
"Naell...." yang di ganggu Naell yang ketakutan malah aku.
Sedangkan si anak indigo itu duduk di atas kursi kayu yang ada di luar rumah, dan kursi itu sudah terlihat rapuh karena banyak sisi kayu yang sudah bolong di makan rayap.
"Kak, gak jadi manggil bang Naellnya?" Tanya Sintia.
"Kamu aja deh Sin, aku takut kalau nanti dia marah lagi,"
"Marahnya vang Naell itu gak seseram hantu tanpa kepala yang pernah kakak lihat, dan gak seseram bangkai Liam yang kakak temui dulu," kata Sintia yang di setiap kalimatnya mau tak mau membuatku mengingat hal yang ingin ku lupakan itu.
"Ngapain di bahas sih Sin! Udah tau aku gak suka ngingat yang gituan," keningku berkerut dengan tangan yang sedikit menggepal.
"Kak, tau gak apa yang paling penting dalam hidup ini selain cinta? " anak itu malah bertanya hal yang tak penting.
"Entah," kataku tak mau peduli, tapi Sintia malah melanjutkan kata-kata mutiaranya.
"Jawabannya adalah Kenangan, Apapun jenis kenangan itu, semuanya akan berdampak hebat bagi hidup kita. Dan antara kenangan indah dan buruk yang paling besar peran dan dampaknya adalah kenangan buruk. Tau kenapa? Kakak ingat gak, kenangan manis dan indah dengan si "dia' yang pernah kakak cintai? Aku yakin kenangan indah yang banyak itu hilang dan memudar seiring satu kenangan buruk yang pernah terjadi. Satu kenangan buruk, menghancurkan dan menghilangkan semua kenangan manis yang pernah di buat. Satu kenangan buruk bisa merusak ratusan kenangan indah. Bukankah kenangan itu yang merubah sifat kakak sekarang?" gadis itu tersenyum sambil memiringkan kepalanya ke kanan, menatapku penuh makna.
"Sifat apa yang berubah?" Tanpa ku sadari suaraku terdengar parau, dadaku terasa sebak karena 'dia' yang baru saja di bahas Sintia. Inilah yang membuatku muak dengan Sintia, dia suka seenak hatinya membaca pikiran seseorang dan mengungkitnya walau dia tau itu adalah ingatan yang ingin ku lupakan.
"Kakak menjaga jarak dengan laki-laki, kakak tak mau menerima cinta dari mereka atau pun memberi cinta. Kak, mau sampai kapan terus menutup diri?" anak ini terus memberikan aku pertanyaan yang membuatku dia seribu bahasa.
"Sudah, gak usah di bahas," aku melenggang maju ke depan pintu yang besar itu, memilih memanggil Naell yang galak dari pada membahas masa lalu yang menyakitkan itu.
"Nae...." tanganku berhenti di udara sebelum sempurna menyentuh pintu yang terbuat dari kayu itu. Mata kami bertemu, mataku dengan tatapan dingin Naell.
Ada goresan bekas sedih di matanya, kesepiankah?
"Mana gantungan kunciku?" Naell menjulurkan tangan kanannya, membuka telapak tangan dan menampung meminta aku untuk meletakkan gantungan kunci kepada si pemiliknya.
__ADS_1
"Itu..."
"Waah, ternyata lebih ganteng dari pada yang pernah aku lihat di ingatan kakak," Sintia si gadis tanpa rasa sopan itu menyelonong memutus kalimat ku.
Dia menatap Naell dengan takjub, tapi Naell malah menatapku meminta penjelasan.
'Siapa dia?' Mungkin itu yang di sampaikan Naell dari tatapannya itu.
"Aku Sintia, teman barunya kak Risa dan si gadis indigo. Tau indigo? Percaya gak kalau hantu itu ada?" Sintia kembali dengan tingkah to the point dan ceplas ceplosnya itu.
Tak menenggang rasa dengan ku yang sudah merasa bersalah dengan Naell karena datang bertamu tanpa di undang sambil membawa gadis yang meresahkan ini.
"Hah... Kau masih ingin membuatku percaya kalau hantu itu ada? Kalau Nathan itu masih di sini? Kau kenapa sih! Kenapa suka ikut campur! Kenapa hobi sekali mengganggu ku! Bawa temanmu yang aneh ini sekarang juga dan kembalikan gantungan kunci ku!," Nada Naell meninggi kali ini.
Aku bisa mendengar balasan gema dari dalam rumah besar itu.
"Jangan kasar jadi cowok! Kami ini memang ada!," itu si hantu kecil, suaranya melengking mengalahkan gema suara Naell.
"He! Lo bawa teman lainnya? Suruh dia keluar sekarang! Gak guna nakut-nakutin gue!," Yang ganggu siapa, yang di marahi siapa.
Kenapa aku terus yang jadi sasaran amarah si Naell? Menyebalkan!.
"BRAAK!"
Aku kaget begitu juga dengan Naell dan.... Sintia?
"Hei! Kamu juga kaget Sin? Aku kira kamu sidah tau apa yang mau di lakuin si gadis kecil itu?" Tanyaku heran menatap wajah kaget Sintia untuk yang pertama kalinya.
"Kan aku udah bilang kak! Aku cuman bisa baca pikiran manusia! Bukan hantu!," Sintia malah ikut-ikutan membentakku seperti Naell.
__ADS_1
Oh Tuhan... apa coba salah aku sampai di kasarin dua orang sekaligus?
"Udah selesai dramanya? Kalian apakan kursi itu sampai terhempas kayak gitu?" Naell bertanya padaku yang juga gak tau kayak mana caranya si hantu kecil itu ngangkat kursi.
"Wah... anda masih ngira ini ulah manusia? Kan sudah aku bilang, hantu itu ada, dan itu ulah salah satunya," Sintia kelihatan kesal dengan tingkah Naell.
"Jangan bercanda, ini gak lucu," mendengar itu Sintia berdecak kesal.
Ternyata masih ada orang yang lebih keras darinya, Rudi saja kalah.
Tapi bukan Sintia kalau kehabisan akal, dia langsung tersenyum setelah beberapa detik terlihat kesal.
"Ada yang bunuh diri rupanya di rumah ini, oh... tapi... sepertinya bukan hanya bunuh diri tapi juga ada pembunuhan, aku benarkan kak?" Sintia menatap maniak hitam mata Naell.
Naell yang mendengar itu tiba-tiba melebarkan pupil matanya, wajahnya menunjukkan tanda kaget yang luar biasa.
"Kenapa... kenapa kamu tau?" Tanya Naell
"Sudah ku bilang, hantu itu masih ada di sini, ibu kakak masih di sini," kata Sintia lalu menunjuk ke arah dalam rumah.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Lagi, kau menyapa rasa yg ku beri nama rindu.
Lagi, kau menancapkan hulu pisau yg ku beri nama cinta. Kau torehkan lagi goresan di atas luka yg masih basah.
Kalau seperti ini, akankah aku bertemu kata sembuh? Luka yang basah kini kembali berdarah. Tanpa nanah tapi dengan perih
06 februari 2021
__ADS_1
Elmi Tanjung๐