
Daniel di kawal dan mundur dengan perlahan, setelah beberapa saat mereka sudah menghilang dari pandangan Lexie.
Mereka bisa pergi, Lexie tidak akan dengan naif berpikir itu dikarenakan kemampuan bertarung mereka, seharusnya Victor yang sengaja membiarkan mereka pergi. Mengenai alasannya Lexie tidak menebak dan juga tidak bisa menebaknya.
Jelas-jelas itu musuh, tapi Daniel tetap di lepaskan.
"Orangnya bahkan sudah pergi jauh, masih melihatnya?" Suara dingin Victor terdengar di sampingnya, detik berikutnya, Lexie di tarik masuk ke dalam pelukan Victor.
Victor melambaikan tangannya kemudian pintu kereta kuda itu tertutup, pintu itu menghalangi mata ratusan tentara yang penasaran, mengenai Santo yang masih tidak sadar yang berada di dalam kereta kuda, tentu saja keberadaanya di abaikan.
Lexie mengangkat kepalanya dan bertemu dengan pandangan mata kelam milik Victor. Lexie sedikit gugup, jantungnya berdetak dengan kencang tapi Lexie tidak berbicara. Lexie tahu, bahwa menjelaskan saat ini juga percuma, makin banyak berbicara itu hanya akan membuat Victor makin marah.
"Tampaknya hubunganmu dengan jendral pelindung negara Beiming begitu baik, aku benar-benar meremehkan pesonamu. Tidak heran, wanita yang berasal dari rumah bordil secara alami ahli dalam memikat pria." Suara Victor saat berbicara tidak keras tapi Lexie tahu bahwa Victor pasti sudah memiliki niat untuk membunuhnya saat ini.
Detik berikutnya tangan Victor berada di leher Lexie, jari-jarinya yang panas mencekik leher Lexie yang sedikit dingin, tapi kekuatan Victor tidak begitu kuat, seakan sedang membelai dengan lembut, "Katakan, apa yang harus kulakukan padamu?"
"Membunuhmu?" Victor menggelengkan kepalanya, "Aku benar-benar tidak rela, melepaskanmu ... Itu tidak mungkin."
Victor bergumam dengan dirinya sendiri, sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Lexie untuk berbicara. Lexie dengan kesulitan menelan ludahnya, wajahnya sudah berubah menjadi merah karena nafasnya sesak, mungkin karena merasa terlalu sedih jadi air matanya terkumpul di pelupuk matanya, di bawah bulu mata panjangnya itu, air mata itu perlahan bergulir.
"Benar-benar wanita cantik ..." Victor tertawa, tapi senyum itu di mata Lexie malah berubah menjadi semacam kutukan yang mengerikan. Lexie tahu kali ini Victor tidak akan dengan begitu mudah melepaskan.
Kemudian dia hanya mendengar suara tulang yang patah.
__ADS_1
Saat itu sekujur bulu kuduk Lexie bergidik, mengira bahwa tenggorokannya yang di patahkan, suaranya itu begitu nyaring dan begitu jelas, tapi setelah keterkejutan beberapa saat, Lexie menemukan bahwa dirinya tidak kenapa-kenapa.
Perasaan kembali hidup dari kematian itu membuat Lexie menangis hingga kehilangan suaranya, tapi setelah menangis beberapa saat, Lexie seakan terpikir sesuatu, Lexie menunduk dan melihat kaki Victor yang masih menginjak di atas kaki Santo.
Suara patah tulang itu seakan datang dari arah Santo, Victor dengan santainya mematahkan kaki Santo! Dan Santo yang masih tidak sadarkan diri itu tidak terbangun, hanya nafasnya semakin tidak beraturan saja.
"Aku sudah berkata bahwa aku enggan untuk membunuhmu." Suara Victor rendah dan masih tidak melepaskan tangannya di leher Lexie, "Sepertinya kamu memiliki persahabatan dengan pria tak sadarkan diri ini ... Kudengar tadi malam, kepala grup harimau emas bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik dan menyukainya, tapi sayangnya dirinya bilang kehilangan nyawa sebelum bisa mendapatkan wanita itu. Kenapa, orang yang terbaring ini adalah orang yang menyelamatkanmu dari lubang harimau?"
Hanya dari pandangan mata Lexie yang peduli saja Victor sudah bisa menebak situasi sebenarnya pada saat itu, bagaiman bisa pria ini tidak membuat orang ngeri?
"Tidak, jangan, kumohon jangan ..." Seperti bisa menebak apa yang akan Victor lakukan, Lexie menangis dan memohon belas kasihan. Santi sudah menjadi orang cacat dikarenakan dirinya, bagaimana mungkin Lexie tega melihat sang di siksa oleh Victor.
Victor mendengar Lexie yang memohon belas kasihan, amarahnya malah semakin berkobar, "Demi seseorang yang baru bertemu beberapa hari, kamu bahkan bisa memohon padaku!"
"Sekarang batu mengatakan tidak akan lari lagi bukankah itu sudah agak terlambat, aku mengejarmu ribuan mil jauhnya. Aku tidak menyangka demi seorang wanita rendahan sepertimu, aku benar-benar menggunakan semua kekuasaanku ..." Victor menghela nafas, "Jadi, seharusnya kamu tahu bahwa sekarang aku sangat marah!"
Lexie tahu, tentu saja Lexie tahu! Karena Lexie tahu jadi dia tidak ragu memohon pada Victor untuk tidak membunuh Santo!
"Krakk!"
Kaki Santo yang lain kembali di patahkan oleh Victor, suara tulang yang patah itu tidak begitu keras tapi bagi Lexie itu terdengar seperti suara guntur. Pada saat itu otak Lexie seketika kosong!
"Aku sudah berkata, kamu harus membayarnya jika kamu ingin lari." Suara Victor sangat rendah dan ketika berbicara Victor meletakkan satu kakinya di atas kepala Santo. Selama Victor menggunakan tenaganya dengan pelan saja itu sudah bisa menghancurkan tengkorak Santo, bisa dengan mudah mengambil nyawa Santo.
__ADS_1
Lexie sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya dan menangis kencang, Lexie melepaskan diri dari Victor kemudian berlutut di depannya dan menyembahkan kepalanya ke arah Victor, "Kumohon lepaskan dia, kumohon, aku akan melakukan apapun yang kamu minta! Aku benar-benar tidak akan lari lagi!"
Lexie berpikir sudah tidak ada orang yang di pedulikannya lagi di kota Phoenix, tapi di sini malah ada orang yang terlibat di karenakan Lexie.
"Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan kamu ini baik hati atau bodoh, demi orang yang tidak ada hubungannya ini kamu berlutut dan memohon padaku. Tapi itu malah membuatku semakin marah sekarang." Victor mengulurkan tangan dan mengangkat dagu Lexie, menatap Lexie dari atas, "Aku menyukaimu, tapi kamu malah peduli dengan orang lain, aku ... Tidak senang!"
Lexie merasa kata suka yang Victor ucapkan itu sangat konyol, tapi Lexie yang sekarang benar-benar tidak bisa tertawa! Yang di pikirkan Lexie adalah bagaimana menyelamatkan Santo.
Dalam pandangan Lexie, Santo tampaknya kesakitan karena kedua kakinya di patahkan, kelopak mata Santo juga bergerak, sepertinya ada tanda-tanda akan sadar.
Victor mengerutkan kening dan mengangkat kakinya dengan pelan, seakan kakinya itu akan menghancurkan kepala Santo di detik berikutnya!
Pada saat itu, Lexie bahkan tidak berpikir dan langsung memeluk kaki Victor, kemudian memindahkan kakinya itu dari kepala Santo.
Victor hendak marah, tapi malah melihat tangan kecil Lexie naik ke atas kakinya dan berada di sepanjang pahanya.
Tangan Lexie sedikit dingin, Victor masih bisa merasakan suhu dingin tangannya melewati celananya tapi sentuhan dingin itu secara ajaib membuat orang merasa begitu tersadar.
Melihat Victor tidak bergerak, Lexie segera merilekskan gerakkan tangannya dan terus merangkak naik ke atas.
"Pada saat ini ingin memuaskanku ..." Sudut bibir Victor sedikit terangkat tapi tidak menghentikan gerakan Lexie.
Lexie berlutut di depan Victor, dengan lembut membuka celananya kemudian bibir merahnya itu menyambutnya.
__ADS_1
Di dalam kereta kuda, Santo yang pingsan tidak melihat apa-apa tapi suasana intim di dalam kereta kuda itu tersebar dan makin pekat terasa.