Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
6_


__ADS_3

Kelurga kaisar Fersta memiliki dua orang Putra, namun hanya satu yang ditunjukan oleh Kaisar Fersta ke publik dia itu adalah Hugo Millanaire anak kandung dari Yang Mulia Kaisar Enzo Millanaire serta Ratu Mia Millanaire.


Kenapa hanya Hugo yang mereka perlihatkan karena hanya Hugo anak keturunan sah, dan diakui oleh banyak pengikut, sedangkan satu putra lagi merupakan anak diluar nikah, yang tidak diakui keberadaanya, anak ini sudah lama dibuang oleh kaisar Enzo berserta ibunya bahkan dengar-dengar mereka telah dibuang ke negara sebrang untuk dijadikan sebagai budak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jadi ini alasan mu ingin membatalkan pertunangan mu dengan Pangeran Putra Mahkota?" tanya Enzo, Elsa hanya diam.


"Benar Yang Mulia."


"Tapi kenapa? Bukankah kalian ini saling mencintai satu sama lain?"


"Itu hanyalah masa lalu Yang Mulia, saat itu saya masih kekanak-kanakan yang tidak bisa berpikir dewasa."


"Apa menurutmu sekarang kau sudah dewasa?" tanya Enzo meremehkan.


Dengan mata menatap tajam wajah Enzo, Elsa menjawab, "Jika Yang Mulia bertanya seperti itu, saya tidak bisa menjawab dengan yakin, namun satu hal yang mesti Yang Mulia tau bahwa saya pasti akan membuktikan pada anda, bahwa saya pantas berada di posisi kelapa Kelurga, yang telah ayah saya tinggalkan," ucap Elsa penuh percaya diri.


Mendapatkan respon seperti itu Enzo maupun Tias hanya bisa terdiam, sebuah senyum licik terbit pada bibir Enzo yang membuat Elsa dan Tias kembali dibuat diam.


"Menarik sekali, aku tidak tau apa ucapan mu ini bisa dipercaya atau tidak, begini saja aku beri kau waktu selama 3 tahun, jika diwaktu itu kau juga masih belum bisa mengurus urusan admistrasi kerjaan, maka dengan terpaksa aku akan memberikan jabatan kepala kelurga Pervis pada paman mu, yang saat ini sedang berjabat secara sementara."


Dengan tersenyum lebar Elsa menganggukkan kepalanya secara setuju, "Baiklah Yang Mulia saya setuju atas keputusan yang anda buat," jawab Elsa dengan puas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selesai bertemu dengan Yang Mulia Kaisar Fersta, kini Elsa dan Tias kembali berjalan keluar Istana secara bersamaan.


"Aku tidak percaya ini," ucap Tias tiba-tiba.


Sudah ku duga, dia pasti tidak akan terima jika aku bicara seperti, itu sebabnya tadi aku ingin menyuruhnya menunggu di luar saja.


"Ka! Apa memang seperti ini sifat asli kakak? Aku pikir kakak adalah anak yang baik dan sangat penurut," sahut Tias yang nampak tidak terima dengan keputusan Elsa.


Namun Elsa tetap tidak peduli dengan ocahan Tias dia dengan cuek terus melangkahkan kakinya menuju keluar Istana dengan Tias yang mengikutinya dari belakang.


"Kakak, apa kau dengar aku?"


Buk

__ADS_1


"Aduh, Kakak kenapa berhenti secara mendadak?" tanya Tias sambil memegang kepalanya.


Disaat Tias menoleh ke depan, dengan cepat dirinya langsung menundukkan kepala dikala Hugo yang merupakan Putra Mahkota di kerjaan Fersta telah berdiri dihadapan mereka.


"Salam pada Matahari Kejaran Pangeran Hugo," sapa Elsa yang langsung diikuti oleh Tias dibelakang.


"Selamat siang juga Nona Pervis," sapa Kristian yang merupakan tangan kanan Hugo.


"Owh apa dia sepupu mu Nona Pervis?" tanya Keristian menatap ke arah Tias.


"Benar Tuan Helen, dia adalah sepupu saya Tias Pervis," balas Elsa apa adanya.


"Apa kau ke istana karena panggilan Yang Mulia?" tanya Hugo, Elsa langsung menganggukkan kepalanya.


"Lalu, apa balasan beliau?"


"Yang Mulia menyetujui apa yang sudah saya putuskan."


"Apa? Yang Mulia mesetujui?" tanya Hugo tak percaya.


"Benar Yang Mulia, saya harap keputusan yang saya ambil ini juga bisa anda terima dengan lapang dada."


"..."


Melihat Hugo yang sudah pergi, Keristian pun dengan bingung ikut melangkahkan kakinya pergi mengejar Hugo, berbeda dengan Elsa yang masih diam di sana dengan pikiran yang campur aduk.


"Ayo, kita juga harus pergi juga kan," sahut Elsa pada Tias, namun Tias hanya bisa diam melihat Elsa yang terkesan sedang menampilkan senyum terpaksa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di pusat kota, seperti yang sudah direncanakan oleh Tias dan juga Elsa mereka akan berbelanja setelah pulang dari Istana, di tempat ini banyak sekali orang-orang yang berjualan maupun berdagang karena memang ini lah pusatnya.


"Wah ka, aku sampai bingung harus kemana dulu," sahut Tias.


"Ah... Tias bagaimana jika kau ikut aku sebentar ada satu tempat yang ingin sekali aku datangi."


"Di mana itu?" tanya Tias penasaran.


"Ah... Itu..."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Astaga tempat apa ini?" tanya Tias tak percaya.


Tempat yang sangat lembab, basah, serta tercium bau yang tidak sedap tercampur menjadi satu, jujur Tias sediri tidak bisa tahan jika berada lama-lama di tempat seperti ini.


"Kakak sebenarnya tempat seperti apa yang ingin kau datangi?" tanya Tias yang mulai kesal.


Tempat yang saat ini mereka datangi berada tepat di lorong bawah tanah pasar, tempat ini memang sangat jarang didatangi oleh orang-orang dikarena, tempat ini yang begitu lembab bau serta jorok, orang-orang yang berjualan di sini pun kebayangkan bukan asli orang Fersta, melainkan orang luar yang ingin mendagangkan hasil kerja keras mereka.


"Tempat itu berada lebih dalam lagi dari lorong ini, jika kau tidak tahan dengan tempat ini, kau bisa berbelanja sendiri tanpa aku," sahut Elsa yang membuat Tias langsung terdiam.


"Apa? Berbelanja tanpa kakak, jika memang seperti itu lantas, siapa yang harus menemani ku belanja?" tanya Tias.


"Ah, bagaimana jika kau berbelanja bersama Javier?" tanya Elsa.


Javier merupakan kesatria yang berkerja dibawah wewenang kelurga Pervis, dia merupakan kesatria mudah yang sudah di angkat secara resmi oleh Kepala kelurga Duke Pervis 2 tahun yang lalu.


"Apa? jika aku berbelanja dengan Javier, kakak akan dikawal oleh siapa?" tanya Tias lagi.


Aduh Tias ini sungguh merepotkan, seandainya saat itu paman mengizinkan ku untuk pergi sendiri, sudah pasti hal seperti ini tidak akan terjadi.


"Kau tidak usah pedulikan aku, aku baik-baik saja ditinggal sendiri di sini, sekarang pergilah," balas Elsa yang langsung masuk ke dalam lorong itu meninggal Tias sendiri di sana bersama dengan Javier.


Melihat Elsa yang sudah berjalan meninggalkan dirinya sendiri, membuat Tias langsung menolehkan kepalanya menatap ke arah Javier.


"Kenapa kau hanya diam saja?" tanya Tias cemberut.


"Saya tidak bermaksud seperti itu nona."


"Apa kau tidak suka mengawal ku berbelanja?" tanya Tias.


"Jadi kau memang lebih suka Ka Elsa dibanding aku ya? Dasar!"


Javier tidak menjawab, namun matanya dengan pelan melirik kembali ke arah Elsa yang sudah berjalan jauh memasuki lorong bawah tanah.


"Baiklah Nona, sebenarnya mau ke mana kita ini?" tanya Javier karena dirinya merasa malas untuk berdebat panjang lebar dengan Tias.


"Ah... Aku ingin sekali ke toko perhiasan milik kelurga Elisabeth, jadi ayo kita ke sana," ajak Tias, yang langsung disetujui oleh Javier.

__ADS_1


TBC


__ADS_2