
...DIBACA DULU! CERITA INI AKAN BERUBAH MENGIKUTI ALUR PERTAMA, UNTUK EPISODE BERIKUTNYA AKAN SEDIKIT BERBEDA DENGAN YANG SEBELUMNYA, SEKIAN DAN TERIMA KASIH....
...~*~...
Di pagi yang cerah dengan suasana yang begitu hangat, Rina memperlihatkan beberapa gaun yang akan dia pakai untuk berkunjung menemui Ratu Oktavia.
"Warna merah, aku akan pakai yang itu."
Semua pelayan yang ada dikamar Elsa langsung mengerutkan dahi mereka, lagi-lagi Elsa memilih warna yang tidak dia sukai, mereka pun bingung kenapa Elsa yang tidak suka warna merah mulai tertarik dengan itu.
"Owh iya lain kali jangan memperlihatkan lagi pada ku gaun berwarna biru."
"Iya?"
Seperti diserang petir disiang hari wajah mereka nampak tak percaya dengan apa yang Elsa katakan, Elsa yang dulu sangat suka warna biru dan kini telah berganti haluan.
"Termasuk dengan perhiasan," tambah Elsa.
Mereka semua tidak tau dengan jalan pikiran Elsa saat ini, Elsa yang biasa mereka kenal tidak menyukai warna merah tiba-tiba saja berbuah menjadi menyukai, sungguh mereka bingung dengan perubahan sifat Elsa yang tiba-tiba.
"Rina apa barang yang ku pesan saat itu sudah siap?"
Rina langsung menundukkan kepalanya dihadapan Elsa, "Sudah Nona, semua sudah saya siapkan."
"Baguslah kalo begitu, baik hias wajah ku secantik mungkin, aku ingin tampil sempurna dihadapan yang Mulia Ratu."
"Baik Nona, serahkan saja pada kami" jawab mereka serempak.
...~*~...
Setelah selesai bersiap Elsa turun dari anak tangga dengan banyak para pelayan yang sedang mengikutinya, saat dirinya ingin keluar dari mansion, tiba-tiba saja Hana yang merupakan kepala pengurus rumah tangga datang menghampiri dirinya.
"Nona, Nona!" pekiknya menghampiri Elsa.
"Hana?"
Semua orang nampak bingung termasuk dengan Elsa yang melihat Hana datang menghampiri dirinya dengan terburu-buru.
"Ada apa Hana?" tanya Elsa.
"Nona tolong kami," ucapnya pada Elsa.
"Tolong kenapa? Katakanlah dengan jelas Hana, apa yang telah terjadi?"
"Nona... Saya telah berbuat kesalahan."
"Kesalahan? Kesalahan apa?" tanya Elsa bingung.
__ADS_1
"Saya telah mengotori gaun Nyonya Lisa, dan... beliau sangat marah dengan saya."
"Apa?"
"Sungguh Nona saya tidak sengaja mengotori gaun beliau," ucapnya pada Elsa.
"Beliau sangat marah Nona, Nyonya tidak terima gaunnya dikotori, Nyonya akan memberitahu ini semua pada Tuan, dan meminta Tuan untuk memecat saya."
Elsa membesarkan matanya tak percaya mendengar perkataan dari Hana, Hana adalah ibu asuhnya, dan Hana adalah orang pertama yang dia anggap kelurga, sudah banyak hal yang dia pelajari dari Hana, Hana adalah ibu sekaligus guru bagi dirinya.
"Nona, saya tidak ingin dipecat," isak Hana.
Tangan Elsa langsung terkepal kuat mendengar isakan Hana, wajahnya terlihat memerah menahan emosi, bisa-bisanya mereka yang merupakan orang baru di rumah ini, bergaya seolah dia yang tuan rumah disini.
"Tenang saja Hana, aku tidak akan membuat mu dipecat, kau kan ibu ku," ucap Elsa menenangkan.
Tangan Elsa langsung terulur menyentuh bibir Hana yang sedikit mengeluarkan darah, "Apa ini perbuatan dari Nyonya Lisa?" tanya Elsa.
Dengan ragu Hana langsung menganggukkan kepalanya, Elsa langsung tersenyum melihat Hana yang terlihat ketakutan, kali ini dirinya tidak akan tinggal diam saat orang-orangnya diganggu seperti ini.
"Nona! Nona!"
Semua mata langsung menatap ke arah pelayan yang sedang berlari menghampiri dirinya, nafasnya tidak karuan saat dia sudah sampai dihadapan Elsa.
"Ada Apa?" tanya Elsa.
"Nona... Tuan... Dia... Marah-marah di dapur."
"Saya juga tidak tau Nona, yang saya tau, Tuan marah karena menemukan racun dimakanan Nona Kiana, padahal kami semua tidak pernah menaruh racun dimakanan nona Kiana, kami selalu kerja dengan patuh pada majikannya" ucapnya pada Elsa.
"Astaga! kenapa bisa seperti ini," gumam Rina dibelakang.
"Rina buat surat untuk Yang Mulia Ratu, katakan bahwa hari ini aku tidak bisa datang," tekan Elsa.
"Apa Nona ada mendatangi Tuan?" tanya Hana.
"Ya... Harus aku sendiri yang menemui ayah."
"Kau... Ada di mana sekarang Ayah?" tanya Elsa pada pelayan itu.
"Tuan ada di dapur Nona."
"Baik... Mari kita ke sana."
Dengan cepat Elsa berjalan menuju dapur dimana ayahnya masih berada disana, semua pelayan yang ada bersamanya langsung berjalan mengikuti Elsa dari belakang.
Saat mereka sudah tiba di dapur, suasana disana sangat mencekam, ditambah lagi dengan keadaan dapur yang sangat berantakan, mata Elsa langsung terbuka lebar saat melihat banyak pelayan dan juru masak bersujud dihadapan Lisa dan Juga Roan ayahnya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini?" gumam Elsa menatap tidak percaya isi dapur.
Beberapa prajurit keluarga Pervis membongkar isi dapur hingga berhamburan, banyak peralatan makan dan alat masak jadi berantakan karena ulah mereka, melihat pelayannya diperlakukan tidak adil, Elsa langsung berjalan menghampiri ayah serta ibu Tirinya.
"Ada apa ini Ayah? kenapa mereka dibuat seperti ini?" tanya Elsa pada ayahnya.
"Elsa?" gumam Roan.
"Tidak apa-apa ini bukan masalah besar."
Tangan Elsa langsung terkepal kuat saat mendengar jawaban singkat dari ayahnya, mata Elsa langsung terbuka lebar saat melihat wajah Tuan Han yang juga suami dari Hana terluka, apakah dia juga mendapatkan serangan yang sama dari ayahnya.
Seketika matanya langsung menatap tajam ke arah Lisa, yang terlihat tidak peduli dengan kehadirannya disana.
Berani-beraninya.
Dengan cepat Elsa langsung berjongkok dihadapan tuan Han, semua orang terkejut saat melihat Elsa yang tiba-tiba saja sudah berjongkok dihadapan Han, termasuk dengan Roan serta Lisa yang melihatnya.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Elsa menyentuh wajah Han.
"Nona... Kami tidak bersalah... Kami semua telah difitnah," ucapnya menundukkan kepala.
"Oleh siapa?" tanya Elsa cepat.
"Kami tidak tau Nona, kami difitnah atas tuduhan telah meracuni makanan Nona Kiana."
"Kami bersungguh-sungguh Nona, kami tidak pernah melakukan itu, kami berani bersumpah."
Elsa terdiam memandang wajah Han, dan wajah pelayan lain yang masih menundukkan wajahnya, matanya langsung beralih ke arah Ayahnya juga ibu tirinya.
Melihat tatapan Lisa, dirinya bisa tau bahwa ini semua hanyalah akal-akalan dari kebusukan ibu dan anak.
"Elsa kembalilah, biar ayah yang mengurus ini semua."
Wajah Elsa terlihat mengeras, dia tidak bisa membiarkan ayahnya memecat para pelayan yang sudah lama menemaninya, dikehidupan yang dulu dia pernah mengabaikan para pelayan, bahkan saat mereka meminta tolong pada dirinya, Elsa tidak pernah peduli.
Namun sekarang, dikehidupan kali ini dia tidak akan begitu lagi, dia akan melindungi para pelayan yang sudah lama menemaninya, dari dia masih kecil hingga sekarang.
"Ayah mau apa dengan mereka?" tanya Elsa pada Roan.
"Apa?"
Roan menatap wajah Elsa dengan tatapan yang sulit diartikan, matanya seketika terbuka lebar saat melihat Elsa yang secara terang-terangan merentangkan tangannya dihadapan ayahnya.
"Elsa!" pekik Roan.
"Aku sudah mendengar semuanya ayah," ucap Elsa berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ayah ingin memecat mereka semua kan?" tanya Elsa sedih.
TBC