
"Kamu mau membantu nenek untuk nyelamatin kakak? Tapi ini agak sedikit berbahaya!," Seketika, tubuh Rani bergetar hebat.
Apa yang harus dia lakukan? Seberapa bahayanya ini?
Mata nenek masih setia menatap kedua bola mata cucunya yang mulai bergetar, dia tau pasti cucunya itu takut, tapi dia harus jujur dari awal. Bahwa ini memang berbahaya, yang mereka hadapi bukan manusia biasa, tapi manusia yang sudah di kuasai iblis.
"Mengapa nenek minta Rani yang menolong kakak? Bukannya Rani gak mau nek, tapi seperti kata nenek tadi, ini berbahaya, kenapa tidak meminta orang yang lebih dewasa. Agar mereka bisa menyelamatkan kakak. Kalau Rani, hmmm.. Rani tak yakin." Rani menggigit bibir bagian bawahnya, dan kedua tangannya masih dalam genggaman nenek.
Nenek menghela nafas, dia terdiam sejenak seperti berfikir apa kata-kata yang bisa di mengerti oleh cucunya yang masih kecil ini.
Suasana sunyi, tak ada yang memulai percakapan, nenek masih sibuk dengan pikirannya, dan Rani juga sibuk menimbang-nimbang perkataan nenek. Sekali-kali suara kera terdengar di belakang rumah. Kera itu pasti sedang asik melompat dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa yang lain. Karena si pemilik kelapa sepertinya sedang tak berniat untuk mengusir mereka. Entah karena sudah lelah atau karena pemilik pohon sedang banyak masalah, para kera tak peduli itu. Yang penting mereka makan, dan kalau di usir tinggal pergi, lalu datang lagi. Ah... dasar hewan!
"Rani sayang," setelah sekian lama terdiam akhirnya nenek memulai percakapan. Tapi kali ini nenek berbicara tidak menatap Rani. Dia malah menengadah dan memperhatikan buah kelapanya yang sudah mulai menguning.
"Iya nek," Rani menelengkan kepalanya sedikit dan agak menunduk, agar bisa menatap wajah neneknya itu.
"Ada rahasia yang nenek gak bisa kasih tau Rani. Tapi nenek yakin suatu saat pasti rahasia itu akan terbongkar. Dari pada tiba-tiba kamu kaget dengan rahasia nenek besok, lebih baik nenek kasih tau kamu sedikit kluenya." Nenek membalas tatapan Rani.
Tapi kali ini tak ada senyuman di situ, ada air mata yang tergenang di mata nenek. Sepertinya tak lama lagi, air mata itu akan terjun bebas, di atas pipi nenek. Rani yang melihat itu, mengedipkan matanya berkali-kali, merasa tambah bingung dengan neneknya ini.
"Apa maksud nenek?" Rani masih tak mengerti, dan nenek Intan paham itu.
"Ran, nenek punya ilmu yang cukup terlarang di miliki manusia," Rani yang mendengar itu mengerutkan keningnya.
Bukan karena terkejut, tapi karena otaknya yang masih masa pertumbuhan itu tak dapat mencerna perkataan nenek dengan cepat, istilah kekiniannya Lola.
__ADS_1
Apa ada ilmu yang terlarang? Kok Rani gak tau ya?
Rani terus memutar pertanyaan itu di otaknya.
"Nek, Rani gak ngerti,"
"Hah... ya sudahlah Ran, nanti kamu juga paham sendiri," Nenek melepaskan genggaman tangannya.
Dia beralih merogoh saku baju kebayanya itu. Lalu mengeluarkan sebuah kompas yang kelihatannya sudah sangat tua. Seperti rumah ini dan nenek.
"Ambil ini, kalau kamu mau menyelamatkan Risa, Ran, kenapa nenek pilih kamu? Itu karena cuman kamu yang bisa melihat mereka, dan cuman kamu yang memiliki keistimewaan di dalam diri kamu, yang nanti itu akan membantu kamu melewati bahaya, nenek yakin, kamu bisa nyelamatin Risa. Kamu hebat! Nenek benarkan?"
Rani lagi-lagi mengedipkan matanya.
Ada sesuatu yang istimewa dalam diriku? hanya aku yang bisa nyelamatin kakak? Apa ini serius?
"Ran? Jadi gimana? Bukankah kamu bilang waktu Risa sudah tak lama lagi?" kata-kata nenek Intan sontak menjadi pengingat buat Rani.
Bahwa Risa dan abangnya sedang di ujung tanduk. Terlambat sedikit saja, itu akan sangat beresiko.
Tak ada waktu lagi untuk mencari orang lain. Rani mengambil kompas di tangan nenek dengan yakin. Tak ada waktu, dia harus bergerak sendiri!
"Rani siap nek, Rani akan nyelamatin kakak sama abang," mendengar itu, Intan mengusap dadanya lega.
Senyum kembali terukir di wajah keriput itu.
__ADS_1
"Kamu berani Ran, bagus!. Sekarang cepat beres-beres, nenek akan sediakan makanan untuk kamu di sana nanti. Ingat Ran, waktu kamu cuman lima hari, jika lewat lima hari, kompas di tangan mu itu tidak akan berfungsi lagi." peringatan nenek membuat Rani memiliki banyak pertanyaan lagi.
"Memangnya apa fungsi kompas ini nek?" Tanya Rani.
"Kompas ini nanti akan menunjukkan kamu jalan keluar dari hutan itu. Dan jika nanti jarum kompas itu berputar sebanyak lima kali, berarti ada hal bahaya di sekitar kamu, kamu harus segera pergi dari tempat itu. Mengerti?" Nenek menatap cucunya itu penuh harap.
Rani yang ditanya mengangguk tanda paham.
"Dan jangan sampai kompas ini terkena darah, itu adalah pantangannya," peringatan nenek membuat nyali Rani ciut lagi.
"Kenapa tiba-tiba bahas darah nek?"
"Itu cuman informasi agar kamu tau pantangan kompas itu aja Ran. Sudah sekarang cepat bergegas, siap magrib langsung berangkat," Rani yang di suruh hanya manggut-manggut.
Saat Rani akan masuk ke dalam rumah, matanya malah terhenti memandang sesuatu yang sangat besar di samping rumah.
Itu raksasa tadi! Kenapa dia masih disini?
Rani terus menatap raksasa itu, dan berulang kali dia mengucek matanya berharap dia salah lihat. Tapi ternyata raksasa itu tetap ada disana.
Aku tak salah lihat!
Lagi-lagi bulu kuduk Rani tegak. Jantungnya tiba-tiba memompa dengan cepat, Rani langsung berlari ke dalam rumah saat raksasa itu mulai membuka matanya lebar-lebar.
Ingat jangan lihat matanya Ran!
__ADS_1
Gitu-gitu Rani masih ingat pesan hantu gadis kecil yang ada di kamarnya itu.