
Simon makin malu di bicarakan seperti itu olehnya, hanya bisa diam-diam menoleh dan menatap ke arah Lexie, melihat Lexie sepertinya tidak marah, dia baru merasa lega.
Lexie merasa, apa hal ini layak membuatnya marah? Hanya kesalahpahaman saja, itu tidak sepadan dengan energi yang di gunakan untuk marah, mungkin karena tidak peduli jadi dia merasa tidak masalah, karena tidak masalah untuk apa Lexie harus peduli bagaimana orang lain berpikir mengenai hal ini?
Tapi, sangat jelas, Victor tampak tidak senang ketika mendengarnya, tatapan matanya ketika menatap Simon setajam pisau, "Pemilik pavilliun kalian sudah begitu tua, kenapa apa masih belum menikah?"
Ketika Victor berbicara, dia selalu bisa dengan kejam menyodok rasa sakit orang lain yang paling menyakitkan, bibit Lexie berkedut, tidak berani berbicara, jika tidak tahu bahwa dia adalah Victor, maka Lexie masih bisa mengatakan beberapa kata pada 'Martin', tapi begitu tahu dia adalah Victor, memberi Lexie 10 nyali juga tidak berani sembarangan berbicara dengannya, Lexie tidak akan lupa, bahwa pria ini perhitungan dan pendendam.
"Saudara Martin, perkataanmu ini ..." Simon jelas merasa, bahwa perkataan ini
tidak enak untuk di dengar.
"Kenapa, apa perkataanmu salah? Atau pemilik pavilliun memiliki penyakit tersembunyi?" Victor masih berbicara dengan tajam.
Simon menggelengkan kepalanya tak berdaya, "Saudara Martin mulutmu ini ..." Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi ketika orang ini menebas serigala di hutan dengan begitu mudahnya, Simon tidak bisa mengucapkan kalimat menyalahkan di belakang, nada suaranya melambat, "Di mananya pemilik memiliki penyakit tersembunyi, dia hanya masih belum bertemu dengan wanita yang di sukainya saja."
Siapa yang percaya? Yang pasti Lexie tidak mempercayainya.
Pria, begitu mereka telah melewati masa remajanya, berapa bnyak yang bisa menahan rasa kesepian? Tidak tahu apa itu prasangka Lexie terhadap pria, singkatnya, melihat kebutuhan Victor akan hal itu, Lexie merasa bahwa para pria lain juga mungkin seperti itu.
Victor tersenyum samar, tapi sepertinya dia sudah tidak mengekspos Simon, "Aku benar-benar bosan? Bukankah pemilik pavilliun ingin bertemu kami? Kalau begitu kita jangan menunda lagi, pergi menemui pemilik pavilliun setelah membersihkan diri dan makan."
"Oke, oke, kalian bisa bergegas pergi, aku akan berada di sini menunggu kalian." Ketika Simon mendengarkan Martin membicarakan urusan penting, dia tidak berani melihat lagi, hanya melihat sosok Victor dari belakang, tanpa sadar bergumam, "Bagaimana bisa batu tidak bertemu setengah hari, tempramen orang ini berbeda jauh?"
Sayangnya tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan di dalam hatinya.
Ruangan yang di sediakan untuk Victor dan Lexie bersebelahan, Lexie masuk ke dalam kamar, menemukan air untuk mandi sudah di siapkan di balik tirai, Lexie bergegas mendekat untuk mulai melepas pakaian dan masuk ke dalam bak mandi kayu ketika air mandinya asih hangat.
Ketika berada di tengah hutan Victor terlalu kasar, membuat sekujur tubuhnya bagai terurai, sampai sekarang pun masih begitu lelah, Lexie memasuki bak mandi kayu, kehangatan menyelimuti tubuh, Lexie tidak bisa menahan mengeluarkan ******* karena nyaman.
Di kamar sebelah, tangan Victor yang sedang ingin menanggalkan pakaian terpaku di karenakan suara ******* ini, tanpa sadar Victor menolehkan kepalanya, hanya ada dua lukisan kuno di dinding kayu yang menguning, tapi pandangan mata Victor seakan dapat menembus dinding kayu itu dan melihat orang di balik dinding itu sedang berbaring di bak mandi sambil mendesah dengan mata tertutup.
"Sial!" Victor mengutuk, wajahnya benar-benar meredup.
Jika di ganti dengan orang biasa, ******* di kamar sebelah seperti ini sudah pasti tidak terdengar, tapi Victor bukan orang biasa, dia adalah Victor, untuk pertama kalinya dia merasa bahwa kekuatan yang mberlebihan juga sangat menyusahkan.
Dalam kabut beruap rambut basah Lexie jatuh di depan dadanya, pakaiannya di gantung di tirai oleh Lexie, saat ini, jelas kabut uap air jelas menutupi dirinya di dalam bak mandi, tapi sial, itu malah memberikan mimpi imajinasi bagi orang lain.
Lexie tidak bisa menahan ******* nyamannya, Lexie merasakan pandangan mata yang lekat menatapnya, tiba-tiba Lexie membuka matanya.
__ADS_1
"Kamu mendesah dengan begitu menggoda, apa sedang merayuku?" Tidak tahu sejak kapan Victor sudah berdiri di samping bak mandi.
Lexie menelan ludahnya dengan ketakutan, tanpa sadar berbicara dengan terbata, "Kamu, kenapa kami datang?"
"Bukankah kamu yang memanggilku untuk datang?" Victor balik bertanya dengan pura-pura ragu, teknik acting ini benar-benar membuat Lexie merasa bahwa Victor adalah orang yang memiliki kemampuan acting.
"..." Lexie memanggilnya? Tidak mungkin, kecuali dia sakit!
"Karena kamu memanggilku, jadi aku daang, lihatlah, aku masih sangat menghormatimu, bahkan jika kamu hanyalah pelayan penghangat ranjangku." Ketika Victor berbicara, dia memulai melepaskan ikat pinggangnya.
Lexie memandang gerakannya dengan terkejut, hampir tidak dapat berbicara, "Kamu, kamu, kamu apa yang ingin kamu lakukan?"
"Kenapa, melihat aku ingin membantumu mandi, kamu begitu terharu hingga tidak dapat berkata-kata?" Victor masih tersenyum dengan licik, gerakan tangannya semakin lama, semakin lancar.
Lexie terpaku, benar-benar ada dorongan semacam ingin runtuh, sial, di mananya dia melihat bahwa dirinya terharu? Jelas-jelas Lexie terkeju, takut! Takut! Takut!
"Yang, Yang Mulia, itu kita telah menunda waktu banyak hari ini ..." Lexie mengatakannya dengan sangat halus, ketika berada di hutan Victor telah bergumul bersama dengannya selama beberapa jam, apa itu masih belum cukup?
Victor tersenyum datar, sudah menanggalkan pakaian dan hanya tersisa ********** saja, "Tapi kamu baru saja memanggilku, jadi aku mengira kamu masih... belum cukup kenyang!"
Apanya yang belum cukup!
Victor berada di depan wajahnya, melepaskan penutup tubuhnya yang terakhir, kemudian melangkahkan kaki memasuki bak mandi dengan kakinya yang ramping.
Lexie terpaku untuk waktu yang lama, apa yang baru dia lihat tadi? Apa dia melihatnya? Dia melihatnya!
Kemarilah!" Suara Victor yang tertekan sedikit dingin, tapi semburan nafasnya itu sangat panas.
Jelas-jelas sudah sekian lama, tapi tampaknya suhu airnya tidak menurun sama sekali, sebaliknya makin membuat orang semakin merasa gerah dan panas, bak mandinya hanya sebesar itu, Lexie tidak bisa bersembunyi dari cengkraman Victor, melihat Lexie tidak bereaksi, Victor langsung menariknya ke arahnya.
Lexie dengan keras berbenturan dengan tubu Victor, karena adanya pergerakan air mengalir, jadi tidak ada rasa takut sakit, sebaliknya, bahkan kulit kasar Victor terasa halus, hanya saja, apa benda yang keras di dekat kaki Lexie.
Mengkin cahaya lilin di ruangan terlalu terang, membuat wajah Martin terlalu jelas, Lexie melihat wajah asing itu, sentuhannya memang benar-benar dari Victor, mengapa pemandngan ini membuatnya merasa kacau.
Bahkan jika Victor tidak berbicara, Lexie mungkin akan keliru berpikir bahwa orang di hadapannya ini adalah orang asing! Perasaan ini membuat Lexie tersipu dan jantungnya berdegup kencang, tanpa sadar menundukkan kepalanya.
"Yang Mulia, kamu memakai topeng kulit manusia ini, aku, aku, tidak terbiasa." Dia tidak memiliki kebiasaan tidur berganti pria, sial, menghadapi wajah yang asing, Lexie benar-benar tidak memiliki perasaan untuk terus melanjutkan.
Tiba-yiba ketika Lexie mengatakan perkataan ini, dirinya sendiri juga terkejut, apa yang Lexie pikirkan? Mengapa pria lain tidak boleh, tapi Victor boleh? Sejak kapan Lexie mulai berpikir bahwa Victor boleh melakukannya! Apa Lexie adalah seorang masokis?
__ADS_1
Victor malah tersenyum, ketika tersenyum, Victor melepas topengnya dan membuangnya ke samping.
Suhu di dalam ruangan akhirnya menghangat, air mandi yang terciprat ke luar bak mandi, tidak berapa lama seluruh lantai sudah basah kuyup.
Tapi kedua orang yang berada didalam bak mandi tidak memiliki waktu untuk memperhatikan hal-hal yang tidak relevan ini.
Pada saat itu, Lexie berpikir, di kemudian hari Lexie tidak akan berbicara dalam jarak sepuluh langkah kaki dari Victor.
Ketika keduanya sudah merapikan pakaian mereka, itu sudah hampir satu jam kemudian, takut menimbulkan kecurigaan, mereka tidak makan lama-lama, hanya makan beberapa suap, kemudian pergi ke ruangan lain.
"Nona Lexie, saudara Martin, mengapa kalian begitu lama?" Simon sudah sedikit tidak sabar menunggu, ketika melihat mereka langsung tidak menahan diri untuk bertanya.
Wajah Lexie memerah, tidak tahu harus bagaimana mengatakannya.
Sebaliknya Victor yang berada di sebelahnya menatap Simon dengan pandangan dingin, "Bukankah itu karena dia? Wanita memang merepotkan, mandi saja membutuhkan waktu satu jam."
Mata Lexie melebar, dan mematap ke arahnya, apa ini sedang menyalahkannya?
Ketika Simon mendengar bahwa Lexie yang menunda waktu, ada senyum licik di wajahnya, "Tidak masalah, tidak maalah, wanita memang seperti itu, wanita di rumahku itu juga setiap kali mandi begitu lama."
Melihat Lexie yang malu untuk berbicara lagi, Simon benar berpikir bahwa Lexie malu, jadi dia tidak mengungkit masalah ini lagi, bergegas membawa keduanya untuk berjalan keluar.
Kediaman utama pavilliun Heaven berada di lembah sempit yang independent di belakang jalan, yang terhubung dengan tempat ini tapi juga independent, Simin betjalan di depan dengan membawa lentera, Victor dan Lexie mengikuti di belakangnya, mereka berjalan untuk beberapa saat baru melihat ke diamana utama pavilliun Heaven.
Tidak seperti jalanan di depan, tidak ada lentera berwarna cerah yang tergantung di sini, adanya yang tergantung adalaj lentera persegi.
Bahkan walaupun sudah malam, masih ada bewraoa penjaga di depan pintu masuk kediaman utama pavilliun Heaven, Simon berjalan mendekat dengan hormat berkata pada para penjaga: "Ini adalah tamu yang ingin di temui oleh tuan, memerintahku untuk datang membawa mereka.
Penjaga itu merespon, kemudian batu membiatkan ketiganya masuk.
Lexie melihat sekeliling, dengan teliti menyadari bahwa di kedua sisi dinding gerbang ternyata di lengkapi dengan sejenis mesin yang mirip dengan busur, mesin yang begitu rumit jaraknya kurang dari satu kaki, baik secara eksternal atau internal, dapat membuat serangan tanpa sudut mati. Tidak heran merupakan tempat pengrajin terbaik di dunia terkumpul, mesin ini saja sudah membuat orang terpukau.
Simon bawa kedua orang itubetjalan melewati aula dan berjalan langsung ke halaman belakang menuju koridor yang berliku , mereka akhirnya tiba di danau yang dingin dengan lebar tiga kaki, danau itu di bangun di atas gunung, tapi di kelilingi oleh kediaman utama, hingga menjadikan sebuah pemandangan di halaman belakang rumah, di tepi danau dingin ada seorang pria tua yang sedang memancing di malam hari.
Pria tua itu mengenakan pakaian warna hitam, jika bukan karena janggut putih dan rambut, dia bisa di bilang berbaur dengan gelapnya malam, dia memegang sebuah pancing panjang, meletakkan sangkar bambu di samping kakinya, diwalam sangkar bambu itu terdapat beberapa ikan berwarna putih, mendengar suara langkah kaki yang mendekat, dia menolehkan kepala, membuat gerakan untuk jangan berbicara.
Simon segera menghentikan keduanya, kemudian berdiri di samping dengan hormat.
Lexie dan Victor saling bertatapan sekilas, tidak bersuara.
__ADS_1