Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Tidak Membiarkan Kakak Disakiti


__ADS_3

Mendengar perkataan dari istri leman, ekspresi di wajah Lexie sudah agak tak terbendung, dia tersenyum dengan canggung, "Terima kasih atas kebaikanmu, tapi orang tuaku baru saja meninggal, aku harus menjaga baktimu selama 3 tahun, beberapa tahun ini tidak boleh menikah."


"Ah ternyata begitu, tidak masalah, tunggu ketika kamu sudah menyelesaikan masa baktimu baru di bicarakan lagi." Istri leman itu kemudian berbasa-basi sebentar, kemudian mengucapkan selamat tinggal.


Setelah Lexie mengucapkan terima kasih sekali lagi, Lexie kemudian mengantarkan keduanya.


Menutup pintu, Lexie menghela nafas panjang, istri leman ini sedikit terlalu ramah.


"Nona kue ketan ini ..." Ernie menatapnya dengan ragu.


Lexie tersenyum, "Kalian makanlah."


Ketika mendapatkan izin, Erni segera membuka bungkusan itu, dan mengambil sepotong kue ketan dan memakannya, dia ingin memanggil Lucas untuk memakannya bersama, tapi malah melihat raut wajah Lucas yang tidak senang di sampingnya.


"Kakak, jika tidak ada orang itu maka kakak bisa menikah dengan keluarga orang baik." Lucas sedih untuk Lexie.


Lexie mengangkat tangannya, jari telunjuknya berada di kerutan alis Lucas, kemudian berkata dengan bercanda: "Lucas, kamu masih berusia 6 tahun, tapi mengapa seperti orang dewasa kecil. Selain itu aku tidak akan berencana untuk menikah, tunggu ketika aku merawatmu hingga kamu berumur 18 tahun, ketika kamu dewasa maka aku akan pergi untuk menjadi biarawati."


Lucas mendongak kaget, tidak menyadari candaannya, dia meraih tangan Lexie, "Kak, kamu mana boleh menjadi biarawati? Kak, kamu harus menikah, pasti ada seseorang yang mau menikah denganmu."


"Lucas, mengapa wanita harus menikah?" Lexie menatap Lucas dengan cemas, dia menjadi ragu.


Wajah Lucas menjadi pucat, tiba-tiba dengan sedih berkata: "Ibuku, karena dia tidak bisa menikah, dia di tindas oleh seluruh penduduk di desa, aku juga tidak ingin kakak ditindas karena tidak memiliki seseorang untuk bersandar ..."


Lexie menghela nafas, membawa Lucas ke dalam pelukannya, menepuk punggungnya dan berkata: "Itu semua hanya masa lalu, dan lagi ibumu tidak di tindas karena tidak menikah, ibumu ditindas, itu bukan kesalahannya, tapi kesalahan orang-orang yang telah menindas ibumu, kita tidak bisa menghukum diri kita sendiri karena kesalahan orang lain, ini tidak adil bagi diri kita sendiri, mengerti?"

__ADS_1


Lucas tidak berbicara, tampaknya dia mengerti dan tidak mengerti, tapi dengan keras kepala percaya bahwa apa yang di katakan Lexie semuanya itu benar.


Ernie memakan kue ketan sambil memandang kedua orang itu, tiba-tiba berteriak, "Bukankah ibu Lucas juga ibu nona? Kalian bukan ... Saudara?"


Ekspresinya yang berlebihan membuat Lexie tertawa, "Ya, Lucas bukan adik kandungku, tapi aku memperlakukannya seperti adikku sendiri, dan lagi kamu juga sama, selama kamu mau, Kamu bisa memanggilku kakak, aku juga akan memperlakukanmu seperti adikku sendiri."


"Kakak ..." Mata Ernie tiba-tiba berair, tapi dalam sekejab kembali ditahannya, dan menggelengkan kepalanya, "Tidak boleh, ada adalah seorang budak, tidak boleh membiarkan nona menjadi kakakku."


Setelah selesai berbicara, Ernie memeluk kue ketan itu, berbalik badan dan berlari pergi.


Lexie memandangi sosok Ernie yang berlari, mengerutkan kening tanpa sadar, meskipun usia Ernie masih kecil tapi perasaan yang di berikan terhadapnya sudah melampaui usianya, Ernie apa benar, hanya seorang gadis kecil yang tumbuh besar di sebuah desa kecil?


Keesokan paginya pintu rumah Lexie kembali di ketuk, setelah Ernie meletakkan sarapan di atas meja dia kemudian pergi membuka pintu, seorang bocah lelaki menerjang masuk, bocah ini bukanlah orang lain, melainkan anak dari tetangga sebelah.


Lexie baru saja duduk dengan Lucas bersiap untuk makan, bocah laki-laki itu langsung menghampiri, di pergi ke hadapan Lucas, mengeluarkan permen di sakunya dan meletakkannya di depan Lucas, "Namaku Rendi, apa kamu bisa pergi bersamaku untuk menonton pertandingan kapal naga? Jika kamu menemaniku aku akan memberimu permen."


Sikap Lucas ini membuat Rendi merasa sedih, dia berjalan maju tapi juga sedikit tidak rela, Lexie sudah tidak dapat melihatnya, "Lucas, ayo kita pergi menonton pertandingan kapal naga, aku juga belum pernah melihatnya, banyak orang maka akan lebih ramai, Ernie apa kamu mau pergi?"


Ketika Ernie mendengarnya dia segera mengangguk, "Ya!"


Rendi juga terbelalak, melihat ke arah Lexie, senyumnya lebih lebar di bandingkan ibunya.


Lucas akhirnya mengangguk.


Lexie tertawa, akhirnya memanggil Rendi untuk sarapan bersama, dan setelah sarapan dia akan membawa ketiga anak itu keluar, ketika keluar pintu dia kemudian tersadar, usianya di sini baru 16 atau 17 tahun, Ernie berusia 13 atau 14 tahun, Rendi dan Lucas berusia 6 tahun, jika mereka keluar, tampak seperti sekelompok anak kecil yang tidak patuh yang sedang keluar jalan-jalan.

__ADS_1


Ada sebuah sungai besar di kota Phoenix, bernama sungai perpisahan, menurut legenda, pada masa-masa awal pembangunan negara Nanyue, Kaisar sebelumnya pernah bertemu dengan seorang wanita yang sangat di cintai dalam hidupnya, hanya sayangnya sejak wanita itu mendapatkan kasih sayang sang Kaisar, dia sudah meninggal di karenakan sakit, Kaisar terdahulu begitu sedih dan berduka, setiap kali merindukannya di tepi sungai, tapi, wanita itu telah meninggal, berpisah dengan tidak rela, jadi Kaisar menamai sungai ini sebagai sungai perpisahan.


Ada begitu banyak kedai teh di tepi sungai, Lexie membawa ketiga anak itu masuk ke dalam salah satu kedai teh, memilih lantai dua di dekat jendela, dari sini kebetulan dapat melihat situasi dari pertandingan kapal naga itu.


Pendongeng di kedai teh, baru saja menceritakan kisah Kaisar ini, Lexie tidak bisa menahan cibirannya, ketika memasuki istana bagai masuk ke dalam laut? Dapatkah seorang wanita biasa memasuki istana dan hidup dengan bahagia? Itu hanyalah penampilan luarnya saja.


"Penjaga, ingin di lantai dua dekat dengan jendela." Sebuah suara kasar terdengar dari depan pintu kedai teh.


Penjaga kedai teh yang sedang mengutak-utik sampoanya, mendongak melihat 2 orang pria, yang berpakaian mewah segera tersenyum, "Hei, benar-benar maaaf meja di posisi dekat jendela benar-benar sudah tidak ada, jika tidak keberatan, apa mau meja di aula?"


"Kami akan menaikkan harganya!" Pria yang tadi berbicara kembali membuk mulut, membuat penjaga kedai itu kesulitan.


Penjaga kedai itu sedang memikirkan, bagaimana cara menangani kedua tamu ini, kemudian mendengar pria lainnya berkata: "Tidak perlu, temanku ada di sini, aku akan duduk dengannya." Sambil berkata dia langsung pergi ke lantai dua.


Lexie sedang memegang secangkir teh, menyaksikan Dexter dan Erik yang berjalan menghampirinya dari lantai bawah kemudian Lexie bangkit dan memberi hormat.


"Nona Lexie, juga datang untuk melihat pertandingan kapal?" Bukan Dexter yang berbicara lebih dulu, tapi Erik.


Lexie mengangguk, dia menghargai orang yang seberti Erik yang begitu ramah.


"Nona Lexie, sudah tidak ada meja di dekat jendela, jika boleh, bisakah kami duduk bersamamu?" Dexter berkata sambil mengepalkan jarinya.


"Tuan Dexter adalah penyelamatku, itu adalah sebuah kehormatan, selama tuan Dexter tidak keberatan, itu tidak masalah."


Lexie memberi isyarat mempersilahkan, Dexter dengan elegan duduk di depannya dan berkata: "Kalau begitu aku berterima kasih pada nona Lexie terlebih dulu."

__ADS_1


"Oh iya, bagaimana tuan Dexter bisa tertarik melihat pertandingan kapal ini?" Lexie secara pribadi menuangkan teh untuk Dexter, bertanya dengan santai.


Sejak melihat Lexie, senyum di wajah Dexter tidak luntur, "Tidak bisa kusembunyikan, tim yang bertanding hari ini terdapat tim dari perdana menteri, jadi tentu saja aku harus melihatnya."


__ADS_2