
"Kami... kami temannya Sendi," jawab Risa untuk menghalau ke curigaan wanita itu.
Bukannya merasa yakin, wanita itu malah tertawa kecil. Seakan-akan menertawai kebodohan Risa.
"Anak saya tidak punya teman di kota, kamu jangan bercanda. Lebih baik kalian pergi, saya tak menerima tamu," wanita itu membelakangi mereka bertiga, dan berjalan masuk kembali ke rumah, di iringi makhluk besar yang juga tak mau tertinggal dari mama Liya.
"Saya tidak bercanda, kalau anda tidak percaya tanya saja dengan Sendi sendiri," langkah wanita itu terhenti mendengar perkataan Risa.
Matanya yang terlihat kesal berubah menjadi menahan amarah, dia sepertinya tak suka dengan apa yang di katakan Risa barusan.
"Kamu bodoh? Anak ku sudah lama mati! Berhenti terus berbohong padaku, jangan memancing amarah ku anak kota!," Tangannya menggepal, kali ini Risa bisa melihat tingkah dan cara bicara yang asli dari mama Liya. Tidak di masalalu tidak pula di masa ini cara bicara wanit a itu tetap kasar, Siapa pun juga yakin orang seperti dia pasti di benci tetangga.
Tiba-tiba saja kompas yang Rani pegang berputar dengan cepat. Melihat itu Rani menjadi terpaku, dadanya berpacu cepat. Ini pertanda ada hal buruk yang akan terjadi. Ada orang jahat di sekitar mereka.
"Kak, makhluk itu kayaknya jahat deh, jarum kompas Rani berputar terus," Rani menunjukkan kompasnya kepada Risa.
'Sial, di saat seperti ini ada saja yang mengganggu,' Risa menggerutu dalam hati.
"Sendi di sini, dia memang sudah mati, tapi dia sekarang di sini," Risa berjalan mendekat ke arah wanita itu dan berarti juga mendekat ke makhluk tinggi yang menyeramkan .
"Jangan masuk ke rumah ku!, atau kau akan menyesal," Wanita itu berteriak melihat Risa yang mendekat.
Dengan sigap Bima langsung memegang tangan Risa agar tak melanjutkan jalannnya.
Gadis kecil ini kelihatannya saja sok pintar, tapi bertingkah tak berfikir terlebih dahulu. Mama Sendi di kenal dengan orang yang menepati kata-katanya, bagaimana jika nanti dia mencelakai Risa? Yang repot pasti Bima juga.
"Apaan sih pak!," Risa menarik tangannya dari genggaman Bima.
"Jangan gegabah dek! Kamu gak tau orang yang kamu hadapin ini seperti apa. Tetap di tempatmu dan kita usahakan ngomong baik-baik," Risa mendecak kesal.
Namun apa yang di katakan Bima ada benarnya juga. Risa sudah gelagapan saat melihat jarum kompas Rani berputar, dia fikir dengan mendekat ke arah mama Sendi itu akan membuat makhluk itu tak berani melukainya.
__ADS_1
"Jelaskan apa tujuan kalian ke sini, sepertinya kalian punya niat tersembunyi," Wanita itu akhirnya memberikan kesempatan kepada tamu tak di undangnya.
Melihat Risa yang bertingkah seenak jidatnya masuk rumah orang membuat Mama Sendi penasaran, apa sebenarnya tujuan kedua gadis kota ini?
"Oke, kalau begitu yang tante mau, saya akan langsung ke intinya. Tante masih ingat Liya?" Risa cocok kalau di julukin cewek blak-blakan.
Bukannya menjawab, wanita itu langsung menutup pintu rumahnya dengan tak berperasaan. Tentunya itu sukses membuat ketiga orang yang di luar itu kaget.
"Lah kok malah pintunya di tutup, aduh... nguras waktu banget! Tan... buka dong, kita cuman mau tau aja, kenapa tante benci banget sama Liya! Please, jawab kami! Liya gak bakalan tenang kalau tante gak mau kasih tau," Rani menggedor pintu itu dengan tangan mungilnya.
Dia benar-benar tak menduga reaksi seperti ini yang akan di berikan wanita itu. Rani terus menggedor pintunya sampai kulit putihnya itu memerah.
"Ayolah! Jangan mempersulit kami, sesusah itukah menjawab pertanyaan itu? Jangan jadi pengecut dong tan," Risa berusaha memprofokasi orang dalam rumah.
BRAAK...
Pintu di tarik begitu saja, hampir saja Rani tersungkur karena pintu tempat dia bersandar terbuka secara tiba-tiba.
Rani dan Bima yang menyaksikan tak bisa apa-apa selain menonton. Untuk kali ini, biarkan mereka berdua saja yang adu mulut.
"Kenapa tante bilang dia anak sialan? Semua anak itu terlahir dengan baik, gak ada yang sialan tan. Apa lagi Liya itu anak yang baik," Risa tak mau terlihat lemah, dia tak mundur walau wanita itu terus mendekat.
"Dia anak yang baik katamu? Anak yang terlahir karena hubungan kotor tidak akan pernah menjadi baik, dia terlahir cuman untuk merusak rumah tanggaku! Hanya menyusahkan ku!,"
DUAAR...
Bagai petir di siang bolong, tidak ada angin atau hujan, petir menyambar begitu saja di hati Liya. Hantu itu terpaku mendengar perkataan ibunya, begitu juga dengan ketiga manusia yang menyimak itu.
"Anak dari hubungan kotor? Apa maksud mama?" Tanpa dugaan kami, Liya mendekat berdiri di samping Risa. Mata Liya sudah mulai di genangi oleh air jernih yang disebut air mata itu.
"Akhirnya kamu bicara juga," Kata mama Liya tiba-tiba.
__ADS_1
Risa dan Rani terkejut olehnya, wanita kasar itu bisa melihat Liya? Apa dia juga memikiki indra keenam? Risa dan Rani hanya terdiam menyaksikan kejanggalan itu. Sedangkan Bima yang tak mampu melihat arwah hanya melihat tak mengerti, dengan siapa mama Liya berbicara?
"Ma, kenapa mama bilang aku anak dari hubungan kotor? Ma, aku kan anak mama juga," Liya merengek layaknya anak kecil. tubuh mungil yang pucat dan basah itu bergetar menahan tangis.
"Jangan pernah katakan bahwa kau anak ku! Kau tak pernah lahir dari rahimku. Anak ku hanya Sendi, "
"Lalu aku anak siapa ma?" Dia masih berusaha menahan air mata yang memaksa keluar.
Ternyata hantu bisa nangis.
"Kamu itu anak dari perempuan murahan! Ibumu itu sudah merusak rumah tangga ku! Dia menggoda suami ku! Dan setelah kau lahir, wanita menjijikkan itu malah memberikan mu pada suamiku, dengan alasan tak bisa menghidupkanmu, kau tau betapa menyakitkannya saat melihat wajahmu? Saat kau datang dan memanggil ku mama? Kau tau? Itu sangat menjijikkan bagiku! Ibumu sudah menghancurkan rumah tanggaku dan kurang ajarnya dia malah menyuruh aku merawatmu! " Wanita itu terus berteriak dan menangis di tengah jalan.
Risa bisa merasakan betapa terlukanya hati wanita itu yang membesarkan anak dari selingkuhan suaminya. Risa mengerti betapa hancurnya hati mama Sendi sekarang.
"Ma... mama serius?" Liya berjalan dengan kaki basahnya itu. Dia mendekat ke arah Orang yang dia panggil mama.
"Aku bukan mamamu! Menjauh!," langkah Liya terhenti. Air mata yang tadi dia tahan terjun juga akhirnya.
Pertanyaan yang selama ini ingin dia temukan jawabannya menjadi penyesalah sekarang, seharusnya dia tidak mencari jawaban ini, karena jawaban yang dia dapat hanya membuat hatinya makin terluka. Bukannya terobati, malah menambah luka baru. Akhirnya dia baru sadar dan mengerti kenapa dia di perlakukan seperti hewan. Karena ternyata dia terlahir dari hubungan yang begitu rendah, lebih rendah dari pada hewan itu sendiri.
Liya membalikkan badannya, dia terima kebencian dari ibu tirinya itu. Mungkin inilah jalan hidup yang tepat untuk anak haram sepertinya.
"Liya!," Liya menghentikan langkahnya saat mendengar suara seorang yang sangat dia kenal memanggilnya dengan lantang.
"Ka.....kakak?" Dia tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Sendi yang cantik dalam wujud hantu begitu mengerikan, pisau yang tertancap di leher, pipi yang bolong, dan wajah yang semakin mengerikan.
"Tetap di sini, kamu tidak salah, kamu tidak pantas mendapatkan segala kebenci ini Ya!," Gadis yang dia panggil kakak itu menggenggam tangannya dengan kuat. Tangan dingin itu memegang tangan Liya yang juga dingin.
Risa dan Rani masih memilih diam, sepertinya mereka tak boleh ikut campur, ini adalah masalah keluarga, dan mereka tak berhak ikut serta.
__ADS_1