Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Hati Sehalus Debu


__ADS_3

"Tim dari perdana menteri?" Lexie terpaku, kemudian bereaksi, "Apa maksudmu tim-tim yang berpartisipasi dalam lomba itu adalah orang-orang dari kalangan atas?"


"Tidak semua, tapi beberapa memang ada anggota pejabat istana, beberapa adalah para pedagang, menunjukkan wajah mereka dalam lomba ini, pertama untuk menyenangkan rakyat, kedua itu untuk meningkatkan pengaruh keluarga." Dexter menjelaskan.


Lexie agak terkejut, tidak menyangka bahwa orang-orang di sini begitu pintar, bahkan memiliki konsep yang mirip dengan teknik pemasaran modern.


"Orang yang bisa memikirkan tentang perlombaan ini pasti orang yang cerdas." Lexie berkata memuji sambil tersenyum.


Dexter mendengarkan perkataan dari Lexie, kemudian dengan elegan berkata: "Nona Lexie terlalu memuji."


"Hei ..." Mata Lexie melebar, tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Apa kamu yang memikirkan konsepnya?"


Dexter mengangguk, "Tahun baru 5 tahun yang lalu, aku memikirkan hal itu ketika sedang bosan, untungnya di dukung oleh Kaisar, jadi partisipasi para pejabat sangat positif."


Lima tahun yang lalu, pada waktu itu, sepertinya dia berumur kurang dari 20 tahun, tidak mengherankan dia di usia muda bisa duduk di posisi tinggi, Lexie kagum padanya, kemudian bersulang denganya dengan secangkir teh.


Keduanya mengobrol, tapi tiba-tiba keduanya mendengar suara keramaian di kedai teh, ternyata sudah ada oang yang mulai bertaruh di aula, bertaruh tim mana yang akan memenangkan pertandingan kali ini.


"Menurutku, kali ini tim jendral Wesly yang akan menang, kalian lihatnya jendral Wesly kali ini memilih beberapa prajurit yang sangat baik di Medan perang, semua prajurit itu begitu hebat dalam pertempuran, apa mungkin tidak bisa memenangkan perlombaan balap kapal ini?"


"Bisa bertempur, belum tentu bisa memenangkan perlombaan balap kapal, balap kapal bergantung pada kemampuan dan bukanlah kekuatan brutal, aku merasa tim tuan Dexter bisa menang, kudengar secara khusus tuan Dexter pergi ke daerah selatan untuk merekrut sejumlah pria untuk datang ikut berlomba."


"Itu belum tentu, dalam beberapa tahun terakhir, tim raja Victor yang menang, seharusnya tahun ini juga seperti itu. Kalian pikir kapal raja Victor di buat oleh seorang pengrajin perak yang bersosialisasi dalam pembuatan senjata, jauh lebih cepat dan ringan dibanding yang lainnya, terlalu sulit untuk menang dari raja Victor!"

__ADS_1


"Yang kalian bicarakan itu semuanya topik panas, kemungkinannya terlalu rendah, aku hari ini bertaruh pada keluarga Chu yang baru bergabung tahun ini, kudengar keluarga Chu memiliki hubungan dengan pavilliun Heaven, mungkin akan ada senjata ajaib yang secara mengejutkan dapat memenangkannya, ini adalah kuda hitam, tapi sedikit orang yang bertaruh padanya, jika menang maka bisa mendapat untung besar."


Di aula, semua orang sedang mendengarkan perdebatan secara langsung, itu yang membuat kepala yang membuka pertaruhan itu tertawa, katanya yang membuka pertaruhan ini adalah rumah judi terbesar di kota, pemilik rumah judi itu juga orang yang cerdas, dia meminta orang datang ke setiap kedai teh untuk mengambil bisnis, dengan memanfaatkan perlombaan balap kapal ini, rumah judi itu juga dapat meraup keuntungan.


Dexter melihat Lexie dengan serius mendengarkan argumen orang-orang di lantai bawah, tidak bisa menahan senyum dan bertanya: "Apa nona Lexie juga ingin mencoba peruntunganmu?"


"Mencoba peruntungan judi?" Lexie menoleh lalu menggelengkan kepalanya, "Aku tidak ingin mempertaruhkan uangku pada keberuntungan, jika aku bisa melihat tim berpartisipasi dalam kompetisi, mungkin aku masih bisa bertaruh di malam ini."


"Itu tidak sulit, jika nona tertarik, aku tidak masalah membawa nona pergi melihatnya." Dexter berdiri dan memberi isyarat mempersilahkan.


Lexie tidak menyangka dia hanya berkata dengan asal, Dexter malah menganggapnya dengan begitu serius, tapi dia sudah mengucapkannya dan tidak enak untuk menolak, jadi Lexie bangkit, "Kalau begitu merepotkan tuan Dexter."


"Nona Lexie, kita bukannya baru pertama kenal, panggilan tuan Dexter ini sepertinya terlalu menusuk telinga, aku beberapa tahun lebih tua darimu, jika nona tidak keberatan, kamu bisa memanggilku kakak Dexter." Dexter berkata padanya seperti itu ketika memimpin Lexie untuk turun.


Ketika anak-anak itu mendengar bisa pergi untuk melihat tim yang bertanding, pandangan mata mereka bersemangat, terutama Rendi, dia segera menjerit, Lexie yang melihat mereka begitu bahagia, raut wajahnya menjadi lebih lembut.


"Anak-anak ini ..." Dexter masih penasaran dengan beberapa kombinasi dari mereka.


"Lucas adalah adik laki-lakiku, Ernie adalah pekerja yang kupekerjakan, Rendi adalah anak dari keluarga tetangga." Lexie memperkenalkannya secara singkat.


Mata Dexter berkedip sedikit aneh, tapi dengan cepat menutupinya, "Kamu memperkerjakan orang? Orang tua nona Lexie ..."


"Sudah tidak ada, hanya tersisa aku dan adikku." Lexie menyela kata-katanya, sangat jelas tidak ingin mengatakan terlalu banyak.

__ADS_1


Dexter menyadarinya, jadi tidak lagi bertanya, hanya mengarahkan beberapa orang itu menuju ke arah tim yang mengikuti perlombaan, ketika hampir tiba, Dexter menghentikan langkanya, kemudian dia mengeluarkan sapu tangan sutra dari balik lengan pakaiannya dan menyerahkannya, "Aku tidak memiliki kerudung atau semacamnya, hanya sapu tangan sutra ini yang bisa menggantikan untuk sementara, jika nona Lexie bersedia, bisakah kamu menutupi wajahmu dengan sapu tangan ini?"


Lexie menatapnya lekat, tidak mengerti dengan tindakannya yang tiba-tiba.


"Nona Lexie jangan salah paham, bukannya aku memiliki pendapat dengan nona Lexie, tapi paras nona Lexie itu terlalu mencolok, ada banyak orang disini, tidak dapat di hindari nona pasti akan mendapatkan masalah."


Lexie langsung mengerti maksud kata Dexter, dia sebagai seorang pejabat, sudah pasti ada banyak mata di sampingnya, orang-orang yang muncul di sampingnya sudah pasti akan menarik orang-orang yang ada di sekitarnya, jika jatuh ke pandangan musuh politik, maka akan menimbulkan masalah untuk Lexie, jadi dia ingin menghentikan cara ini untuk menghindari masalah bagi Lexie.


Seorang pria bisa berhati-hati pada titik ini, ini membuat Lexie salut padanya, di saat bersamaan juga sedikit terharu.


Pria seperti ini, jika memang merupakan seorang wanita sudah pasti ingin menjadikannya pasangannya, hanya sayangnya, Lexie ...


Lexie mengambil sapu tangan itu, kemudian menyelipkannya dengan rapi di dekat telinganya dan menutupi sebagian besar wajahnya.


Dexter membawanya ke tepi sungai, tempat di mana kompetisi akan di adakan sudah di kelilingi oleh para prajurit, hanya personil dari setiap tim yang berpartisipasi yang bisa masuk, saat Dexter membawa Lexie dan beberapa orang memasuki arena, seketika segera menarik perhatian orang-orang disekitar.


Menjadi seorang pejabat tinggi, di usia masih muda dan belum menikah, dia merupakan objek yang sangat ingin di jadikan pasangan oleh para aristokrat, tapi kakek Dexter meninggal dan belum mencapai masa kesalihan berbaktinya, ini memberinya alasan dengan jujur belum ingin menikah.


Tapi dia sudah mencapai usia untuk menikah, begitu dia melewati masa bakti, dia pasti akan menjadi perebutan, oleh karena itu, ada banyak orang yang memperhatikannya.


Jadi, ketika seorang wanita bertopeng muncul di samping Dexter, orang-orang dari keluarga besar memperhatikannya, hampir semua orang mengatur orang untuk menyelidiki identitas wanita itu.


Lexie merasakan pandangan mata dari semua orang-orang di sekitarnya, Lexie menghela nafas, untungnya dia telah mempersiapkan sebelumnya, jika tidak, jika Lexie mengungkapkan wajahnya maka sudah pasti ketika keluar dari sini maka semua latar belakangnya sudah akan di selidiki oleh orang-orang ini.

__ADS_1


__ADS_2