
Kecelakaan selalu terjadi dalam sekejab mata.
Ketika Lexie bekum kembali fokus, dia melihat Yessika menerjang, memeluknya dan melompat ke sungai, mulut Yessika berteriak: "Budak kurang ajar, ternyata kamu berani mendorongku ke sungai!"
Musim dingin dan air sungai itu sangat dingin hingga bisa menembus tulang manusia.
Ketika Lexie jatuh ke sungai dirinya merasa pusing, ketika rasa pusing itu berlalu, dia melihat Yessika sekuat tenaga mendongtong dirinya ke samping, kemudian Yessika berteriak putus asa: "Tolong! Tolong!"
Dan di hadapan Yessika itu adalah sisi salah satu kapal balap, di atas kapal itu merupakan orang yang amat sangat familiar bagi Lexie, Victor.
Dalam kepanikan, pikirannya kacau balau, beberapa wanita selalu bertanya pada pacar mereka, jika ibu dan kekasihnya jatuh ke air pada saat bersamaan, menyelematkan ibunya dulu, atau menyelamatkan pacarnya terlebih dulu. Pertanyaan ini, awalnya tidak perlu di pikirkan, tentu saja menyelamatkan ibu, bahkan nyawa saja di berikan oleh ibunya, sekarang tidak menyelamatkan ibunya?
Lexie tidak menyangka Yessika membetika pertanyaan rumit yang sama pada Victor, sayangnya Lexie bukan ibu Victor, dan juga bukan siapa-siapanya, Lexie hanyalah alat untuk melampiaskan gairahnya saja.
Untungnya Lexie bisa berenang, kali ini Lexie bisa menyelamatkan diri sendiri tanpa meminta bantuan.
Setelah mengatur nafasnya sesaat, dia bersiap berenang ke tepian, pada saat ini sudah ada seseorang yang melompat ke dalam air, ada seruan yang di gumamkan oleh kerumunan orang.
Lexie menoleh untuk melihat, kemudian dia melihat dua kapal balap yang paling dekat arahnya, Victor dan Dexter melompat ke air hampir di waktu yang bersamaan, mereka melompat, orang-orang di kapal dan juga penjaga di pantai bergegas mundur, seketika adegan itu masuk di pandangan para kerumunan.
Yessika tidak bisa berenang, selain berteriak di awal dia sudah tidak mengeluarkan suara lagi, Victor melompat ke dalam air, melirik sekilas ke arah Lexie, kemudian melihat Yessika, dia kemudian berenang ke arah Yessika.
Pada saat itu sudut bibir Lexie berkedut.
Benar saja, tidak ada harapan, maka tidak akan kecewa, Lexie tidak pernah berpikir Victor akan menyelamatkan dirinya, jadi, itu tidak masalah, benar-benar tidak masalah.
__ADS_1
Tapi mengapa hatinya seketika begitu kecewa?
"Lexie! Kamu baik-baik saja?" Dexter berenang ke arahnya dengan khawatir, melihat bibir Lexie yang gemetar hingga berwarna ungu, segera mengulurkan tangan dan meraih pinggangnya, dalam sekejab mereka sudah sampai di tepian.
Di tepian, ada angin Lexie tanpa sadar menggigil, seluruh tubuhnya basah kuyup kemudian tertiup angin, dia merasa seakan dia akan membeku menjadi es dalam detik berikutnya.
"Tidak bisa seperti ini terus." Dia mengatakan kalimat ini, dia tidak mempedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya, langsung memeluk Lexie, dan berjalan ke penginapan terdekat.
Ada banyak orang di tempat kejadian, hampir pada saat Dexter menggendong Lexie, ada sorakan-sorakan di kerumunan, takutnya tidak lama, Dexter yang secara terbuka menggendong seorang wanita di jalan akan menjadi pembicaraan bagi orang-orang di seluruh kota Phoenix ini.
Lexie tidak ada kekuatan untuk mempedulikan pandangan mata aneh di sekitarnya, tapi dia menoleh secara tidak sengaja, melihat di kejauhan, Victor memberikan Yessika pada para bawahannya.
Lexie menghela nafas, dia hanyalah seorang pelayang yang menghangatkan ranjang, reputasi itu memang tidak baik sama sekali, dalam masyarakat feodal ini, sepertinya dia tidak akan bisa menikahi siapa pun, jadi bahkan jika saat ini dia saling bersentuhan dengan Dexter, setelah itu, bisa seburuk apa lagi? Paling-paling namanya hanya akan menjadi sedikit buruk saja.
Di penginapan, Erik sudah selangkah lebih cepat menyiapkan kamar untuk Dexter, dan meminta pemilik penginapan untuk membawakan pakaian wanita.
"Plakkk!" Tamparan keras jatuh diwajah Erik, tapi Erik tidak berani berbicara dan hanya menundukkan kepalanya.
"Bukankah aku memintamu untuk melindunginya?" Dexter bertanya dengan marah.
Ada rasa amis yang muncul di tenggorokan Erik, "Aku tahu salah, saat itu nona Yessika tiba-tiba memeluk nona Lexie dan melompat, aku ingin menghentikannya tapi di hadang oleh rombongan nona Yessika. Aku tidak melakukan tugas dengan baik, pantas menerima hukuman."
"Keluar!" Dexter mengambil alih pakaian di tangan Erik, berkata dengan dingin.
Erik segera menjawab, bergegas berbalik dan keluar.
__ADS_1
Di dalam kamar, Dexter mendatangi tepi ranjang, meletakkan pakaian di ranjang dan berkata pada Lexie: "Nona Lexie, cepatlah ganti dulu pakaianmu, aku akan berbalik."
Lexie mengerutkan kening, meskipun pria ini berbalik, tapi pada saat ini, bukankah akan lebih baik jika dia keluar? Perkataan ini membuat Lexie bingung.
"Kak Dexter, kamu juga basah kutub lebih baik kamu juga ganti baju dulu." Lexie hanya bisa berkata dengan lembut.
Menghadapi Lexie, wajah Dexter di penuhi senyum, "Tunggu ketika kamu selesai berganti, aku akan pergi mengganti bajuku."
"Tapi ..." Lexie menghela nafas, dia mau tidak mau harus berkata secara langsung: "Tapi pria dan wanita tidak baik berada di sebuah ruangan, dan itu sepertinya tidak sopan, atau kamu keluar lebih dulu?"
Dexter malah tertegun, dengan keras menjitak kepalanya sendiri, "Lihatlah diriku, karena cemas aku sampai lupa. Baiklah aku akan keluar terlebih dulu, panggil aku jika kamu sudah selesai mengganti baju."
Dexter tersenyum canggung, kemudian berjalan pergi, berjalan dua langka tiba-tiba berhenti, dia tidak melihat ke belakang, raut wajahnya tidak terlihat, hanya mendengar Dexter berkata: "Nona Lexie, tadi di jalan meskipun masalahnya mendesak, tapi pada akhirnya itu sudah merusak reputasi nona, jika nona memiliki kekhawatiran, aku?? Bisa bertanggung jawab."
Lexie memandang dengan aneh, tapi melihat Dexter yang memunggunginya, meskipun Lexie tidak tahu dengan ekspresinya, tapi telinganya yang memerah itu malah membuat hati orang melembut.
Pria yang begitu hangat, jika biasanya, Lexie yang merupakan seorang wanita yang sudah lumayan berumur, sudah pasti tidak akan segan, ketika bertemu dengan pria yang baik harus langsung menerimanya, tapi ...
"Kak Dexter, tidak masalah, hanya nama baik saja, aku juga tidak punya kerabat, atau teman yang dekat di sini, aku tidak peduli."
Setelah Lexie mengucapkan kalimat ini, punggung Dexter tampak kaku sejenak, seolah-olah itu hanya sesaat tapi tampaknya itu sangat lama, hanya mendengarkan tanggapan samar Dexter kemudian dia mengambil langkah dan keluar.
Pintu itu di tutup kembali, Lexie terbungkus selimut tapi tidak bisa menahan bersinnya, dia bergegas mengganti pakaian, kemudian menyeka rambutnya dengan kain putih di sampingnya.
Ketika hendak pergi keluar untuk berterima kasih dengan Dexter sekalian menanyakan kondisi Lucas dan anak lainnya, Lexie kemudian mendengar suara perkelahian di arah pintu, Lexie terpaku, bergegas menerjang dan membuka pintu kamar.
__ADS_1
Di luar pintu Erik dan dexter sama-sama sedang memblokir orang yang hendak ingin masuk ke dalam kamar.
"Tuan Dexter, aku datang untuk membawa pergi wanita milikku, kenapa, masalah seperti ini juga harus di urus oleh pejabat sepertimu?"