
Kata-kata Zacky masih belum selesai di ucapkan, dia melihat alis Victor berkerut, dengan dingin berkata: "Dari mana datangnya orang gila ini? Berani-beraninya bersikap kurang ajar di depan pintu kediamanku!" Dia berteriak pada penjaga pintu gerbang, "Apa kalian bekerja seperti ini?"
Begitu para penjaga mendengarnya mereka langsung berlutut dan mengakui kesalahan, beberapa orang itu ketakutan hingga gemetar.
Pada saat itu tubuh Zacky benar-benar dingin dari ujung rambut hingga ujung kaki, dia tidak berpikir bahwa Victor akan berpura-pura tidak mengenalnya pada saat ini, bahkan tidak membiarkannya menyelesaikan kata-katanya, benarkah di hati Victor, Lexie sama sekali tidak ada artinya?
Zacky tidak tega, seketika wajahnya menjadi pucat, dia menunjuk ke arah Victor tapi tidak bisa berbicara, dia kemudian melihat ke arah Evan yang memandangnya dengan curiga, tiba-tiba Zacky tertawa, benar juga, di hadapan besannya, bagaimana bisa Victor mengekspos wanita penghangat ranjangnya? Terlebih lagi, wanita penghangat ranjangnya ini hamil.
Zacky sangat beruntung, untungnya hari ini dia yang datang ke sini mencarinya, dan bukannya Lexie yang datang secara pribadi, jika Lexie yang datang, maka hasil yang seperti ini benar-benar menusuk hati.
"Apa yang kalian lakukan? Masih tidak memukuli dan mengusir orang ini pergi?" Victor menyapu sekilas ke arah para penjaga, beberapa orang itu segera menangkap Zacky.
Beberapa penjaga itu menerima amarah Victor di sini, tentu saja akan melampiaskan dosa ini pada Zacky, jadi sikap mereka pada Zacky semakin jahat, beberapa orang itu segera mengeluarkan pisau panjang di pinggang dan ingin menebas Zacky.
Zacky tidak bisa seni bela diri, hanya bisa menghindar terus menerus, melihat salah satu pisau panjang penjaga akan memotong lengannya, suara Victor samar-samat terdengar, "Besok adalah hari besarku, kenapa, kalian ingin membuatku melihat darah di depan gerbang kediamanku?"
Ketika para penjaga mendengarnya, para penjaga mana berani menebas pisau, hanya bisa menarik kembali tangan mereka, memaksa Zacky mundur hingga menjauh sepuluh kaki, kemudian beberapa penjaga itu baru berhenti.
Kedua mata Zacky sangat merah, mendongak menunjuk ke arah Victor, masih tidak mengatakan apa-apa kemudian berbalik badan dan pergi, tapi sosok punggungnya tampak terlalu sedih.
Ketika Zacky kembali ke pusat pengobatan medis, tabib itu masih melihat Zacky seorang diri, segera menggelapkan raut wajahnya, "Kenapa masih tidak ada yang datang? Ini, bagaimana ini?"
Wajah Zacky sangat merah, tidak bisa mengatakan apa-apa hanya bisa menatap lekat pada tirai.
Gadis berpakaian merah muda itu, Alicia Lie, sudah tidak bisa melihatnya lagi, mengeluarkan selembar tiket perak dari balik pakaiannya dan menyerahkannya pada tabib tua itu, "Tabib, atau tidak biarkan aku yang mengantarkan nyonya ini pulang ke rumahnya saja, aku juga seorang wanita, seharusnya tidak ada masalah."
__ADS_1
Tabib tua itu menolak uangnya, "Ini bukan masalah uang, yang membuka pusat pengobatan, yang berharap semuanya bisa sehat dan selamat, meskipun kamu adalah seorang wanita, tapi kamu bukan keluarga dari wanita ini, itu tidak baik bagiku, dan juga tidak baik bagimu, bisa menjadi bencana, nona kamu jangan ..."
"Atau begini saja, aku dan nyonya yang ada di dalam akan menjadi saudara angkat, jadi jika begini aku bisa di katakan keluarganya bukan, jadi itu tidak bisa di anggap tabu." Alicia berkata sambil tersenyum, menyerahkan tiket perak ke tangan tabib tua.
Tabib tua itu mengambil tiket perak, ragu-ragu untuk sesaat, lalu dia baru mengangguk.
Alivia langsung ingin masuk ke balik tirai, tapi dia malah di tahan oleh pelayan di belakangnya, "Nona, kamu masih seorang gadis yang belum menikah, pantangan ini lebih baik di percaya di banding tidak di percaya, lebih baik kamu jangan masuk ke dalam."
Alivia mendorong tangannya, "Sudahlah perkataan bagus ini, malah di bicarakan seperti itu olehmu, bukankah kamu tadi mengatakan bahwa taku aku membuat masalah? Aku sekarang sedang berlangsung jawab atas apa yang aku lakukan, kamu masih tidak senang. Sudahlah, aku tahu batasku, sudah jangan bicara lagi."
Pelayan itu tidak bisa menghentikannya, hanya bisa menggertakan gigi dan mengikuti Alicia masuk ke dalam.
Setelah mereka mendekati tirai, sekilas mereka bisa melihat wanita yang berbaring di ranjang, tapi mereka semua malah menunjukkan raut wajah terkejut.
Lexie menatap ke satu arah dengan dingin, sampai keduanya mendekat, Lexie baru perlahan-lahan menoleh, tapi hanya sebuah gerakan ringan itu saja, air mata di matanya tidak sengaja mengalir turun.
Pada akhirnya Lexie di hati Victor hanyalah alat untuk melampiaskan gairahnya.
Lexie tidak kecewa, tapi putus asa! Itu kesalahannya, tapi mengapa dia masih memiliki sedikit harapan pada pria itu!
Lexie memejamkan matanya, dengan lembut membelai perutnya sendiri, di dalam ada satu nyawa kecil yang sedang tumbuh. Awalnya Lexie sama sekali tidak memiliki pemikiran melahirkan anak untuk Victor, jadi terakhir kali ketika dia hamil dan di siksa hingga keguguran oleh bibi Julia, meskipun Lexie sedih dan tidak senang, tapi hatinya sebenarnya sedikit lega, setidaknya dengan cara ini, dia tidak harus membiarkan seorang anak hidup bersamanya secara tragis sejak lahir.
Dan kali ini, satu nyawa kecil kembali datang, apa Lexie masih akan menyerah padanya?
Tidak! Dia tidak boleh!
__ADS_1
Dia baru saja kehilangan guru Damian, dia tidak bisa lagi kehilangan anak ini!
Mungkin karena ekspresinya yang terlalu sedih, membuat Alivia dan pelayannya yang berdiri di samping ranjang tergerak, mereka menatap Lexie, tertular oleh kesedihan Lexie, memiliki keinginan untuk menangis.
"Kak, kamu jangan sedih, anak itu berhasil di pertahankan." Alivia bergegas menghiburnya.
Lexie kembali fokus membuka matanya kemudian mengangkat lengan bajunya untuk menyeka air matanya, melirik sekilas ke tirai, menggigit bibir bawahnya dan berkata: "Jangan bilang pada kakakku, kalau aku menangis."
Alivia terkejut, tetapi tetap mengangguk.
Di bawah bantuan Alicia dan pelayannya, Lexie perlahan berjalan keluar dari balik tirai, dia melihat Zacky yang cemas, mengulas senyum tipis, "Kak, aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir."
"Ya." Zacky menjawab sekilas, saat itu suaranya tercekat, jika bukan karena seorang pria tidak boleh menangis, sepertinya dia juga akan meneteskan air matanya.
Bahkan sudah seperti ini, wanita itu masih tertawa, hanya untuk membuatnya tidak khawatir? Zacky bisa tidak khawatir, tapi tidak bisa tidak merasa sedih untuknya!
Ada kereta kuda milikku di depan pintu, kita naik ke kereta lebih dulu, kemudian baru mengantar kalian pulang." Alicia berkata pada Zacky.
Zacky melihat Alicia dengan antusias membantu, pandangan Zacky terhadap dirinya telah berubah banyak, setelah mengangguk padanya, kemudian mengambil barang-barangnya sendiri dan mengikuti mereka.
Alivia dan pelayannya memapah Lexie naik ke atas kereta kuda, Zacky menemani pengemudi duduk di luar kereta.
Di dalam kereta kuda, Alivia terus menatap ke arah wajah Lexie, "Kak, kamu sangat cantik."
Lexie awalnya menunduk, ketika mendengar perkataannya Lexie berjuang mengangkat kepalanya dan memberikan senyum tipis, tapi tidak berbicara untuk menanggapi kata-katanya.
__ADS_1
Alivia tidak keberatan dengan sikap dinginnya, berpikir Lexie marah karena menabraknya, kemudian dia meminta maaf dengan tulus, "Kak, tadi aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu, aku ini memang sangat kasar, kamu jangan marah padaku ya?"