
Setelah kejadian itu suasana di dalam Istana menjadi mencekam Eren datang menghampiri Elsa yang saat itu sedang berada di salah satu ruangan Istana.
"Apa kau sengaja?"
Elsa yang tadi terlihat tenang menikmati secangkir teh dibuat menoleh ke arah Eren, yang tiba-tiba saja datang dengan wajah menatap tajam ke arah Elsa.
"Sengaja?" tanya Elsa mengulang.
Eren berjalan mendekati Elsa, Elsa langsung menaruh kembali cangkir tehnya di meja.
"Aku yakin para pelayan tidak akan melakukan hal itu, terlebih mereka merupakan pelayan senior yang sudah lama mengabdi pada kelurga kaisar."
"Lalu? Apa hanya karena itu, pelayan yang sudah menghina tamu kerjaan bisa terbebas?" Balas Elsa.
"Apa?"
"Bukannya saya sudah bilang pangeran, pelayan seperti mereka memang harus diberi pelajaran agar mereka tidak berbuat seenaknya pada tamu kerjaan yang lain."
"Kau.... Apa kau sadar dengan posisi mu sekarang hah!" Tekan Eren.
Mata Elsa langsung terbuka lebar saat Eren tiba-tiba saja menaikan nada bicaranya, melihat tampang Eren yang mengerikan ini membuat dia semakin yakin, bahwa tidak akan pernah ada tempat untuk dirinya disana.
"Sa... Saya amat sadar, posisi saya ditempat ini Pangeran, tapi... Apakah begini respon tuan rumah pada tamunya, saya sungguh kecewa."
"Apa?"
"Saya amat kecewa dengan penghuni Istana di sini, bukanya berterima kasih, saya malah diomelin, karena menegur pelayan yang salah," ucap Elsa.
"ELSA!" teriak Eren.
Elsa terdiam saat Eren membentak dirinya, "Bahkan anda berani menyebut nama saya? Apa begitu hinanya saya di mata anda Pangeran?"
Eren langsung terdiam, sepertinya dia baru sadar sekarang bahwa sikapnya ini sudah sangat kelewatan.
"Maaf, aku tidak bermaksud_"
"Tidak apa-apa pangeran saya bisa paham kenapa anda bersikap seperti ini," balas Elsa tersenyum.
"Saja jadi teringat pada salah satu buku yang pernah saya baca."
"Buku?"
"Benar, buku itu memiliki sebuah kalimat seperti ini."
"Manusia itu bukalah batu, yang bisa anda mainkan sesuka hati," Tanpa sadar Elsa meneteskan air matanya dihadapan Eren.
"Setiap orang pasti akan berbuah, tidak mungkin dia akan tetap ditempat, Pangeran jujur saja saya sangat membenci anda."
Deg
Jantung Eren berdetak sangat kencang saat dia bertemu dengan mata Elsa yang berwarna biru terang.
Tangannya terkepal kuat, saat melihat setetes air mata jatuh dipelupuk mata Elsa, mulai malam ini sampai seterusnya Elsa tidak akan lagi berharap lebih pada Eren, kisah cinta yang selama ini dia dambakan ternyata hanyalah sebuah mimpi.
__ADS_1
"Saya Sungguh-sungguh benci dengan anda Pangeran, jika perlu saya ingin kita tidak bisa bertemu lagi."
Eren terdiam dalam waktu yang lama, dibanding Kiana Elsa lebih cocok untuk dijadikan wadah menuju kursi tahta kerajaan, tapi entah kenapa tiba-tiba saja sikap Elsa berbuah, dan kenapa juga wajahnya itu terlihat sangat kecewa.
"Apa yang membuatmu benci pada ku?" tanya Eren.
"Kejujuran," jawab Elsa cepat.
"Apakah selama ini anda pernah jujur pada saya Pangeran?"
"Apa?"
"Di malam yang penuh akan kembang api serta cahaya terang dari perayaan festival, saya mendengar semuanya."
"Mendengar? Apa maksud ucapan mu Elsa?" Tanya Eren penasaran.
"Saya mendengar semuanya Pangeran, tanpa terkecuali."
"Apa?"
"Soal anda yang berencana ingin membunuh ayah saya!" tekan Elsa menatap tajam wajah Eren.
Deg
...~*~...
Besok paginya suasana Mansion di kediaman keluarga Pervis nampak tenang dan terlihat baik-baik saja, Elsa yang saat itu masih mengunakan pakaian piama terlihat santai dengan menikmati secangkir teh yang sudah Rina buat.
Rina yang saat itu sedang merapikan tempat tidur Elsa, langsung menolehkan wajahnya ke arah Elsa.
"Saya dengar Nyonya Duehees dan Yang Mulia Ratu ingin membicarakan soal cincin pertunangan Pangeran," sahut Rina.
"Cincin pertunangan?"
"Benar, katanya beliau akan memilih langsung cincin yang akan dipakai untuk pertunangan Putra Mahkota nanti."
"Memilih? omong kosong waktu aku menjadi calon saja Ratu sama sekali tidak peduli dengan ku.'
"Rina apa Yang Mulia Ratu masih dibawah?"
"Saya rasa masih Nona, apa Nona ingin menemui Yang Mulia Ratu?" tanya Rina.
"Ya... Persiapkan gaun yang pantas untuk menghadap beliau."
"Baik Nona!" Balas Rina langsung.
...~*~...
Elsa turun dari anak tangga dengan mengunakan gaun berwana biru gelap, sosok Diana yang saat itu sedang berbicara dengan Lisa membuatnya tertarik.
"Salam pada Yang Mulia Ratu Oktavia."
Elsa memberi salam pada Diana yang saat itu sedang menatapnya tajam, mendengar ada suara Elsa, Lisa dengan cepat menolehkan kepalanya kebelakang.
__ADS_1
"Elsa?" lirih Lisa.
"Saya dengar Yang Mulia ada dibawah, apakah anda merasa keberatan jika saya ikut bergabung?"
"Tidak, silahkan duduk Nona Pervis," balas Diana.
"Terima Kasih Yang Mulia."
Elsa langsung duduk disamping Lisa dengan matanya yang sedang melirik bermacam-macam model berlian.
"Yang Mulia saya rasa warna ungu ini cocok," sahut Lisa memegang berlian itu.
"Benarkah?" Tanya Diana.
"Menurut saya warna itu begitu gelap, dan terlihat tua jika dipakai pada jari ka Kiana ataupun Pangeran."
"Apa?" tanya Lisa mengulang.
"Yang Mulia boleh saya memberi usul?" tanya Elsam
"Usul?"
Elsa langsung menganggukkan kepalanya, "Benar, maaf Yang mulia, dari yang saya liat berlian disini seperti sudah ketinggalan jaman, apa lagi warnanya terlihat mencolok jika dipakai untuk bertunangan."
Lisa dan Diana diam mendengar Elsa berbicara, "Jika Yang Mulia dan Ibu mau, bagaimana jika kalian jalan ke galeri ΚαXasia saya dengar di sana banyak berlian langka yang begitu cantik jika dijadikan cincin bertunangan?"
"Galeri KaXasia itu kan galeri yang baru dibuka?" tanya Lisa.
"Benar walau galeri itu baru dibuka sudah banyak para bangsawan yang memesan perhiasan disana," jawab Elsa.
"Tapi toko_"
"Tidak!" potong Diana tiba-tiba.
"Yang diucapkan Nona Pervis benar, mari kita ke sana, aku sangat penasaran berlian model apa yang akan mereka sajikan untuk pentungan pangeran," ucap Diana menatap tajam wajah Elsa.
...~*~...
Seperti yang sudah direncanakan, dengan melalui galeri yang dia buat dengan susah payah, Elsa akan memamerkan kekayaan yang dia miliki tanpa batuan dari sang ayah.
Dua hari yang lalu setelah pertemuan Elsa bersama Diana, akhirnya hari untuk memamerkan kekayaan miliknya pun tiba, Elsa menatap datar ke arah bawah saat melihat kereta kuda berlambang kekaisaran telah terparkir didepan pintu utama galeri.
Kiana turun dari kereta kuda diikuti oleh Diana dan juga Lisa ibunya, melihat mereka yang sudah tiba di galeri membuat Elsa langsung tersenyum licik.
"Layani mereka dengan baik!"
"Baik Nona."
Dua pelayan wanita langsung menundukkan kepalanya dihadapan Elsa, hari ini akan menjadi hari yang menarik untuknya.
"Mari kita liat reaksi apa yang akan mereka timbulkan?"
TBC
__ADS_1