Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Antara Kunci Rudi dan Kotak Nathan


__ADS_3

Risa masuk ke rumah dengan wajah kusutnya, matanya terus memperhatikan kotak kecil di tangannya itu. Pikiran Risa tak lepas dari Nathan sedari tadi. Mengapa kotak ini harus ada di tangannya? Tidak ada yang tau, jadi Risa harus mencari tahu jawaban itu sendirian.


BRAAK....


Risa mengelua keningnya yang baru saja menabrak seseorang yang berdiri di depannya. Risa mendongak dan langsung memukul si pemilik punggung.


"Ngapain berdiri di tengah jalan Rud?" Risa mendorong adiknya itu agar mau minggir ke samping.


Tapi sayangnya Rudi tak juga bergeming dari tempat dia berdiri.


"Rud! Kakak mau lewat, AWAS!," Risa mendorong tubuh adiknya ke samping dengan cukup kuat.


Dan sukses! Tubuh Rudi tergeser dari hadapan Risa.


"Dari tadi kek!," kata Risa kesal.


Risa mau melanjutkan jalannya tapi lagi-lagi terhenti karena masih ada yang berdiri di depannya.


Risa langsung menggertakkan giginya kesal, biarkanlah dia kali ini istirahat dengan nyaman, bisakah jangan menghalangi jalan.


"Bisa minggir ga.....?" Suara Risa seketika terasa tersekat. Bukannya melanjutkan kalimatnya, Risa malah menelan salivanya.


"Dia lagi!,"


Risa mundur selangkah demi selangkah, tanoa dia sadari Rudi ternyata sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari hantu yang mirip dengan Risa.


"Kakak juga lihat?" Kata Rudi.


Sontak mendengar itu, Risa langsung menatap adiknya kaget.


"Kamu bisa lihat juga?" Tanya Rani tak percaya.

__ADS_1


"Enggak, cuman dia aja, sedari kemarin dia terus tegak di depan pintu aku, pas aku tanya cuman diam, aku pelototin di balas juga, bisu kayaknya," perkataan itu meluncur dengan gampangnya dari mulut aeorang Rudi.


"Hey! Kamu gak takut dia marah kalau ngomong kayak gitu?" Risa menarik lengan adiknya supaya dia masuk ke kamar dan tak kembali melanjutkan kalimat tak berfaedahnya itu.


"Dia gak bisa melawan kayaknya, sedari tadi cuman diam aja," Rudi menyandar santai ke dinding.


Dia bahkan tak menghiraukan tatapan tak suka Risa, Rudi sudah semakin berubah sekarang. Tingkahnya makin di luar kendali.


"Hah... terserah kamu, kakak mau ke kamar," Risa berjalan tergesa melewati hantu itu.


Tapi na'as, Hantu itu lebih dulu meraih tangannya.


"Woi!Lepasin tangan kakak gue!," Bukan Risa yang ngomong, tapi Rudi.


Risa menepuk keningnya pelan, adiknya itu benar-benar tak tau rasa takut ya?


"Apa yang kau mau?" Jawab Risa tanpa berniat membalikkan badan menatap hantu yang begitu mirip dengannya.


"Bebaskan aku, bebaskan aku," gadis itu mengulangi kata-katanya yang membuat Rudi dan Risa menatap tak paham.


Namun hantu itu hanya menatap tas Risa.


'Aduh, cepetan jawab! Aku mau ke kamar aku capek!' Risa menggerutu sendiri di dalam batinnya.


"Kau gadis pemilik mutiara merah itukan?" Tanay hantu itu masih fokus menatap tas Risa.


"Mutiara merah? Mutiara apa? Aku gak punya benda sejenis itu!," Risa berusaha menarik tangannya, tapi tenaga hantu itu lebih kuat dari pada dugaan Risa. Tangan Risa terasa sakit saat hantu itu semakin menguatkan pegangannya.


"Woi! lepasin gak! lo nyakitin kakak gue!," Rudi meraih sapu yang ada di sudut ruangan.


'Bodoh amat masalah imej, emangnya kenapa kalau laki-laki bersenjata sapu? Yang penting tu hantu ngelepasin kakak gue, gumam Rudi saat berhasil meraih sapu itu.

__ADS_1


"Jangan macam-macam, aku menyerupai wujud kakakmu, jika kau melukai ku maka Risa akan merasakan sakit yang aku rasakan. Itulah tujuan aku di ciptakan, hehehe," hantu itu tersenyum puas melihat Rudi menjatuhkan sapu yang sudah terangkat tadi.


"Apa mau mu!," Teriak Rudi mengisi seantero ruangan.


"Aku bilang, aku mau bebas! Dan cuman Risa yang bisa bebasin aku," Gadis itu tersenyum lagi.


"Kalau aku gak mau bantu kamu bebas bagaimana?" tanya Risa yang masih menahan sakit di dekat pergelangan tangannya.


Dia gak mau menuruti setiap permintaan hantu yang berbicara padanya. Dia bukan manusia yang dermawan kepada hantu. Kepada sesama aja jarang dermawan apa lagi sama hantu.


"Tusuk rambut mu, ada mutiara di sanakan?" selidik hantu itu.


Rudi mencuri pandang kepada kakaknya, Risa hanya mengangguk mengiyakan bahwa tebakan hantu itu benar.


"Aku hanya bisa bebas jika di musnahkan dengan tusuk rambut yang ada mutiara merah. Hanya dengan cara itu aku bisa bebas dari kunci sialan ini," jawab hantu itu antusias.


"Kenaoa kunci itu bisa membuatmu tidak bebas?" tanya Rudi.


"Karena dia mengunci kebebasanku, aku sudah menyesal tapi kunci ini tak juga mau lepas, hanya penerus pemilik kunci ini dan mutiara merah itu yanh bisa membebaskan aku," wajah hantu itu berubah sedih.


Entah kenapa dia begitu mirip dengan Risa. Membuay Rudi ikut iba.


"Tapi sekarang cuman ada mutiaranya, sedangkan penerus pemilik kunci itu belum ada," jawab Risa kemudian.


"Ada, dia Rudi," hantu itu tersenyum tipis.


Semoga harapan untuk bebas kali ini terwujud.


"Jadi cepat tusukkan benda itu kepadaku," Risa mengangguk.


Baru saja dia mengambil tusuk rambut itu Rudi langsung menahannya.

__ADS_1


"Kak, kakak juga akan merasakan sakitnya di tusuk itu, bukankah dia tadi bilang kalau apa yang dia rasakan akan kakak Rasakan?" Bimbang, kali ini semua menjadi bimbang.


Kunci itu penting buat mereka, dan cara mendapatkannya hanya dengan cara itu. Tapi apakah dia bisa sanggup menahan rasa sakitnya nanti? Dilema melanda Risa dan Rudi.


__ADS_2