
Sekarang di kamarku sudah lengkap seluruh keluarga. Ayah yang masih bekerja pun sudah pulang lebih dulu dari pada jadwalnya. Rudi dan Rani sudah duduk di sampingku, berbeda dengan ibu yang baru saja keluar ingin mengambil air.
"Minum ya?" Ibu masuk sambil membawa satu nampan berisi air dan oh tidak! Itu satu bungkus obat!
Please! Aku bukan sakit karena medis! Di kasih obat juga tidak akan sembuh. Ini semua karena hantu sialan itu! Pakai acara mirip sama aku lagi, akhirnya malah ngerasain sakit yang sekarang masih terasa berdenyut, setiap kali aku mencoba berbicara.
"Enggak ma, kakak udah gak apa-apa kok," aku menggeleng pelan, tak mau terlalu kuat. Karena kepalaku nanti semakin sakit.
"Kali ini mama gak mau dengerin kata kakak! Jangan melawan! Kalau mama suruh makan, ya makan!," Oke, ibu ku sudah memaksa. Dengan begitu tak ada celah untuk menolak.
Dari pada nanti di julukin anak durhaka cuman gara-gara gak minum obat, kan gak lucu. Dengan berat hati, ku raih obat yang sudah di buka mama dan memasukkannya ke dalam mulutku.
Dengan tangan kiri menjepit hidungku agar bau obat tak tercium. Setiap kali mencium bau obat perut ku selalu mual. Bau obat itu benar-benar tak sedap.
"Udahkan ma?" Mama tersenyum puas kali ini.
"Kakak kenapa? Kok sering pingsan belakangan ini? Ada yang sakit?" Kali ini ayah yang bertanya padaku.
"Enggak kok yah, mungkin cuman karena kecapekan. Kakak baik-baik aja kok, seriusan gak ada yang sakit, tenang aja," Kali ini aku jujurkan?
"Ya udah, nanti kalau emang ada yang sakit, kamu bilang, jangan diam aja, nanti tambah parah," nasehat ayah.
"Sip yah," ujung jari telunjuk dan jari jempol aku satukan sehingga melambangkan 'OK'.
Ayah tersenyum sambil mengusap kepalaku.
'AU... Bahkan di sentuh saja kepala ku terasa sakit, efeknya kayaknya bakalan lama deh,'
"Kalau gitu ayah lanjut kerja, kalau ada apa-apa telpon ayah ya ma?"
mama mengangguk setuju. Kali ini tinggal kami berempat. Mama terus duduk di sampingku. Was-was kalau aku kenapa-napa lagi.
Sedangkan kedua adikku gelisah ingin bicara, namun mama masih di dekat kami.
Bagaimana cara menyuruh mama keluar tapi tak terkesan mengusir?
__ADS_1
"Ma, mama gak masak? Biarin kami yang jagain kakak, lagian kata kakak tadi dia gak apa-apa kok," Rudi tak sabaran ingin bicara dengan ku kayaknya..
"Oke, tapi bener ya? Jagain kakak, jangan sibuk sama hp?" mama mengancam Rudi yang sedari tadi terlihat sibuk bermain game.
Dia tersenyum sambil nyengir, mengangguk setuju dan menjauhkan hp dari tangannya itu.
Sesuai harapan hanya ada kami bertiga di kamar kali ini. Aku berusaha mendudukkan badanku walau setiap bergerak rasanya begitu ngilu.
"Apa yang kakak lewatkan?" tanyaku langsung kepada kedua anak-anak ini.
"Kayaknya, titik tengah dari ketiga senjata ini punya Rani deh kak," Rudi duluan menjawab.
"Maksudnya?" tanyaku tak paham.
"Iya, lihat deh," Rudi mengambil kunci yang sudah dia bersihkan dari darah. Lalu Rani meletakkan kompasnya di atas beserta pisau kecil yang dia keluarkan dari kompasnya. Lalu Rani juga mengambil tusuk rambutku yang terletak tepat di sampingku.
Luar biasa! Seperti kemarin, punyaku dan Rani menempel begitu juga dengan punya Rudi. Dan ketiga benda itu seperti ingin mengeluarkan sesuatu di dalam tubuh mereka. Kami benar-benar ingin tau sekarang, dan saat ketiga cahaya dari benda itu menyatu. Tiba-tiba dalam sekejap cahaya itu menghilang, seperti tak terjadi apa-apa.
Aneh
Tadi kayak akan meledak atau apalah, tapi ternyata kenyataan tak sepertu ekspetasi. Benar-benar mengecewakan.
"Tunggu dulu, lihat deh, di kunci ini ada nama aku kak!," Rudi menyodorkan kuncinya kepada kami berdua.
Dia benar! Ada nama Rudi di situ. Aku dan Rani langsung memeriksa milik kami masing-masing. Dan hebat! Punya kami pub memiliki ukiran nama kami sendiri, ini benar-benar ajaib!.
"Kak, dia kayak mengikat gak sih sama kita? Kayak udah nentuin dirinya buat kita?" pendapat Rudi masuk di akal.
Yah, mungkin kali ini mereka mengakui kami sebagai pemilik baru mereka!
"Oh ya kak, dari tadi mau nanyain sih, itu kotak apa? kok kayk gak punya kakak?" Rudi yang kepo malah salah fokus ke kotak Nathan.
"Oh itu, punya temen kakak, kakak pinjem," Rudi hanya mengangguk tak ada niatan bertanya lagi.
"Ya udah, kalau gitu aku ke kamar dulu ya? Mau lanjutin mabar," Tanpa meminta persetujuanku anak itu sudah menyelonong keluar bersama kuncinya.
__ADS_1
"Rani mau keluar juga?" Tanyaku saat melihat muka Rani yang sedari tadi kelihatan gelisah.
"Iya nih kak, kebelet, mau ke kamar mandi," astaga, dari tadi dia nahan selama ini?
"Ya udah cepat sana, nanti keluar lagi," aku tak habis pikir dengan tingkah kedua adikku ini. Mereka benar-benar di luar dugaan.
🐾🐾🐾🐾
Tak ada kegiatan, aku sibuk memperhatikan kotak itu. Sudah siapkah aku membaca isi kertas itu? Apa nanti aku akan terbawa ke masalalu juga? kepalaku masih sakit. Takut nanti di bawa ke rumah sakit sama mama kalau pingsan sekali lagi.
"Ah bodoh amat, mudah-mudahan aja gak pingsan," kataku sambil mempersiapkan tangan menyentuh kertas yang di lipat itu.
TAP....
Tangan ku sempurna meenyentuh kertas itu, dan tak ada yang terjadi padaku, sejauh ini masih baik-baik saja. Dengan perlahan-lahan aku membuka kertas itu takut kalau nanti sobek.
Aku terpana saat melihat tulisan di dalamnya, sangat rapi dan indah, seperti di ketik di komputer.
Tak mau lama-lama terpana, aku pun langsung mempersilahkan mataku untuk membaca isi pesannya.
****Untuk Nathan*
Sepertinya pagiku esok akan berhenti, maaf jika nanti aku tak bisa lagi menemanimu. Nathan, adakalanya aku lelah mengejar. Ada kalanya ku tak mau terus seperti orang bodoh.
Jika nanti kamu tak lagi temui aku, maka tolong kembalilah tersenyum. Maaf karena telah menjadi mimpi burukmu, aku pergi, sekaligus mengakhiri semua kesedihanmu.
Nathan, aku cuman mau bilang, bukan aku, bukan aku yang membunuh Linda***.
BRAK
Kotak di sampingku jatuh karena tersenggol oleh siku ku. Seketika dadaku terasa sesak. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ada Linda?
Oh Tuhan, apa masalah Linda yang selama ini tidak aku ketahui? Kematian Linda memang tak ada yang tau kenapa. Semua orang tak bisa berspekulasi.
Tak ada yang bisa bilang dia bunuh diri, karena memang tak ada bukti, di bunuh? Itu lebih tak masuk akal karena sejauh ini Linda tak punya musuh.
__ADS_1
Tapi benarkah isi surat ini? Apakah aku begitu bodoh selama ini?