
Suaranya halus, di tempat yang sunyi, di bawah bintang-bintang, seperti aliran cahaya yang membuat malam bersinar dan melompat.
Lexie tidak tahu dia duduk diam di atas batu, terbungkus jubah tebal hanya menggunakan wajahnya yang cantik, di tambah dengan suaranya, bisa membuat adegan yang begitu menggetarkan hati.
Di kejauhan, di pavilliun di puncak gunung, di tengah pavilliun itu tergeletak sebuah meja persegi yang di duduki oleh Victor dan guru Horald, di setiap sisi, guru Horald memegang kepalanya sendiri dengan kesulitan, jika bukan karena dia botak, takutnya rambutnya pun akan botak dikarenakan gerakan kasarnya itu.
"Permainan ini, kamu sudah pasti kalah." Victor berbicara dengan santai, tapi perlahan-lahan bangkit dan berdiri di pavilliun, matanya terjatuh di api unggun di kejauhan, siapa yang dengan beraninya menyalakan api di gunung belakang kuil?
Gunung belakang kuil umumnya tidak mengizinkan orang lain bebas masuk, Victor menutup matanya kemudian ketika dia membuka matanya, penglihatannya sudah mencapai tempat itu, hanya ketika sudah berlatih pada tahap seperti Victor saja yang bisa seperti manusia super.
"Hmm?" Victor mendengus dengan ragu, kemudian menoleh dan berkata pada guru Horald: "Kamu pikirkan cara untuk memenangkan permainan ini, aku akan pergi dulu."
Setelah mengatakan ini, Victor pergi ke arah tumpukan api unggun kecil itu.
Ketika Victor sampai di api unggun dia melihat Lexie duduk di tepi api unggun dan bernyanyi dengan tenang, pandanganya lembut dan itu tidak pernah di lihat oleh Victor sebelumnya, senyum di bibir Lexie begitu rileks dan juga belum pernah dia lihat sebelumnya.
Victor tidak dapat mengangkat bahwa kulit wanita ini memang langka di dunia ini.
Lexie melihat Victor dengan anggunnya muncul di depan wajahnya, bagai dewa, dia terpana, keterkejutan di matanya memancar, Lexie mengulas senyum cerah, kemudian segera berdiri dan menerjang ke dalam pelukan Victor, lalu memeluk pinggangnya dengan manja, "Yang Mulia, bagaimana kamu bisa datang?"
Victor mengerutkan kening tapi tidak mendorong tangan Lexie, "Melihat di sini ada api kemudian datang untuk melihat, tidak tinggal di kamar baik-baik, apa yang kamu lakukan di sini?"
"Memasak makanan enak." Lexie tersenyum manis dan mendongak berkata: "Hidung Yang Mulia benar-benar lebih tajam dibandingkan anjing, ubi jalar ini masih belum selesai di panggang, kamu sudah mencium baunya dan sudah datang kemari."
__ADS_1
Wajah Victor menggelap, "Kamu membandingkanku dengan seekor anjing?"
Bibir Lexie berkedut, dalam hatinya, Victor bahkan tidak sebanding dengan anjing, tapi senyum di wajah Lexie bahkan jadi lebih cemerlang, dia tersenyum, mengangkat tangannya, mengarahkan ujung jarinya ke pipi Victor dan berkata: "Yang Mulia, aku salah, apa kamu mau aku mengaku salah padamu?"
Nada suara Lexie menggoda, jari-jari Lexie menyusuri pipi Victor dan mengarah turun, akhirnya berhenti di atas dadanya yang keras, dan membuat gerakan melingkar.
Lexie jelas tahu apa yang paling di sukai pria, bukankah mencari kebahagian dalam situasi merangsang? Tempat seperti bukit tandus ini, bukankah adalah tempat yang mendebarkan? Di bandingkan di paksa oleh Victor lebih baik Lexie yang berinisiatif dengan begini setidaknya dia bisa lebih mendapatkan kepercayaan Victor.
Berpikir seperti ini Lexie mengambil inisiatif untuk berjinjit, mencium dagu Victor, jambangnya yang sedikit tumbuh itu membuat bibir Lexie sedikit sakit, tapi Lexie sama sekali tidak mempermasalahkannya, malah tetap mencium dan menciumnya.
Tangan Lexie juga turun ke bawah menyusuri di sepanjang dadanya.
"Wanita kecil sialan!" Tenggorokan Victor bergulung, pandangan matanya berubah menjadi dalam, ada senyum datar di bibirnya, membalas merangkul pinggang Lexie, detik berikutnya Victor sudah menggendong Lexie.
Cahaya api menyinari dua sosok orang yang sedang saling bergumul itu, cahaya merah kecil itu tersebar, tapi dalam sesaat berubah menjadi melodi yang paling indah di dunia ini.
Sampai setengah jam kemudian, Lexie terengah-engah bangun dari pelukan Victor, dengan malu-malu merapikan pakaiannya, menoleh dan tersenyum, "Yang Mulia, apa kamu mengakui caraku mengaku salah?"
Victor menarik kembali ke dalam pelukannya, mendekati telinga Lexie dan berkata: "Aku ini selalu sangat puas dengan tubuhmu."
Ya, dia hanya puas dengan tubuhnya saja.
Victor tidak mencintainya, tapi dengan seenaknya ingin memilikinya, para pria lebih suka istri mereka terlihat seperti peri, tapi mereka ingin memiliki seorang wanita bagai iblis dan hanya menggunakan tubuhnya untuk menyenangkannya, ini memang adalah dosa yang di perbuat oleh para pria.
__ADS_1
Lexie membenamkan kepalanya di dada Victor, menutupi kebencian dan ketidakadilan di wajahnya dalam bayangan.
Lexie di mata Victor, tidak lebih merupakan seorang wanita untuk bersenang-senang saja.
"Ah, Yang Mulia, aku hampir lupa, ubi jalarku sudah matang." Lexie tiba-tiba menjerit, kemudian keluar dari pelukannya dan berjalan ke tepi api, mengambil tongkat kayu, dan mencari ubi jalar di tumpukan arang api.
Tidak lama Lexie sudah mengeluarkan beberapa ubi jalar matang dari tumbukan arang api, dengan bahagia Lexie mengambil ubi, sedikit panas Lexie memegangnya dengan hati-hati bertukar antara tangan kanan dan kirinya, dan tidak lupa menyentuh daun telinganya, ketika kepanasan.
"Yang Mulia, cicipi ini." Lexie membela ubi di tangannya menjadi dua bagian dan menyerahkannya pada Victor.
Victor memandangi ubi jalar yang tertutup oleh debu di permukaaanya, wajahnya menggelap tidak memiliki pergerakkan.
"Cobalah terlebih dulu, kujamin ini enak." Lexie mengangkat tangannya dan berkata: "Aku berani bertaruh Yang Mulia, belum pernah mencoba makanan ini bukan? Benar juga, dengan statusmu itu, siapa yang berani membawa benda ini untuk di makan olehmu, jika berani maka benar-benar tidak ingin hidup."
Victor mendongak, pandangan matanya jatuh pada ekspresi lincah Lexie, tapi alisnya berkerut, "Lexie, apa kamu juga sudah tidak ingin hidup?"
"Bagaimana mungkin aku tidak ingin hidup, Aku melakukan begitu banyak, ini untuk bertahan hidup." Lexie memutar bola matanya pada Victor, kemudian mendekatkan diri dan duduk di dekat Victor dan berkata: "Berada di posisi tinggi tidak memiliki teman yang baik bukan, Yang Mulia, apa kamu berani mengatakan bahwa kami tidak menyukai sikapku yang memperlakukanmu bagai teman?"
Memperlakukannya dekan sikap yang setara, merupakan petualangan yang berbahaya lainnya dari Lexie, ada cukup banyak wanita yang menyanjungnya, jika Lexie bersikap sama seperti kebanyakan wanita, bagaimana pria ini akan lebih memperhatikannya? Apa cukup hanya menggunakan tubuhnya saja? Wania-wanita bordil itu saja bahkan lebih bisa menggoda pria, tapi apa mereka bisa membuat pria tinggal di sisi mereka?
Jadi, sebenarnya masih berada di dalam genggamannya.
Victor menatapnya sebentar, tidak berbicara, kemudian mengambil ali ubi bakar yang Lexie serahkan, "Aku tidak membenci kamu berbicara dengan sikap seperti ini, tapi hanya di belakang orang-orang saja."
__ADS_1
"Aku tahu, kamu tentu saja merupakan Yang Mulia yang berpangkat tinggi di depan orang-orang, aku bisa membedakannya dengan jelas." Lexie tidak pernah berpikir orang ini akan membiarkanmu berlaku seenaknya hanya karena dia lebih memandangmu.
Victor ragu-ragu sekian lama, pada akhirnya dia hanya menggigit sedikit di tempat yang dia pikir paling bersih, kemudian dia terpaku, saat kembali melihat Lexie, pandangan matanya yang dingin sudah sedikit berkurang, "Ya, ini tidak terlalu buruk untuk di makan."