Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Rencana Penyelamatan Diri 3


__ADS_3

Kami semua terbenam dalam pikiran masing-masing, Rudi duduk di atas batu sambil mengukir di atas tanah dengan ranting yang entah dimana dia dapatkan. Kelvin sibuk dengan lamunannya sendiri sambil melihat air sungai. Sedangkan Dimas, dia masih setia menunggu Ocha bangun, duduk di samping wanita cerewet itu.


Bagaimana dengan ku? Entahlah pikiranku entah berkelana kemana, pikiranku kacau, sama sekali tidak ada yang menarik untuk di bayangkan. selain satu hal, yaitu keluar dari tempat ini!


Jangan tanyakan keberadaan S, dia marah dan kembali menghilang, aku yakin saat dia datang tadi ingin menyampaikan sesuatu. Tetapi karena Si Dimas ini, dia harus pergi lagi. AISH!!!! Gak manusia gak hantu sama-sama baper, gak bisa apa fokus sama keadaan kita sekarang?


Kenapa masih mengandalkan emosi? Seharusnya kita saling percaya saja! Karena bagaimana pun kita sama-sama pengen selamat dari sini. Hah... namun sayangnya, orang -orang yang terlihat tua ini, pemikirannya sangat dangkal! Terlalu baperan!.


"Sa, jangan melamun," Kelvin datang dari belakang.


Dia menepuk pundak ku pelan, menyadarkanku agar tak membiarkan pikiranku kosong.


"kalau pikiranmu kosong, bisa-bisa nanti malah kamu yang kerasukan Sa," kata Kelvin,lalu menarik tanganku agar berkumpul di dekat Dimas. Yang ternyata Rudi sudah berada di sana.


"Jangan takut-takutin aku Vin," aku agak sedikit mendongak untuk melihat wajah Kelvin.

__ADS_1


Tinggi Kelvin kisaran 185 cm, itu sudah cukup membuat leherku pegal untuk mendongak walau sebentar.


"Aku gak nakut-nakutin kamu Sa," dia mengucek rambutku yang tadi susah payah aku rapikan.


"Kelvin! Kan berantaka lagi," aku merapikan kembali rambutku yang agak kusut karena Kelvin. Yang di tatap cuman ketawa tanpa rasa bersalah.


"Dia belum bangun juga?" Aku duduk di samping Rudi, pelan-pelan aku menggenggam tangan Ocha.


syukurlah tangannya tidak terlalu dingin seperti tadi.


"Maksud lo bang?" Kelvin belum mengerti begitu juga dengan aku dan Rudi.


"Ekspresi wajahnya, kadang tenang, tapi kadang kayak orang ketakutan," jelas Dimas yang membuat kami bertiga serentak menatap ke arah Ocha yang terlelap dengan tidak tenang.


"Apa dia bermimpi?" Terka Rudi yang bisa di jadikan salah satu alasan.

__ADS_1


"Kalian masih mau mengurusinya? Lebih baik kalian mengurusi diri kalian sendiri, karena semakin lama kalian disini, Tarjo dan Kintan pasti akan mengendus keberadaan kalian," Sherly muncul lagi. Dan pastinya datang entah darimana.


"Apa maksudmu Sher?" Aku tak mengalihkan pandangan dari Ocha, malas menatap wajah Sherly yang sama sekali tidak cantik.


"Hah... mereka sudah mulai mencari kalian, bahkan mengganggu keluargamu Sa, yang ada di dunia manusia. Adikmu, entah bagaimana gadis kecil itu menghadapi mereka yang terus datang mengganggu."


Wajahku dan Rudi berubah drastis saat itu, Rudi menggepalkan tangannya, dia terlihat sangat marah. Mungkin tidak terima karena adik mereka yang masih kecil harus di ganggu. Sedangkan aku, ah... bagaimana mental adikku sekarang?


"Mengaoa Kintan itu mengambil langkah sampai sejauh ini? Mengapa harus melibatkan adikku?" Rudi menggertakkan giginya.


"Entahlah," Sherly mengangkat bahunya santai tanda tidak tau.


"Dia benar-benar orang tua tak takut dosa, temanku juga sudah di bunuhnya, sedangkan tiga orang lainnya tidak tau dimana," Dimas menahan emosi yang mungkin jika di lepaskan akan meledak.


Kami semua sibuk dengan rasa benci kepada nenek Kintan. Melihat rasa benci yang mulai menguasai kami, Sherly pun tersenyum senang!.

__ADS_1


__ADS_2