Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
47


__ADS_3

Elsa terdiam di kamarnya dengan tatapan kosong, dihadapannya sudah ada kudapan serta secangkir teh kesukaannya.


"Nona, Tuan Duke telah datang."


Elsa langsung menoleh ke arah Rina, "Persilahkan masuk."


"Baik Nona."


Tak lama dari itu Roan datang ke kamar Elsa, dengan matanya yang menatap tajam ke arah Elsa.


"Tinggalkan kami berdua," perintah Roan pada Rina.


Tanpa menolak Rina langsung menundukkan kepalanya ke arah Roan sebelum akhirnya dia pergi. dari hadapan Roan dan juga Elsa.


"Ayah sungguh tidak tau, bahwa kau punya galeri."


Roan berucap sambil berjalan mendekati Elsa, dengan pelan dirinya duduk dihadapan Elsa yang masih diam.


"Ayah sungguh tidak tau bahwa kau bisa membuat galeri tanpa bantuan dari ayah," lirih Roan.


Elsa masih diam dengan matanya, yang sedang menatap kosong cangkir tehnya, "Padahal usia mu belum menginjak 17 tahun, tapi pola pikir mu sudah seperti orang dewasa."


Tangan Elsa terkepal kuat mendengar ucapan dari ayahnya, "Apa hanya itu yang ingin anda katakan Tuan Duke?" tanya Elsa.


"Tuan Duke?" tanya Roan mengulang, ini aneh tidak biasanya Elsa menyebut dirinya dengan sebutan Tuan Duke.


"Jadi apa tujuan Anda ke sini?" tanya Elsa.


Roan langsung diam melihat perubahan dari putrinya, tidak biasanya putrinya bersikap seperti ini padanya, sikap dingin serta mata yang menyorotkan ketakutan, Roan bisa merasakannya, rasa kesal, sedih, dan juga rasa takut, bercampur menjadi satu.


"Kenapa Ayah disebut Tuan Duke?" tanya Roan menatap Elsa.


Tangan Elsa langsung bergetar, "Karena Anda memang Tuan Duke," jawab Elsa tersenyum.


Elsa menjawab dengan mata yang masih mengarah ke cangkir tehnya, rasa sakit saat ayahnya membentaknya masih membekas didalam dirinya, bahkan ingatan akan ayahnya yang menampar dirinya masih tergambar jelas.


Roan terdiam melihat wajah Elsa, tangannya yang tadi ingin mengambil cangkir teh menjadi terhenti, saat melihat tubuh Elsa yang bergetar.


"Soal tadi pagi, Ayah minta maaf... Ayah sudah kelewatan menampar wajah mu," lirih Roan.


Elsa langsung meneteskan air matanya saat Roan berucap maaf padanya, sakit hati yang dia rasakan tidak akan mudah hilang dengan sebuah kata maaf yang ayahnya ucapkan.


"Ayah sudah hilang kendali, maafkan ayah Elsa," ucap Roan menundukkan kepalanya.


Elsa langsung mengepalkan kedua tangannya, "Semenjak ibunda meninggal, kasih sayang ayah pada Elsa berkurang, bahkan ayah yang dulu melindungi Elsa, sekarang telah berani menampar Elsa," isak Elsa.


Roan terdiam memandang wajah Elsa, yang sedang terisak dengan nafas yang tidak karuan keluar, "Elsa hanya ingin mengambil hak milik Elsa, dan melindungi harta milik ibunda, Semenjak Ka Kiana dan ibunnya ada di rumah ini, kasih sayah Ayah pada Elsa telah berkurang, dan Elsa merasa sedih dengan itu."


"Elsa."


Sret

__ADS_1


Kursi yang diduduki Roan telah jatuh ke belakang, Roan dengan langkah lebar langsung berjalan ke arah Elsa yang masih terisak, dengan badannya yang sedikit dia tundukkan Roan langsung memeluk kepala Elsa dengan hangat.


"Maafkan Ayah Elsa, Ayah bersalah."


"Ayah..." Isak Elsa.


Siang itu didalam kamar Elsa, Elsa menangis dengan kencang didalam pelukan ayahnya, semua rasa dendam yang selama ini dia pendam akhirnya bisa sedikit berkurang, karena Roan memeluknya.


...~*~...


Malam harinya suasana dikediaman kelurga pervis menjadi jauh lebih tenang dari biasanya, Roan dan Elsa berjalan bersama ke ruang makan, dengan Elsa yang sedang mengandeng erat tangan ayahnya.


Hubungan Elsa dengan ayahnya sekarang sudah membaik, wajah Elsa nampak ceria begitu pula dengan Roan, Elsa senang jika ayahnya kembali sayang pada dirinya.


"Selamat malam Tuan Duke," sapa para pelayan disana.


Mendengar para pelayan mengucapkan salam, dengan cepat Kiana bersama ibunya ikut menoleh ke arah Roan.


"Selamat malam semua," seru Elsa tersenyum.


Mata Kiana dan Lisa terbuka lebar saat mereka melihat kedekatan Elsa dengan Roan yang begitu lekat, Elsa berjalan ke arah kursi Roan untuk mempersilahkan ayahnya duduk.


"Terima kasih Elsa."


"Sama-sama Ayah," balas Elsa.


Elsa langsung duduk ke kursinya dengan tenang, melihat tampang bingung dari Lisa dan Kiana membuat dia sedikit puas akan itu, pasti didalam otak mereka terlintas soal hubungannya dengan Roan, yang tiba-tiba saja kembali akrab.


Elsa yang tadi ingin memotong seteknya dibuat berhenti oleh ucapan Roan, "Ah... Aku hampir lupa mungkin sebentar lagi dia akan datang ayah, ayah tunggu saja."


"Siapa yang akan datang?" tanya Kiana penasaran.


"Ada, sesuatu yang ingin aku kenalkan pada kalian semua," jawab Elsa.


Tak lama Kiana bertanya seperti itu, seorang pelayan datang menghampiri Elsa dan semua orang yang ada disana


"Nona ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda."


"Itu pasti dia, suruh dia masuk," balas Elsa.


"Baik Nona," balas pelayan itu menundukkan kepalanya.


Suasana didalam ruang makan kembali sunyi, Elsa kembali menyantap makan malamnya dengan banyak pasang mata yang melirik ke arahnya.


Tap


Tap


Tap


Suara langkah kaki begitu terdengar sampai ke dalam ruang makan, hingga suara yang begitu familiar ditelinga Elsa terdengar, "Selamat malam semuanya, dan selamat malam Tuan Duke."

__ADS_1


Deg.


"Kau!" pekik Roan tak percaya.


Semua orang yang ada didalam ruangan itu membesarkan kedua matanya tak percaya, dengan seorang pria yang sedang berdiri dihadapan mereka.


"Kemarilah Daniel," panggil Elsa, Daniel langsung menurut dengan perintah Elsa.


"Mungkin sebagian dari kalian sudah kenal siapa pria ini.


"Elsa, kenapa kau mengenalkan pria ini pada kami?" pekik Roan.


"Kenapa? Bukankah ini sudah jelas ayah?" ucap Elsa tersenyum.


Tangan Daniel langsung mendarat diatas kepala Elsa, membuat semua pasang mata terbuka lebar melihat aksi Daniel pada Elsa.


"Ayah selalu bertanya pada ku, kenapa aku ingin sekali membatalkan pertunangan ku bersama dengan Putra Mahkota."


Daniel tersenyum kehadapan semua orang, sedangkan Elsa menatap tajam ke arah Kiana.


"Apa karena dia?" tanya Roan, yang enggan menyebut nama Daniel.


"Bukan ayah, tapi Itu karena aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak aku liat!"


"Tidak kau liat? Apa maksud mu Elsa?" tanya Roan penasaran.


"Ayah pasti tidak akan percaya, bahwa Aku pernah melihat Ka Kiana berciuman dengan Pangeran."


Deg


"Apa?"


Semua pasang mata yang ada disana terbuka lebar mendengar ucapan dari Elsa, bahkan Kiana sendiri pun langsung membeku mendengar perkataan dari Elsa.


"Apa maksud mu Elsa! Kau berkata seperti itu karena merasa iri dengan ku kan?" pekik Kiana.


Elsa langsung tersenyum, "Apa? Iri? buat apa? Memang apa yang harus aku irikan dari dirimu itu?" tanya Elsa.


"Kejadian itu jauh saat aku masih menjadi calon Putri Mahkota, bukan itu saja bahkan aku ada mendengar lebih dari itu!"


"Mendengar lebih dari itu? Apa maksud mu Elsa?" Tanya Roan penasaran.


"Entahlah ayah aku ragu untuk mengatakannya, apa aku harus mengatakannya atau tidak?" tanya Elsa tersenyum.


Elsa menaruh alat makanannya kembali ke atas meja, sekarang tatapannya berbuah tajam mengarah pada Kiana dan juga ibunya.


"Ka Kiana, apa aku perlu menceritakan semuanya?" tanya Elsa tersenyum.


"Semuanya tanpa terkecuali?" ancam Elsa.


TBC

__ADS_1


__ADS_2