Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Rahasia Di Balik Tusuk Rambut


__ADS_3

"HAHAHAHAH... Lihat muka kakak, merah kayak tomat," Rani terus tertawa setelah masuk ke dalam rumah. Rasa kesalnya kepada Rudi seketika hilang karena tingkah blak-blakan kakaknya di lihat oleh orang lain.


Jangankan tetangga, sahabat dekatnya Kelvin saja gak pernah tau kalau Risa punya sisi blak-blakan, cerewet dan lepas kontrol karena emosi. Dan apa yang di lihat Ahmad tadi adalah sisi komplit dari ketiga macam sifat terpendamnya Risa. Mulai dari cerewetnya dan wajah kesalnya menahan amarah karena adik laki-lakinya itu.


"Udah puas ketawanya Ran? Senengnya lihat kakak malu?" Tangan Risa sudah di lipatnya ke depan dada.


Dia tak tau harus ikut ketawa karena tingkahnya tadi atau marah karena Rani yang tak juga kunjung berhenti menertawakannya.


"Iya kak, seneng banget lihat kakak malu-maluin kayak tadi," jawaban Rani di luar ekspetasi Risa.


"Wah..... " Risa hanya bisa membesarkan matanya tanda tak suka.


"Ngomong-ngomong kakak masih sakit?" Rani meletakkan tasnya di gantungan yang ada di samping meja belajarnya.


"Udah lumayan enakan, cuman kepala kakak masih berdenyut-denyut gitu sih," jawab Risa.

__ADS_1


"Emm.... kak, sebenarnya Rani kemarin lihat ada yang aneh sama tusuk rambut yang kakak pakai," akhirnya Rani menuturkan hal yang selama ini dia simpan di benatnya.


"Aneh gimana?" Tanya Risa tak paham.


Rani terdiam sejenak, memikirkan kata-kata apa yang tepat untuk di keluarkan.


"Kemarin, Rani lihat ada cahaya aneh yang keluar dari mutiara yang ada di tusuk rambut itu, dan anehnya, cahaya itu kayak meresap masuk ke kepala kakak, lalu tiba-tiba kakak pingsan," jelas Rani singkat padat dan jelas.


"Cahaya?" Risa menyipitkan matanya tak percaya akan apa yang di sampaikan Rani.


"Iya kak, Rani gak bohong," jawab Rani berusaha meyakinkan kakaknya.


"Masalalu terbaca, saat kau menyentuh semua benda yang mereka sentuh. Masalalu terlihat, semuanya tanpa terkecuali, yang buruk yang menyenangkan akam terbaca di memorimu. Ketika tusuk rambut ini sudah terikat denganmu, energinya akan terhisap ke dalam tubuhmu. Gunakan itu untuk menyelesaikan setiap hal yang penting, jangan di salah gunakan. Dan pelajarilah cara mengendalikan tusuk rambut itu," sebuah suara menggema di kamar Rani.


Bukan hanya Risa yang mendengarkan, telinga Rani juga dapat menangkap suara itu. Suara wanita serak basah itu mengisi gendang telinga mereka beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Nenekkah itu?


"Maksudnya, aku bisa baca masalalu hantu yang memegang apa yang aku pegang?" Tanya Risa berusaha memastika pemikirannya benar atau salah.


"Iya," jawab suara itu.


"Bagaimana cara mengendalikannya?" tanya Rani kemudian.


Namun kali ini tak ada yang menjawab, suasana begitu sunyi. Tak ada suara lagi yang membalas. Rani dan Risa saling tatap. Namun mereka sadar bahwa tak ada jawaban untuk pertanyaan itu hari ini.


"Hah... sudahlah nanti juga bakalan tau sendiri bagaimana cara mengendalikannya," kata Risa kemudian dengan pasrah.


"Ran, kamu tau gak kalau sebenarnya S dan Hantu di kamar itu memiliki hubungan?"


"Maksud kakak S yang di hutan waktu itu? Rani gak tau," Rani menggeleng, dia baru pertama kali mendengarnya.

__ADS_1


S punya hubungan dengan bocah itu? Apa hubungan mereka? Kenapa hantu itu tidak cerita dengannya?


__ADS_2