Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
19 (Pertemuan)


__ADS_3

Di ruang kerja Count Elbrt, Dawis, Elsa, serta Bima masih terdiam disebuah sofa yang dihadapan mereka sudah ada Ran menatap tajam wajah Dawis.


"Aku tidak mau lagi berurusan dengan kelurga Kaisar, karena ulah Ratu aku kehilangan putra ku!" tekan Ran.


Dawis hanya tersenyum mendengar ucapan dari Ran, "Sudah ku bilang-"


"Aku tidak akan percaya!" potong Ran.


Bima langsung meremas kuat tangan Elsa, saat melihat wajah Ran yang begitu menyeramkan dimatanya.


"Putra ku sudah meninggal sebulan yang lalu, mayatnya pun sama, dan aku melihat sendiri bagaimana dia dimakamkan," ucap Ran.


"Apa anda sangat percaya bahwa itu putra anda?" tanya Dawis meyakinkan.


Ran hanya diam dengan matanya yang masih menatap tajam wajah Dawis, "Jika itu memang mayat anak anda, lalu mau kah anda mau menemani saya untuk bertemu dengan seseorang?"


"Apa?"


"Ada seseorang yang ingin saya perlihatkan pada anda, namun orang itu tidak bisa bertemu langsung dengan anda."


"Apa maksudnya?"


"Serangan batin!"


Deg


"Apa!" pekik Ran.


Mata Ran langsung terbuka lebar mendengar ucapan dari Dawis begitu juga dengan Elsa, serangan batin merupakan sihir terlarang yang tidak boleh digunakan di kekaisaran, karena sihir itu merupakan sihir penghapus ingatan atau bisa kenal dengan cuci otak, biasanya orang yang terkena serangan sihir ini akan lupa dengan ingatan masa lalunya dan diganti dengan ingatan yang menyakitkan pagi sih korban.


"Itu sebabnya saya tidak bisa membawa orang itu kehadapan anda," ucap Dawis.


"Apa maksud mu? Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?" tanya Ran.


"Sama halnya dengan dirinya, Anda pun juga sama, mayat yang anda kira putra anda, sebenarnya bukan putra anda."


Buk


Ran langsung memukul kuat meja yang ada dihadapannya, Elsa langsung membesarkan kedua matanya begitu juga dengan Bima, suasana di ruangan begitu mencekam, membuat Bima tidak hentinya meremas kuat tangan Elsa.


"Percayakan saja pada saya Tuan Count, Anda pasti tau siapa saya sebenarnya," ucap Dawis dengan mata menatap tajam wajah Elsa.


Kali ini Ran memilih diam, nafasnya tidak karuan keluar, tangannya terkepal kuat, jika benar putranya masih hidup, lantas yang dia kubur itu siapa, apa benar saat ini mereka terkena serangan batin?


"Baiklah aku turuti ucapan mu, namun jika kau terbukti bersalah aku serta seluruh prajurit Elbrt tidak akan tinggal diam melakukan pemberontak terhadap kelurga kaisar!" putus Ran, Dawis langsung mengangguk.

__ADS_1


...~*~...


Tidak seperti yang dibayangkan membuat sihir serangan batin, harus mempersiapkan banyak korban dan itu merupakan nyawa dari manusia, maka dari itu sihir ini sangat dilarang oleh kekaisaran.


Membuat sihir serangan batin memang sangat sulit, namun untuk menghapusnya tidak sesulit saat membuatnya, Dawis yang merupakan anak setengah penyihir ini sudah sangat banyak mempelajari ilmu sihir termasuk cara menggunakannya.


"Ke mana kita pergi?" tanya Ran.


Saat ini Ran serta yang lainnya sedang berjalan menyusuri hutan yang begitu lebat, Elsa dan Bina hanya bisa terdiam dengan kaki mereka yang terus mengikuti jejak Dawis dibelakang.


"Sebentar lagi kita sampai," jawab Dawis.


Mana yang ditinggalkan Lucas masih terasa disekitar kediaman kelurga Elbert, bahkan jejak sihir yang ada pada tubuh Noah pun masih bisa Dawis rasakan.


"Itu mereka!"


Mata Ran serta yang lainya langsung menoleh ke arah jari telunjuk Dawis, seketika mata Elsa dan Bima langsung terbuka lebar saat tau siapa orang yang Dawis maksud.


"Apa Anda liat orang yang sedang berjongkok itu?" tanya Dawis.


Elsa terdiam melihat wajah Dawis, dan kembali menatap ke arah Lucas yang sedang menenangkan tubuh Noah di sana.


"Perhatikan wajah anak itu baik-baik tuan Count," ucap Dawis.


"Apa anda tidak mengenalnya?" tanya Dawis.


Ran langsung menolehkan kepalanya ke arah Dawis, mendengar ucapan Dawis barusan membuat dirinya sedikit penasaran dengan anak itu.


"Tidak! Aku tidak mengenalnya," ucap Ran setelah kembali menatap wajah Noah.


"Sudah ku duga, seperti itulah efek dari serangan Batin, anda tidak bisa melihat wajah anak anda sendiri."


Deg


Semua mata langsung terbuka lebar saat mendengar ucapan Dawis, Bima yang tadi hanya diam memperhatikan Lucas dan Noah dari jauh langsung menolehkan kepalanya ke arah Ran.


"Tuan, apa anda orang tua kakak?" tanya Bima dengan wajah yang begitu polos.


"Aku bukan orang tuannya," jawab Ran dengan tegas, dirinya kembali menoleh ke arah Dawis yang masih berdiri didekatnya.


"Apa maksudnya ini Pangeran!" tekan Ran.


"Seperti yang sudah saya bilang, bahwa putra anda sebenarnya masih hidup, kalian sudah dikenakan sihir serangan batin, dimana kalian tidak bisa mengenal satu sama lain," ucap Dawis.


"Anak anda itu, walau dia terkena serangan batin, namun dia masih ingat wajah anda, bahkan nama yang anda berikan pun masih dia ingat, hanya saja ingatan itu tidak seindah apa yang sudah terjadi," tambah Dawis.

__ADS_1


"Apa maksud mu?"


"Anak anda ingat, bahwa anda telah membuangnya!"


"Apa?"


"Bukan itu saja, didalam ingatan anak itu, wajah anda tergambar jelas sedang menyiksa tubuhnya."


Deg


Seperti disambar petir tubuh Ran langsung bergetar dengan kuat, matanya kembali menoleh ke arah anak itu, tiba-tiba saja telapak tangan Dawis menutup mata Ran, membuat penglihatan Ran kembali seperti semula.


Deg


Jantungnya berdetak sangat kencang, nafasnya keluar tidak karuan, dirinya masih tidak percaya dengan apa yang dia liat, sebuah bayangan hitam yang tadinya terlihat jelas sedang menyelimuti matanya, kini telah menghilang.


Sebuah wajah yang tidak asing muncul dihadapan wajahnya, putranya yang dia anggap telah mati kini sedang berjongkok di sana menatap aliran sungai.


"Tidak mungkin," gumam Ran saat melihat tubuh Noah.


Tanpa sadar Ran langsung keluar dari persembunyian, dirinya langsung berjalan dengan cepat menghampiri Noah, mendengar ada suara yang mendekat, Lucas yang saat itu sedang berdiri dibelakang tubuh Noah langsung mengeluarkan pedangnya kehadapan wajah Ran.


Shutt


Lucas langsung terkejut saat tau bahwa orang yang ada dihadapannya ini ada Count Elbert, Noah yang saat itu masih berjongkok langsung berdiri dibelakang tubuh Noah.


"Yoga..." lirih Ran dengan wajah yang memelas.


Tangan Noah langsung terkepal kuat menatap wajah Ran, dia sangat benci dengan sosok yang ada dihadapannya ini, Dawis dan lainya muncul setelah melihat Lucas yang sudah mengeluarkan pedangnya.


"Kau masih hidup..." lirih Ran.


"Bukankah anda sendiri yang menginginkan saya mati?" tekan Noah.


Deg


Mata Ran langsung terbuka lebar mendengar ucapan dari Noah, "Anda membuang saya, bahkan anda sangat malu punya anak seperti saya! Anda bilang lebih baik saya mati dibandingkan harus hidup di rumah yang seperti neraka itu!" Ucap Noah menatap tajam wajah Ran.


Noah langsung membalikkan badannya, "Tenang saja Tuan, sampai kapanpun saya tidak akan lagi menginjak rumah itu, bahkan memohon belas kasih anda," ucapnya yang langsung pergi dari sana.


Dawis langsung menolehkan kepalanya ke arah Elsa yang masih menatap tubuh Noah, "Nona, bisakah kau ikuti dia, aku ingin berbicara dengan Tuan Count."


Tanpa mau membatah Elsa langsung menganggukkan kepalanya, "Baik," jawab Elsa yang langsung pergi mengejar Noah dengan Bima yang ikut dengannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2