
Plak
"Ma... Maafkan Saya Nona saya bersalah."
Elsa menampar sangat kuat wajah pelayan itu, tatapannya terlihat datar saat pelayan itu terus memohon ampun pada dirinya.
"Seret dia keluar."
"Baik Nona," jawab Rina menundukkan kepalanya.
Rina langsung memberi perintah pada prajurit yang ada di sana, untuk membawa pelayan itu keluar, dengan patuh prajurit itu langsung menyeret pelayan itu keluar menuju halaman rumah, suara penuh pohon dari pelayan itu terus terdengar ditelinga Elsa.
"Nona mohon maafkan saya," ucapnya penuh mohon.
Namun Elsa tetap tidak peduli saat pelayan itu terus memohon pada dirinya, "Bawakan aku cambuk dari ruang bawah tanah."
"Baik Nona," jawab Rina cepat.
...~*~...
Di malam yang gelap itu, suara teriakan dan pukulan terus terdengar di halaman rumah kelurga Pervis, semua pelayan serta prajurit yang ada di sana hanya bisa diam saat Elsa dengan kasar memukul kuat tubuh pelayan itu.
Tas
Tas
Tas
Sebuah noda merah telah muncul dari kain pakaian pelayan itu, Roan serta Lisa dan Kiana keluar dari rumah saat mendengar bahwa Elsa telah menghukum salah satu pelayan di luar.
"Elsa! Apa-apaan ini?" pekik Roan menatap wajah Elsa.
Elsa langsung menoleh ke arah ayahnya, yang terlihat murka saat dirinya melakukan hal keji ini dihadapan banyak orang.
"Tu... Tuan... Maafkan saya..." lirih pelayan itu pada Roan.
Kembali Elsa memukul tubuh pelayan itu, saat pelayan mengeluarkan suara penuh mohon, semua mata terbuka lebar saat mereka semua melihat aksi Elsa memukul Pelayan itu dengan kuat.
"Elsa cukup! Dia bisa mati jika kau terus dipukuli," pekik Lisa.
"Lalu apa peduli ku?" tanya Elsa menatap ke arah Lisa.
Deg
Mata Lisa terbuka lebar saat mendengar jawaban dari Elsa, "Rina bawakan semua barang yang telah pelayan ini curi," perintah Elsa pada Rina.
"Baik Nona."
Tak lama kemudian Rina kembali datang dengan membawa sekotak berlian hasil curian pelayan itu, dengan cepat Elsa langsung menerima kotak yang diberikan oleh Rina.
"Lihatlah!" Dengan wajah datar Elsa melempar sekotak berlian itu kehadapan Lisa dan Kiana.
"Apa ini?" tanya Roan yang masih bingung.
"Pelayan ini telah lancang mencuri barang milikku, bahkan dia telah berani masuk ke kamar tanpa izin."
"Apa?" pekik Roan tak percaya.
__ADS_1
Elsa langsung berjalan menghampiri Lisa yang masih diam membeku, "Pelayan yang ibu bawa tidak ada yang becus ya?" tekan Elsa.
Setelah berkata seperti itu, Elsa langsung memberikan cambuk yang dia pakai memukul pelayan itu ke tangan Lisa.
"Berilah pelajaran yang pantas pada orang yang telah ibu bawa kemari," lirih Elsa.
Setelah berkata seperti itu Elsa langsung pergi dari hadapan Lisa dan semua orang yang ada di sana, setelah kepergian Elsa mata Lisa langsung terbuka lebar melihat pelayan yang dia bawa bawa ke sini terluka cukup parah.
"Usir pelayan itu dari sini."
"Apa?" pekik pelayan itu tak percaya.
Pelayan itu langsung menggelengkan kepalanya, saat dua prajurit telah datang menghampiri dirinya, "Nona saya bersalah! tolong maafkan saya, saya janji tidak akan melakukan ini lagi."
Roan langsung menoleh ke arah Lisa, terlihat sekali bahwa saat ini Lisa sedang ketakutan entah apa yang membuat Lisa menjadi seperti ini, Roan juga tidak tau yang pasti, dia tanpa mau membatah langsung menyetujui keputusan Lisa yang ingin memecat pelayan baru itu.
"Bawa dia keluar, dan pastikan dia tidak akan muncul lagi di rumah ini!" perintah Roan.
...~*~...
Di dalam kamar Elsa, Elsa langsung terduduk tanpa tenaga saat dirinya kembali diingatkan dengan kejadian tadi, rasanya ingin sekali dia muntah, belum pernah dalam hidupnya dirinya menyiksa orang seperti tadi.
"Kau sudah bekerja keras."
"Daniel?" tanya Elsa yang langsung menatap ke arah balkon.
Mata Elsa langsung menangkap sosok pria berbadan tinggi yang sedang duduk di pagar balkon kamarnya.
Daniel muncul dari arah luar, wajahnya terlihat tampan saat bulan purnama menyinari wajahnya, "Aku kira kau sudah pulang."
Daniel semakin mendekat ke arah Elsa, dirinya langsung duduk disamping Elsa yang sedang menatapnya dengan bingung.
"Kau benar-benar tidak berubah, lalu mau sampai kapan kau mengawasi ku terus?"
Tangan Daniel terulur menyentuh kepala Elsa untuk dia bawa bersandar dipundaknya, "Sampai aku benar-benar yakin kau bisa mengatasi semuanya sendiri."
Elsa hanya diam, "Malam yang panjang bukan?" lirih Daniel.
Elsa langsung menganggukkan kepalanya, "Daniel... Malam ini tolong temenin aku tidur," pita Elsa sambil memejamkan matanya.
"Baiklah."
...~*~...
3 Hari kemudian, sebuah undangan dari Istana telah tiba dikediaman kelurga Pervis, pelayan yang menerima undangan itu langsung memberikan surat undangan itu pada Roan, yang sedang menikmati sarapan pagi bersama keluarganya.
"Apa isi undangan itu ayah?" tanya Kiana penasaran.
"Hanya undangan makan malam, Yang Mulia ingin mengajak kita untuk makan malam bersama."
"Makan malam?" tanya Kiana mengulang.
Roan langsung menganggukkan kepalanya, lalu wajahnya kembali menoleh ke arah Elsa, "Elsa apa kau tidak keberatan dengan ini?"
"Keberatan?" tanya Elsa mengulang.
Elsa tersenyum menatap ayahnya, "Tidak masalah ayah, jika itu Yang Mulia yang memintanya kita tidak bisa menolak."
__ADS_1
"Syukurlah jika kau merasa begitu, baiklah persiapkan semuanya malam ini kita akan pergi ke Istana," putus Roan.
"Baik ayah," jawab Elsa dan Kiana bersamaan.
Sarapan pagi itu selesai dengan tenang, Roan kembali beranjak dari meja makan untuk melakukan pekerjaannya yang tertunda.
Sedangkan Elsa masih berada di sana bersama dengan Kiana dan ibunya.
"Kalo begitu ibu juga akan pergi."
Lisa ikut beranjak dari meja makan saat dirinya telah selesai sarapan pagi.
"Elsa! Apa ini sudah waktunya?" tanya Kiana tiba-tiba.
Elsa yang saat itu masih menyantap sarapan paginya langsung menoleh ke arah Kiana yang tiba-tiba saja angkat bicara.
"Apa maksud mu? waktunya? waktu apa?" tanya Elsa bingung.
Kiana langsung memejamkan matanya dengan wajah tersenyum lebar, "Bukankah ini bertanda? Jika Yang Mulia mengundang kita ke Istana, bukankah itu artinya kelurga kaisar dengan kelurga kita akan membicarakan pertunangan ku dengan pangeran?"
"Apa? Ya... Mungkin saja," jawab Elsa apa adanya.
Mata Kiana kembali terbuka lebar, tatapannya terlihat sekali sedang meremehkan Elsa.
"Elsa bagaimana jika kau tidak usah ikut ke Istana?" tanya Kiana tersenyum.
"Bukankah ini akan menjadi luka mendalam jika kau ikut?" tambah Kiana.
"Apa maksud mu?" tanya Elsa.
"Aku hanya ingin jaga-jaga saja, takutnya saja nanti kau bertemu dengan pangeran akan tumbuh rasa suka lagi, itu kan sangat memalukan, orang yang sudah membatalkan pertunangan secara sepihak, datang ke Istana tanpa rasa malu."
"Apa?"
Mata Elsa langsung terbuka lebar menatap ke arah Kiana, terlihat sekali bahwa saat ini Kiana sedang merendahkan harga dirinya.
"Yang diucapkan oleh mu memang ada benarnya juga ka," ucap Elsa dengan tenang.
"Tapi sayangnya aku tidak bisa menuruti apa yang kakak inginkan untuk tidak hadir malam ini ke Istana, apa lagi saat ini Yang Mulia sendiri yang meminta."
Elsa mengambil gelas minumnya dengan tenang, "Kakak ini terlihat santai sekali ya?" tanya Elsa tersenyum.
"Jujur aku khawatir saat kita di Istana nanti, kakak tidak bisa menjaga etika berbicara dan makan dengan benar."
"Apa?"
Mata Elsa langsung menatap tajam wajah Kiana, "Belajarlah beretika dengan baik, jujur saja aku sedikit takut dengan gaya bicara kakak yang masih seperti anak kecil."
"Apa? Anak kecil?"
Elsa memejakam matanya sambil membersihkan mulutnya dengan pelan, "Bersikap polos itu boleh saja, tapi liat juga kondisinya," ucap Elsa yang ingin beranjak dari kursinya.
"Jangan hanya karena sikap kakak yang tidak beretika itu, kelurga kita jadi tercoreng dihadapan Kaisar," Mata Elsa kembali menatap tajam wajah Kiana.
"Hanya itu yang ingin aku sampaikan, sisanya koreksi diri kakak sendiri."
Setelah berkata seperti itu Elsa langsung pergi dari ruang makan meninggalkan Kiana yang masih diam dengan tangannya terkepal kuat.
__ADS_1
"Si*l"
TBC