanyaan ? Kepala Risa rasanya mau pecah. Gadis itu mau menyerah, namun terlanjur masuk terlalu dalam. Kalau keluar sayangnya Risa sudah berniat untuk menyelesaikan semua masalah yang sekarang dia hadapi.
"Kamu harus kuat Risa. Mereka datang sama kamu karena yakin kamu bisa bantu mereka. Gak apa-apa, nanti juga ada sisi positifnya. Semangat!," Risa menyemangati dirinya sendiri di tengah malam, tanpa ada siapa pun yabg terjaga di rumah itu selain Risa seorang.
Mata Risa berbinar menatap malam yang kelihatannya indah tanpa mendung. Bulan sempurna dalam bentuk bulat dan bintang bertebaran banyak di atas sana.
Namun, keindahan di atas sana sepertinya tak berdampak di kamar Risa. Tiba-tiba saja Bulu tangan Risa berdiri. Ada yang mendekat, suasana menjadi seram kali ini. Di tambah lagi lampu yang hidup cuman lampu tidur yang Risa bawa dari rumah. Lampu tidur kecil yang bisa di bilang seukuran Hp dengan bentuk seperti jamur. Bayangkan, lampu sekecil itu menemanimu di saat mencekamkan seperti ini.
Bukannya membantu, cahayanya malah menambah nuansa seram.
'Apakah kali ini Liya?'
TAAP.....
__ADS_1
Bahu Risa di sentuh seseorang. Risa berusaha mencuri pandang dimana posisi adiknya tertidur. Namun sialnya adik Risa masih di situ, tidur dengan nyaman sambil memeluk bantal guling. Dengan begitu berarti yang memegang pundak Risa bukanlah Rani dan juga bukan manusia.
'Ini tidak lucu'
Walau sudah bisa melihat hantu, tetap saja rasa takut masih ada pada diri seorang Risa.
"Kenapa cuma diam? Apa kalian gagal?" tanya hantu yang sudah di pastikan bahwa dia adalah Liya.
"Hah... tidak bisa di bilang gagal sepenuhnya Ya!" Jawab Risa setelah menghela nafas yang sedari tadi di tahan karena takut.
"Maksudmu? coba ceritakan," kata Liya lalu terbang begitu saja duduk di atas meja yang berada tepat di depan Risa.
"Enggak! Dan gak mau!," Liya ngotot dan Risa mengerutkan keningnya tak suka.
'Bisakah sehari saja aku tak mengobrol dengan para arwah ini? Sangat aneh! Masih begitu tabu ! Berbicara dengan mereka bukan hanya tak masuk di akal tapi juga sangat menguras emosi!,' Risa terus mengoceh di dalam hatinya.
Karena Liya tak mau mundur, Risa memilih berdiri dari tempat duduknya dan mundur satu langkah besar, jaga jarak penting. Hati-hati jika nanti Liya tiba-tiba marah karena berita yang akan di sampaika Risa. Mana tau nanti Liya marah dan mencakar wajahnya jika berdiri terlalu dekat.
__ADS_1
Kalau menjaga jarak seperti ini, bisa memudahkan diri untuk menghindarkan?
"Oke... jadi begini, tadi itu aku berhasil bertemu Bima, dan juga sukses menemukannya dengan Sendi. Namun sayang, obrolan mereka tak berjalan lancar, emosi sendi selalu meluap-luap setiap kali mendengar namamu. Aku gak tau apa masalah kalian sebelumnya, tapi setelah melihat kejadian hari ini, aku sedikit mendapatkan celah utnuk mengerti. Hanya saja, Saat Sendi mendapatkan penjelasan dari Bima. Sendi seperti berubah menjadi diam, dan tiba-tiba menghilang," jelas Risa dalam sekali tarikan nafas.
Dan Liya hanya diam menyimak, tak ada balasan sampai Risa berhenti bercerita. Risa makin tak paham, Sendi tadi juga terlihat persis dengan Liya saat ini. Diam dan tanpa ekspresi, ini bagaimana ceritanya?
"Apa dia masih ada rasa sayang sama aku?" setelah sekian lama terdiam sampai kaki Risa pegal karena lama berdiri, akhirnya berbicara juga.
"Dia si....apa?"Tanya Risa hati-hati karena melihat ekspresi Liya tidak seperti biasa. Seperti ada perasaan was-was di raut wajah itu.
"Sendi! Yang aku maksud Sendi! Apa dia masih sayang sama aku?" tanya Liya sambil mendesak kepada Risa.
"Mana aku tau," jawab Risa setelah tiba-tiba Liya mendekat ke arahnya menuntut jawaban.
"Lalu kenapa dia cuma diam dan menghilang?" tanya Liya hampir seperti berbisik.
"Mana aku tau, bukankah kamu hanya mau fokus dengan ibumu? Kenapa sekarang sibuk dengan Sendi dan Bima? Kenapa kamu menyuruhku menyelesaikan masalah kalian bertiga? Kamu kira aku lupa Liya? Saat kamu bilang masalah ibumu membencimu adalah hal yang ingin kau ketahui, padahal sebenarnya kamu lebih penasarankan kenapa kakakmu membencimu? Tidak bisakah kali ini kamu percaya padaku? Dan menceritakan semuanya tanpa tertinggal apapun, biar aku bisa mudah membantu masalahmu, jangan terus mempersulitku, beri tahu semua rahasia yang kalian simpan," Risa kali ini berbicara panjang sekali.
__ADS_1
Dia mulai penasaran dan mulai tertarik dengan masalah Liya, sepertinya tak bisa di tinggalkan dan di lewatkan.