Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Pria Pemain Piano - epsiode 2


__ADS_3

"Hah... Mimpi yang tidak keren," aku menggerutu kesal, padahal tadi kayak lagi nonton drama dengan genre romantis. Tapi endingnya malah horor.


Tapi bukankah itu agak sedikit menyebalkan? Masalah Liya baru saja selesai, sekarang malah sudah langsung di hantui masalah kotak itu. Bukankah tidak adil? Aku sudah bekerja keras selama masalah Liya kemarin, masa iya gak di kasih waktu istirahat?


Keterlaluan namanya!


"Ah sudahlah, kalau terus menggerutu ni masalah gak bakalan selesai," aku memilih ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci muka.


Tidak apa-apa, lebih cepat lebih baik, itu kata orang-orang.


🐾🐾🐾🐾🐾


Sekarang kotak itu sudah berada di depanku, waktunya untuk membuktikan kata perempuan di mimpi ku itu. Apakah benar kotak ini terdiri dari dua ruangan?


Perlahan aku mendorong kotak itu sesuai intruksi, dan yah! Ini keren, benar-benar bergeser.


Aku tersenyum lebar kali ini, kalau masalahnya udah selesai kotak ini boleh untuk aku gak ya? Udah antik, keren lagi. Cocok di jadiin koleksi.


Setelah kotak itu sempurna terbuka, yang ada di dalamnya hanyalah sebuah kertas, Kertas yang di lipat kecil, apakah ini yang ingin di sampaikan oleh cewek itu ke Nathan?


Kertas yang terlipat rapi itu memiliki bekas seperti habis di remas, benar-benar seperti baju yang tidak di gosok tapi di lipat begitu saja dan di masukkan ke dalam lemari. Siapa yang meremas kertas ini? Nathan kah?


Aku berniat untuk mengambil kertas itu, tapi, jika aku mengambil kertas itu, apa aku akan kembali masuk ke masalalu? Padahal tadi lagi tidur juga udah menjelajahi waktu, masa sekarang juga?


Ah, bodoh amat deh, pokoknya aku penasaran, apa isi dari kertas itu, surat cintakah?


I don't know. Tapi sebentar lagi aku akan tau.


"Kak!," Pintu kamar ku terbuka dengan di dorong begitu kuat hingga mengeluarkan bunyi yang cukup keras.


"Rudi! Bisa ketuk dulu gak? Atau kalau gak mau ketuk di bukanya pelan-pelan, jangan di dorong gitu, nanti kalau rusak mau ganti?" Seperti biasa, kami berdua tak pernah santai kalau saling berbicara.


Aku dan Rudi dari kecil memang sering seperti ini, kalau gak teriak-teriak ngomongnya gak asik. Berbeda dengan Rani, mungkin karena jarak usiaku dan Rudi yang terbilang dekat membuat kami sering bertengkar bahkan dalam masalah sepele. Seperti kali ini, pintu ku yang tak berdosa di dorong begitu kuat, kalau dia bisa ngomong mungkin udah di sumpahin tu adek ku.


"Gak bisa pelan-pelan! Ini penting! Kakak sini deh," Rudi masuk begitu saja dan menarik tanganku keluar dari kamar.


Membuatku mau tak mau mengikutinya dan meninggalkan kotak itu terlebih dahulu, ke ingin taukan menjadi tertunda sejenak gara-gara Rudi yang nyebelin ini.


"Apaan sih!" teriak ku ke telinganya sangking kesalnya.

__ADS_1


"Jangan teriak ke telinga aku juga kali kak! Bisa pecah gendang telinga ku nanti!," Dia ikutan teriak sambil mengusap telinganya yang baru saja menerima suara cemprengku.


"Bodoh amat!,"


"Ck..." Kali ini kayaknya Rudi kesal. Anak itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Tepat di depan kami ada Rani dan gadis berkerudung hitam yang memiliki kunci di mata kirinya.


"Loh Ran? Kok di sini? Gak tidur?" Tanyaku pada si bungsu.


"Giliran sama Rani aja lembut, sama aku kayak mau makan orang!," Rudi melepaskan tangannya dari lenganku.


Kali ini dia cemberut karena kesal di perlakukan berbeda. Dasar pencemburu.


"Kak, Rani pernah bilang kalau kuncinya ada kompasnya, Rani tadi iseng bawa kompas Rani, dan saat Rani deketin ke dia, kuncinya berputar, tapi Rani kasihan dia berteriak ke sakitan," jelas Rani yang membuatnya sedikit kaget dan bingung.


"Kalau dia ngerasain sakit, harusnya kakak juga ngerasain sakit, tapi kok gak ada terasa ya?" Risa bertanya pada kedua adiknya yang kemudia terdiam.


"Kompas itu juga memiliki permata di pisaunya, dan kau juga memilikinya, dia tidak akan menyakitimu. Tapi jika kunci itu sempurna terbuka kau baru merasakan sakit. Rasanya seperti benda tajam menancap di matamu," Risa bergidik ngeri mendengar penjelasan hantu itu.


"Lalu aku harus bagaimana?" Risa bertanya pada hantu kembarannya itu.


"Aku akan melakukannya, tapi bukankah seharusnya kau mengatakan padaku siapa yang membuatmu menyerupaiku? Pertanyaanku yang dulu belum kau jawab. Lebih baik kita saling membantu, kau bebas, dan aku mendapatkan jawabanku," Risa tak mau melepaskan hantu ini begitu saja.


Siapa pun yang membuat hantu ini mirip denganku pasti punya niat yang buruk. Netah itu niat buruk padaku atau hantu itu. Siapa yang tau?


"Baiklah, tapi setelah aku memberi tahu mu, tolong lindungi keluargaku, karena jika kau tau, orang itu takkan tinggal diam," aku mengerutkan kening heran.


Siapa dia dulu? Sampai keluarganya pun ikut terseret? Orang ini pasti mempunyai masalah besar selama dia hidup dulu.


"Oke, aku akan lakukan sesuai keinginanmu," mengalah saja deh, dari pada ni masalah gak selesai.


"Yang buat aku kayak gini. Itu nenek mu," katanya sambil menunjuk ke arah ku.


PLAK


Satu tamparannya tepat memukul kami bertiga. Kalimatnya barusan membuat kami tida percaya. Ayolah, mungkinkah itu nenek kami?


"Jangan coba-coba bohong, lebih baik, kau jujur," seperti biasa, Rudi yang duluan emosian.

__ADS_1


"Aku tau kalian tidak akan percaya, tapi itulah kenyataannya," jawabnya santai.


"Anda kira kami percaya?" Kali ini Risa melontarkan ketidak sukaannya.


Aku yang melihat mencoba berfikir sejenak. Tak tau apa otakku saat ini mau di ajak bekerja sama. Tapi lagian untuk apa dia bohong? Ingin memecah belah kami dengan nenek? Dia pasti tau kami tak tertarik untuk saling berantem apa lagi dengan nenek sendiri.


Ya sudah biarkan saja, jika dia berbohong dia hanya membuat dosanya semakin bertambah. Lagian aku juga tak melihat raut wajah kebohongan di matanya. Mari kita coba percaya saja.


"Oke, kita percaya sama kamu, kalau kamu bohong, aku takkan peduli dengan keluargamu jika terjadi apa-apa," dia hanya mengangguk tanpa berniat menjawab.


Mungkin dia jujur kali ini.


"Keluarga ku tinggal dekat di rumah nenekmu, cari saja yang di depannya ada pohon mangga. Aku menyerahkan keselamatan keluargaku. Dengan imbalan kunci ini. Ambillah, aku akan menahan rasa sakit ini," Dia berjalan mendekat ke arah Rani. Rani yang nengerti mulai mendekatkan kompasnya ke arah hantu itu.


Dia melirik kepadaku, memberikan isyarat untuk menancapkan tusuk rambut milikku.


Oke, aku tak mau berlama-lama, kunci itu harus jadi milik Rudi secepatnya. Karena sekarang aku sangat penasaran isi dari kertas yang ada di dalam kotak itu.


"ARGH....." Teriakannya begitu pilu, dan hanya kami bertiga yang dapat mendengarnya.


Tak berselang berapa lama, kepalaku terasa sangat sakit, rasanya benar-benar seperti tertusuk. Tangan gemetar menahan rasa sakit yang kian lama makin menjadi-jadi.


TRAAK....TRAAK...


Kunci itu berputar keluar dari dalam mata hantu itu. Saat sempurna terlepas dengan cepat Rudi menangkapnya, dan darah terpancar dari mata hantu itu. Begitu pun dengan kunci yang sekarang ada pada Rudi, darah berlumuran di sana.


Jijik tapi dia harus menangkapnya.


"AARGH..." Aku tak tahan, hampir saja tanganku terlepas dari tusuk itu, untungnya dengan cepat Rudi menangkap tanganku dan membiarkan tanganku tetap menempel pada tusuk rambutku itu.


"Tahan sedikit lagi kak," kata Rudi.


Sedangkan Rani menutup mulutnya dengan kedua tangannya menahan tangis melihat ku yang semakin tersiksa.


Perlahan-lahan, hantu itu mulai menghilang, samar-samar dan akhirnya lenyap.


Bersamaan denganku yang kembali pingsan. Oke, kali ini sepertinya aku akan sangat sering untuk tidak sadarkan diri.


Permulaan yang melelahkan.

__ADS_1


__ADS_2