
Perkataan Lexie benar-benar membuat Samuel tergerak, baginya membunuh mereka itu bukanlah tujuan akhir, tujuannya hanya ingin mendapatkan apa yang di inginkannya saja.
Samuel mengerutkan kening, dan berpikir lalu tersenyum: "Yang kamu katakan masuk akal, tapi ...kamu hanyalah murid yang baru masuk, bahkan jika Damian menganggapmu sebagai kesayangan, tapi dua anak ini sepertinya tidak menganggapmu seperti itu. Kamu tinggal dan di jadikan sebagai sandera, tampaknya itu tidak berguna. Atau lebih baik antara Alvaro dan Zacky, kalian salah satu tinggal?"
Lexie terkejut, menoleh ke arah Alvaro dan Zacky, tapi mereka berdua menghela nafas yang lega di saat bersamaan.
Ketika Lexie berdiri dan mengatakan perkataan ini, wajah keduanya tertulis raut wajah tidak percaya dan kagum, kemudian yang datang adalah rasa menyalahkan diri yang kuat, mereka adalah seorang pria, bagaimana mungkin hal semacam ini membiarkan wanita untuk maju dan melakukannya?
Sekarang ketika Samuel mengatakan itu, keduanya segera mengangguk tanpa ragu dan setuju, hanya saja keduanya saling memandang sekilas, tapi mereka melihat ketegasan dari mata satu sama lain.
"Kak ..." Zacky membuka mulutnya, perkataannya bekum selesai di ucapkan sudah disela lebih dulu oleh Alvaro.
Alvaro: "Sudahlah, kamu bahkan sudah memanggilku kakak, apa mungkin aku akan membiarkanmu pergi? Merawat Lexie dan mengubur guru kuserahkan padamu. Kamu tidak boleh mengatakan tidak! Aku adalah kakak, yang kukatakan adalah keputusan akhir."
Setelah mengatakan perkataan ini, dia menyerahkan tubuh guru Damian ke tangan Zacky kemudian berjalan ke arah Samuel.
Zacky masih ingin mengatakan sesuatu, tapi ketika memegang tubuh guru Damian, telapak tangannya merasakan sentuhan yang dingin, rasa dingin ini tiba-tiba mengembalikan akal sehatnya, bibirnya bergerak, tidak berbicara, menggertakan giginya dan mengangguk.
Lexie merasakan pandangan matanya yang semakin sedih, melihat Alvaro berjalan ke depan Samuel, kemudian dengan cepat ada orang yang datang dengan menggunakan pisau, dan di letakkan di leher Alvaro.
Dati awal hingga akhir Alvaro bahkan tidak mengerutkan alisnya.
"Baiklah kalau begitu, maka aku akan memberimu waktu sehari, setelah satu hari kalian bawa barang itu dan melakukan pertukaran denganku, jika kalian sudah mendapatkan bendanya kalian jangan berpikir untuk melakukan trik, mungkin, aku bisa membiarkan kalian hidup." Setelah Samuel selesai berbicara kemudian membawa orang dan pergi.
Krisis hidup dan mati itu kemudian berakhir dengan cara seperti ini.
__ADS_1
Api unggun di halaman masih begitu menyalah dengan membara, beberapa orang di sekitar yang mengelilingi api unggun hanya menatap api yang melompat itu untuk waktu yang lama, dan tidak ada yang berbicara.
Zacky meletakkan tubuh guru Damian, meskipun di matanya penuh dengan kebencian, pada akhirnya dia memilih untuk menangani semua nya secara rasional. Dia menggendong tubuh guru Damian dan berjalan pergi ke arah kediamannya sendiri, Lexie menyeka air matanya dan mengikutinya dalam diam.
Ketika melewati sisi Victor, langkah Lexie terhenti untuk sesaat, kemudian berbalik untuk menatapnya: "Terima kasih untuk malam ini."
Lexie melangkahkan kakinya dan pergi, tapi Victor malah meraih lengannya, "Apa kamu akan ikut campur tangan masalah ini hingga akhir?"
Lexie mendongak dengan aneh, tersenyum meremehkan, "Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya, jika kedua kakak seperguruanku mati di sini, aku tidak keberatan menemani mereka."
"Bodoh." Victor mengatakan satu kata ini, kedua alisnya berkerut.
Lexie melepaskan diri dari tangan Victor, tidak berbicara dan hanya bergegas mengikuti Zacky.
Setelah sekian lama, seorang pria bertopeng hitam berlutut di samping Victor, dengan hormat berkata: "Tuan, orang kita sudah bersiap."
"Hm, rencana di majukan." Victor mengatakan kalimat ini dengan tidak bertenaga, membuat pria berbaju hitam itu terkejut.
Pria berbaju hitam itu sepertinya ingin bertanya, tapi dia tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya, pada akhirnya dia berkata dengan pasti: "Aku menerima perintah!"
Setelah Zacky kembali ke kediaman pertama-tama dia ke kamar guru Damian, mengambil satu set pakaian favoritnya guru Damian, kemudian membantu untuk memakaikannya kepada guru Damian, kemudian pergi ke bengkel kecil untuk membantu guru Damian membuat peti mati.
Lexie datang ke bengkel kecil ingin membantu, tapi Zacky menolak, mengatakan bahwa ini adalah hal terakhir yang bisa dia lakukan untuk guru Damian.
Lexie dengan wajah pucat menatap Zacky yang karena gerakannya yang terlalu kuat, yang melukai tangannya sendiri, memperhatikan air mata yang turun setiap kali dia memperbaiki sisa serpihan kayu di peti mati itu hatinya sakit.
__ADS_1
Pada saat itu, tiba-tiba Lexie mengerti, ternyata dia benar-benar peduli terhadap rekan-rekan seperguruannya ini, Lexie peduli, dia peduli pada kebahagiaan yang akhirnya muncul di sampingnya malah rusak dalam sekejab, dia benci, membenci dirinya sendiri tidak berguna, jika dia bisa lebih kuat, jika dia sekuat Victor, apakah dia bisa membuat orang-orang yang menghancurkan kebahagiaannya ini masuk ke dalam neraka?
Ya, membuat mereka pergi ke neraka!
Saat ini, Lexie benar-benar memiliki keinginan untuk membunuh, dia bukan orang suci, tidak bisa berbuat hal yang begitu murah hati dan baik, saat ini, dia sangat ingin bergegas membunuh Samuel!
Tapi, Lexie yang sekarang tidak memiliki kemampuan itu.
Lexie berbalik diam-diam pergi ke dapur, kemudian merebus air, menaruh beras, memasak bubur kemudian menambahkan beberapa sayuran hijau di bubur, kemudian mengambil beberapa kimchi yang di buat oleh guru Damian sendiri beberapa hari yang lalu dari dalam pot kimchi.
Setelah melakukan semua ini, Lexie membawa 4 mangkuk bubur dan pergi ke ruang makan, tapi posisi kosong di belakang mangkuk itu kembali membuat matanya memerah.
Seelah bunut itu dingin, Lexie mengambil mangkuk dan memakannya, hanya saja, tidak sengaja air matanya jatuh di atas mangkuk, Lexie tidak menyadarinya, kemudian dia memakan bubur yang bercampur dengan air mata itu.
Seelah selesai memakan bubur kemudian Lexie membawa 1 mangkuk dan pergi ke bengkel, zacky adalah pengrajin terbaik, jadi dia membuat peti mati dengan sangat cepat, tidakampai dua jam dia sudah membuat peti mati sederhana, kemudian memasukkan guru Damian ke dalam peti mati. Peti mati itu di tempatkan di tengah-tengah halaman, guru Damian berbaring dengan damai di dalam, sudah tidak ada keceriaan semasa hidupnya sebelumnya.
"Kak, makanlah sedikit bubur untuk menambah kekuatan, pada saat ini kita bahkan tidak memiliki kualifikasi untuk jatuh." Lexie tadinya berpikir Dian akan menggunakan banyak upaya untuk membujuk pria ini memakan buburnya, tapi di luar dugaan Zacky jauh lebi tenang, di banding yang Lexie pikirkan.
Zacky mengangguk, mengambil bubur di tangan Lexie dan mulai memakannya.
Setelah selesai memakannya, dia membanting mangkuk itu ke tanah kemudian mengambil kayu yang tersisa bekas peti mati.
Lexie bingung, dia melihat Zacky menumpuk sisa kayu itu disekitar peti mati, Lexie membelalakkan matanya, tiba-tiba dia menyadari apa yang akan dia lakukan, bergegas menghampirinya, "Kak, kamu ini ..."
Lexie tahu orang-orang di jaman ini sangat menjunjung pemakaman, ketika seseorang meninggalkan dunia ini, cara terbaik adalah menemukan sebidang tanah untuk menguburnya. Dan kremasi di jaman ini adalah penghinaan terhadap almarhum, membiarkan orang yang sudah meninggal masih menderita.
__ADS_1