Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Kedatangan Kelvin dan Rudi


__ADS_3

POV RISA


"Aish...wanita ini...." Aku tak tahan lagi, melihat tingkah Ocha, aku benar-benar muak.


"Jangan bertengkar dulu, ku mohon," kata Dimas lalu menarik tangan ku untuk kembali duduk.


Aku menarik nafas kesal, kenapa harus selalu aku yang menahan emosi dan sabar kepada Ocha? Sedangkan Ocha bertingkah sesuka hatinya. Padahal Ocha sudah begitu banyak ku bantu, jika tidak karena ku, perempuan ini mungkin sudah mati di tangan Sherly. Kalau tau seperti ini pasti sudah ku biarkan Sherly mencekiknya hingga mati. Tapi ya sudah lah, kalau aku juga membiarkan diriku termakan emosi, maka itu tidak baik buat kami.


"Aku tidak suka ya Sa, kalau aku bertanya tapi di diam kan kayak gitu," Ocha mulai menunjuk-nunjuk kepadaku, ingin rasanya ku patahkan jari itu.


"Biarkan aku mengambil nafas dulu dengan baik Cha, baru ku jawab pertanyaanmu," kali ini aku tak menatap orang yang bicara denganku, persetan dengan sopan santun, dia saja sama sekali tidak sopan denganku.


"Tapikan Sa..." belum selesai Ocha bertanya padaku Dimas langsung membentak Ocha, dan entah kenapa aku suka itu.


"Sudah Cha, nanti di tanyakan, kenapa kamu tidak bisa mengerti dengan kondisi sekarang? Dia pasti capek, dan kau... sudah memberinya pertanyaan seperti itu. Aku yakin tanpa kita bertanya nanti pasti semuanya akan jelas," Dimas sedikit menekan kata-katanya hingga membuat Ocha merasa kesal.


"Kamu kok ngomong sama aku kasar gitu sih Mas? Semenjak kenal perempuan ini kamu mulai cuek sama aku tau gak!" Ocha menatap bola mata hitam Dimas dengan tatapan minta penjelasan.


"Bukankah aku memang seperti ini? Kalau kamu salah bukankah harus aku ingatkan? Kamu bukan anak kecil lagi Cha, yang kalau ditunjukin harus hati-hati, kamu udah besar. Gak perlukan aku harus bertele-tele menasehati kamu," oke, sekarang merka berdua berdebat di tengah hutan yang kita tak tau entah apa yang ada di sekitar sini. Mengapa mereka berisik sekali dan mengapa Ocha selalu membesar-besarkan masalah kecil kayak gini?.


"Aargh... Ocha memukul kepalanya sendiri dia terlihat sangat marah sekarang, mukanya benar-benar memerah, dia langsung memilih duduk di sampingku. Semuanya diam, tak ada lagi yang ingin berbicara.


********


Di lain sisi Sherly sedang berbicara dengan adikku Rani. Entah apa rencana hantu itu, kali ini dia melibatkan adikku, dan tidak memberi tahu ku sama sekali tentang pertemuannya dengan Rani.


"Iya, Kintan masih hidup dan sekarang dia ingin membunuh kakakmu, lebih baik, sekarang kita bergerak lebih cepat, jangan sampai ada korban lagi," Sekarang Sherly sudah mulai serius.

__ADS_1


"Astaga, jadi nyawa kakak ku sedang terancam? Baiklah sekarang apa yang harus aku lakukan agar bisa menyelamatkan kakak?" Tanya Rani kepada Sherly.


"Ikut denganku tapi hanya satu orang," Jawab Sherly yang segera di anggukkan Rani.


"Kalau begitu aku yang akan ikut denganmu," Rani menjawab dengan mantap tanpa ke raguan.


"Tunggu dulu, apa maksudmu dek? Kamu ingin ikut dengan hantu itu?" Mata Rudi menyipit.


"Iya kak, kita harus bisa nyelamatin kak Risa, dan hanya satu orang yang boleh ikut diantara kita," Jelas Rani yang di dengarkan oleh kedua pria itu.


"Kalau begitu abang saja, kamu tidak boleh," Rudi sekarang mengarahkan tubuh adiknya ke hadapannya.


"Tidak kak, hanya aku yang bisa melihat mereka, kakak gak bakalan bisa," Rani mencoba melarang kakaknya.


"Hmm... Ran, jika nanti kakakmu ke dunia kami, dia bisa melihat kami tanpa perlu indra ke 6," Kata Sherly.


"Apa kata dia?" Kali ini Kelvin ikut bertanya.


"Dia bilang, siapapun yang pergi ke dunia mereka bakalan bisa melihat mereka tanpa perlu indra ke 6," Jawab Rani yang di balas sumringah oleh Rudi mau pun Kelvin.


"Kalau begitu biar aku saja yang pergi," Rudi dan Kelvin serempak mengatakannya yang membuat Sherly tersenyum.


'Risa benar-benar beruntung, dia di cintai oleh banyak orang,' gumam Sherly di sela perdebatan ke tiga orang itu.


"Tapi yang boleh pergi hanya satu orang," Rani mengingatkan kepada kedua orang itu.


"Abang saja Rud," tawar Kelvin.

__ADS_1


"Tidak bang, dia kakakku, sudah tugasku menjaganya, jadi biar aku saja," Rudi tidak mau kalah. Sedangkan Rani memilih diam, dia pasti tetap tidak akan di perbolehkan pergi, jadi biarkan saja di antara kedua abang ini yang menyelamatkan kakak. Mereka punya tenaga yang lebih kuat dari pada Rani.


"Tapi aku ingin menyelamatkan Risa juga, aku... aku.. mencintainya," sontak pernyataan cinta itu membuat kaget kedua orang itu dan Sherly, Rani sudah menduga Kelvin pasti memendam rasa kepada kakaknya, tapi mendengar pernyataan langsung dari mulut Kelvin agak membuatnya kaget. Sedangkan Rudi sama sekali tidak menyangka orang yang selama ini selalu ada buat kakaknya ternyata juga memendam rasa kepada kakaknya Risa. Kalau Sherly dia mulai menjadi pengagum rahasianya Risa. Jelas, Risa itu bukan perempuan seperti perempuan biasanya.


"Sepertinya Dimas punya saingan," kata Sherly, yang merasa Dimas juga menyukai Risa gadis yang dingin kepada sesama manusia.


"Kalau begitu biarkan mereka berdua ikut Ran, pasti seru," ada senyuman licik di balik senyuman Sherly.


Rani langsung menoleh ke arah Sherly "Mereka berdua boleh ikut? Kalau begiru aku juga ikut," mendengar penuturan Rani, Rudi dan Kelvin senang, hantu itu ternyata akhirnya membolehkan lebih dari satu orang untuk pergi.


"Tidak Ran, cukup dua orang, aku tak ingin terlalu banyak menjaga nyawa manusia," Kali ini nada suara Sherly terdengar tidak ingin di bantah. Wajah Rani langsung tertekuk, dia mau marah tapi tak berani.


"Baiklah kalau begitu aku pinjam dulu kedua abang mu Rani," Sherly langsung melayang ke arah Rudi dan Kelvin. Rudi dan Kelvin yang tak menyadari itu kaget, karena tiba-tiba tubuh mereka di tarik dan....


"wush...." mereka menghilang, tidak lagi di dekat Rani. Rani langsung terduduk di dekat pohon itu, dia memeluk ke dua kakinya.


"Semoga mereka bisa pulang dengan selamat," air mata menetes di pipi Rani. Sekarang dia harus pulang dan memberikan kabar, bahwa Kelvin dan Rudi telah pergu dengan hantu itu. Dia berusaha berdiri dengan gontai. Menatap ke depan, setidaknya dia ingat jalan yang tadi telah di tempuh. Dia mendongakkan kepalanya ke langit.


"Harus segera sampai di rumah, hari sudah hampir malam. Nanti ibu khawatir," dia berbicara sendiri dan melangkah kan kakinya menuju perkampungan warga.


****


Kelvin dan Rudi tersungkur di dekat sebuah sungai.


"Au... kepalaku," Rudi memegangi kepalanya yang terasa sakit karena membentur cukup kuat.


"Kamu gak apa-apa dek?" Kelvin mendekati Rudi memegang pundak Rudi.

__ADS_1


"Aku oke bang, Kita dimana?" Rudi dan Kelvin baru sadar ternyata mereka tidak berada di hutan dekat perkampungan. Ada sungai yang jernih di tengah hutan yang sangat lebat. Dan mereka sekarang berada di pinggir sungai itu. Dengan di kelilingin pohon-pohon yang besarnya tidak masuk akal.


__ADS_2