
Rani sudah siap di depan pintu rumah. Kali ini dia tak mau berangkat dengan Rudi lagi, apapun yang terjadi sama kakaknya dia pokoknya gak mau nebeng sama abangnya itu. Mendingan jalan kaki dari pada sama abangnya.
Risa yang baru saja keluar dari rumah memperhatikan wajah cemberut adiknya itu.
"Hey, Kenapa?" Risa menyentuh pundak adiknya yang masih berseragan putih merah itu lengkap dengan tas dan sepatu sebagai atributnya.
"Kakakkan yang nganterin Rani? Kalau abang Rani mending jalan kaki aja, Rani masih sayang nyawa soalnya," jawab Rani.
"Maksud kamu dek, sayang nyawa gimana?" Tanya Risa lagi.
"Abang itu kalau naik motor suka ngebut, Terus kencangnya gak agak-agak lagi, gak ikutin peraturan lalu lintas. Nanti kalau nabrak orang gimana? Rani masih pengen hidup, masih pengen jadi gadis remaja terus tumbuh dewasa. Gak mau cepat mati," jawab Rani yang sukses mengundang tawa kecil dari Risa.
"Ya udah, kakak yang anterin, ayo," Risa naik ke atas motornya.
Kali ini kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya, walau kadang-kadang kepalanya masih suka berdenyut tapi itu masih bisa di atasi oleh Risa.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Dalam perjalanan pulang setelah mengantar Rani, Risa sengaja lewat di depan sekolah lamanya. Entah kenapa dia masih penasaran dengan pria yang pernah mampir dalam penglihatannya.
Saat mau memutar stir ke arah gerbang sekolah Risa langsung tertegun dan menghentikan motornya di depan gerbang sekolah.
"Perasaanku gak enak," Jantung Risa berdebar tak karuan. Belum juga masuk, tapi rasa takut itu sudah menggerogoti hatinya.
Risa langsung mengambil tusuk rambut yang dia letakkan di dalam tas kecilnya. Risa tak memakainya kali ini, dia memilih mengenakan hijab, entah kenapa rasa malu melihat adiknya yang sudah berjilbab sedangkan dia tidak membuat rasa iri bangkit di dirinya.
Baru saja Risa mau menarik tusuk rambut itu, cahaya merah sudah bersinar lagi.
Luar biasa! Yang di katakan Rani ternyata benar.
Mata Risa bersinar takjub, Tapi lagi-lagi kepalanya berdenyut. Cahaya yang di pancarkan tusuk rambut itu rasanya menusuk mata. Padahal cahayanya tidak begitu terang.
"Sial! pusing banget!" Risa turun dari motornya dia meraih apa yang bisa di raih. Sekolah ini walau di hari biasa pagarnya tak pernah di tutup. Sekarang begitu juga, suasana halaman sekolah sepi, anak-anak sudah masuk ke kelas untuk memulai pelajaran yang mungkin sebagian murid menganggapnya membosankan.
__ADS_1
"Ya Allah, pusing banget," Rani meraih pagar yang ada di dekatnya.
*Please, jangan pingsan di sini,
TAAP*
Risa akhirnya duduk di salah satu bangku panjang yang ada di luar pagar. Bangku yang biasanya di duduki anak-anak saat menunggu di jemput orang tuanya bagi yang di jemput.
"Aduh, kenapa sih? Kenapa harus kambuh sekarang?" Risa membuka matanya, walau pandangannya agak sedikit goyang, Risa tetap berusaha menatap sekelilingnya.
"Haah!!!" Risa menutup matanya dalam sekejap.
Ternyata dia tak sendirian duduk di bangku panjang itu. Ada seorang anak laki-laki berseragam duduk di sebelahnya.
"Dek? Kamu ngapain di sini? Gak masuk ke kelas?" tanya Risa dengan posisi tangan masih memegangi kepala yang berdenyut.
Anak itu hanya menggeleng, tanpa bersuara.
'Dia bisu ya?' Pikir Risa.
Padahal dia bukan siapa-siapa, cuman sekedar orang asing yang numpang duduk. Tapi malah banyak tanya. Entah lah, Risa tiba-tiba menjadi begitu kepo dengan anak cowok di sampingnya itu.
Tapi seperti bicara dengan angin kosong, tak ada jawaban dari si anak laki-laki itu. Dia hanya menunduk dengan poni batok kelapa yang menutupi sebagian dahinya, entah kenapa wajahnya terlihat familiar di wajah Risa. Tapi siapa? Risa belum bisa mengingatnya.
BRAAK...
Pandangan Risa tertuju dengan kotak kecil yang terjatuh dari tangan anak cowok itu. Kotak itu terlihat cantik dengan ukiran yang indah di sekitar kotak kecil itu.
Tanpa rasa malu, insting penasarannya membuat Risa langsung mengambil kotak yang terjatuh di tanah itu sebelum si pemilik kotak meraih bendanya.
"ARGH....," Risa langsung memegang kepalanya yang semakin berdenyut setelah memegan kotak itu. Tanpa menunggu lama pandangan Risa berubah gelap dalam sekejap.
๐พ๐พ๐พ๐พ
__ADS_1
"Hey....Lihat tuh, Si ketua basket kita, jalan sama si tampan cupu," ledekan anak-anak perempuan terngiang di telinga Risa.
Perlahan Risa membuka matanya, dan dalam sekejap dia terpana dengan apa yang di tangkap retina matanya pertama kali. Itu adalah Berlin, dan ke empat teman perempuannya. Siapa yang tidak mengenal Berlin? Gadis dari keluarga kaya yang terkenal pada masa Risa sekolah dulu.
Tapi tunggu dulu! Kenapa dia bisa melihat berlin pada waktu dulu? Apa jangan-jangan dia kembali ke masa lalu lagi?
'Ah! Aku sudah menjelajahi waktu untuk yang kedua kalinya, dan sialnya aku masuk ke sini dalam kondisi tubuhku pingsan di depan pagar sekolah! Bagus sekali!,' Risa menggeleng tak suka dengan posisi pingsan tak estetiknya itu sebelum sampai ke masalalu ini.
"Eh! Bisa gak sih gak usah ngurusin hidup orang!," Teriak gadis berseragam basket yang ada di depannya.
Posisi gadis itu sekarang membelakanginya dengan ada cowok yang berdiri agak beberapa langkah di belakang gadis itu.
"Kok suara cewek itu mirip suara seseorang ya? Tapi suara siapa?" Pikir Risa lagi.
"Aku balik ke kelas aja, Kamu lanjutin latihannya ya," Cowok itu membalikkan badannya.
Saat pria itu sempurna berbalik 180ยฐ dan posisinya sekarang berhadapan dengan Risa. Wajah kusut Risa tadi bertambah semakin kusut, saat menyadari siapa laki-laki di depannya itu.
Mustahil!
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Maaf ya sebelumnya upnya lama dan sedikit, kadang ide suka nyangkut, lambat banget turunnya. Pas udah ada idenya kadang waktu buat lanjutin itu yang susah di cari.
Tapi author bakalan coba bikin kalian gak terua kecewa. Maaf ya... sering bikin kalian kecewa sama ceritanya yang sering telat up sama dikit banget๐.
Jadi biar kalian gak terus bimbang nungguin upnya petaka di rumah tua, author bakalan bikin jadwal upnya.
***Author bakalan up setiap jam 9 malam, dan setiap hari senin sampai rabu author up sehari 1 episode. dan dari hari kamis sampai minggu, author bakalan up 2 episode.
dan jadwalnya di mulai dari hari ini.
DAN KALAU NANTI AUTHOR GAK UP SESUAI JADWAL BERARTI LAGI GAK ADA PAKET ATAU AUTHOR LAGI PULANG KAMPUNG. KARENA KALU AUTHOR PULANG KAMPUNG JARINGANNYA BAKALAN HILANG, KARENA DI SANA PELOSOK BANGET. JADI SUSAH DAPAT JARINGANNYA.
__ADS_1
Itu dulu yang mau author sampaiin.
Sekali lagi author minta maaf sama upnya yang sedikit dan gak konsisten ya๐***