
Ketika Lexie menemani istri leman datang ke sana, itu sudah setengah jam kemudian.
Karena ini adalah tahun baru maka hanya ada sedikit orang di kantor, administrasi, tidak ada warga yang datang untuk menonton keramaian.
Mereka memasuki pintu kemudian melihat seorang pengawal sedang menguap, orang itu memandang sekilas orang yang datang dengan wajah tanpa tenaga, mendengus sekilas dan berkata: "Kamu adalah keluarga dari tukang kayu leman? Kenapa datang begitu lambat? Tahun baru seperti ini apa tidak akan membiarkan orang lain istirahat?"
Istri leman menyeka air matanya, bergegas menghampiri, mengeluarkan uang dari balik pakaiannya dan memasukannya ke tangan sang pengawal, "Tuan, bagaimana keadaan leman sekarang, bisakah membiarkan kami menemuinya?"
"Ya, tentu saja kalian tidak hanya akan bertemu, tapi juga harus membawa tubuhnya kembali pulang, jika tidak kamu pikir untuk apa aku menunggumu di sini, tahun baru seperti ini tidak ada orang yang berjaga di kamar mayat, jika kamu tidak membawanya kembali, apa ingin kamu melewati tahun baru dengan ditemani oleh mayat?" Pengawal itu menerima uang, tapi kata-kata yang diucapkannya tetap tidak enak di dengar.
"Tubuh?" Ketika istri leman mendengarnya, pandangannya gelap dan pingsan.
Lexie bergegas memapah istri leman, Baim membantu untuk membangunkan istri leman, setelah beberapa saat istri leman baru sadar.
"Leman, leman, leman mengapa kamu pergi dengan cara ini? Meninggalkan kami seperti ini, bagaimana kami bisa hidup?" Istri leman telah kehilangan akal sehatnya, hanya dapat menangis di tanah, tidak memikirkan mencari tahu alasannya.
Lexie menghela nafas, membiarkan baik memapah istri leman, kemudian dirinya berjalan ke hadapan pengawal ini, "Apa yang terjadi sebenarnya, jika hari ini kamu tidak menjelaskannya, maka kami tidak berani dengan sembarangan membawa mayat itu kembali, jangan sampai merusak bukti yang ada."
Mungkin karena ekspresi Lexie yang berbicara begitu tenang, di tambah dengan aura yang luar biasa, pengawal itu juga bisa mengamati perkataan dan raut wajah orang, intuisinya merasa bahwa orang di depannya ini, takutnya adalah orang yang tidak gampang di ajak berbicara, baru dengan enggan berkata: "Lemari yang di buat leman tidak kuat, ketika panel jatuh mengenai putra keluarga Wu, keluarga Wu tentu saja tidak senang, ingin leman memberikan kompensasi, leman tidak mampu jadi tentu saja dia dipukuli, putra leman melihat ayahnya di pukuli, dia kemudian bertengkar dengan keluarga Wu, dalam kekacauan leman di pukuli hingga mati. Putra keluarga Wu juga terluka, dan ada seorang anggota keluarga yang di pukuli sampai pingsan, jadi keluarga Wu sekarang ingin menuntut leman dan putra sulungnya, masalahnya seperti itu, leman menyakiti orang dan tidak mampu memberikan kompensasi, tanggung jawab di pukuli sampai mati itu juga bukan tanggung jawab keluarga Wu."
Ketika pengawal berkata seperti itu, sepertinya perkataan itu benar, mungkin baginya ini adalah kebenaran keluarga leman tidak memiliki kesempatan untuk membela diri.
Tapi, sebagai orang dari jaman modern, Lexie juga sudah menerima pendidikan yang sangat tinggi, dia bukan seorang yang buta huruf, tidak peduli dalam masyarakat manapun, tidak masuk akal memukuli orang sampai mati masih memiliki pembelaan.
Perkataan pengawal ini untuk menakuti wanita desa yang tidak berpendidikan seperti istri leman, tapi ingin membodohi Lexie?
Lexie mendengus sekilas, pandangan matanya seperti pisau yang mengarah ke wajah pengawal itu, Lexie bertanya: "Kamu mengatakan leman menyakiti orang dan tidak bisa memberikan kompensasi, dan juga ingin menangkap putra sulung leman, apa kasus ini sudah di bawa ke pengadilan?"
Pengawal itu pertama-tama terpaku, di ajukan pertanyaan seperti itu, kemudian dia membusungkan dada dan berkata: " Tahun baru seperti ini, Masalah ini bagaimana mungkin majikanku memiliki waktu untuk mengadili? Apa kamu kura orang lain sama seperti kalian, para wanita yang tidak tahu apa-apa dan tidak melakukan apa-apa? Kasus ini kesalahannya ada pada leman, konsekuensi itu tentu saja di tanggung oleh leman, apa lagi yang harus diadili?"
Pengawal itu tidak bisa menjawab pertanyaan Lexie secara langsung, itu sudah membuat Lexie memiliki pemikiran di dalam benaknya, di mulut pengawal ini nyawa manusia dianggap remeh, apa nyawa manusia dianggap rumput liar?
Lexie tiba-tiba merasa mual, tenggorokannya tercekat, menekan perasaan mual, kemudian denan dingin berkata: "Kamu hanya seorang pengawal, bahkan berani mengumumkan hasil kasus tanpa persetujuan hakim, keberaniannya sepertinya terlalu besar. Siapa yang memberimu keberanian begitu besar? Aku bertanya apakah seorang pengawal yang menangani kasus atas inisiatifnya sendiri apa itu sesuai dengan aturan, oh iya, aku juga ingin bertanya, jika itu tidak sesuai aturan, maka hukuman apa yang harus di terima olehmu?"
Pengawal itu mana mungkin berpikir seorang wanita bisa memikirkan hingga seperti itu, lagi pula hal membodohi anggota keluarga seperti ini, mereka para pengawal sudah sering melakukannya dan tidak terekspos, bukankah mereka sudah mencari informasi dengan jelas, leman ini adalah tukang kayu pendatang baru di kota Phoenix, tidak mengenal orang banyak, seluruh keluarganya tidak berpendidikan, tidak mengerti hukum dan aturan, mengapa tiba-tiba muncul wanita seperti ini?
"Kamu ini siapanya leman? Istri leman saja tidak berbicara, untuk apa kamu ikut campur?" Pengawal itu merasa bersalah, dia keringat dingin, tapi masih dengan berani menggertak.
"Aku adalah sepuluh dari istri leman, ini adalah keluargaku, kenapa, apa aku tidak boleh bertanya mengenai hal ini?" Ketika Lexie mendengarnya, dia tahu pengawal ini bermasalah, jadi dia terus bertanya: "Jujur kukatakan padamu, kami tidak akan melepaskan masalah ini begitu saja, kami belum pernah mendengar membunuh orang dan masih bisa memutuskan hubungan, jika kamu tidak ingin mendapat masalah cepat katakan yang sebenarnya, jika tidak ... Kami akan pergi mengadu pada tuan Dexter!"
Menggertak sambil menipu, Lexie bukannya tidak mengerti, tapi tidak ingin menggunakannya, tapi pada saat ini, dalam menghadapi penindasan ini, Lexie merasa bahwa dia harus menggunakan ancaman ini untuk menanganinya, dikatakan bahwa orang jahat memiliki orang jahat lainnya untuk ditindas, selama kamu lebih jahat darinya, dia baru akan merasa takut padamu, baru dapat memberikan padamu apa yang kamu inginkan.
Ketika pengawal itu mendengarkan suara Lexie, gertakannya segera menghilang, jangankan pergi mencari tuan Dexter, masalah ini jika mencari dengan asal orang yang mengerti hukum, sudah tahu ada masalah di kantor administrasi ini, dia hanyalah seorang pengawal kecil, benar-benar tidak ingin mendapatkan masalah dikarenakan hal ini.
Pengawal itu ragu-ragu sejenak menatap Lexie, kemudian memandangi istri leman di tanah, "Haiya, masalah ini bukan aku yang mengatakannya, aku yang hanya seorang pengawal tidak berani mengatakan hal itu, tapi kusarankan pada kalian lebih baik jangan membuat masalah, aku akan berbicara pada atasanku, untuk melepaskan putra sulung leman, masalah ini berakhir di sini saja, jika kalian menderita kerugian maka terima saja, kalian tidak akan sanggup memprovokasi keluarga Wu, jangan sampai kalian sekeluarga yang menemani leman!"
Ketika pengawal itu mengatakan ini, itu sudah di bilang tulus, tapi ketika terdengar di telinga Lexie, itu makin membuat raut wajah Lexie semakin menggelap, orang bahkan sudah meninggal, masih menyuruh orang lain untuk menerima, alasan apa ini?
"Bagaimana jika kami tidak menerimanya, kamu juga yang seorang pengawal tidak bisa mengambil keputusan, aku akan pergi untuk meminta menemui hakim!" Lexie betkata sambil berjalan ke arah pintu gerbang.
Pengawal itu langsung menarik lengan Lexie, "Nona, kamu jangan membuat masalah lagi, masalah ini bukan sesuatu yang bisa di tentukan oleh majikanku. Sebenarnya kami juga tidak berdaya, majikan kami hanya pejabat kecil di sini, di kota Phoenix ini seorang pejabat kecil di kantor administrasi ini, bisa melakukan apa? Sebuah plakan diturunkan bahkan bisa menghancurkan 8 sampai 10 orang, tidak ada gunanya mencari majikanku, jika ketahuan pihak atas maka kita semua selesai."
"Minggir!" Lexie memandang rendah pengawal ini, jadi nada suaranya sudah tidak segan, "Karena tidak bisa membela rakyat, dan memutarbalikan fakta, apa pejabat seperti itu juga disebut sebagai pejabat? Lepaskan, aku ingin meminta keadilan!"
"Haiya, kamu ini mengapa tidak tahu diri? Aku.membujukmu demi kebaikanmu, aku sudah berkata begitu banyak tapi kamu masih tidak mendengarkannya, jika kamu masih ingin mengadu, maka apa yang terjadi nanti jangan menyalahkanku tidak memwringatkanmu." Pengawal itu berkata seperti itu, kemudian melihat Lexie yang tidak mau berkompromi, raut wajahnya makin suram tapi tidak ada rasa takut.
__ADS_1
Dia tidak takut? Lexie mengerutkan keningnya, berpikir dalam, sewnatnya apa yang membuat pengawal ini begitu takut? Lexie yang awalnya ingin meminta untuk menemui hakim, langkah kakinya perlahan melambat tanpa disadari.
Lexie sangat tahu, terkadang tidak boleh terlalu sembrono.
Sayangnya ketika Lexie sedang berbicara dengan pengawal itu, istri leman mendengarkan percakapan mereka, kemudian istri leman menyadari ada keanehan pada kematian leman, ketika mendengar bisa mengadu pada hakim, mana mungkin dia bisa dihentikan? Melihat dia mendorong Baim berdiri dan bergegas ke pintu dalam beberapa langkah.
Ketika Lexie ingin menghentikannya, itu sudah terlambat.
Suara gong terdengar dari pintu, tersebar jauh ke jalan yang hening.
Banyak orang yang sedang makan siang mendengar suara itu, tidak bisa menahan diri untuk mengeluh dia kehilangan posisinya, bisa menjadi pejabat hingga saat ini, ada orang di atasnya. Ini adalah liburan Tahun baru, mengganggu hakim itu, sepertinya orang yang mengeluh itu sebelum masalahnya terselesaikan dia akan di pukuli sampai setengah mati."
Hanya sayangnya hal-hal seperti ini tidak di.ketahui istri leman yang Aru saja tiba di kota Phoenix, tentu saja Lexie yang tidak mengenal kota ini juga tidak tahu akan hal itu.
Karena gong sudah di bunyikan, tidak ada jalan mundur, Lexie menghela nafas, apa itu berkat atau masalah, yang harus di hadapi tetap harus di hadapi. Lexie membantu Baim memapah istri leman masuk ke dalam.
Setelah menunggu beberapa saat, seorang pejabat yang memakai topi sedikit miring itu datang dengan membawa beberapa pengawal yang raut wajahnya tidak enak di lihat, pengawal itu dengan tidak bertenaga berteriak, "Hakim datang." Tapi mata mereka marah dan melototi istri leman serta yang lainnya.
Ketika istri leman hendak berteriak, hakim itu langsung menggebrak meja, berteriak pada pengawal yang awalnya menerima orang: "Toni dasar tidak berguna, bahkan tidak.bisa melakukan hal ini dengan baik, dan juga membiarkan wanita licik ini membunyikan gong!"
Persidangan belum dimulai, hakim ini sudah memberikan panggilan wanita licik pada istri leman, hati Lexie mencelos, bahwa masalah hari ini akan menjadi gawat.
Benar saja, saat berikutnya hakim itu bahkan tidak melihat sekilas pun pada istri leman, langsung memerintahkan pada dua pengawal lainnya: "Apa yang kalian lakukan, pertama-tama seret dan pukul 20 kali dengan menggunakan papan, tahun baru seperti ini malah datang untuk membunyikan gong, apa keluhanmu? Masalah terkait keluarga Wu, kalian yang melukai orang terlebih dulu, masing ingin mengeluh? Keluarga Wu bahkan tidak mengeluh!"
Lexie pernah melihat fakta yang di putar balik, tapi belum pernah melihat yang tidak tahu malu seperti ini, Lexie bisa dianggap mendapatkan pengalaman, melihat dua pengawal yang datang menarik istri leman, Lexie menghela nafas dan berdiri: "Tuan hakim, untuk saat ini jangan membicarakan apakah leman menyakiti orang atau tidak, bicafakan saja leman yang terbunuh, anda belum menyelidikinya dengan jelas dan mengatakan keluarga Wu tidak bersalah, bukankah ini terlalu sewenang-wenang? Kamu menyelidiki kasus seperti ini rakyat tidak bisa menerimanya!"
"Tidak menerimanya?" Hakim itu tersenyum, "Aku tidak peduli kamu menerimanya atau tidak. Apa kamu tahu siapa di belakang keluarga Wu? Putri keluarga Wu tahun lalu, terpilih memasuki istana dan sekarang adalah selir di dalam istana, kalian itu siapa? Kalian berani tidak menerimanya? Sudahlah aku masih ingin pulang untuk melewati tahun baru, terserah kalian ingin membuat masalah dimana, yang pasti aku tidak mempedulikannya."
Dua orang pengawal menarik istri leman dan berjalan kembali kebelakang, tidak berapa lama sudah terdengar jeritan kesakitan istri leman.
Setelah hakim itu selesai berbicara dia pergi sambil menguap, benar-benar mengabaikan orang-orang yang masih ada di sana, segerombolan orang itu datang dan pergi dengan buru-buru, benar-benar tidak ada rasa takut.
Setelah segerombolan orang itu pergi, pengawal yang pertama kali itu mendatangi, "Aku sudah berkata agar kalian tidak membuat masalah, kalian tidak mendengarkan, sekarang jika kalian masih ingin membuat masalah mengenai kasus leman maka kalian semua akan mati."
Lexie merasa bahwa ancaman seperti itu sangat konyol, tapi, jika itu adalah orang biasa, tidak memiliki latar belakang, ketika menghadapi orang yang memiliki dukungan dari orang istana, mereka itu bukan apa-apa, jika menginginkan nyawa mereka itu hal yang sangat mudah.
Hakim dan para pengawal itu sudah bertanya dengan jelas kondisi keluarga leman, jadi baru berani, di maa mereka leman sekeluarga hanyalah rumput liar, mengetahui bahwa mundur maka akan mempertahankan nyawa mereka, jika tidak patuh maka membunuh semuanya, siapa lagi yang akan mengatakan sesuatu?
Ini adalah kenyataan, bukan kamu berpikir tentang ketidakadilan, dan ingin melawan maka sudah bisa melawan. Hidup dalam lingkungan seperti ini, sebenarnya tidak mudah.
Istri leman di pukuli hingga nafasnya terengah-engah dan di lempar keluar, dirinya sudah linglung hingga pingsan, Baim takut hingga kakinya lemas ketika hakim itu mengatakan siapa di belakang keluarga Wu, dia bahkan tidak berani berada di sini, mencari alasan untuk pergi.
Lexie membantu memapah istri leman, hatinya sedih, tapi dia tidak berdaya, Lexie tidak memiliki seni bela diri yang hebat, juga tidak memiliki bekal yang luar biasa, dia sekarang masihlah adalah seorang wanita yang lemah, jangankan hakim itu, bahkan dia juga tidak berdaya pada pengawal itu.
Istri leman hanya tahu menangis saja, pengawal itu memasuki pelataran dalam, tidak lama kemudian dia keluar dengan membawa seorang pria, pria itu berlumuran darah, ketika melihat istri leman, dia menangis dan berlutut dia bergumam memanggil: "Ibu, ibu ..."
Istri leman tersadar, menangis dan memeluk pria itu.
Ibu dan anak itu menangis dan berpelukan di depan pintu, belakang mereka adalah pintu gerbang kantor administrasi, di depan pintu masih tergantung plakat bertuliskan 'keadilan', dan semacamnya di bawa sinar matahari, kata-kata itu begitu menggelikan.
Lexie menghela nafas menunggu pengawal itu mengeluatkan sesosok mayat dan melemparkannya keluar, Lexie baru berjalan pada seorang pria yang berlumuran darah itu, Lexie menepuk pundaknya, "Jika kamu masih adalah seorang pria, sekarang pergi dan bawa mayat ayahmu, kita kembali dan cari cara, menangis disini bahkan sampai buta pun tidak ada gunanya."
Lexie tidak memiliki duka untuk mengatakan apapun, pada saat ini, Lexie tidak tertarik menunjukan betapa adilnya dirinya, keadilan menurutnya hanyalah sebuah kemewahan, Lexie juga bukanlah penyelamat, dari mana memiliki kesadaran akan keadilan, yang bisa dia lakukan hanyalah melakukan apa yang dia bisa.
Perkataan ini sudah diucapkan, jika orang ini tidak mendengarkan, maka mungkin perlu bagi Lexie untuk tidak ikut campur lagi dalam masalah ini.
__ADS_1
Untungnya pria itu mendongak, terpaku sesaat, kemudian menggertakan giginya berbalik dan pergi mengangkat tubuh ayahnya.
Hati Lexie yang tadinya tegang, akhirnya bisa sedikit lega, istri leman yang seperti ini tidak bisa membuat keputusan, jika anak ini tidak memiliki rasa tanggung jawab, maka keluarga ini benar-benar selesai.
Ketika kembali ke rumah keluarga leman, Ernie juga membawa dua anak yang juga sedang menunggu dengan cemas. Ketika Rendi melihat ibunya dan yang lainnya pulang, dia langsung menangis kencang, istri leman yang mendengarnya menangis langsung memeluk Rendi dan menangis.
Ketika putra sulungnya melihatnya dia juga menangis, alis Lexie berkerut dan berteriak: "Kamu tidak boleh menangis, sekarang kami adalah kepala keluarga! Sekarang apa yang hatinya kamu lakukan adalah menenangkan ibumu, dan juga mencari cara demi keadilan ayahmu. Seorang pria menangis adalah hal yang tidak berguna."
Putra sulung leman tidak pernah melihat Lexie, mungkin karena mengalami hal sebesar itu, malah membuatnya menjadi diam, dia berusaha menarik kembali airmatanya, "Nona ..."
"Tidak perlu katakan terima kasih dan yang lainnya, itu tidak ada artinya. Sekarang kamu ceritakan dulu apa yang terjadi, kita baru pikirkan caranya." Lexie menghela nafas, dia benar-benar sudah memikirkannya, jika benar tidak ada cara maka dia akan pergi mencari Victor untuk meminta bantuan, selama Victor mau turun tangan, maka seharusnya tidak ada hal yang tidak dapat di selesaikan di negara Nanyue ini.
Hanya saja Lexie tahu dengan watak Victor, sudah pasti tidak akan dengan muda membantu siapapun yang tidak menguntungkan untuknya, Lexie bisa memohon padanya, tapi Lexie juga harus membayar dengan harga sesuai. Terakhir kali demi menyelamatkan Lucas, Lexie menjadi pelayan yang menghangatkan ranjangnya, kali ini, jika Lexie pergi untuk memohon pada Victor, apa lagi yang harus di bayar? Lexie tidak berani memikirkannya, juga tidak ingin memikirkannya.
"Keluarga Wu itu beberapa bulan yang lalu menyewa tukang kayu, aku dan ayahku kesana, ayahku adalah orang yang jujur, pekerjaannya sangat baik, harganya juga murah, jadi ketika melakukannya sekali, keluarga Wu akan mencari kami pergi memperbaiki jika perabotan rumah mereka ada yang rusak. Pagi ini, orang dari keluarga Wu mengatakan bahwa lemari mereka rusak dan memanggil ayah kesana, aku ingin pergi membantu ayah melakukannya bersama-sama, jadi bisa pulang lebih awal, siapa tahu masalah itu terjadi ..."
"Bicarakan intinya." Lexie mengerutkan kening.
"Baik, baik." Pura sulung leman mengendalikan emosinya dan berkata: "Aku dan ayahku di panggil kedua ruangan di belakang, di dua ruangan itu memang ada perabotan yang rusak, ayahku ke satu kamar dan aku masuk ke kamar lainnya, setelah beberapa saat aku mendengar suara pertengkaran di sana, ketika aku pergi aku melihat orang keluarga Wu sedang memukul ayahku, aku marah hingga bertengkar dengan mereka, orang mereka banyak, aku dan ayahku bukan lawan mereka jadi, jadi ..."
Putra leman mengingat adegan itu jadi emosinya sedikit runtuh, raut wajah Lexie sama sekali tidak berubah, dengan tenang bertanya: "Ketika kamu masuk apa kamu melihat sesuatu yang istimewa?"
Bahkan jika leman melukai sesorang, keluarga Wu juga tidak punya alasan hingga memukul orang sampai mati, itu tidak masuk akal.
Putra sulung leman memikirkannya dengan teliti, kemudian menggelengkannya, "Tidak ada yang istimewa, lemari itu terbuat dari Rosewood yang sangat mahal, di dalamnya di letakkan barang dan berantakan ..."
"Lemari Rosewood digunakan untuk meletakkan barang?" Lexie merasa dirinya menemukan sesuatu dan bertanya, "Barang apa itu?"
Putra sulung leman terpaku, memikirkannya dengan cermat, raut wajahnya seketika berubah, dia sudah berusia 18 tahun, meskipun belum menikah tapi anak laki-laki, sudah pasti mengerti hal-hal yang harus di mengerti. Sekarang ketika diingatkan di dalam lemari itu sepertinya ada benda, itu seperti milik seorang pria ... Milik seorang pria ...
Wajah putra sulung leman memerah, tidak bisa mengucapkannya untuk waktu yang lama.
Lexie mengerutkan alisnya, melihatnya tidak berbicara Lexie langsung bertanya: "Apa itu mainan ****? Hmm ... Benda yang di gunakan antara pria dan wanita ..."
"Bukan, bukan antara pria dan wanita, sepertinya itu di gunakan antara pria dan pria." Ketika mengatakan perkataan ini putra sulung leman benar-benar menundukkan kepalanya.
Lexie akhirnya menemukan seluk beluk masalah ini, sekarang sangat jelas leman mengetahui skandal putra keluarga Wu, jadi di bunuh untuk membungkam mulutnya.
Memiliki uang dan kekuasaan, membunuh di mata mereka hanyalah hal kecil.
Lexie mendengus dingin, "Karena kita sudah menemukan alasannya, maka kita dapat mencari solusinya. Tampaknya putra keluarga Wu itu seorang yang menyukai pria, selama dia memiliki kelemahan kita punya kesempatan."
"Apa yang harus kita lakukan?" Jika awalnya tidak mengenal Lexie setelah percakapan itu, putra sulung leman memiliki rasa kagum pada Lexie.
"Cari bukti! Kemudian memberikan musuh pukulan fatal!" Lexi memandangi sekilas istri leman yang masih menangis, "Sekarang hibur ibumu baik-baik, uruslah pemakaman ayahmu, kemudian berpura-pura berkompromi, jangan menunjukkan perlawanan, biarkan musuh lengah dan tidak waspada, lalu kamu bisa diam-diam mengikuti putra keluarga Wu."
Putra sulung leman mengangguk, makin kagum pada Lexie.
Sudah ada rencana untuk menangani masalah ini, Lexie merasa di harus meninggalkan ruang bagi keluarga leman mengatasi kesedihan mereka, Lexie memanggil Ernie dan Lucas untuk kembali ke rumah.
Sepanjang jalan, suasana hati Ernie dan Lucas sangat berat, terutama Ernie tidak bisa menahan tangisnya, "Istri leman sangat menyedihkan, di jaman ini, nyawa orang miskin benar-benar bukan nyawa, dulu aku memiliki kakak laki-laki, karena miskin, kakakku di jual ke keluarga kaya untuk menjadi budak, setelah dua bulan dia terbunuh hidup-hidup karena melakukan kesalahan, dia menandatangani kontrak jual tubuh, nyawanya adalah milik keluarga lain, dipukul hingga mati kami bahkan tidak bisa mengeluh sama sekali."
Lexie mendengarkan, tidak mengungkapkan pendapatnya, tapi tidak bisa menahan diri untuk tidak menghela nafas, hari ini, tampaknya Lexie sudah menghela nafas jauh lebih banyak dalam setahun ini. Dia sangat tidak berdaya, terhadap sistem sosial ini juga tidak berdaya, nyawa manusia bisa di beli dan di jual sebagai barang, yang dapat diukur dengan uang.
Tapi apa yang bisa Lexie lakukan, setidaknya untuk saat ini dia tidak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
"Maaf, apakah ini adalah tempat tinggal tuan Genji?" Mereka baru berjalan ke depan pintu sudah melihat seorang pria paruh baya yang berjaga di depan pintu, ketika melihat Lexie dan yang lainnya sikapnya sangat hormat dan menawan.
Lexie tersenyum datar setelah Genji menantang pavilliun Heaven, akhirnya ada orang pertama yang mencarinya kemari, ini sangat bagus, setidaknya Lexie bisa mengandalkan kemampuanya untuk melangkah selangkah demi selangkah ke posisi dimana tidak ada yang bisa menindaknya dengan seenaknya.