
Lexie menatap Alivia, nona besar seperti ini meskipun menabraknya hingga terluka, tapi ketika tabib takut Lexie akan membawa ketidakkebetuntungan, gadis ini maju, seharusnya sifat dasar gadis ini itu baik.
Jadi Lexie menggelengkan kepalanya, berkata dengan lemah, "Tidak masalah."
Ketika Alivia mendengarnya dia baru bisa menghela nafas lega, melihat bagian depan gerbong kereta tanpa sadar, di luar gerbong kereta kuda, punggung yang kuat itu terpantul pada tirai kereta kuda, tanpa sadar Alivia menaik senyumnya.
Lexie melihat tampilannya yang malu-malu menghela nafas, tapi tidak mengatakan apa-apa, hari ini, Lexie benar-benar tidak tertarik pada hal lain.
Seelah mengantar Lexie pulang, Alivia pergi, sebelum pergi dia bertukar nama dengan Zacky, mengatakan bahwa dia akan datang membawakan suplemen untuk menjenguk Lexie.
Lagipula, dia yang menabrak Lexie, walau pada akhirnya dia yang membantu, tapi Zacky masih sedikit tidak ingin melihatnya, hanya menjawab beberapa kalimat kemudian mengusirnya pergi.
Zacky menggendong Lexie, menggunakan kakinya untuk menendang pintu kediaman, kemudian bersiap untuk berjalan ke arah kamar Lexie.
Kakinya masih belum di letakkan, sudah merasakan pandangan mata dingin yang menatap ke arahnya, dia terkejut, hampir lupa untuk meletakkan kakinya.
Di halaman, Victor membawa Morgan dan seorang pria tua berjanggut putih, sedang berdiri di bawah pohon beringin, ketika Zacky muncul dengan menggendong Lexie di depan pintu, ketiga orang ini memandang ke arahnya.
Tatapan Morgan menyapu tangan Zacky yang menggendong Lexie, dia berkeringat dingin untuk Zacky, pelipisnya tanpa sadar tiba-tiba berkedut.
Victor berjalan dengan tenang ke arah pintu, datang ke hadapan Zacky, mengulurkan tangan mengambil alih Lexie, dia berbalik badan menggendong Lexie dan berjalan ke arah kamar.
__ADS_1
Tindakan serah terima ini, hanya selama satu atau dua detik, tapi ketika serah terima itu berakhir, punggung Zacky malah sudah basah oleh keringat dingin.
Di sekitar Victor, selalu bisa memancarkan tekanan yang kuat, bahkan hanya sesaat saja Zacky sudah merasa sedikit tidak bisa bernafas, ketika dia kembali fokus, Victor sudah membawa Lexie memasuki rumah.
Pria tua berjanggut putih itu, kemudian mengambil sapu tangan menutupi pergelangan tangan Lexie, setelah itu baru dia mulai memeriksa denyut nadi Lexie.
Dari awal hingga akhir Lexie menundukkan pandangannya, tidak melihat sekilas pun pada Victor.
"Yang Mulia, anak nona ini di selamatkan, tapi selama beberapa hari harus berbaring dan beristirahat, tubuhnya juga harus di rawat dengan baik, jika tidak maka tubuhnya kan meninggalkan akar penyakit." Pria tua itu menyimpan saputangannya, kemudian duduk di meja samping dan menulis resep.
"Akar penyakit? Tabib Gideon bahkan kamu juga tidak bisa mengobati tubuhnya?" Victor sepertinya tidak puas pada jawaban ini.
Tabib Gideon memegang janggutnya, mendongak menatap sekilas pada Victor, menggelengkan kepalanya berkata: "Yang Mulia, aku melihatmu tumbuh dewasa, aku yang merawat tubuhmu sejak kecil, bagaimana kemampuanku, apa kamu masih tidak tahu? Mengenai merawat tubuh, bagaimana bisa jika hanya mengandalkan obat-obatan, masih harus beristirahat juga. Kamu buru-buru mencariku, dan kamu tidak mempercayai kata-kataku, kalo begitu untuk apa mencariku."
"Apa?" Tabib Gideon berpikir dia tadi salah dengar, "Yang Mulia tadi ingin aku berada di sini untuk merawat tubuhnya? Kenapa, ingin tabib tua ini menjadi tabib biasa di sini?"
Victor mendengus, "Kenapa, apa perintahku ini, tabib Gideon sudah tidak menganggapnya?"
Mana mungkin tabib Gideon Yu berani, Yang Mulia ini bahkan sang Kaisar saja juga bersikap hormat, kemudian dia berkata dengan kesulitan, "Bukannya aku tidak mau, tapi aku ini juga mengelola pusat pengobatan istana, jika terjadi sesuatu saat memberikan obat pada para Yang Mulia, kepalaku ini akan di penggal."
"Kamu tidak perlu khawatir akan hal ini, aku bisa menjelaskannya pada Kaisar." Setelah Victor mengatakan kalimat itu, Victor melambaikan tangannya, memberikan isyarat untuk semuanya keluar.
__ADS_1
Morgan mengerti, segera meminta tabib Gideon yang masih memiliki beberapa keluhan, dan Zacky yang wajahnya masih tidak senang itu untuk keluar dari ruangan.
Ketika pintu kamar tertutup, Victor baru datang ke samping dan duduk, dia melihat wanita di atas ranjang ini memejamkan mata, alisnya mengkerut kencang, menggandeng tangan Lexie, dan menggenggamnya di telapak tangannya, ujung jari Victor memainkan punggung tangan Lexie, setelah beberapa saat baru berkata: "Masih marah?"
Marah? Kualifikasi apa yang Lexie miliki?
Bibit Lexie mengulas senyum tipis, tidak berbicara, dan juga tidak membuka matanya.
Tangan Victor menyentuh pipinya, mengelus Lexie berkali-kali, suara itu sangat jarang begitu rendah dan lembut: "Ketika Zacky datang mencariku, putra tertua keluarga Xiao, ada di sana, jika dia menyadari keberadaanmu dan anak di perutmu, menurutmu apa kamu masih bisa hidup dengan mudah?"
Lexie masih tidak bergerak, bukankah Victor adalah seorang pangeran? Bukankah dia memiliki kekuasaan yang tinggi? Apa dia takut pada keluarga Xiao? Jika ingin di bicarakan, bukankah Lexie di hatinya itu tidak begitu penting, benar juga, Lexie adalah alat untuk melampiaskan gairahnya saja, apa pentingnya, wanita yang bisa menemaninya itu sangat banyak jumlahnya.
Perkataan ini segera muncul di hati Lexie, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, karena dia tahu, di depan pria yang berpangkat tinggi ini, dia tidak berbicara dan tidak membuat masalah, mungkin masih bisa mendapatkan sedikit belas kasihan darinya, jika Lexie membuat masalah, maka yang dia dapatkan hanyalah rasa kekesalannya saja.
Victor menghela nafas panjang, melepas sepatu dan naik ke atas ranjang, kemudian dengan lembut mengangkat kepala Lexie, membiarkan Lexie beristirahat di ke dua kakinya, Victor kemudian berkata: "Kamu harus tahu, tidak ada keluarga besar manapun yang akan membiarkan selir atau para budak untuk melahirkan anak pertama! Hanya anak yang larut dari istri sah saja yang baru merupakan keturunan, semua anak sebelum keturunan sah itu lahir, semuanya harus di tangani."
Lexie tiba-tiba membuka matanya dengan dingin, "Maksud Yang Mulia, kamu ingin membunuh anak di dalam perutku?"
Tangan Victor membelai pipi Lexie, menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak, aku mengizinkanmu untuk melahirkannya."
Jawaban ini malah membuat Lexie tercengang, Lexie menatapnya lekat, sepertinya ingin melihat sebuah penjelasan dari wajahnya.
__ADS_1
"Lexie, kamu ingat. Bagiku, kamu ini berbeda." Suara Victor terdengar di atas kepalanya, ketika Lexie masih belum mengerti apa yang Victor maksud, Victor kembali berkata: "Setidaknya sampai sejauh ini, aku tidak membiarkan seorang wanita tinggal di sampingku begitu lama. Aku menyukaimu, tapi ... hanya menyukai saja. Aku tidak bisa memberimu status, anugrah terbesar yang bisa kuberikan padamu adalah membiarkanmu melahirkan anak ini."
"Maksudmu ingin aku dan anak ini hidup dalam kegelapan? Membiarkan kami tidak bisa melihat cahaya, membiarkan anakku menjadi anak harammu? Seumur hidup tidak bisa memasuki keluargamu?" Lexie merasa lucu, dari mana rasa percaya dirinya berasal, bahkan merasa bahwa ini anugrah untuknya?