
Pada saat itu Lexie mendongak dan memandang sekilas, pandangan ini, Lexie mengingat senyum Yessika.
Ketika Yessika meninggalkan ruangan dengan membawa sekelompok orang, sekujur tubuh Lexie telah terluka dan jatuh ke lantai, butuh banyak upaya untuk merangkak bangun, Lexie tidak melihat dirinya yang begitu menyedihkan, hanya dengan terpaku memapah Ernie bangun, kemudian bertanya: "Apa masih bisa berjalan?"
Hidung Ernie masam, memeluk Lexie kemudian menangis, "Nona, apa yang kamu lakukan, mencari mereka untuk dipukuli?"
Lexie menghela nafas, dengan lembut membelai punggung Ernie, "Membuatmu menderita karena mengikutiku, tapi jika aku mencarinya seorang diri maka mudah untuk di curigai, terutama orang sejenis Victor yang licik bagai rubah, jika ingin membodohinya maka harus dengan serius."
"Nona ..." Ernie terisak dan mendongak, melihat lebam di pipi Lexie, hidungnya masam, betapa putus adanya seseorang hingga bisa bertindak begitu kejam pada dirinya sendiri. Ernie menggelengkan kepalanya, "Nona, aku tidak takut menderita."
Lexie mengangguk dengan lega, "Baiklah, sekarang kamu pergi ke kediaman Raja Victor dan cari Hadi."
Ernie masih bingung tapi masih melakukan sesuai kata-kata Lexie.
Tidak tahu sejak kapan di mulai, Lexie lebih menyukai duduk di halaman, dengan sepoci teh memandang awan di langit, ketika dia pertama kali datang ke dunia yang aneh ini, dia masih berpikir Putri jaman dulu yang tidak menginjakkan kaki keluar kediamannya ini, melakukan apa untuk mengatasi kehidupan yang membosankannya.
Sekarang Lexie tahu, bagi wanita yang hidup di jaman patriarki ini, apa yang layak di harapkan dari kehidupan, tidak lebih dari sekedar menikah dan keluar dari rumah ayah ke rumah suami, karena tidak ada penantian, maka tidak ada harapan, tidak ada harapan untuk apa melakukan banyak hal?
Dengan linglung memandangi langit, mungkin sekali duduk bisa menggunakan waktu setengah harian.
Hanya saja Lexie tidak menunggu lama, Victor sudah datang dengan membawa Morgan.
Ketika Victor memasuki rumah, dia melihat pandangan mata Lexie yang kosong sedang memandang ke langit, ada beberapa goresan di wajahnya, beberapa memar di tubuhnya, meskipun tidak bisa melihat luka di tubuhnya tapi Victor bisa membayangkan, jika wajahnya saja terluka seperti itu, lalu bagaimana di tempat yang tidak terlihat.
__ADS_1
"Sudah terluka, mengapa tidak istirahat di kamar, tertiup angin dan masuk angin, bukankah akan bertambah tidak nyaman?" Victor berjalan menghampiri, melepas jubahnya dan memakaikannya di pundak Lexie.
Lexie memegang tangan Victor, menolehkan kepala dan mengulas senyum sedih, "Yang Mulia, karena aku berasal dari rumah bordil, jadi apapun yang kulakukan, hanya akan menjadi wanita tanpa status di sisimu, benar bukan?"
Victor membiarkan Lexie memegang tangannya, duduk di kursi sebelah Lexie, "Ada diriku yang menyayangimu, apa itu tidak cukup?"
Rasa sayang, bagi mereka yang berada di posisi tinggi, sesekali memberikan senyum padanya, apa Lexie harus berterima kasih padanya? Sungguh konyol!
Tapi Lexie tidak menunjukkan raut konyol di wajahnya, hanya bersandar di tubuh Victor, "Tapi, Yang Mulia, aku sangat sedih, nona Yessika sebentar lagi akan menjadi istrimu, tunggu saat dia menjadi istrimu, aku yang seorang pelayan penghangat ranjang ini, tidak, sekarang adalah selingkuhanmu di luar, apa aku masih memiliki jalan untuk hidup? Aku tidak takut mati, aku hanya merasa jika aku mati, apa aku tidak bisa menemui Yang Mulia lagi."
Lexie tidak pernah berpikir ingin mengadukan Yessika di depan Victor, karena Lexie tahu, Victor bisa menikah dengan Yessika, itu membuktikan dia adalah orang yang mementingkan keuntungan, demi keuntungan dia dapat menikah dengan orang yang tidak mencintainya, maka demi keuntungan, Victor juga bisa dengan mudah mengorbankannya. Mengadu? Lexie tidak perlu melakukannya.
Victor memeluk Lexie dalam pelukannya, jari-jarinya mengusap goresan di wajah Lexie, tapi alisnya malah berkerut, "Yessika tahu aku menyayangimu, dia tidak akan berani membuatmu mati."
Bahkan jika Lexie sudah tahu dinginnya Victor, tapi sekali lagi mendengarnya mengatakan perkataan ini, hatinya tidak bisa menahan rasa sakit.
"Yang Mulia, biarkan aku pergi untuk sementara waktu." Lexie bersandar di dada Victor, menyentuh bagian kulit terbuka dari Victor dengan bibirnya, "Aku benar-benar tidak ingin melihat adegan pernikahanmu, aku berpikir, saat itu pasti akan sangat meriah dan sensasional di seluruh kota ini ..."
Lexie berkata dengan sangat sedih, ekspresinya yang menyakitkan di wajahnya sangat nyata.
Victor terdiam untuk beberapa saat, alisnya masih mengkerut, "Aku tidak pernah mempertahankan wanita di sisiku, kamu yang pertama, kamu sangat pintar dan mengerti situasi, aku sangat menyukaimu."
"Yang Mulia, tidak rela aku pergi?" Lexie berpura-pura ceria, berinisiatif mencium bibir Victor, melepaskannya beberapa saat.
__ADS_1
Victor mengangguk, "Ya, aku tidak rela."
"Mendengar Yang Mulia berkata begitu, aku sangat bahagia." Lexie membenamkan kepalanya di dada Victor, ada sarkarsme yang terlintas di matanya, "Tapi aku tidak pergi lama, Yang Mulia, membiarkanku melihatmu menikahi wanita lain, melihat wanita lain berada dan mendesah di bawah tubuhmu, itu adalah hal yang tidak bisa aku terima. Yang Mulia, biarkan aku pergi untuk beberapa waktu, kebetulan pavilliun Heaven juga mengatakan menerimaku bergabung dengan mereka, membiarkanku belajar untuk beberapa waktu, menghindari masa sensitif ini, apa tidak boleh?"
Lexie berbicara dengan sangat tulus, sekalian mengungkit masalah pavilliun Heaven yang tampaknya menjadi alasan yang masuk akal untuk dirinya sendiri.
"Wanita yang terlalu cemburu, itu tidak baik." Victor sedikit tidak senang.
"Karena aku peduli maka aku cemburu. Yang Mulia, ini adalah sifat manusia, jika ingin menyalahkan, maka hanya bisa menyalahkanku yang terlalu peduli pada Yang Mulia." Lexie memeluk pinggang Victor, dengan sengaja mengeluarkan rintihan sakit ketika tangan Victor menyentuh punggungnya, "Yang Mulia, jangan menyentuhku di sana, ada cedera di sana, sangat sakit."
Tangan Victor terpaku di udara, akhirnya di letakkan di pinggang Lexie, "Baiklah, Yessika memasuki istana, mungkin akan bertindak padamu demi posisinya, akan lebih baik jika kamu menghindar untuk sementara waktu."
Ketika Lexie mendengarnya, dia dengan senang mencium pipi Victor, "Yang Mulia begitu melindungiku, aku sudah puas." Tapi dalam hatinya, Lexie sangat menghina perannya sebagai kekasih gelap yang begitu berkualifikasi.
Pemikiran pria selalu begitu konyol, mereka akan percaya seorang wanita bisa mentolerir pria memiliki wanita lain karena cinta, bahkan walaupun itu hanya status saja.
Victor memeluknya ke dalam rumah, dengan lembut meletakkannya di atas ranjang, kemudian melepas pakaian Lexie.
"Yang Mulia, aku mungkin tidak nyaman hari ini." Lexie bergegas menarik erat pakaiannya, raut wajahnya sedih.
Victor mendengus pelan, "Apa yang kamu kira ingin aku lakukan, hanya ingin mengoleskan obat." Ketika Victor berbicara dia mengeluarkan botol porselen kecil, dari balik pakaiannya, "Obat ini di berikan oleh seorang tabib yang hebat beberapa tahun awal, efeknya lumayan, tidak meninggalkan bekas luka, kuberikan untuk kamu gunakan, kebetulan tidak akan meninggalkan bekas luka yang tidak aku sukai."
Tidak meninggalkan bekas luka? Obat yang begitu berharga ini, dengan begitu mudah di serahkan untuk di gunakan padanya? Victor terlalu murah hati, terhadap hewan peliharaan favoritnya bukan?
__ADS_1