
Di sisi lain, Rani dan Risa sudah mulai mencari. Risa memilih memeriksa lemari yang ada di pojok. Dia meraba dinding lemari, beranggapan ada pintu rahasia di sini. Tapi nihil, lemari itu tak ada bedanya dengan lemari biasa.
Berbeda dengan Rani yang hanya diam sambil mengeluarkan kompasnya. Menunggu kompas itu beraksi memberikan petunjuk.
Sudah semua sisi di jajahi Risa, tapi tak ada keanehan di kamar ini. Risa menghela nafasnya, dia hanya dapat payah saja, sedangkan hari sudah mulai menjelang fajar namun Tarjo tak kunjung di temukan. Dimana nenek itu menyembuyikannya?
"Keluar yok dek, cari di tempat lain," Risa menarik tangan adiknya itu.
Rani hanya manyun kaget karena tiba-tiba di tarik. Dia menurut saja sambil kembali menyimpan kompas itu ke dalam kantong bajunya.
"Ada yang mencurigakan gak?" Kelvin dan Dimas ternyata sudah keluar dari kamar itu dari tadi.
Terlihat dari wajah mereka, kekecewaan karena tak menemukan mayat!. Mereka memang malang, tak tau apa-apa tapi harus mencari mayat. Yang parahnya lagi, si mayat sama sekali tak memberikan alamat. Sehingga membuat sekelompok manusia ini deg degan melihat fajar yang semakin dekat menyapa.
Waktu mereka mulai berkurang lagi.
"Tunggu," Rani lanngsung menarik tangannya dari genggaman Risa.
Dengan cepat dia merogoh kompas yang entah kenapa seperti bergerak-gerak di dalam sakunya.
Kompas itu memutar jarumnya sebanyak tiga kali, Rani panik melihat itu, keadaan mereka dalam bahaya. Siapa yang akan datang? Padahal jasad Tarjo belum di temukan. Tapi bahaya sudah datang menyapa.
__ADS_1
Tidak adil ini namanya!
BRAAAK!!! BRAAAK....!!
Semua mata langsung membesar, jantung mereka mulai senam, tiga orang yang berdiri di depan pintu langsung berlari mendekat kepada Dimas dan Kelvin. Pintu itu di dobrak dengan kuat. Cika menutup mulutnya dengan tangan, hampir saja dia berteriak tadi.
Kalau sampai dia berteriak, maka dia harus siap-siap mengucapkan selamat tinggal pada nyawanya itu.
TRAAAK!
Sebuah kapak menembus pintu yang terbuat dari kayu itu. Kali ini Cika tak bisa menahan teriakannya. Akhirnya suara teriakan Cika memenuhi ruangan itu.
CIIIT...CIIT...
Apakah itu tenaga nenek kintan? Jika benar, tenaganya memang luar biasa!. Seorang nenek berhasil mencetak rekor untuk julukan nenek terkuat se alam gaib.
"Masuk sini," Kelvin membuka pintu kamar Dimas, semua mengikutinya bersembunyi di kamar itu, dengan cepat mereka mendorong meja belajar dan lemari ke arah pintu, dengan tujuan tak bisa di masuki nenek Kintan.
"Kompasnya gerak!," Rani berteriak bahagia. Apakah jasad Tarjo di sini?
"Aaa!!!," untuk yang kedua kalinya, suara pekikan Cika menggelegar lagi di telinga mereka.
__ADS_1
Sepertinya Cika suka sekali berteriak, apa itu sudah jadi hobi barunya? Risa mengelus pelan tenggorokannya. Tak bisa membayangkan akan seberapa sakit tenggorokannya jika ikut berteriak seperti Cika tadi.
"Kenapa Cik?" Dimas salah satu orang yang terganggu dengan teriakan Cika hanya bisa pasrah saja.
Lagian dia sudah teriak, mana bisa di sesali. Sesuatu yang sudah terjadi akan tetap seperti itu, takkan bisa di ulang atau pun di tunda.
"Itu! Tengkorak!" Cika bersembunyi di balik badan Denis, sambil mengarahkan telunjuknya ke arah dimana Lemari pakaian terletak tadi.
Kelvin mengangguk ngerti sekarang, awalnya memang terlihat aneh, kenapa posisi lemari ada di siku-siku tembok? Ternyat itu untuk mwmbuat ruangan agar ada tempat yang pas untuk menyimpan tengkorak Tarjo.
"Badannya mana?" Rudi yang sedang bersembunyi di belakang Kelvin ternyata pandai juga bertanya.
"Pasti ada di sekitar sini!," Kata Risa kembali menyelidi dengan teliti seperti yang dia lakukan tadi.
"Dia ada di ruang bawah tanah," S datang menembus pintu yang sudah mereka segel dengan lemari dan meja.
"Apa?" Risa dan Dimas bertanya dengan serentak.
"Itu bukan tulangku, karena seingatku, tubuhku tak dia bawa setelah di bunuh, hanya dibuang begitu saja. "
"Bagaimana ini? Bagaimana nanti kalau tarjo datang ?" Cika sudan menggigil di tempat
__ADS_1
"Tarjo tak akan datang, selama kepalanya kita sandra." Semua menatap satu sama lain.
Berharap tebakan S itu benar.,