
Victor mengerutkan kening, mengangkat tangannya tadinya ingin membuat Lexie pingsan, tapi ketika tangannya terangkat Victor malah tidak melakukannya, pada akhirnya hanya menghela nafas, "Sudahlah, obat perangsang ini juga mudah untuk di obati, kamu memang adalah wanitaku, kali ini, biarkan aku yang menjadi penangkalmu."
Di dalam ruangan suasana menggoda itu perlahan-lahan menyebar.
Tidak ada yang melihat ketika tirai ranjang itu di turunkan, dalam sesaat, mata Lexie cerah dalam sekilas.
Untungnya, untungnya Lexie memegang pecahan mangkuk itu, menggunakan rasa sakit untuk dirinya tetap terjaga, kemudian menggunakan kesempatan ini untuk menjebak Victor dengan memainkan drama ini, untungnya Victor datang tepat waktu.
Dia tahu raja Victor yang terkenal kejam tidak akan semudah itu percaya pada ketulusan seseorang, bahkan walaupun ketika Lexie tidak sadar mengatakan perasaannya itu juga tidak akan melunakkan hati baja pria ini, tapi ... Lexie tidak peduli, dia memang tidak bermaksud untuk mendapatkan hatinya, apa yang di inginkan Lexie adalah kepercayaan saja.
Mendapatkan kepercayaan jauh lebih mudah di bandingkan mendapatkan ketulusan.
Ketika bhikkuni di dalam kuil tidak tahu apa yang sedang terjadi, mereka melihat seorang pria kekar dengan pedang panjang menerobos masuk, satu persatu ketakutan hingga wajahnya pias.
Suara teriakan mereka berhasil membangunkan seluruh orang yang sedang beristirahat di dalam sana, dalam beberapa saat ada 20 sampai 30 wanita yang menguap di halaman, tapi ketika mereka melihat mayat teman mereka di tengah halaman, rasa kantuk mereka hilang dalam sekejab.
"Ah!" Para wanita itu berteriak dengan ngeri.
Bhikkuni tua dengan terseok-seok berjalan ke tengah halaman dengan mengarungi kerumunan orang, melihat bhikkuni yang tenggorokannya dihancurkan, dia kemudian dengan marah menunjuk dengan irang yang berdiri di koridor dengan pedang panjangnya berteriak berkata: "Siapa yang tidak punya mata, apa kamu tahu tempat siapa ini?"
"Tidak punya mata?" Morgan mendengus dingin, mengangkat pedang di tangannya sedikit lebih tinggi, "Apa kalian tahu siapa aku?"
Yang pertama bereaksi adalah seorang bhikkuni yang tadi membuka pintu untuk Lexie, dia menarik tangan bhikkuni tua itu dan berkata: "Orang ini adalah kakak dari gadis itu, aku tidak mengira dia ahli bela diri."
"Aku tidak peduli siapa dirimu, berani datang ke tempatku, dan berbuat seenaknya maka kamu cari mati!" Bhikkuni tua itu membusungkan dadanya, mengamati Morgan dengan meremehkan, kemudian berteriak pada para bhikkuni di belakangnya, "Kalian masih tidak maju untuk membunuh orang ini?"
__ADS_1
Melihat dengan lebih teliti, ternyata beberapa bhikkuni itu berbeda dengan yang lainnya, wanita di sini rata-rata berusia 20 tahunan, hanya beberapa bhikkuni itu berusia 30 tahunan, dan lagi paras mereka tidak menonjol, bisa di lihat sekarang, mereka adalah tukang pukul di kuil ini, bukanlah gadis biasa yang mendampingi tamu.
Beberapa orang maju mengelilingi Morgan, tapi sayangnya, mereka masih belum memulai hanya mendengarkan Morgan mendengus, kemudian mengangkat pedang, dan menyerang ke arah orang-orang itu, mereka terkejut, pria ini bagaimana bisa mereka mengatasinya?
Tidak berapa lama, tukang pukul itu sudah ditebas dan tergeletak di tanah, anggota badan yang berserakan jatuh tergeletak di tengah-tengah para bhikkuni itu, langsung mengejutkan beberapa orang yang penakut.
Morgan adalah seorang prajurit yang keluar dari Medan perang, dia memang memiliki aura membunuh, adegan ini langsung membuat para bhikkuni yang tersisa memohon belas kasihan.
Bhikkuni tua itu juga takut, menunjuknya dengan gemetar, "Kamu, kamu, kamu berani membunuh orang-orang kami, tuanku tidak akan pernah melepaskanmu! Jika kamu pergi sekarang, kami, kami tidak akan mempermasalahkannya ..."
"Jangan berkata dengan sombong! Aku tidak peduli siapa tuanmu, jika berani memprovokasi orang milik tuanku maka harus mati!" Morgan meludah, membandingkan Tuan? Siapa yang takut pada siapa? Nama raja Victor, selain keluarga kerajaan, siapa yang berani padanya?
"Kamu, siapa Tuanmu?" Bhikkuni tua ini tidak menyangka bahwa orang ini juga memiliki tuan.
Morgan mendengus dan berkata dengan datar, "Raja Victor."
"Aku, aku tidak tahu ..." Bhikkuni itu juga merasa kesulitan, merangkak ke sisi Morgan meminta belas kasihan, "Kakak, lepaskan kami, kami hanya melakukan hal-hal yang di suruh oleh orang lain, dan juga itu terpaksa. Kakak, adikmu ada di ruangan itu, jika sekarang kamu pergi menyelamatkannya, mungkin, mungkin masih belum terlambat ..."
Mereka sampai sekarang tidak tahu bahwa Victor sudah memasuki ruangan, hanya sayangnya, jika benar-benar menunggu sampai saat ini baru masuk ke dalam, sudah terlambat untuk menyelamatkan orang.
Mungkin untuk membuktikan apa yang dia katakan terlalu tidak bisa di andalkan, pintu kamar itu perlahan dibuka.
Victor yang tinggi itu berjalan perlahan keluar dari dalam sambil menggendong Lexie, bahkan gerakannya ketika mengangkat kakinya ketika melintasi gerbang itu sangat anggun hingga membuat orang lain menatapnya dengan terpana.
"Morgan, mengapa begitu lamban hanya menangani beberapa sampah saja, kamu membutuhkan waktu begitu lama." Ketika Victor membuka mulutnya, dia bahkan tidak melihat darah yang berceceran di lantai, hanya berjalan keluar dengan menggendong Lexie yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Kemunculannya membuat orang-orang yang tadinya masih memiliki sedikit harapan untuk hidup tiba-tiba jatuh terhadap keputusasaan mutlak, ketidakpedulian pria itu terhadap nyawa sangat jelas, dia sudah pasti sangat tidak keberatan membunuh mereka semua.
"Hamba tidak berkompeten!" Morgan menundukkan kepalanya dan mengaku salah, kemudian bertanya: "Yang Mulia, masih ada orang di belakang mereka, apa ingin meninggalkan saksi hidup untuk di tanyai?"
Victor mendengus dingin, "Apanya yang saksi hidup? Bukankah ini hanya kuil Tao yang kotor, kenapa, apa orangku tidak bisa menyelidiki siapa yang ada di baliknya?"
"Yang dikatakan Yang Mulia Masuk akal." Morgan mendengarkan kata-kata Victor, kemudian melangkah selangkah demi selangkah kearah bhikkuni tua itu.
Victor berjalan keluar dari halaman belakang, sambil menggendong Lexie, tidak mempedulikan jeritan kesakitan yang berasal dari belakangnya.
Malam itu Lexie tidur dengan sangat tidak nyaman, dalam kelinglungan dia selalu bermimpi, dia bermimpi bahwa seluruh orang yang ada di kuil itu terbunuh, darah ada di mana-mana, anggota badan tersebar di mana-mana, teriakan jeritan kesakitan di mana-mana ..."
Ketika dia terbangun sudah keesokan paginya, Lexie terbangun oleh nyanyian dengan suara yang dalam dan jernih.
Lexie membuka matanya, menemukan dirinya berada di sebuah ruangan asing, masih belum mengerti apa yang sedang terjadi, wajah Lucas di hadapannya perlahan membesar.
"Kakak." Suara Lucas penuh dengan perasaan emosional dan juga tidak tega.
Melihat Lucas, hati Lexie menjadi tenang, dirinya juga perlahan menjadi lebih santai, "Anak baik."
"Kakak ..." Lexie sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi dia jelas tampak ragu-ragu.
"Kenapa?" Lexie mengumpulkan kekuatan untuk tersenyum padanya.
Lucas ragu-ragu sejenak kemudian menunjuk ke arah pintu, "Pria botak itu berkata bahwa kamu adalah pembawa bencana!"
__ADS_1
Apanya yang pria botak, apanya yang pembawa bencana? Lexie yang mendengar Lucas yang berkata dengan tidak jelas makin bingung, hatinya juga makin ragu.