
Kereta kuda yang ditumpangi Noah dan Elsa melaju dengan sangat kencang menuju daerah Barat, wilayah ini sangat terkenal akan banyak tempat kasino, dimana para bangsawan atau pun rakyat biasa sering datang ke tempat ini hanya untuk bermain Kasino.
Sebuah bangunan besar bercat hitam menjadi tujuan pertama bagi Noah dan Elsa, Noah turun dari kereta kuda setelah salah satu prajuritnya membukakan pintu untuk mereka.
"Tempat ini lumayan juga," ucap Elsa penuh kagum.
Belum pernah dalam hidupnya dirinya menginjak tempat seperti ini, dimana pelelangan, judi, bahkan wanita yang jual diri bisa mudah didapatkan di tempat ini.
"Kau akan lebih terpesona jika masuk ke dalam," ucap Noah.
Noah menyerahkan tangannya pada Elsa, dan dengan senang hati langsung Elsa genggam lengan Noah, untuk masuk bersama ke dalam kasino bersama.
"Selamat datang Nyonya dan Tuan," sapa salah satu pelayan di sana.
"Ada yang bisa kami bantu?"
Mata Elsa dan Noah saling lirik, akan banyak rencana yang ingin mereka laksanakanlah selama ada ditempat ini, tapi lebih dari itu Elsa ingin mengunjungi salah satu tempat yang ada di sini.
"Kau mau ke mana Nona?" tanya Noah pada Elsa.
"Hmm... Tolong antarkan kami ke pelelangan," pita Elsa pada pelayan itu.
"Pelelangan? Baiklah tapi sebelum itu, anda harus menggunakan topeng dulu, itu sudah jadi peraturan kami di sini," ucap pelayan itu.
"Topeng?" Tanya Elsa mengulang.
"Benar Nona, Topeng, anda bisa menemukan topeng itu di sebelah sana, mari saya antar," ajak pelayan itu.
"Baiklah."
Noah dan Elsa berjalan mengikuti pelayan itu untuk membeli topeng dengan beberapa macam bentuk, Elsa lebih memilih topeng berwarna biru dengan beberapa bulu merak yang menghiasinya, dan Noah lebih memilih topeng berwana silver yang cocok dengan pakaiannya.
"Mari Nona dan Tuan."
Elsa dan Noah langsung menganggukkan kepalanya mereka kembali berjalan mengikuti pelayan Kasino menuju tempat pelelangan.
"Silahkan masuk Nona dan Tuan."
Elsa tersenyum, mereka berdua langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah banyak berisikan orang-orang dari kalangan atas, acara belum dimulai jadi Elsa bisa sedikit bersantai, sampai acara kembali dimulai.
...~*~...
Disisi lain jauh dari desa selatan, bertepatan dengan ibu kota Oktavia, di sebuah rumah yang cukup besar ada beberapa orang berpakaian serba hitam berkumpul.
Dihadapan mereka terdapat seorang pria sedang mencambuk kasar, tubuh pria yang sedang bertelanjang dada.
Tas
Tas
Tas
Suara yang begitu keras terdengar jelas memenuhi ruangan itu, darah segar telah tercecer kemana-mana bau anyir begitu kuat tercium di ruangan itu.
"Hosh..."
"Hosh..."
Pria itu terlentang dengan nafas yang tak beraturan dipundaknya sudah banyak luka baru hasil dari cambukan.
__ADS_1
"T... Tolong... Bunuh saya..." lirihnya.
Tas
Tas
Tas
"AGH!"
Pria itu kembali teriak, suara cambukan kembali terdengar bersamaan dengan teriakan dari pria yang di cambuk.
"Berapa banyak yang kau ambil?"
Pria yang dicambuk itu hanya diam, dengan matanya yang terpejam menahan sakit.
"JAWAB!"
Tas
Tas
"kotak... Satu kotak, saya hanya mengambil satu Kotak..." jawabnya cepat.
"Mohon ampuni saya tuan..." isaknya dihadapan pria itu.
Daniel menatap datar wajah pria yang sedang memohon ampun pada dirinya, sebelah tangannya yang tidak memegang cambuk dengan kasar langsung mengambil rambut pria itu dengan acak.
"Agh..." pekik pria itu kesakitan.
"Hey... Sudah berapa barang yang kau ambil?" tanya Daniel berbisik ditelinga pria itu.
"JAWAB!" teriak Daniel.
"Yang Mulia," panggil Lucas di belakang.
"Saya dengar beliau juga melakukan jual beli pada salah satu kasino," ucap Lucas menatap wajah pria itu.
"Apa? Apa yang sudah dia jual?" tanya Daniel.
"Saya melihat, dia menjual bros peninggalan ibunda nona."
"APA!" Pekik Daniel membesarkan kedua matanya.
Mata Daniel kembali menoleh ke arah pria itu, dengan cepat pria itu langsung menggelengkan kepalanya saat tangan Daniel semakin kuat menarik rambutnya.
"Tuan... Tida.."
Buk
"Kau pikir dirimu siapa hah!"
Buk
"Beraninya kau menjual barang kesayangan Elsa!"
Buk.
"Apa kau tau, yang kau jual itu apa hah!"
__ADS_1
Buk
"Harta milik Nyonya Pervis! ibunda kesayangan Elsa."
Buk.
Daniel kembali menarik kepala pria itu setelah dia buat hancur dengan cara membenturkannya di lantai.
"Bu... bunuh saya..."
"Aku memang ingin membunuh mu!" ucap Daniel dengan tajam.
Buk
Serpihan darah segar terlempar begitu saja, saat Daniel dengan kasar melempar kepala pria itu ke lantai.
"Si*l... Berikan aku lap," ucap Daniel menyerahkan tangannya.
"Ini Yang Mulia."
Dengan cepat Daniel mengambil lap itu, tangannya yang penuh akan darah dari pria itu langsung dia bersihkan, Daniel berjalan menghampiri pria itu yang sudah tergeletak tak berdaya, dengan wajah datar dia menginjak kepala pria itu.
"Lucas!"
"Iya Yang Mulia," jawab Lucas cepat.
"Cari tau lagi, orang yang telah mencuri barang kesayangan milik Elsa."
"Baik Yang Mulia."
Dengan sekali tendangan, Lucas menendang kepala pria itu yang sudah tak bernyawa.
"Bawa mayat ini ke depan halaman rumah kelurga Pervis."
"Dan pastikan kedua wanita itu melihat mayat ini," lanjut Daniel yang sudah berjalan keluar.
Semua yang ada di sana langsung menundukkan kepalanya saat Daniel sudah berjalan dihadapan mereka, sebuah kain lap yang dia pakai untuk melap tangannya dia lempar begitu saja dihadapan orang-orangnya.
Tak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi selama jalan hidup Daniel, dalam hitungan dekat saja kehidupan Elsa yang awalnya penuh dengan derita berubah menjadi tenang saat sosok Daniel kembali muncul dalam kehidupannya.
...~*~...
Di lain sisi saat pagi menjelang, kediaman kelurga Pervis dibuat heboh dengan ditemukannya mayat seorang pria di halaman rumah.
Semua pelayan di sana langsung membesarkan kedua mata mereka, menatap tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, sebuah mayat pria tergeletak dengan kondisi yang begitu mengerikan, dimana darah serta bekas luka dari mayat itu masih terlihat jelas.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya salah satu pelayan di sana.
"Ke... kenapa ada mayat di sini?" sahut pelayan lain.
Roan datang ke halaman rumah bersama dengan Lisa dan Kiana, mereka bertiga datang ke halaman rumah dengan cepat saat seorang pelayan memberitahu pada mereka, bahwa ada sebuah mayat yang di temukan di halaman rumah.
"Astaga!" pekik Kiana.
Apa ini?" tanya Roan tak percaya.
Mata Lisa dan Kiana langsung terbuka lebar saat menatap wajah dari mayat pria itu, dia tau siapa yang tergeletak disana, dia merupakan salah satu pelayan yang sering Lisa perintahkan untuk menjual barang milik matan Dueheses Pervis ke Kasino.
Melihat betapa mengerikannya kondisi dari mayat itu membuat Lisa tanpa sadar menjadi gemetar, dia gemetar karena merasa takut dan entah kenapa dirinya merasa bahwa saat ini, dia sedang diawasi oleh seseorang yang tidak dia kenal.
__ADS_1
"Apa yang sudah terjadi?" lirih Lisa.
TBC