Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
29


__ADS_3

Sebelum membaca saya secara pribadi ingin menyampaikan sedikit kesalahan paman disini!


Saya yang merupakan Author dari cerita ini hanya ingin bilang, bahwa saya ini hanya PEMULA, dan BARU-BARU saja terjun ke dunia Noveltoon ini.


Tulisan saya banyak yang typo, bahkan tanda baca pun terkadang sering saya salah gunakan, saya hanya butuh keritik dan saran untuk gaya penulisan saya, bukan alur dari cerita ini!


Saya tidak PERNAH MEMAKSA KALIAN UNTUK MEMBACA CERITA INI bahkan saya juga tidak pernah meminta Vote pada kalian, saya menulis karena saya suka, dan saya hobi berimajinasi itu saja.


Jadi jika kalian tidak suka dengan cerita ini dan menganggap cerita ini MC ya lemah atau apa pun itu, silahkan pindah lapak, saya tidak suka membaca komentar yang tidak bisa menghargai karya orang, saya suka kritik kalian jika itu membahas tentang gaya bahasa saya, atau pun tanda baca dicerita ini.


Akhir kata saya cuman mau bilang setiap Author pasti punya maksud tersendiri kenapa ceritanya dibuat seperti ini, intinya setiap Author pasti tidak akan ngasal dalam membuat cerita, karena saya sendiri pun harus banyak membaca untuk bisa membuat cerita ini MENJADI MASUK AKAL.


Okey cukup sampai situ saja terima kasih, sudah membaca keluh kesah saya.


...~*~...


Elsa maju mendekati meja Lisa yang terdapat, Lisa disana sedang mengerjakan sesuatu yang tidak Elsa tau.


"Elsa ada apa?" Tanya Lisa bingung.


"Anda tanya, ada apa?" tanya Elsa terkekeh.


Prang


"ASTAGA! Elsa! apa yang kau lakukan!" pekik Lisa terkejut.


Mata Elsa langsung menatap datar wajah Lisa yang nampak terkejut begitu juga dengan Kiana dan Lala disana, kali ini Elsa benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi sudah cukup dia bersabar dengan kelakuan ibu dan anak ini.


Dengan wajah datar Elsa langsung menghambur barang milik Lisa saat dia, baru saja masuk ke dalam ruang kerja Lisa.


"Elsa apa-apa ini?" tanya Lisa bingung.


Buk


Dengan mata yang terbuka lebar Elsa menaruh kedua tangannya dimeja milik Lisa, tatapannya terlihat tajam menatap wajah Lisa yang sedang menatapnya dengan bingung.


"Kau ini kenapa Elsa?" tanya Lisa.


"Kenapa? Anda tanya kenapa? Kau pikir dirimu siapa Hah!" tekan Elsa.


"Elsa?" tanya Lisa bingung.


"Jangan kau pikir hanya karena kau seorang Duehees di kelurga ini, kau jadi seenaknya bertindak! Berkaca lah kau ini siapa? kau itu hanya orang asing!" tekan Elsa menatap tajam wajah Lisa.


"Apa?"


Buk


Dengan sekali hentakan Elsa kembali memukul meja kerja Lisa, tatapannya kembali menajam menatap wajah Lisa yang terlihat tegang menatap wajahnya.


"Seorang rakyat jelata seperti kalian bermimpi ingin menjadi keluarga Kaisar? Hah lucu sekali," ucap Elsa tak habis pikir.


"Elsa kata-kata mu ini sungguh keterlaluan," sahut Kiana yang tak terima ibunya diperlakukan seperti itu oleh Elsa.


"Hey... Diam kau! Kau itu tidak usah ikut campur dalam masalah ini!" tekan Elsa pada Kiana.


Mata Elsa kembali menatap wajah Lisa, yang masih menatapnya, "Istri dari seorang Duke? Hahaha, lucu... baru 2 Tahun setengah anda ini mendapatkan gelar seorang Duehees, tapi ekonomi di kelurga ini sudah hancur berantakan karena cara kerja anda yang tidak profesional, Anda ini bisa mengelola keuangan tidak?" tanya Elsa.


"Elsa!" Pekik Kiana.


"Apa!" jawab Elsa menatap tajam wajah Kiana.


"Mau marah?" tanya Elsa.

__ADS_1


"Separuh dari barang dirumah ini dijual, bahkan sampai barang peninggalan ibunda ku ikut dijual, kalian pikir aku ini tidak tau?" tanya Elsa.


Lisa dan Kiana hanya bisa diam saat Elsa berkata seperti itu, tatapan Elsa langsung jatuh pada Lala yang hanya bisa diam berdiri disamping Lisa.


"Nyonya Dueheses! ini sebuah peringatan, jika ku tau ada barang milik ibunda yang terjual lagi, maka aku tidak akan segan melaporkan ini semua pada ayah," ancam Elsa.


"Apa? Melaporkan, Elsa ibu melakukan ini karena menurut ibu barang itu sudah tidak digunakan lagi," ucap Lisa menatap Wajah Elsa.


"Tidak digunakan lagi?" tanya Elsa tak percaya.


"Anda pikir dengan menjual barang milik ibunda, ekonomi dikelurga ini akan lancar?" tanya Elsa.


"Nyonya Dueheses, Saya ini juga punya batasan kesabaran, Anda menjual barang milik ibunda tanpa sepengetahuan saya, apa anda pikir Ayah akan senang dengan itu?" tanya Elsa.


"Terlebih... Hasil dari penjualan sama sekali tidak ada saya liat!" ketus Elsa.


Elsa mengepalkan kedua tangannya dengan kuat menatap wajah Lisa yang hanya bisa diam menatapnya, "Hah... saya benar-benar sangat kecewa dengan anda Nyonya," ucap Elsa pada Lisa.


Dengan wajah datar Elsa langsung pergi dari ruang kerja Lisa dengan Rina yang mengikuti Elsa dibelakang.


Tangan Lisa langsung terkepal kuat saat Elsa sudah pergi dari hadapannya, matanya terbuka lebar dengan deru nafasnya yang tidak karuan keluar.


"Ibu..." ucap Kiana.


"Hah... Sial... kenapa dia bisa tau? Lala cara kerja bawahan mu itu bagaimana? kenapa Elsa bisa tau dengan rencana kita?" tanya Lisa menatap tajam wajah Lala.


"Aku pun juga tidak tau, tapi... Melihat aksi dari anaknya Duke tadi, penilaian ku akan dirinya berbuah."


"Apa maksud mu?" tanya Lisa.


"Anak itu... Dia cukup berbahaya juga, ku kira dia hanya anak manja yang suka menghamburkan uang, jadi dengan alasan itu kita bisa menipu Tuan Duke."


"Menipu Tuan Duke?" tanya Kiana bingung.


"Tunggu, kenapa kita tidak menggunakan namanya saja dalam menjual barang itu, dengan begitu jika dia melaporkan hal ini pada Tuan Duke, maka dia tidak bisa membela diri," ucap Lala tersenyum.


"Apa?" pekik Lisa dan Kiana secara bersamaan.


"Coba kalian pikir, mungkin jika kita menjual barang atas nama mu, pasti kita akan terpojok namun lain cerita jika barang itu dijual atas namanya."


Kiana dan Lisa nampak berpikir keras dalam mencerna ucapan dari Lala, saat mereka sudah tau maksud dari ucapan Lala, mereka berdua pun langsung tersenyum lebar.


"Luar biasa, bagus juga ide yang kau buat ini," ucap Lisa tersenyum.


...~*~...


Malam harinya dikamar Elsa, semua pelayan disana menundukkan kepala mereka saat merasakan ada hawa yang kurang menyenangkan dari Elsa.


Prang


Wajah semua pelayan kembali menunduk saat Elsa tiba-tiba saja memecahkan cangkir tehnya ke arah dinding, yang membuat cangkir itu menjadi pecah berhamburan.


"Rina! Bagaimana bisa masalah ini tidak kau ketahui?" Tanya Elsa menatap tajam wajah Rina.


"Maafkan saya Nona, saya juga baru tau masalah ini," jawab Rina menundukkan kepalanya.


"Baru tau? Selama aku tidak ada kau ngapain saja?" tanya Elsa tak habis pikir.


"Maaf Nona, saya sungguh tidak tau bahwa kereta kuda itu merupakan alat pengantar barang, yang saya dengar dari para pelayan, itu hanya kereta pembawa bahan masakan, yang biasanya datang pada sore hari," ucap Rina menjelaskan.


"Sial! Agh... Dasar wanita busuk! Sudah berapa banyak benda peninggalan ibunda yang dia jual?" tanya Elsa kesal.


"Benar-benar tidak bisa dimaafkan," tekan Elsa mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Buk.


Mata Elsa dan semua orang disana langsung terbuka lebar saat mendengar ada suara yang cukup keras dari arah balkon kamarnya.


"Nona ini saya."


Teryata Lucas.


"Masuklah," jawab Elsa.


Dengan patuh Lucas langsung membuka pintu balkon kamar Elsa, wajahnya langsung menunduk saat berhadapan dengan Elsa yang sedang duduk disebuah sofa.


"Selamat malam Nona," ucapnya mencium tangan Elsa.


"Apa saja yang sudah kau temukan hari ini?" tanya Elsa langsung.


"Hari ini saya melihat Tuan Count datang ke ruang kerja Nyonya untuk membahas sesuatu yang tidak saya tau, lalu saya juga melihat Nyonya menerima sebuah uang dalam jumlah yang besar dari tuan Count."


"Uang? Hah... sudah bisa ditebak uang itu pasti hasil dari jual beli barang," ucap Elsa terkekeh.


"Tapi Nyonya, di dalam ruangan itu bukan hanya ada Nyonya, tapi juga ada Nona Kiana serta, kepala pelayan baru," ucap Lucas menambahkan.


Tangan Elsa langsung terkepal kuat mengetahui hal itu, pasti mereka semua bersekutu dalam meruntuhkan keluarganya.


"Selain itu, apa ada lagi yang ingin kau laporkan?" Tanya Elsa.


"Ada Nona ini soal asal usul dari Kepala pelayan Lala, teryata orang itu aslinya seorang pelacur di salah satu kasiona yang ada di wilayah Barat, orang itu sangat suka menipu banyak orang, bahkan sudah banyak para korban yang temakan rayuannya," ucap Lucas.


Elsa langsung tersenyum mendengar ucapan dari Lucas, "Hanya orang bodoh yang tidak bisa membedakan mana yang disebut berlian dan mana yang disebut sampah!"


"Rina!" panggil Elsa.


"Iya Nona," jawab Rina yang langsung menundukkan kepalanya.


"Mulai sekarang bawa semua barang milik ibunda ke kamar Ibunda, dan mintakan kunci kamar ibunda pada pelayan Lala, mulai sekarang dia tidak diizinkan untuk masuk ke kamar milik ibu, termasuk kamar ayah!" tekan Elsa.


"Baik Nona, akan saya lakukan."


"Dan Lucas, cari tau nama-nama korban yang sudah termakan rayuan wanita rendahan itu, aku ingin tau status dari para korban," ucap Elsa.


"Baik Nona."


Mata Elsa kembali menatap ke depan dengan tangannya yang terkepal kuat , jika ingin menjatuhkan para kecoa maka harus dibuat sebuah racun yang ampuh untuk mengusir mereka, karena jika tidak kecoa itu pasti akan kembali datang.


"Rina... Siapkan pena dan kertas sekarang! aku ingin berkirim surat pada Tuan Winterknight," ucap Elsa.


"Baik Nona."


"Kasino?" gumam Elsa.


Lucas terdiam menatap Elsa yang tiba-tiba saja terdiam dengan mata menatap ke arah depan.


"Nona!" panggil Lucas.


"Iya."


Lucas nampak ragu untuk bertanya pada Elsa, namun melihat mata Elsa yang sedang menatapnya tajam membuat dia seketika kembali menundukkan kepalanya.


"Ada apa?" Tanya Elsa datar.


"Nona... Maaf jika ini menyinggung perasaan anda, apakah... Nona berniat untuk ke kasino?" tanya Lucas dengan ragu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2