Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
23


__ADS_3

"Baiklah Ayah izinkan kau membawa mereka ke tempat nenek, tapi Ingat Elsa! Jika ayah mendengar mereka berbuat yang tidak semestinya maka hukum kerajaan akan berlaku."


Elsa langsung menundukkan kepalanya, "Akan selalu saya ingat pesan dari Ayah," jawab Elsa.


"Baiklah karena tidak ada lagi masalah yang harus dibicarakan semua bisa bubar."


Lisa dan Roan langsung pergi dari hadapan Elsa serta para pelayan lainnya, melihat tidak ada lagi sosok Roan dan Lisa terlihat, semua para pelayan termasuk dengan Elsa langsung menghembuskan nafas lega.


"Ataga teryata susah juga menjaga ekspresi ini agar terlihat alami," ucap salah satu pelayan menyentuh pipinya.


"Nona ini sapu tangan anda."


Elsa langsung mengambil sapu tangan yang diberikan oleh Rina untuk menghapus air matanya yang masih keluar, dirinya berjalan ke sebuah kursi yang terdapat disana, matanya menatap tajam ke arah depan tidak lama dari itu sebuah senyum licik terbit dibibir Elsa.


"Pft... Bu Hahahahaha."


Melihat Elsa yang tiba-tiba tertawa, membuat semua penghuni dapur ikut tertawa, mereka tertawa sangat keras yang membuat Tuan Han mantap bingung ke arah Elsa dan juga para pelayan lain.


"Hahaha apa kalian semua liat, ekspresi dari Nyonya Lisa tadi?"


"Hahaha, luar biasa sekali ya akting kita ini, sepertinya kita sangat layak diberikan penghargaan atas kerja keras kita selama ini," sahut pelayan lain.


Han yang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi menatap bingung ke arah para pelayan yang terlihat baik-baik saja seolah mereka tidak masalah saat Roan baru saja menegur mereka.


"Nona... Bagaimana bisa Nona berkepikiran bahwa Nona Kiana akan meracuni makanannya sendiri?" tanya pelayan lain.


"Benar aku sendiri saja masih tidak percaya bahwa Nona Kiana akan meracuni makannya sendiri," sahut pelayan lain.


"Entahlah, ini... Hanya firasat saja," jawab Elsa acuh menatap ke arah Rina.


"Bukankah Nona kita ini hebat, bahkan dia bisa memprediksikan apa yang akan terjadi nanti," ucap Rina tersenyum.


...~*~...


Sebelum itu, disaat Elsa yang baru saja menerima surat dari Ratu Oktavia, Kiana yang merupakan saudara tiri dari Elsa menatap tidak terima, saat Elsa yang sudah putus pertunangan dengan Eren masih berhubungan dengan kelurga Kaisar, sedangkan dia yang saat itu merupakan calon dari putri mahkota belum pernah sekali pun mendapatkan undangan dari Kelurga Kaisar.


Melihat sifat Kiana yang begitu kesal dengan dirinya membuat Elsa merasa puas dengan itu, pada malam harinya disaat dirinya sedang berjalan-jalan dengan Hana dan Rina, sebuah suara orang mengobrol terdengar disalah satu kamar milik Kiana.


"Aku kesal, mau sampai kapan kita direndahkan seperti ini?"


Langkah Elsa berhenti dihadapan pintu kamar Kiana, telinga mereka berubah tajam saat mendengar ada suara Kiana yang sedang mengeluh dihadapan ibunya Lisa.


"Sabarlah sayang sebentar lagi kita pasti akan keluar dari sini, kau kan juga sudah menjadi tunangan Putra Mahkota,"ucap Lisa tersenyum.

__ADS_1


"Sayang ingat tidak butuh waktu lama lagi kita pasti akan jadi kelurga kaisar."


Jadi kelurga kaisar? Pft...


Hana dan Rina menatap bingung wajah Elsa yang tiba-tiba saja terkekeh mendengar ucapan dari Lisa, mereka berdua saling lirik satu sama lain, karena dirinya sendiri bingung kenapa Elsa tiba-tiba saja tertawa.


Dasar bodoh! kau pikir semudah itu menjadi keluarga Kaisar.


Semenjak mendengar percakapan dari Kiana dan ibunya, Elsa mengutus wakil kesatrian kelurga Pervis untuk memantau aktivitas Kiana seharian penuh itu, bukan itu saja bahkan Elsa meminta tolong pada Hana serta para pelayanan lainnya untuk melayani Kiana serta ibunya dengan baik.


Semua mereka lakukan dengan baik saat itu, wakil prajurit Pervis yang memantau Kiana dan ibunya dari jauh, serta para pelayan yang dibuat semena-mana oleh Kiana dan ibunya.


"Nona sampai kapan kita dibuat seperti ini, saya tidak sanggup lagi."


"Saya juga Nona, Nona Kina itu bukan manusia, bahkan tanganku sudah lecet hanya karena mengepel lantai kamarnya."


"Nona, kapan Nona akan membawa saya bekerja dibawah perintah anda lagi?"


"Huh..."


Rina menghembuskan nafas kasar saat melihat rekan kerjanya yang sedang mengeluh dihadapan Elsa, Elsa hanya diam mendengar para pelayannya sedang mengeluh dihadapannya, dengan matanya yang terlihat sayu menatap keluar jendela, tak terasa hari sudah mulai malam, dan angin malam begitu terasa menyapu rambutnya.


Brak


Lucas yang merupakan wakil prajurit kelurga Pervis mendaratkan tubuhnya di balkon kamar Elsa, semua para pelayan langsung membesarkan matanya saat melihat Lucas yang tiba-tiba saja datang dihadapan mereka.


"Selamat malam Nona Pervis," sapanya memberi salam pada Elsa.


"Selamat malam, bagaimana apa kau mendapatkan kabar terbaru?" tanya Elsa tersenyum.


Lucas terdiam dengan mata yang melirik ke kiri dan kanan tak lama dari itu suara pekikan dari para pelayan terdengar memenuhi kamar Elsa saat mata mereka bertemu dengan mata Lucas yang berwarna emas.


"Kya... Tampanya."


"Astaga dia liat kita, owh tidak jantung ku..."


"Mulut-mulut mereka itu," gerutu Elsa saat mendengar suara pekikan pelayannya.


Mata Elsa langsung terbuka lebar saat melihat gerak-gerik Lucas yang terlihat aneh dari biasanya, wajahnya terlihat merah, dan dia sangat imut dimata semua orang yang ada disana.


Astaga kenapa lagi dengan dia ini?


"Ah... Nona apa saya sudah melakukan kesalahan?"

__ADS_1


"Kesalahan?" tanya Elsa bingung.


"Itu... Waktu siang tadi, saya mendapatkan Nona Kiana membeli racun dari seorang penyihir," lirihnya takut-takut.


"Apa?"


Mata Elsa langsung terbuka lebar ternyata waktu saat Kiana menuduh dirinya meracuninya mulai dekat, wajahnya yang tadi menampilkan keterkejutan berubah menjadi senyum licik yang membuat semua orang menatap bingung ke arah Elsa.


"Tidak... Kau tidak berbuat salah, bagus Lucas kau sudah berkerja dengan baik," ucap Elsa mengelus kepala Lucas dengan lembut.


Elsa berjalan kembali menuju kursinya, badannya langsung berbalik kembali ke arah para pelayan yang masih menatapnya.


"Mungkin besok pagi akan ada kehebohan terjadi dikamar Kiana, untuk itu, Sofia dan dua pelayan lainnya, layani Kiana dengan baik, layani dia sebaik mungkin sampai-sampai mata kalian tidak bisa membuat celah apa yang sedang dia lakukan," tekan Elsa tersenyum licik.


"Dan satu lagi, Ibu Hana... Apa kau mau memenuhi permintaan ku kali ini aja?" tanya Elsa penuh mohon.


"Apapun akan Saya lakukan demi anda Nona, katakan saja anda ingin apa," Jawab Hana tersenyum.


Elsa langsung tersenyum lebar mendengar jawaban dari Hana, "Kalo begitu... Bagaimana jika anda merobek gaun yang digunakan Ibu Lisa besok?"


"Iya?"


"Robek gaunnya hingga beliau sangat marah pada Anda," ucap Elsa membesarkan kedua matanya.


Sejak saat rencana itu dijalankan semua melakukanya dengan baik, Sofia dan dua pelayan Elsa yang ditampar oleh Kiana, karena kesalahan yang dibuat sengaja oleh Sofia, Lisa yang marah gaunnya dirobek, serta Kiana yang secara diam-diam menaruh racun kedalam mangkuk makannya.


"Nona!"


"Lucas?"


Kali ini Lucas berjongkok diatas pagar balkon menghadap ke arah Elsa yang sedang dirias oleh para pelayannya.


"Ibu Hana ditampar, dan... Nyonya Lisa sudah melaporkan hal ini pada Tuan Duke," ucapnya.


Senyum Elsa terbit dibibirnya kali ini dia tidak akan membuat kesalahan dua kali.


Ayah... Pelayan itu dari Elsa... Sepertinya Elsa memang ingin meracuni saya.


Tangan Elsa langsung terkepal kuat, saat ingatan masa lalunya kembali teringat, dengan kasar dia menghembus nafasnya, kali ini dia tidak akan berbuat bodoh lagi dihadapan ayahnya serta Lisa dan Kiana.


"Mari Kita mulai aktingnya," ajak Elsa tersenyum.


TBC

__ADS_1


__ADS_2