Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Selamanya Tidak Diizinkan


__ADS_3

Jika orang itu tidak mengenakan topeng, maka ekspresinya sudah pasti akan menarik, karena Lexie melihat bahwa pembulu darah biru di tangan orang itu sudah terlihat jelas.


Melihat serigala darah itu jatuh satu per satu, sudah ada puluhan mayat serigala di sekitar Martin, bau amis darah di sekitar sangat pekat, bau amis darah luar biasa yang tersebar merangsang saraf orang, menguraikan ketakutan terdalam di jiwa.


Tidak tahu apakah orang yang memakai topeng itu takut, atau seperti yang di katakan Martin bahwa dia sakit hati, singkatnya, kepalan tangan orang bertopeng itu perlahan-lahan mengendur, kemudian dia mundur selangkah demi selangkah kembali ke dalam kabut tebal itu.


Ketika dia pergi, suara lentingan musik aneh kembali terdengar, serigala darah yang tersisa tampaknya mendengar panggilan itu, mereka ternyata juga perlahan-lahan mundur.


Sebuah krisis hidup dan mati, yang awalnya tidak bisa di hindari, karena Martin seorang malah berubah.


Saat ini, Lexie benar-benar sangat beruntung, untungnya dia memilih untuk datang ke tim ini ketika berada di restoran, kalau tidak, hari ini adalah hari kematian mereka.


Lexie menghela nafas panjang, baru merasa tangan yang memegangi lengannya sedikit gemetar, Lexie terpaku, menunduk untuk melihat, batu melihat buku-buku jarinya sangat putih, dan sedikit aneh, kemudian Lexie menatap wajahnya, raut wajahnya masih tidak berubah, tapi warna bibirnya sudah ungu.


"Kamu baik-baik saja kan?" Lexie bergegas mengulurkan tangan untuk memapah pinggangnya, baru menyadari tidak tahu sejak kapan tubuhnya sudah begitu dingin hingga menusuk tulang. Secara logika setelah pertempuran besar seperti itu, kekuatan fisiknya terkuras sangat besar, seperti halnya olahraga yang berat, tubuh berkeringat dan panas, tapi tubuhnya ini begitu dingin hingga menusuk tulang.


Martin mencengkram lengan Lexie erat, pandangan matanya yang dingin menyapu pria berbaju hitam dan Wilson yang terkapar jatuh di tanah, kemudian Martin menarik Lexie masuk ke dalam kabut.


"Apa yang kamu lakukan?" Lexie sama sekali belum bereaksi terhadap semuanya yang terjadi, ketika Lexie tersadar, dia sudah di tarik keluar olehnya, Lexie menoleh, pandangannya sudah di tutupi oleh kabut tebal, sama sekali tidak bisa melihat pria berbaju hitam itu dan yang lainnya.


Martin terlihat sangat panik, langkah kakinya terlihat semakin cepat dan sedikit mengambang.


Lexie ingin berjuang melawan tapi melihat bahwa kondisinya sangat buruk, yang muncul di benaknya adalah Martin tidak melepaskan lengannya sejak kemunculan serigala itu, dalam situasi berbahaya seperti itu, Martin saja tidak melepaskan tangannya, bahkan hanya menggunakan satu tangan untuk menghadapi bahaya, jadi Lexie menyerah untuk melawan, takut dia tidak bisa bertahan dan jatuh.


Akhirnya Martin berhenti dan bersandar di dekat pohon besar, meluruh turun dengan lemah di sepanjang batang pohon di tanah, kemudian menarik Lexie untuk berjongkok di depannya.


Lalu ketika Lexie tidak tahu apa yang sedang terjadi, tangan Martin yang meraih lengannya secara perlahan turun, kemudian menggenggam telapak tangannya, lalu kemudian di bawah tatapan mata Lexie yang terkejut, Martin menarik tangan Lexie mengarahkannya ke bagian bawah tubuhnya.


"Kamu!" Pipi Lexie seketika memerah, di telapak tangannya benda keras yang membuat wajah orang memerah dan detak jantung berdetak kencang mengingatkan Lexie pada benda apa itu.


Lexie bukanlah gadis polos, tidak bisa berpura-pura bahwa dia tidak mengerti, hanya saja, sudah seperti ini, Martin ini ternyata malah memikirkan hal seperti ini? Sebenarnya bagaimana pemikiran otaknya?


"Mengapa kamu masih diam? Tidak mengerti?" Suara Martin terdengar seperti sedang menekan sesuatu.


Suara yang begitu rendah seperti itu, Lexie sering mendengarnya, setiap kali Victor berada di atas tubuhnya, suaranya tertekan dan menyakitkan seperti ini.


Lexie di tanyai olehnya hingga tidak bisa berkata-kata untuk sesaat, dia mengerti, lalu memangnya kenapa? Dia mengerti, lalu memangnya Lexie harus melayaninya? Orang asing, dan juga disaat seperti ini? Di tempat seperti ini? Lexie tidak bisa melakukannya! Tidak masalah Victor menindasnya, apa-apan dia ini, atas dasar apa dia juga menindas Lexie? Apa di wajah Lexie tertulis kalimat 'Silahkan mainkan kapanpun?' mengapa para pria ini berpikir bahwa ketika Lexie bertemu seorang pria maka akan bergumul?


Lexie sangat marah, mengangkat tangannya dan langsung menampar Martin dengan menggunakan tangan yang tidak di batasi, "Kamu, menganggapku apa?"

__ADS_1


Tamparan ini, Lexie menggunakan banyak kekuatan, sepertinya juga melampiaskan ketidakpuasannya pada Victor di tamparan ini.


Martin sedikit terpaku di pukuli oleh Lexie, pandangan matanya untuk sesaat tersadar, tapi kemudian di gantikan oleh hasrat, tenggorokannya bergulir, menelan ludahnya, mengangkat tangannya yang ain untuk meraih tangan Lexie yang di gunakan untuk menamparnya, kemudian membawa tangan itu dan langsung di julurkan masuk ke dalam celananya.


Pada saat itu Lexie benar-benar memiliki keinginan untuk membunuh dalam hatinya! Apa-apaan orang ini!


"Lepaskan!" Lexie berteriak rendah.


Martin tertawa, ketika tersenyum kulit wajahnya tidak bergerak, seakan hanya matanya yang tertawa, "Aku bisa melepaskan tangan, tapi kamu tidak boleh melepaskan tanganmu."


Lexie, Lexie tidak boleh melepaskan, apakah dia masih harus terus menggenggamnya?


"Martin, aku bukan seperti wanita yang kamu pikirkan?" Lexie sedikit tidak bertenaga, berjuang melawan, tapi Martin menggenggam dengan erat, bagaimana mungkin Lexie bisa melepaskan diri.


"Aku tahu." Martin berkata dengan datar.


Kamu tahu, tahu kepalamu!


Lexie benar-benar hampir gila, menarik nafas dalam beberapa kali masih tidak bisa menahan kemarahan di dalam hatinya, "Martin! Aku sudah memiliki pria! Kamu dengarkan baik-baik, aku sudah memiliki pria, setidaknya untuk saat ini aku belum memikirkan untuk mencari yang lain!"


Pria di dunia ini begitu banyak, jika Lexie bisa, dia ingin hidup sendirian, dia juga tidak menginginkan pria itu, bolehkah?


Melihat Martin yang tidak berbicara, Lexie lanjut berkata: "Yang kukatakan itu benar, aku memiliki seorang pria! Jadi, tolong lepaskan aku, oke? Ada rumah bordil di kota di bawah gunung, jika kamu tidak dapat menahannya, bisa pergi ke sana ..."


Hanya sayangnya perkataan Lexie belum selesai diucapkan, tiba-tiba Martin membungkuk, membekap mulut Lexie dengan bibir tipisnya, dan juga sama sekali tidak memberikan Lexie kesempatan untuk merespon, dengan sangat kuat menerjang masuk ke dalam mulutnya.


"Aku tahu kamu sudah memiliki seorang pria, aku tidak keberatan!" Ketika Martin berbicara dia segera menarik Lexie masuk ke dalam pelukannya.


Lexie tersiksa hingga hampir gila oleh situasi saat ini, Lexie dengan menyedihkan terpaku di dalam pelukannya, juga merasa panik dengan suhu panas yang mengerikan yang di rasakan oleh tangannya, dengan orang yang baru ditemuinya hati ini, Lexie benar-benar merendahkan dirinya sendiri.


Semakin dipikirkan, Lexie semakin merasa sedih, sebenarnya apa yang dia lalui ini? Di mananya tertulis dalam dirinya bahwa dia bisa di permainkan oleh pria dengan seenaknya, mengapa para pria ini hanya berpikir bagaimana mendapatkan tubuhnya? Dan juga selalu memilih cara yang begitu tidak menghormatinya?


Memikirkan hal itu, air matanya perlahan jatuh, perasaan putus asa dan tidak berdaya itu membuat nafasnya sesak, menghadapi Victor dia tidak bisa melawan, menghadapi pria di depannya ini, dia kembali tidak bisa melawan? Hidupnya begitu rendah, seakan bagaimanapun dia bekerja keras, juga tidak akan bisa lepas dari nasib ini.


Air matanya jatuh di antara leher Martin, Martin terpaku, tiba-tiba menatap mata Lexie, Lexie berpikir Martin akan marah, tapi tidak, dia malah tertawa, kemudian, ketika pandangan mata Lexie sudah hampir buram, Martin kemudian mengangkat tangannya, jarinya memegang tepian wajahnya.


Pemandangan aneh muncul, jarinya menarik dengan lembut, ternyata sebuah kulit manusia ditarik! Tidak ini, adalah sebuah topeng kulit manusia!


Kemudian, Lexie berpikir bahwa matanya rabun, menyeka air matanya dan melihat dengan jelas, seketika wajahnya pucat, "Victor!"

__ADS_1


Martin ternyata adalah Victor!


Lexie tidak pernah terpikir, Martin ternyata adalah Victor!


"Dengan begini, kamu sudah bisa melayaniku bukan?" Victor tersenyum datar, kemudian melemparkan topeng kulit manusia itu, tangannya kemudian terulur masuk melalui garis leher Lexie.


Telapak tangannya sangat kasar, seakan ada duri kecil yang mengiritasi setiap inci kulit Lexie, ketika Lexie kembali tersadar, pakaiannya sudah berantakan.


Victor memeluknya dengan begitu kuat, dalam pelukannya, kemudian tidak berapa lama, aura menggoda sudah tersebar sangat ekstrem.


Dalam kabut tebal terdapat rasa tidak senonoh, mungkin karena baru mengalami hidup dan mati sebelumnya, ketika tiba-tiba melihat Victor, hati Lexie benar-benar membangkitkan rasa tenang yang bahkan tidak dia sadari.


Kali ini Lexie sangat rileks, sangat rileks bahkan ketika Victor mencapai puncak, Lexie juga tampak terbang ke awan, di tengah cemoohan Victor, ternyata Lexie pingsan.


Ketika terbangun, langit sudah agak gelap, kabut juga sudah berkurang banyak.


Lexie membuka matanya menyadari bahwa Lexie masih berada dalam pelukan Victor, Lexie berjuang ingin bangkit, tiba-tiba mendengar suara tawa pelan dari samping telinganya, "Jangan bergerak sembarangan, jika kamu masih ingin pingsan lagi."


Di takuti oleh Victor seperti itu, Lexie seketika tidak berani bergerak, hanya saja, dia dengan sangat hati-hati merapikan pakaiannya yang terbuka, gerakan Lexie yang hati-hati ini tadi memancing Victor untuk tertawa.


"Jangan selalu tertawa." Lexie kesal dan menjadi marah, menatapnya dengan mata melotot lebar.


Victor sama sekali tidak bermaksud untuk menarik tawanya, "Kenapa, ketika aku tersenyum begitu tampan, jadi kamu takut tidak dapat menahannya dan berinisiatif untuk menyerahkan diri?"


"..." Sudut bibir Lexie berkedut, terlalu malas menanggapi perilakunya yang sudah mulai nakal.


Ketika Lexie berpikir Victor masih akan menindasnya, Victor tiba-tiba mengulurkan tangan dan mengelus kepalanya, gerakan itu begitu lembut hingga membuat Lexie begitu terkejut, hanya mendengar Victor berkata: "Jangan lupakan perkataan yang kamu katakan tadi."


"..." Apa yang tadi dia katakan?


"Kamu lupa?" Sepertinya Victor bisa membaca pikirannya, wajah Victor meredup, mengulurkan tangan dan meraih pinggang Lexie , ada semacam makna bahwa jika Lexie berani lupa, maka dia akan menekannya sekali lagi di bawah tubuhnya.


Lexie bergegas memikirkannya dengan hati-hati, benar-benar tidak yakin kalimat mana yang di ucapkannya, "Aku sudah memiliki pria, saat ini tidak berencana untuk menemukan yang lain?"


"Bukan saat ini, tapi selamanya tidak akan diizinkan!" Victor mengoreksi perkataanya, "Wanita yang pernah kugunakan saat ini, di dunia ini, siapa yang berani menggunakannya?"


Nada bicara yang masih sangat sombong, hingga membuat orang ingin meninjunya, Lexie menghela nafas, tapi hatinya masih takut, meskipun Lexie tidak ingin mencari pria lain, tapi itu bukan karena tulus pada Victor, tapi hanya benar-benar merasa jengkel. Tapi untungnya, untungnya Lexie tidak sembarangan bicara, dan lagi Victor sepertinya mendengarkan apa yang ingin dia dengar.


"Tubuhmu, apa ada masalah? Mengapa tiap saat harus ..." Lexie tidak mengucapkan kalimat di belakang, tapi Lexie pikir seharusnya Victor mengerti.

__ADS_1


__ADS_2