Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
27


__ADS_3

Kali ini aku sendirian yang berada di ruang makannya Claudi, sedangkan Naell dan Sintia mungkin sudah sampai ke masalalu dengan meninggalkan tubuh mereka yang terduduk di depanku. Entah apa yang mereka alami, aku hanya melihat sekali-kali wajah Naell berubah takut, terkejut atau marah, yang pasti ekspresi Naell tak bisa setenang Sintia sekarang. Entah bagaimana gadis kecil itu bisa begitu santai melihat seorang kanibal memakan mangsa di depannya. Perutku sudah melilit, dianya tenang adem ayem aja.


KREEK....


Aku langsung menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba bergerak sendiri, padahal tidak ada angin di sekitar sini, lalu kemudian...


BRAAK...


"Argh...."pintu itu tertutup dengan kuat seperti habis di dorong seseorang, tanganku gemetar saat merasakan hawa dingin berhembus di dekat leherku, apa aku di sini tidak sendirian?


"SREEK....SREEK..." Seperti suara kaki yang berjalan dengan di gesek di atas lantai, kali ini jantung ku berdebat dengan cepat, suara itu bukan ilusinasi.


perlahan aku membalikkan kepalaku melihat apa yang ada di dekat pintu yang sudah tertutup itu, ruangan kosong tanpa pentilasi sekarang sudah mulai panas.


Mataku membesar seketika menangkap apa yang berdiri di ujung ruangan itu. Wanita yang tadi aku lihat di dekat tangga sebelum masuk ke rumah ini. Wanita tua yang menyeret boneka di tangannya. Seperti yang ku lihat pertama kali dia terus berjalan ke depan dua langkah lalu balik lagi ke belakang dua langkah, terus saja mondar mandir dan sepertinya tak menghiraukan aku yang berada di sini.


Tapi kenapa dia pindah ke dalam kamar ini? Kenapa gak di tangga saja? Matanya sama sekali tidak melirik ke arah ku.


"Kak," samar-samar aku mendengar suara Sintia.


"Sintia? Apa itu dia?" pikirku dalam hati.

__ADS_1


"Iya, ini aku kak, apa ada yang datang?" suara Sintia seperti datang dari dalam kepalaku.


Cukup ngomong dalam hati Sintia dapat mendengar ku. Ini luar biasa.... Ternyata hal seperti ini memang ada, ajaib. Iya, dunia memang penuh dengan ke ajaiban. Aku tak sabar menunggu keajaiban apa lagi yang nanti akan ku temukan di masa depan.


"Iya, wanita yang kita lihat di tangga waktu itu, sambil membawa boneka. Dia terus bolak balik di depan pintu," jawabku serius.


"Gawat! Jangan tatap dia, aku sama bang Naell akan segera keluar, jangan lihat dia kalay dia mendekat sebisa mungkin menjauh darinya, minimal jarak 3 meter," suara Sintia terdengar panik.


"Kenapa Sin?" aku ikutan panik mendengar suara anak itu yang tiba-tiba mengumpat kesal.


Entah apa yang terjadi di sana, apa Naell berulah? Atau mereka menemukan petunjuk yang lebih tidak masuk akal daripada sekedar membunuh dan memakan daging manusia?


Dia terus bolak balik, tapi kali ini sudah mulai mendekat ke arah ku, bau amis darah yang bergelimangan di tubuhnya juga semakin tertangkap jelas oleh indra penciumanku.


"Hihihi...Hehehe..."Sial! Kali ini wanita itu tertawa, aku rasa ada hal yang buruk akan terjadi.


Malangnya, aku di sini sendirian dan Sintia tak kunjung menjawab. Apa yang terjadi di sana?


"Kak, aku bisa menghubungi Rudi lewat batin, Aku akan membawa rohnya ke kakak, jadi tolong tenang dan ingat jangan lihat mata wanita itu. Dia punya kemampuan membunuh, tolong bertahan. Sebentar lagi, sebentar saja," Sintia bsru saja menyampaikan pesan yang membuatku bernafas lega.


Bagaimana caranya anak itu menemui Rudi, dan kenapa harus membawa Rudi? Bagaimana dengan Naell?

__ADS_1


Aku melirik ke arah dimana Sintia dan Naell duduk.


"Oh My God!, Apa yang terjadi?" aku langsung memalingkan pandanganku dari arah pintu membiarkan wanita yang berlumuran darah itu terus menghitung langkahnya.


Kali ini rasa cemas mulai menggerogiti hatiku, sekarang aku baru sadar kalau masalah yang kami hadapi saat ini ternyata bukan hal yang mudah dan aman. Ini sangat berbahaya, terbukti sekarang dengan kondisi Naell yang tiba-tiba saja mengeluarkan darah di hidungnya alias mimisan.


Tanpa pikir panjang, aky merobek lengan baju panjang milik Naell untuk menghapus darah yang sudah sampai ke dagu itu.


Darah itu sudah ku lap, namun sialnya tiba-tiba saja tubuh Naell tumbang dari duduknya. Wajah Naell mulai terlihat pucat, dan Sintia mulai berubah ekspresi dengan kening yang mulai berkerut.


"Risa.... lihat aku,"


Deg....


suara itu terdengar sangat dekat, apa wanita itu sudah sampai di belakang ku? Bukankah Sintia sudah bilang jaga jarak sejauh 3 meter? Oh Tuhan... apa aku akan selamat? Mengingat kata Sintia bahwa wanita ini bisa membunuh.


TAAP


Bahuku tiba-tiba di sentuh oleh tangan, saat ku lihat tangan itu memiliki kuku panjang yang berwarna kuning dengan darah di sekita ruas jari. Tuhan... apa ini hari terakhir ku di dunia?


Rudi tak kunjung datang, dan nyawa ku sedang di ambang kematian, di tangan seorang hantu yang bisa membunuh.

__ADS_1


__ADS_2