Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
39


__ADS_3

Kereta kuda kembali berjalan menuju pusat kota Oktavia, selama perjalanan wajah Elsa terlihat bingung dirinya saat ini sedang bertanya-tanya kenapa barang milik ibunya tidak ada di pelelangan, justru disaat mereka ingin keluar dari Kasino pemilik Kasino mendatangi Elsa secara khusus mengatakan bahwa barang milik ibunya tidak dijual dikarenakan sudah dibeli dengan harga yang sangat tinggi.


"Apa anda masih memikirkan masalah tadi?" tanya Noah saat melihat Elsa yang hanya diam saja.


"Saya... Masih penasaran, kemana dan siapa yang sudah membeli barang milik ibunda?" tanya Elsa penasaran.


"Apa perlu saya menyuruh orang-orang saya untuk mencari tau siapa yang sudah membeli barang milik ibunda anda?"


"Iya?"


Elsa langsung menoleh ke arah Noah yang sedang menatap dirinya dengan datar.


"Saya rasa tidak perlu dan terima kasih Tuan, sudah mau menemani saya seharian penuh," ucap Elsa tersenyum.


"Tidak masalah Nona."


Perjalanan mereka pun kembali sunyi, Elsa tertidur di dalam kereta kuda karena merasa ngantuk, sedangkan Noah hanya diam memperhatikan hutan yang begitu lebat mereka lewati.


Rumah penduduk desa sudah mulai terlihat, dan jalan yang dia lalui pun sudah bukan tanah lagi, mereka telah sampai di pusat kota, Elsa membuka matanya secara perlahan saat cahaya matahari mengenai wajahnya.


"Baru saja saya ingin membangunkan anda," ucap Noah.


"Maaf sudah merepotkan anda tuan."


Kereta kuda yang ditumpangi Noah dan Elsa pun masuk ke halaman rumah keluarga Pervis, wajah Noah dan Elsa nampak bingung saat melihat banyak sekali prajurit kekaisaran berkumpul di halaman rumah.


"Apa yang sudah terjadi?" tanya Elsa bingung.


Pintu kereta kuda terbuka, Noah langsung turun dan di ikuti langsung oleh Elsa, mata mereka langsung tertuju pada pusat keramaian yang terjadi di sana.


"Nona!" panggil Rina mendekat.


"Nona! Anda sudah kembali."


"Rina."


Rina langsung berlari memeluk tubuh Elsa dengan kuat, tubuh Rina yang saat ini bergetar tanpa sadar membuat Elsa menjadi bingung.


"Rina apa yang sudah terjadi?"


"Nona... Saya sangat takut."


"Takut?" tanya Elsa mengulang.


Rina melepaskan pelukannya pada tubuh Elsa, "Tadi pagi, sebelum nona datang ada sebuah mayat yang mengerikan ditemukan di halaman rumah."


"Apa mayat?"


"Iya nona, mayat itu seorang pria."


Mata Elsa dan Noah saling lirik, mata Elsa kembali melirik ke arah prajurit kekaisaran yang masih terlihat sibuk mencari tau apa penyebab dari mayat itu ada dikediaman kelurga Pervis.


"Tuan Winterknight, bisakah anda mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Elsa pada Noah.


Mata Noah langsung melirik ke arah Elsa, "Tentu saha nona, akan saya kirim hasil penyelidikan saya pada anda secepatnya."

__ADS_1


Elsa langsung tersenyum menatap wajah Noah, "Terima kasih Tuan."


"Kalo begitu saya pamit sekarang, semoga hari anda selalu ceria Nona."


"Terima kasih Tuan," jawab Elsa.


Noah kembali naik ke dalam kereta kuda, untuk kembali ke kediamannya, setelah Noah pergi, Elsa kembali masuk ke dalam rumahnya dengan Rina yang sedang menjelaskan pada Elsa apa yang sudah terjadi di rumahnya tadi pagi.


"Kalo begitu silahkan istirahat Nona."


Rina kembali menutup pintu kamarnya setelah mengantar Elsa ke kamar, Selama dirinya berada di dalam kereta kuda membuat seluruh badannya terasa sakit mungkin ini disebabkan jalan menuju pusat kota tidak terlalu lancar, mungkin istirahat sebentar bisa memulihkan tubuhnya.


Brak!


"Siapa itu?" tanya Elsa yang langsung menoleh ke arah balkon.


"Selamat pagi..."


"Kau!" pekik Elsa pada orang itu.


"Bisa bukakan aku pintu? di luar sangat dingin."


Elsa langsung berjalan menuju pintu balkon untuk membukakan pintu untuk Daniel.


"Hay..." sapa Daniel tersenyum.


Elsa menatap datar wajah Daniel, "Apa kau tau? apa itu Pintu?" tanya Elsa pada Daniel.


"Tau," jawabnya cepat.


Daniel hanya tersenyum, "Bukannya di balkon Juga ada pintu."


"KAU!" pekik Elsa tak habis pikir.


Grab


Mata Elsa terbuka lebar, saat Daniel tiba-tiba saja memeluk tubuhnya dari belakang, seketika sekujur tubuhnya menjadi merinding entah apa yang saat ini dia rasakan, antara panas dan dingin tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Aku butuh kamu Elsa..." bisik Daniel.


"Daniel kau kenapa?" tanya Elsa.


Daniel semakin kuat memeluk tubuh Elsa, rasa panas yang Daniel keluarkan dari mulutnya membuat dia semakin merinding merasakan hawa itu.


"Aku hanya butuh kamu..."


"Daniel?" Tangan Elsa terulur menyentuh lengan Daniel yang sedang memeluknya.


Tangan Daniel bergetar tanpa sadar, dirinya yang dibuang karena di anggap anak penuh kutukan membuat rasa dendam pada dirinya semakin menjadi, matanya yang awalnya berwarna biru berubah menjadi hitam pekat.


"Jangan pergi Elsa, jangan tinggalkan aku."


Elsa terdiam nafas Daniel yang dia berikan begitu terasa di lehernya yang jenjang, "Aku tidak akan meninggalkan mu Daniel."


Pelukan Daniel semakin erat membuat Elsa menjadi bingung dengan perasaan Daniel sekarang.

__ADS_1


"Aku akan membalas semua orang yang telah mencelakai mu Elsa, walau itu saudara ku sekali pun aku tidak peduli."


"Apa?"


Daniel membalikan tubuh Elsa secara perlahan senyumnya yang begitu hangat membuat Elsa seketika menjadi beku, tangan Daniel terulur dengan pelan mengelus wajah Elsa.


"Aku akan membalas semua Orang yang telah berani memisahkan kita, aku... aku ingin kita hidup bahagia Elsa, hidup dengan tenang seperti saat... kita di hutan dulu."


Deg


Jantung Elsa berdetak sangat kencang, wajahnya seketika memerah saat ingatan akan dirinya dengan Daniel kembali terlintas.


"Akan ku lakukan apapun demi dirimu Elsa, demi diri mu."


Setelah Daniel berkata seperti itu, tangannya langsung jatuh pada dagu Elsa, dan dia naikan wajah Elsa hingga sebuah ciuman yang tidak mereka sadari terjadi.


"Hmm..."


Ciuman mereka yang awalnya begitu ringan, menjadi panas saat Daniel membawa tubuh Elsa ke sofa.


"Ah... Daniel," pekik Elsa.


"Sssst, diam lah Elsa," bisik Daniel.


Ciuman mereka terlepas, tangan Daniel terulur menyentuh paha Elsa, dirinya duduk di bawah Elsa, dengan Elsa yang menatap Daniel dari sofa.


"Daniel... Berhenti!"


Namun Daniel tidak berhenti dia terus bermain dengan lincah mengangkat kaki Elsa ke pangkuannya, dan dia cium beberapa kali, dari paha hingga ujung jari kakinya.


"Daniel!" pekik Elsa.


Daniel tidak peduli dengan suara Elsa, dia seperti orang kerasukan karena begitu rindunya dirinya dengan Elsa.


Di sisi lain Kiana yang saat itu sedang jalan-jalan di lorong rumah, di buat terkejut dengan suara Elsa yang begitu jelas terdengar.


Mata Kiana langsung melirik ke arah kamar Elsa, dimana saat itu pintu kamar Elsa belum sepenuhnya tertutup rapat.


"Daniel."


Deg


Mata Kiana langsung terbuka lebar saat melihat apa yang sedang Elsa lakukan bersama dengan Daniel didalam.


"Apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Kiana tak percaya.


Merasa ada yang sedang menatap dirinya, mata Daniel dengan tajam langsung melirik ke arah pintu.


Deg


Tubuh Kiana seketika membeku saat matanya bertemu dengan mata Daniel yang sedang menatapnya tajam, melihat ada Kiana disana membuat Daniel langsung tersenyum licik.


"Astaga!" pekik Kiana yang langsung pergi dari hadapan kamar Elsa.


"Elsa! apa yang sedang kau lakukan di sana?" tanya Kiana penasaran.

__ADS_1


TBC


__ADS_2