
Kepatuhannya ini, dengan bangga membuat Alvaro mengangkat lehernya, tampilan Alvaro yang arogan itu, hanya kurang untuk menggunakan lubang hidungnya untuk menghadapi Kevin, pada saat itu, Lexie masih belum tahu bahwa di pavilliun heaven, di antar generasi muda yang berani berbicara seperti itu pada Kevin hanyalah Alvaro, karena Alvaro juga adalah seorang jenius, dia memiliki kemampuan dan kekuatan untuk bersikap sombong.
Di katakan seperti itu oleh Alvaro, senyum di wajah Kevin sedikit menjadi kaku, dia hanya bisa dengan canggung mengambil teh kemudian diam.
Suasananya canggung, tiba-tiba kerumunan kembali menjadi sedikit berisik, beberapa orang melihat ke arah hutan plum dan melihat seorang pria tua datang dengan membawa dua orang murid, jenggot pria tua itu berwarna putih, punggungnya bungkuk, tidaka ada kerutan sama sekali di pakaiannya, dapat di lihat bahwa dia adalah orang tua yang sangat ketat dalam kehidupannya.
"Itu adalah tetua ketiga, tuan Diego." Alvaro menjelaskan kepada Lexie, "Yang mengikuti di sebelahnya adalah murid pertamanya dan keduanya, kamu lihatlah apa paras mereka terlihat seperti sapi dan kuda?"
Lexie terpaku, melihat dengan jelas, paras mereka berdua memang satunya memanjang satunya lagi persegi, Lexie tidak bisa menahan tawa dan berkata: "Kak, nama panggilanku ini sangat tepat."
"Benar bukan, dua orang berwajah sapi dan kuda itu hanyalah sampah, tidak bisa membuat senjata, formasi juga tindak pandai, satu-satunya hal yang mereka bisa adalah menjilat, terutama murid yang pertama itu yang berwajah seperti sapi, dia juga sangat mesum, beberapa pelayan wanita di pavilliun Heaven ini pernah di lecehkan olehnya. Adik seperguruan sangat cantik, sulit untuk membuatnya tidak mengganggumu di kemudian hari, tapi kamu jangan takut, jika dia berani datang, aku dan kakak keduamu akan membereskannya dan membuatnya menangis memanggil orang tuanya.
"Oh ... Baik." Lexie mengangguk, senyum di wajahnya lembut dan damai, di saat bersamaan juga ada kehangatan dalam hatinya, Lexie makin menyukai irang-orang yang berguru pada guru Damian, guru yang tidak menghormati tetapi saling melindungi, kakak tertua yang begitu loyal, dan juga kakak kedua yang pemalu dan baik hati.
Alvaro melihat s.yum Lexie yang terlalu tenang, berpikir Lexie tidak menaruh perkataannya di dalam hatinya, kemudian kembali mengingatkan berkata: "Dik, jangan berpikir bahwa kakak sedang bercanda, sekarang di pavilliun Heaven selain Anita, kamu adalah satu-satunya murid perempuan, jika dia mengingatmu, maka kamu jangan tidak berani untuk mengatakannya."
Lexie tersenyum dan meletakkan cangkir tehnya dan berkata: "Kak, aku tahu, jika dia berani menggangguku, aku pasti akan segera memberitahu kakak."
"Baguslah." Alvaro mengangguk puas.
Seelah tetua Diego duduk di meja kecil dengan bantuan muridnya yang berparas sapi dan kuda, pelayan segera maju untuk menghangatkan teh panas untuknya, dia kemudian menyuruh si kepala sapi menggantungkan peta di bawah pohon plum, semua orang tahu bahwa tetua sudah akan memulai pelajarannya, jadi mereka diam.
Lexie mengerutkan kening, tanpa sadar melihat ke sekeliling, tapi tidak melihat sosok Victor, dia juga merupakan seorang murid baru pintu dalam, secara logika seharusnya dia juga harus datang pada saat ini, tapi dia malah tidak datang?
Tidak menunggu keraguan Lexie, suara tetua Diego terdengar dari arah depan.
"Bulan lalu, aku meninggalkan formasi ini, setelah sebulan, apa sudah ada orang yang memikirkan cara memecahkan formasinya? Tetua Diego berbicara sambil memegang janggutnya, sambil bertanya pada orang-orang yang sedang duduk, pandangannya menyapu sekilas pada wajah semua orang, ketika jatuh di wajah Lexie, ada meremehkan sekilas di pandangan mata itu.
Sekilas mata sudah membuat Lexie tahu bahwa pria tua ini juga salah satu yang memandang rendah seorang wanita. Lexie senang bahwa dia membuat pilihan yang tepat kemarin, tidak membiarkan Simon membawanya pergi menemui tetua ketiga yang memiliki tempramen yang buruk ini.
Beberapa murid yang duduk dekat hutan plum ingin bergerak, salah satu dari mereka memimpin dan berdiri memberi hormat kepada tetua Diego kemudian memulai berbicara mengenai pemahamannya mengenai formasi itu, ketika orang itu berbicara, tetua Diego sambil mengangguk, tapi ketika dia sudah selesai berbicara, tetua Diego hanya melambaikan tangannya dan berkata dengan dingin: "Bagian depan masih lumayan, merupakan jalan yang bisa di lalui, tapi di belakang itu adalah jalan mati, jalan mati."
Ketika murid itu mendengarnya, dia duduk dengan malu, tampak tidak senang.
Kemudian ada dua murid lagi yang berdiri, mengatakan pemikiran mereka, tapi tetua Diego masih tidak puas, ketika keduanya selesai berbicara, dia tiba-tiba menggebrak meja, dan berteriak berkata: "Semuanya sampah, dalam waktu satu bulan, tidak ada yang dapat menemukan cara benar-benar memecahkan formasi itu?"
Tempramen ini benar-benar seperti yang di bicarakan, sangat tidak baik, teriakan ini mengejutkan beberapa murid yang bernyali kecil, bahkan ada yang tanpa sadar bergidik.
Lexie merasa bingung, dapat menjadi murid pintu bagian dalam, seara logika seharusnya tidak ada murid biasa, tapi mengapa setelah diomeli oleh tetua Diego ternyata masih ada yang ketakutan dan bergidik? Tapi, kenyataanya tidak membuat Lexie bingung terlalu lama, karena saat berikutnya, dia terkejut melihat tetua Diego mengambil cambuk yang di serahkan oleh pelayan.
Tetua Diego berdiri dengan membawa cambuk, mulai dari meja di dekat pintu masuk hutan plum, menunjuk salah ayu dati mereka, "Ayo, kamu katakan terlebih dulu, jika benar maka akan di bebaskan dari cambuk ini, jika salah, maka aku tidak akan segan."
Murid itu bangun dengan ketakutan, keringat dingin menetes dari dahinya, beberapa orang di sebelahnya bahkan tidak berani bernafas, dia bergelut untuk beberapa saat, tapi tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.
Tetua Diego menghela nafas, mengangkat cambuk dan di arahkan ke tubuh orang itu.
Suara"plak" yang nyaring terdengar, menarik kembali pikiran Lexie yang sedang melayang jauh, dia menelan ludah, bergegas menoleh dan bertanya pada Alvaro: "Kak, tetua Diego ini, apa selalu mengajar murid-muridnya dengan cara seperti ini? Kalau begitu apa nanti kita juga akan di pukuli?"
pa itu formasi, Lexie sama sekali tidak mengerti, dia bahkan tidak bisa masuk ke pintu, bagaimana mungkin bisa menjawab pertanyaan ini.
"Adik seperguruan, jangan takut, dia tidak akan memukuli kita." Alvaro melihat Lexie sedikit khawatir dan segera menjelaskannya, " Yang dipukuli oleh tetua Diego adalah murid dalamnya, mereka adalah murid-murid dalam pengertian sebenarnya, beberapa meja di sana adalah meja murid-muridnya dan di belakangnya adalah murid-murid dari pemilik pavilliun dan juga murid dari tetua kedua, selain murid-murid dari tetua ketiga sendiri, terhadap para murid tetua lainnya dia tidak akan bertindak, paling-paling hanya diomeli saja."
Ternyata begitu, Lexie menghela nafas lega, meminum teh untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Ketika Zacky mendengar perkataan Lexie, dia juga berkata: "Adik seperguruan jangan khawatir, dan lagi aku paham formasi yang ada di atas peta itu, jika tetua Diego bertanya padamu, aku akan membantumu."
"Kakak kedua, kamu bisa formasi?" Mata Lexie melebar karena terkejut.
Zacky masih belum menjawab, Alvaro sudah menyela sambil memutar bola matanya, "Tentu saja dia bisa, tidak hanya dia yang bisa, aku juga bisa, lihatlah tuan Kevin itu di sebelahmu juga bisa, ini adalah masalah besar."
"Kamu memang bisa, tapi jika berbicara kecepatan memecahkan formasi yang paling hebat di sini adalah tuan Kevin, kemudian aku, lalu yang terakhir adalah kakak tertua." Zacky menggelengkan kepalanya dan mengatakan fakta kejam.
"Zacky! Kamu ini sengaja mempermalukanku bukan?" Alvaro tersenyum sambil meninju tubuh Zacky, itu hanya pukulan ringan, jelas tidak menggunakan tenaga.
Zacky dengan malu mengelus dadanya, tersenyum dan tidak membahas lagi kata-kata Alvaro.
Kevin yang sedari tadi tidak bersuara juga tersenyum, kemudian bertanya pada Lexie, "Apa nona Lexie bisa formasi?"
"Hehe ..." Lexie tersenyum canggung, menjawabnya dengan empat kata, "Sama sekali tidak mengerti."
__ADS_1
"Tidak masalah, jika tidak bisa maka bisa belajar dari awal, aku punya beberapa buku mengenai formasi dari awal, aku akan mengantarkannya paamu nanti, jika ada yang tidak kamu mengerti, bisa bertanya padaku." Ketika Kevin berbicara, pandangan matanya terus menatap wajah Lexie, sejak Kevin tahu bahwa dia adalah seorang wanita, pandangan matanya menjadi cahaya yang bahkan dirinya sendiri tidak menyadarinya."
Mereka mengobrol beberapa saat, kemudian ada dua murid yang menerima dua cambukan dari tetua Diego, sepertinya orang-orang di meja itu sudah akan dipukul semuanya, kemarahan tuan Diego makin meledak, melihat seorang muridnya tidak bisa menjawab dia mengangkat cambuk fan kembali ingin memukul, tiba-tiba sebuah suara ceria dari kejauhan yang perlahan mendekat menghalangi gerakannya itu.
"Tetua Diego mengapa pengajaran para murid yang baik-baik ini, kembali di pukuli lagi?" Dari pintu masuk hutan plum, yang berjalan keluar adalah pemilik pavilliun Heaven, Samuel, diikuti oleh Victor yang memakai topeng kulit sebagai Martin.
Tetua Diego meletakkan cambuk, menghela nafas dan berkata: "Benar-benar memalukan, aku sebagai ahli formasi, tapi para murid dalamku sama sekali tidak ada yang memiliki kemampuan, lihatlah, formasi tingkat menengah saja, di berikan waktu satu bulan tapi tidak ada yang bisa memikirkan cara untuk memecahkannya, benar-benar membuatku marah."
"Jika tidak bisa maka kamu ajari, untuk apa kamu marah, kamu dan aku sudah akan memasuki peti mati, jika tidak mengajarkan apa yang kita bisa, maka bukankah nantinya akan pergi dengan tidak tenang?" Kata Samuel.
Tetua Diego menggelengkan kepalanya, "Aku juga ingin mengajarinya, ingin orang-orang idiot ini juga bisa mempelajarinya! Hei, pemilik, apa orang di belakangmu ini adalah murid barumu itu?"
Samuel mengangguk, "Ya, aku sudah bertahun-tahun tidak menerima murid, bertemu dengan yang memiliki bakat, tidak tahan untuk tidak menerimanya. Ayo Martin, beri salam pada tetua ketiga."
Victor dengan hormat maju ke depan, "Tetua ketiga, aku Martin."
Suaranya rendah dan mempesona, di tambah wajahnya yang juga sangat tampan, seketika membuat semua orang terpana, terutama Anita yang duduk di kejauhan, pandangan matanya terpaku pada Victor dan tidak dialihkan untuk sekian lama, bahkan dirinya sendiri juga tidak menyadari, tidak tahu sejak kapan pipinya sedikit kemerahan.
Lexie menarik sudut bibirnya dan tertawa canggung, pandangan matanya memperhatikan tampilan Anita, hatinya lebih tak bisa berkata apa-apa, Victor yang mengenakan topeng ini saja masih bisa menarik perhatian wanita, tidak heran ketika benar-benar menjadi Victor ada begitu banyak wanita yang berinisiatif menyerahkan diri ke dalam pelukannya.
"Martin?" Tetua Diego menggunakan namanya dan bertanya: "Karena pemilik pavilliun mengatakan kamu memiliki bakat, maka aku akan mengujimu, lihatlah formasi di sana, apa memiliki solusi untuk memecahkan formasinya?"
"Ini ..." Victor menatapnya ke arah itu, sedikit mengernyit, ketika akan berbicara, malah dia melihat Anita yang bergegas berjalan menghampiri.
"Tetua ketiga, orang lain saja tidak bisa memikirkan solusi formasi itu dalam sebulan, kamu memintanya untuk menjawabnya sekarang, bukankah itu terlalu tidak adil?" Anita datang ke hadapan orang-orang itu, berkata dengan tidak senang, tapi sepasang matanya tanpa sadar terpaku pada Victor.
Ketika Samuel melihat Anita yang sedang berdiri dan berbicara, dia sedikit tidak senang, "Anita, mengapa kamu betbivara seperti itu pada tetua Diego?"
"Ayah, aku takut adik seperguruan tertindas." Anita datang ke sisi Samuel, dengan manja menarik lengan ayahnya dan memandangnya dengan tatapan mata memelas.
Samuel menggelengkan kepalanya tak berdaya, "Gadis ini di manjakan olehku, mohon tetua Diego memaklumi." Tidak menunggu tuan Diego menjawab, dia menoleh untuk bertanya pada Victor, "Martin, kamu mungkin menemukan solusi?"
Victor tersenyum dan mengangguk, "Ya."
Seelah selesai betbicara, Victor melangkah dengan elegan ke depan gambar formasi itu, mengambil cabang ranting di tanah dan menunjuk ke salah satu jalan, "Formasi ini terlihat seperti memiliki 3 jalan, tapi sebenarnya hanya 2 yang benar, jalan yang palsu terlihat sangat jelas, dapat di lihat secara sekilas oleh orang lain, memulai memecahkan formasi ini dari sini, awalnya masih baik-baik saja, tapi pasti akan menjadi jalan buntu pada akhirnya. Dan jalan yang benar terlihat tidak bisa diandalkan, tapi begitu menyadari ada garis kesempatan, memulai dari jalan ini untuk memecahkan formasi, tapi ... Jika ingin memecahkan formasi dengan kerugian sedikit, hanya bisa memulai dari sini ..."
Lexie tidak mengerti formasi, tidak mengerti apa yang Victor bicarakan, tapi dari reaksi orang-orang di sebelahnya, dia juga tahu bahwa Victor pasti menggunakan metode yang hebat.
Bahkan Alvaro yang ada di sambung tanpa sadar meletakkan cangkirnya dan mendengarkan baik-baik.
"Sepertinya pavilliun Heaven ini, kedatangan seorang jenius." Wajah Alvaro terdapat raut tidak puas, tapi pandangan matanya mengagumi, "Bahkan jika itu aku, juga tidak bisa memikirkan begitu banyak cara untuk memikirkan formasi dan yang di katakannya adalah cara terbaik untuk memecahkannya, aku tidak bisa memikirkannya, Zacky apa kamu dapat memikirkan metode itu?"
Zacky yang di panggil itu akhirnya kembali tersadar, mengerutkan kening dan menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak bisa, tidak tahu bagaimana dengan tuan Kevin?"
Pertanyaan itu di parkan pada Kevin, mereka melihat Kevin, raut wajah Kevin yang berkerut, kemudian menggelengkan kepalanya tanpa daya.
Sedangkan Anita yang berdiri di samping pemilik pavilliun sudah benar-benar dalam kondisi seperti orang bodoh, tatapannya yang melihat Victor yang dari awal malu hingga pada akhirnya memuja, dia yang sebagai seorang gadis, sekali lagi sepenuhnya diambil oleh Victor.
Ada angin yang bertiup kelopak bunga okun terjatuh, dan jatuh di bawah bahu Victor, dia mengangkat tangannya, jari-jarinya yang ramping sedikit bergerak dan kelopak bunga itu terbang ke bawah.
Gerakannya dan ekspresinya itu seperti lukisan pemandangan yang paling indah.
Bukan hanya Anita, bahkan Lexie pun terpaku sesaat olehnya, Lexie teringat ketika Victor datang ke kamarnya tadi malam, jelas-jelas itu adalah orang yang begitu tidak tahu malu berada di atas ranjang, ketika di siang hari, dia bisa bersikap seperti pria yang begitu elegan!
Setelah Victor selesai menjelaskan metodenya, tetua Diego sudah menatapnya dengan mata terbuka lebar yang menatapnya lekat, "Bocah ini, apa benar kamu baru datang ke pavilliun Heaven kemarin?"
"Ya." Victor menjawab dengan acuh.
Tetua Diego menepuk dadanya, dan dengan sakit berkata pada Samuel: "Pemilik, kamu benar-benar keterlaluan, tidak menerima murid selama bertahun-tahun maka jangan menerimanya, lihatlah dengan tidak mudah akhirnya ada orang yang begitu mengerti dengan formasi, dan kamu malah merebutnya dariku! Kamu benar-benar membuatku tidak memiliki penerus!"
"Haiya, tetua Diego, apa yang kamu bicarakan ini, bukankah muridku juga adalah muridmu? Untuk apa bersikap seperti itu? Selain itu muridku ini keahliannya bukan dalam formasi, jadi, tentu saja harus memilih yang sesuai dengan keahliannya."
"Keahlian?" Tetua Diego berpikir dengan hati-hati, dengan curiga berkata: "Keahlian pemilik adalah bela diri, apakah anak ini adalah seorang ahli bela diri"
"Ya." Samuel dengan bangga tertawa keras, sambil meletakkan tangannya di bahu tetua Diego, membawanya berjalan ke meja kecil di depan, "Jika ingin menyalahkan, maka salahkan anak itu karena ahli dalam bidang lainnya, sayangnya, terdapat masalah dalam penyaringan murid ini, kalau tidak masih ada beberapa talenta."
"Sudahlah sampai di sini saja, aku paling juga hanya bisa menunggu beberapa tahun lagi." Tetua Diego menghela nafas dan duduk di meja kecil, lalu memerintahkan orang untuk mengambil gambar formasi lain, tapi kali ini, dia tidak menguji semuanya dan hanya mulai menjelaskan formasi itu secara perlahan-lahan.
Samuel membawa Martin duduk di sebelahnya, sebenarnya hari ini, biasanya dia tidak akan datang ke sini, tapi itu, adalah hari pertama Martin masuk menjadi murid, jadi dia membawanya untuk bertemu seseorang dan sekalian pamer saja.
__ADS_1
Victor hanya melirik sekilas formasi itu, sepertinya tidak merasa tertarik, jadi dia dengan sangat cepat mengalihkan pandangan matanya, tapi ketika dia memalingkan kepalanya dia melihat Kevin dengan rajin menuangkan teh untuk Lexie, alisnya berkerut, menarik kembali tatapannya.
Setelah mendengarkan pengajaran selama setengah hari, Lexie benar-benar telah masuk ke dalam kondisi linglung, dia tidak memiliki dasar, mendengar penjelasan mengenai formasi sama halnya dengan mendengarkan hal yang sulit di pahami.
Jadi ketika dia kembali ke kediaman, wajahnya sudah berkerut, bahkan ketika tetua Damian memanggilmya untuk makan, Lexie masih tidak bersemangat.
Di meja Makan tetua Damian mengambil paha ayam dan meletakkannya di mangkuk Lexie, "Gadis kecil, jangan berkecil hati, bukankah itu hanya formasi, nanti minta kakak pertama dan kakak kedua untuk mengajarimu terlebih dahulu, jika tidak bisa mengajarimu aku akan menguliti mereka."
Ketika Alvaro dan Zacky mendengarnya, mereka bergegas berkata: "Ya, adik seperguruan, mulai besok kami akan bergiliran untuk mengajarimu."
Suasana hati Lexie menjadi sedikit lebih baik, "Terima kasih guru dan para kakak."
"Ya, cepat makan." Alvaro menghiburnya dengan beberapa kata, tiba-tiba teringat sesuatu, lalu dengan canggung betkata: "Gawat, aku lupa, dua hari lagi baru saja menerima pekerjaan yang baru saja di tugaskan, jadi beberapa hari ini a
harus membuat senjata atau menyerahkannya, atau tidak Zacky, kamu ajari dulu adik seperguruan dalam beberapa hari ini?"
"Baik, mulai besok aku akan mengajari adik seperguruan mengenai formasi, oh iya guru, aku ingat kamu memiliki beberapa buku mengenai formasi, nanti ingat untuk mencarinya untuk kugunakan."
Ketika tetua Damian mendengarnya dia langsung mengetuk kepala Zacky dengan sumpit, "Buku formasi yang aku miliki itu, buku formasi tingkat tinggi, adik seperguruanmu ini tidak memiliki dasar, bagaiman mungkin mengerti?"
"Jadi bagaimana?" Wajah Zacky tampak kesulitan dan memikirkannya sambil berkata: "Atau tidak pergi dan tanyakan pada tuan Kevin? Bukankah hari ini dia mengatakan bahwa dia memiliki beberapa buku dasar?"
"Tidak boleh!" Kali ini tetua Damian dan Alvaro berteriak serempak.
"Kenapa?" Zacky bingung dan bertanya.
Tetua Damian mengambil sumpit kemudian mengetuknya lagi, benar-benar di lakukan dengan begitu tega, "Dasar bodoh, benar-benar tidak paham. Dia mengajukan diri seperti itu, tentunsaja tujuannya tidak murni, aku sudah mendengar dari kakak tertuamu, pandangan mata bocah itu ketika melihat murid perempuan kesayanganku ini bahkan bisa menyemburkan api, api hasrat, apa kamu mengerti? Huh! Aku tidak akan memberinya kesempatan untuk mengejar gadis kecilku."
Hanya dalam waktu satu hari Lexie sudah secara otomatis naik ke posisi gadis kecil gurunya.
Bibirnya terangkat kemudian berkata: "Itu hanya meminjam buku saja, seharusnya itu bukan masalah besar ..." Apa mereka itu terlalu berlebihan? Lexie adalah seorang individu, apa jika ada orang yang mendekat, maka dia kan di bawa pergi begitu saja?
"Bukan masalah besar?" Tetua Damian meninggikan volume suaranya, "Ada pinjaman dan pengembalian, selama periode ini maka sudah ada keterkaitan, ada keterkaitan maka ada alasan, maka akan ada lebih banyak cara untuk berhubungan, memikirkan pada waktu itu, aku juga ingim mengandalkan cara untuk mendapatkannya ... Haiya, singkatnya tidak boleh pergi mencarinya."
"Lalu apa yang harus kulakukan?" Lexie menghela nafas, berhadapan dengan guru dan kakak seperguruan yang begitu melindunginya dia juga sakit kepala.
Tetua Damian menggunakan sumpitnya untuk mengetuk meja, sepertinya sedang berusaha mencari cara, selama beberapa saat, pandangan matanya menyalah cerah, tersenyum berkata: "Tidak bisa meminjam, maka kita bisa mencurinya!"
"..." Lexie tidak bisa berkata-kata, metode ini benar-benar hebat.
Siapa tahu begitu Alvaro dan Zacky mendengarnya, mereka merasa bahwa itu sangat masuk akal, mereka bertiga merencanakannya kemudian segera memutuskan untuk menggunakan cara ini, dan juga mengatakan bahwa mereka akan pergi malam ini.
Otot-otot di wajah Lexie tidak bisa berhenti berkedut, tapi jantungnya anoa sadar melelah dan menghangat.
Malam hari itu, tetua Damian dan dua muridnya sudah menyiapkan peralatan untuk mencuri, mengenakan pakaian gelap, berangkat dengan percaya diri di bawah pandangan mata Lexie.
Lexie datang ke halaman, dengan membawa lentera, menggantungkan lentera di bawah pohon di halaman, kemudian duduk di bangku batu di bawah pohon, Lexie juga sengaja menyiapkan makanan kecil, bersiap menunggu untuk di berikan pada mureka ketika mereka kembali nanti.
Pada malam musim semi, sudah tidak terlalu dingin, hanya sentuhan kesejukan saja, di langit penuh dengan bintang, bintang-bintang itu seperti berlian yang bersinar, masing-masing bintang itu membawa impian seorang gadis.
Lexie tanpa sadar mendendangkan sebuah lagu, jati-jatinya berirama mengetuk dengan lembut, ketika memikirkan raut wajah berlebihan ketiga orang yang baru saja keluar, Lexie tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Sepertinya kamu sedang dalam suasana hati yang baik." Tiba-tiba ada suaranyang memotong suara nyanyiannya.
Lexie mendongak, melihat sosok di depannya yang tidak tahu sejak kapan munculnya, Lexie tidak panik karena suara itu sudah sangat tidak asing baginya.
"Kenapa kamu datang?"
"Aku tidak boleh datang?" Victor menghampiri ke hadaan Lexie, menariknya dari atas bangku batu, kemudian Victor duduk baru menarik Lexie ke dalam pelukannya, kedua tangan Victor merangkul pinggang Lexie.
Lexie terpaksa duduk begitu intim di atas tubuh Victor, tawa di wajahnya sedikit kaku, "Bukan, aku hanya berpikir bahwa Yang Mulia menyembunyikan identitas di pavilliun Heaven, jika sering datang kemari dan di ketahui oleh orang maka akan merusak urusanmu."
Victor terkekeh, tangannya menyusuri di sepanjang pinggangnya, bibit malah mendekat ke samping telinga Lexie, menggunakan suara yang menawan dan berkata dengan lembut: "Tapi, aku sudah terbiasa dengan tubuhmu, tanpa kehangatan ranjangmu, aku ... Tidak bisa tidur."
Sial! Bukankah itu hanya karena dia bergairah, dan menginginkan hal itu? Mengatakan dengan demikian secara implisit! Dasar binatang!
Lexie memaki dalam hatinya, tapi wajahnya mengulas senyum, hanya saja Lexie memegang tangan Victor yang yerus melanjutkan aksinya, "Yang Mulia, jika di sini sepertinya tidak terlalu baik .."
"Gurumu dan lainnya bukankah mereka baru saja keluar? Kevin adalah pemilik kecil pavilliun, tempatnya juga tidak akan semudah itu untuk di tembus." Victor menyingkirkan tangan Lexie terus bergerilya naik, "Dan lagi menurutmu, jika guru dan kakak seperguruanmu menjagamu dengan begitu ketat mengetahui bahwa orang yang mati-matian mereka jaga, sejak awal sudah menjadi mainan di bawah tubuhku, mereka akan bagaimana?"
__ADS_1