
Menuju H-4 acara pesta dansa, Dawis yang saat itu belum mendapatkan kerja sama dari Count Elbert masih berisih keras, menyakitkan Count Elbert bahwa putra yang saat ini yang dia anggap mati sebenarnya masih hidup.
"Apa anda masih tidak mau bekerja sama dengan saya?" tanya Dawis.
Dawis berjalan mendekati Ran yang masih terdiam ditempat, pikirnya masih kosong saat melihat bahwa putranya masih hidup.
"Jika benar itu putra ku, lantas siapa yang ku kubur?" gumam Ran.
"Dia merupakan korban dari bangkitnya sihir terlarang ini, makanya saat anda melihat anak itu, anda akan melihat bahwa anak itu adalah putra anda, sedangkan anak anda sendiri akan, anda liat sebagai orang lain."
Ran langsung terduduk mendengar penjelasan dari Dawis, jadi selama ini orang yang terus dia siksa setahun yang lalu adalah putranya sendiri.
"Apa anda bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi anak anda? Diasingkan, dibedakan, bahkan di usir oleh ayahnya sendiri, Apa anda tau selama ini kehidupan putra anda seperti apa?"
Ran langsung terduduk di atas tanah, dia merasa bahwa dirinya begitu bodoh, yang dengan gampangnya bisa tertipu dengan sihir hitam ini.
"Lantas, apa kau tau siapa pelaku dari ini semua?" tanya Ran.
"Bukankah ini sudah jelas, tanpa saya jawab pun anda sudah tau siapa pelaku dari ini semua," balas Dawis.
Ran langsung terdiam matanya terbuka lebar menatap batu kerikil yang ada dihadapannya, mengetahui siapa pelaku dari ini semua membuat mata Ran langsung terbuka lebar, tangannya terkepal kuat meremas batu kerikil yang ada pada jangkauannya.
"Tidak bisa ku maafkan," lirihnya.
__ADS_1
Dawis menatap tajam ke arah Ran, "Jadi Tuan Count apakah anda mau berkerja sama dengan saya, untuk melenyapkan pasukan Ratu?" tanya Dawis.
Ran kembali duduk dengan sempurna, dirinya langsung berdiri ke hadapan Dawis.
"Pangeran..."
Buk
Ran menundukkan kepalanya dengan satu kaki menyentuh tanah untuk menahan tubuhnya.
"Dengan sepenuh hati, jiwa dan raga, saya Count Elbert akan bersedia melindungi anda dari serangan para musuh mana pun, yang akan mengancam nyawa anda."
Dawis langsung tersenyum mendengar ucapan dari Ran, dengan begitu pelan salah satu telapak tangan Dawis menyentuh kepala Ran yang masih menundukkan kepalanya.
Setelah Dawis serta Ran menerima sumpah setia satu sama lain, Ran kembali berdiri dihadapan Dawis.
"Jadi apa rencana anda sekarang?" tanya Ran langsung.
"Akan banyak rencana yang harus kita rancang, namun sebelum itu sebaiknya anda berbaikan dulu dengan putra anda."
...~*~...
Di lain sisi, Elsa terduduk disamping Noah dengan Bima yang ikut duduk disampingnya, terlihat sekali diwajah Noah bahwa dia saat ini begitu marah bercampur rasa sedih, Elsa tau jauh didalam hati Noah pasti terbekas rasa sayangnnya terhadap ayahnya Count Elbert.
__ADS_1
"Apa kau tau nak, ayahmu bersikap kasar pada mu, bukan asli dari dirinya, dia hanya sedang terpengaruh oleh ilmu sihir yang membuat ayahmu, tidak bisa mengenali anaknya," ucap Elsa dengan pelan
"Mau itu ilmu sihir atau bukan, aku sudah terlanjur benci dengan orang itu!" ketus Noah.
Elsa menatap sedih wajah Noah begitu juga dengan Bima, angin yang begitu kencang menyapu wajah mereka, Elsa manarik nafas kasar, Elsa tau bagimana rasanya jadi Noah dimana usia yang harusnya mendapatkan kasih sayang lebih dari orangtuanya harus merasakan kepahitan yang dibuat oleh ayahnya sendiri.
"Diabaikan itu memang menyakitkan, begitu juga dengan dibedakan, Noah ayah mu itu tidak bersalah, yang harus kau salahkan itu orang yang sudah buat ayahmu seperti ini."
Elsa tersenyum sambil mengelus kepala Noah dengan lembut, "kau beruntung Noah walau ayah mu pernah berbuat kasar, tapi dia masih mau meminta maaf pada dirimu, dia sadar bahwa selama ini dia hanya dipermainkan oleh ilmu sihir yang dikirim oleh seseorang."
Noah hanya diam mendengar ucapan dari Elsa, Bima memengang tangan Noah dengan pelan bermaksud untuk membuat diri Noah menjadi lebih tenang, "paman itu orang baik ka," jawab Bima.
"Kau tau apa?"
"Aku memang tidak tau banyak, tapi coba kakak bayangkan hal yang paling meyengkan bersama ayah kakak."
"Hal paling menyenangkan?" tanya Noah, Bima langsung mengaggukan kepalanya.
Seketika Noah langsung teringat akan masa-masa dimana ayahnya pernah mengajarinya ilmu pedang, lalu membawanya jalan mengelilingi desa menggunakan kuda kesayangan ayahnya, membayangkan masa itu membuat mata Noah menjadi berkaca-kaca, masa itu adalah masa yang paling indah dalam hidupnya.
"Noah... Ayah mu itu orang baik, dia begitu karena terkena ilmu sihir saja, seharusnya orang yang kau benci itu bukan ayah mu, melainkan orang yang telah memberi ilmu sihir itu pada ayah mu," ucap Elsa dengan lembut.
"Jika itu memang bukan salah ayah, lalu siapa yang harus aku benci?" tanya Noah.
__ADS_1